
Sambungan telepon sudah terputus karena Ethan harus makan.
"Awas kau! Daniel playboy." Mulutnya mengunyah sambil mengumpat.
"Aku akan mematahkan tanganmu!" Menyuap lagi dengan kasar hingga gigi-giginya terdengar bergelatuk.
Tangannya mengambil pisau lalu memotong daging. Seeekk. Menyuap lagi. Seeekk. menyuap lagi.
Hingga tiba daging terakhir yang sedikit keras dan sulit ketika di potong. "Hah, kenapa susah sekali! ... tidak tau apa aku lagi lapar!"
Seeekk. Dan ....
Daging itu meloncat terbang tinggi ke meja makan pelanggan lain.
Asisten Leo segera menutup mulutnya untuk menahan tawa.
Ethan yang melihat daging itu terbang dan jatuh ke meja pelanggan yang sedang makan juga di restoran itu, Ethan langsung pura-pura sibuk dengan menundukkan kepalanya.
Malam hari.
Ethan berdiri di depan jendela yang terdapat di hotel tempat ia menginap di Bali.
Hamparan laut pantai di Bali tentu terlihat dari arah jendela. Ethan terus memandanginya dengan perasaan yang sangat sedih.
Wajahnya tampak tidak semangat, Ethan menoleh kearah samping matanya terlihat sayu yang kadang tidak berkedip bertanda ia sedang melamun.
Semua karena rindu, karena perasaan rindu terhadap wanita yang saat ini jauh dari jangkauannya.
Sunyinya malam membuat Ethan berpikir, ada perasaan takut sangat takut jika harus kehilangan Eren kedua kalinya.
Dan sunyinya malam semakin membuat ia berada dalam kesedihan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Ethan menghela nafas panjang berkali-kali, ia kembali berjalan mendekati ranjang.
Di sana ia duduk lalu memegang hadiah yang tadi sore sempat ia beli.
Sebuah jam tangan yang memiliki keunikan dan dapat mendeteksi keberadaan siapapun yang memakainya.
Ethan bangga bisa berhasil mendapatkan dua buah jam tangan kapel, karena tadi ia sempat berebutan dengan pembeli lain.
Bibirnya terus menarik garis lengkung, menatap senang kearah jam tangan.
"Aku mencintaimu Eren." Menyimpan jam tangan itu kembali lalu ia beranjak istirahat.
Dua hari telah berlalu.
Sesuai rencananya, setelah selesai sarapan pagi Ethan langsung menuju tempat kerja Eren.
Mobilnya sudah terparkir sempurna di depan Boutique. Ethan melangkah keluar mobil tidak lupa dengan hadiah yang ia bawa di tangannya.
Berjalan masuk yang terus mendapat tatapan kagum dari para karyawan yang bekerja di Boutique.
__ADS_1
Dan setelah sampai di depan ruang Eren, Ethan langsung memutar handel pintu.
Ethan melambaikan tangan pada seseorang cantik yang bernama Eren, wanita yang sedang sibuk memasang manik mutiara di gaun yang ia buat.
Eren menatap kearah Ethan sekilas lalu ia kembali fokus pada kegiatannya.
Tangannya terlihat cekatan mengambil manik lalu menusuk dan merangkai seperti itu terus-menerus hingga menempel indah di gaun itu.
Jemari tangannya yang terus bergerak sesuai tugasnya masing-masing, hal itu sangat indah di mata Ethan seperti menari.
Ethan berjongkok lalu menatap Eren yang sedang duduk di kursi kecil sampingnya.
Ethan menawarkan diri untuk membantu tapi Eren menolak, karena takut nanti membuat kesalahan.
Tapi Ethan tidak menyerah, ia terus membujuk Eren hingga mau memberikan ia kesempatan untuk membantunya.
"Kamu duduk saja ... diam yang manis." Eren menunjuk kursi sofa di ruangannya.
"Please, sekali saja." Ethan mengangkat dua jarinya berbentuk V sebagai janjinya.
Eren mendesah kasar, merasa percuma melarangnya juga, Ethan pasti akan memaksa.
Eren ahirnya mengalah dan membiarkan Ethan membantu, namun dengan harus berhati-hati jangan sampai membuat kesalahan.
Ethan tersenyum bahagia, kini ia mulai membantu Eren dengan instruksi yang Eren berikan.
Sebenarnya hanya alasan Ethan untuk mau membantu, tujuan aslinya ia hanya ingin bisa berdekatan dengan Eren.
"Apa kamu tidak lelah ..." Ethan nampak khawatir ketika mendapati wajah Eren yang terlihat pucat.
"Tidak tenang saja." Eren menjawab santai tanpa mengalihkan pandangannya.
keduanya akhirnya kembali fokus untuk mengerjakan gaun itu.
Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan siang hari. Eren dan Ethan menghentikan kegiatannya lalu mau mencari makan siang.
"Bagaimana kalo kita makan di luar ... kamu mau? setidaknya temani aku." Tawar Ethan.
Eren berpikir tidak masalah dan ahirnya ia mengiyakan usulan Ethan.
Setelah sampai di restoran, keduanya makan dengan tenang tanpa ada yang membuka pembicaraan.
Dan setelah tiga puluh menit berada di restoran, kini keduanya tampak berjalan ke luar menuju ke arah parkir.
"Daniel playboy." Ethan geram saat melihat sosok Daniel yang kini sedang melangkah ke arahnya.
Ethan langsung membawa Eren masuk kedalam mobilnya, meski tadi Eren sempat tidak mau karena tidak enak dengan Daniel yang sepertinya sedang berjalan kearahnya.
Ethan langsung melajukan mobilnya tanpa perdulikan Daniel yang berdiri mematung.
Daniel menghela nafas panjang saat kini ia menatap mobil Ethan telah melesat jauh.
__ADS_1
Di dalam mobil Eren meminta Ethan untuk tidak bersikap keterlaluan.
"Aku tidak mau kamu dekat dengan Daniel ... aku cemburu," mengutarakan dengan gamblang.
Ya, Ethan tidak mau lagi ada yang di tutup-tutupi, ia akan jujur apa pun itu.
Eren tersenyum setelah tau alasan Ethan, walau sebenarnya ia sudah tahu, namun saat mendengar langsung kata cemburu dari bibir Ethan rasanya membuat hatinya bahagia.
Kini mobil mereka sudah sampai di Boutique milik Eren.
Keduanya keluar mobil bersamaan dan berjalan saling bergandengan tangan.
Eren tampak beberapa kali menyelipkan anak rambut ke belakang kuping, meski rambutnya udah rapi, namun itu untuk mengurangi rasa canggungnya.
Eren sedikit menoleh untuk menyembunyikan pipinya yang kini sudah berwarna merah merona.
Kini ia membiarkan Ethan menggenggam tangannya masuk bersama ke dalam Boutique, bila sedang dalam di perlakukan manis, terkadang Eren lupa dengan tujuannya yang masih ingin menguji ketulusan cinta Ethan.
"Sudah sampai."
Suara Ethan menyadarkan lamunan Eren.
Eren mengambil kunci di dalam tas kecilnya lalu membuka pintu.
Namun kali ini Ethan hanya mengantar Eren. karena ia harus kembali ke kantor yang tiba-tiba membutuhkan kehadirannya info dari Asisten Leo.
"Kamu tidak apa-apa aku pergi?" Ethan menangkup pipi Eren.
Eren menggelengkan kepalanya kecil.
Ethan memandangi wajah Eren dengan jemari jempolnya mengusap pipi mulus Eren.
Matanya beralih menatap bibir merah yang terlihat sangat manis.
Di posisi sedekat ini Eren benar-benar terhipnotis.
Masih bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Ethan belum juga pergi dari hadapannya, dengan kening berkerut.
Eren mencoba ingin menyebut namanya namun belum sampai bibirnya berucap sebuah daging lembut kini sudah menempel di bibirnya mengigit sedikit bibirnya untuk permisi masuk kedalam supaya bisa bermain-main di dalam sana.
Lidah keduanya saling membelit dan menyesap serta tangan mereka saling menggenggam erat.
Ciuman itu cukup lama, dan setelah itu Ethan terus pergi namun sebelumnya ia berpamitan dan mencium punggung tangan Eren.
Malam hari.
Kini Eren sedang berjalan di apartemen menuju kamar nya, namun Eren merasa ada yang mengikutinya, tetapi saat ia menoleh kebelakang tidak ada siapa-siapa.
"Mungkin cuma firasat aku." Eren lalu buru-buru ambil langkah cepat dan masuk ke kamar apartemennya.
Dan setelah Eren masuk, seorang wanita berambut hitam lurus, tersenyum penuh misteri menatap kamar Eren.
__ADS_1