Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
season 2. terbakar hati.


__ADS_3

Eren menghela nafasnya, ia juga tidak bisa menyalahkan pegawainya, karena dari awal ia yang salah yang tidak memberitahu bahwa gaun bayi itu tidak di perjualbelikan.


Eren menatap wajah pegawainya yang terlihat tampak pias, Eren menyadari mungkin pegawainya merasa tidak enak hati, Eren tersenyum tidak ingin membuat pegawainya merasa bersalah. "Apakah kau ada nomor handphone pembelinya?"


Pegawainya langsung mengangkat kepalanya yang tadi sempat menunduk. "Ada nona, ada." Langsung dijawab cepat.


Eren tersenyum kecil. "Berikan padaku."


"Baik nona." Jawabnya patuh.


"Sudah saya kirim di WhatsApp anda nona."


"Baik terimakasih." Menatap pegawainya dan tersenyum.


Eren kemudian mengecek handphonenya dan Langsung mengubungi nomer tersebut seraya membuat kode melalui tangannya bahwa pegawainya boleh pergi untuk mengerjakan yang lain.


sambungan telepon terhubung namun belum diangkat, Eren memang harus membicarakan soal ini dengan pembeli itu, karena gaun bayi itu adalah hasil karyanya yang pertama kali dirinya buat dan yang memiliki arti sangat penting baginya. bila gaun yang lain yang dibeli maka ia tidak akan mempermasalahkan. seperti itulah pikirnya.


padahal gaun bayi itu sengaja ia tempatkan di tempat yang beda supaya mampu menarik mata setiap para tamu yang datang di boutique miliknya, dan tidak menyangka akan ada yang membelinya dengan nominal sangat besar.


"dia membayar tiga kali lipat," gumam Eren seraya menatap cek yang ada di tangannya.


Eren menghela nafas panjang, pasalnya sambungan telepon darinya tidak diangkat oleh orang yang katanya adalah pembeli gaun bayi itu.


Daniel memegang bahu Eren. "Kau mengagetkan saja." Eren menoleh kearah yang tiba-tiba memegang bahunya.


Daniel tersenyum. "maaf tidak ada maksud seperti itu." Daniel kemudian menurunkan tangannya lalu menatap kearah gaun bayi.


"Sudah terjual." Daniel balik menatap kearah Eren. "Itu karyamu pertama kali, apa kau menjualnya?" Daniel sedikit terkejut.


Eren menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja tadi ada pengunjung yang menginginkannya dan aku tidak tahu, aku juga baru tahu saat aku berjalan kearah sini dan melihat gaun bayi ini sudah terjual." Eren menghela nafas panjang saat melihat gaun bayi itu lagi.


"Dan orangnya aku hubungi tapi tidak menjawab panggilan telepon dari aku." Pandangan mata Eren masih tertuju kearah gaun bayi itu.


Daniel mengikuti arah pandangan mata Eren, yang tampak terlihat sedih. "Apa perlu bantuan dariku?"


haha.


"Kau selalu menawarkan bantuan." Eren beralih menatap Daniel seraya berpikir. "Emm, lebih baik kita makan siang, ayo ..." Eren berjalan seraya mendorong tubuh Daniel dari belakang untuk berjalan bersama.


sore hari.


Eren mencoba kembali menghubungi nomor handphone milik pembeli gaun bayi, dan kali ini panggilannya diangkat.


Eren yang tadinya duduk di pinggiran ranjang ia langsung berdiri saat sambungan telepon diangkat. "Halo, apakah anda pembeli gaun bayi di boutique milik nona Eren?"


Ethan melakukan dehheman sebanyak tiga kali untuk merubah suaranya menjadi wanita sebelum menjawab pertanyaan Eren. "Iyaa, saya ... yang membelinya ... apa ada masalah Nona ..." bicaranya dibuat sehalus mungkin seperti wanita.


"Ah, tidak seperti itu, hanya saja gaun bayi itu tidak saya jual, karena itu karya pertama saya dan ingin saya abadikan sendiri." Jelas Eren.


"Saya ... apakah anda nona Eren pemilik boutique?" Masih menggunakan nada wanita.


"Iya saya sendiri, apakah anda bisa mengembalikan gaun bayi itu?"


Ethan tampak berpikir. "Ah tidak bisa, aku sangat menyukai gaun bayi itu Nona." Suaranya semakin dibikin memelas seperti wanita.

__ADS_1


"Emm, apa kita bisa bertemu atau melakukan panggilan video call mungkin."


Ethan bingung memikirkan alasannya, karena bila bertemu pasti ketahuan dong penyamarannya, itulah pikirnya. "Emm, nona wajah saya lagi penuh jerawat jadi belum bisa bertemu apa lagi melakukan panggilan video call dengan anda, hhhhhhh saya malu nona."


setelah bicara Ethan nampak menarik nafas beberapa kali supaya tetap tenang sehingga ektingnya menggunakan suara wanita tidak terganggu.


Eren juga tampak memikirkan sesuatu. "Emm, baiklah kalo begitu lain kali aja, tapi boleh saya tahu nama anda?"


"Saya ... saya nur nona."


"Nur." Eren mengulanginya.


"Benar nona."


Eren menganggukkan kepalanya, "baik lah, cepat sembuh ... nur."


"Terimakasih nona."


sambungan telepon terputus.


hah, Ethan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya sambil menatap langit-langit atap kamar. nafasnya masih terdengar belum normal. Ethan menatap arlojinya, waktu menunjukan pukul tujuh malam.


"Huff... huff aku harus segera bersiap." Ethan bangun lalu ia menuju kamar mandi.


di tempat lain.


Eren dan Daniel bersama teman-teman Daniel, yang juga mengenali Eren sebagai sosok desainer gaun terbaik yang saat ini sedang naik daun namnya.


mereka semua duduk di kursi melingkar tampak bercengkrama satu dengan yang lain.


wanita pelayan bar tersebut datang membawakan beberapa minuman untuk diletakan di meja depan mereka semua.


dan kini sosok yang menggangu pikirannya sejak tadi telah ia temukan, Ethan melihat Eren duduk di sebelah Daniel bersama teman-teman mereka yang terlihat sedang asik bertukar cerita, tawa dan senyum tampak menghiasi wajah semuanya.


Ethan akhirnya mengambil duduk di depan bartender, yang sebelahnya juga ada seorang pria yang sedang meminum alkohol.



dari tempat itu Ethan lebih jelas dalam mengawasi Eren, apa lagi ada Daniel di samping pujaan hatinya yang membuat hatinya semakin terbakar.


Ethan menatap kearah Eren dan Daniel yang tampak terlihat saling melempar senyum. "Huh, dia terlihat sok akrab dengan Eren."


Ethan mengepalkan tangannya. Ethan terus menatap kearah mereka serta menajamkan pendengarannya hingga beberapa pembicaraan mereka mampu ia dengar.


Salah satu temannya mengangkat gelas minuman. "Mari kita semua bersulang."


Ting.


suara dentingan gelas bersulang.


Dan setelah semua selesai meneguk minumannya masing-masing, temannya kembali berbicara. "bagaimana kalo untuk merayakan keberhasilan Eren kalian berdua love shot."


"Love shot." Eren dan Daniel mengulangi ucapan temannya dengan sedikit kaget.


"Iya." Semua temannya menjawab serempak.

__ADS_1


Lalu mereka semua bertepuk tangan. "Love shot love shot love shot."


demi menyenangkan para teman-temannya akhirnya Eren dan Daniel melakukan love shot, keduanya mengambil minuman lalu meminum minuman itu sambil berpelukan.


"Yeee." Tepuk tangan meriah diberikan untuk keduanya.


melihat hal ini Ethan menjadi gila dibuatnya, "Uh ... uh awas kau!" gumamnya seraya tangannya meninju ke udara.


Salah satu orang berbicara. "Kalian ini tampak mirip lho wajahnya."


"Iya benar mirip lho kalian ini." Timpal wanita di sebelahnya.


"Cocok untuk menjadi sepasang kekasih," ucap pria yang saat ini sedang menyesap rokoknya.


Daniel dan Eren saling pandang mendengar penuturan para temannya, Daniel tersenyum. "Benarkah kami terlihat mirip?" Daniel mendekatkan wajahnya di samping wajah Eren seraya menatap kearah teman-temannya.


Ethan semakin terbakar melihat wajah Daniel yang sangat dekat dengan Eren, ditambah tangan Daniel memegang pinggang Eren dari belakang yang mampu Ethan liat karena posisinya Ethan duduk di belakang mereka.


"Jika kalian bukan sepasang kekasih ayo buktikan." Salah satu temannya meminta bukti.


"Cium ... cium ... cium," ucap semua serempak disertai tepuk tangan.


Eren menatap kerah Daniel, sedikit merasa gugup. "Apa kau akan mencium aku?"


"Menurutmu?" Daniel membalas tatapan mata Eren seraya mendekatkan wajahnya dengan Eren,dekat dan semakin dekat lebih dekat. "Apa kau menganggap candaanku ini hal serius." Daniel tersenyum di belakang telinga Eren.


Eren membuang nafas panjang. "kau membuat aku tidak tenang."


hahaha.


Daniel tertawa lalu mengambil duduk seperti semula.


"Yaahh, kalian." Suara para temannya nampak kecewa.


di belangkang sana Ethan yang merasa hatinya terbakar, ia terus meminum minuman beralkohol.


waktu menunjukan pukul sebelas malam.


saat ini Eren sudah berada di dalam kamar penginapan disalah satu hotel, ia duduk di atas ranjangnya sambil membaca sebuah majalah, namun saat sedang asyik membaca tiba-tiba terdengar pintu kamarnya di gedor-gedor dari luar.


brakk brakk brakk.


"Siapa!" Eren berteriak.


brakk brakk.


Eren yang kesal pintunya di gedor-gedor, ia lalu bangkit dari ranjang menuju pintu.


brakk brakk. "Buka!"


Eren mendekat kearah pintu ia sambil membawa tongkat untuk siap memukul orang yang ia pikir adalah orang jahat.


Eren memutar handel pintu kamar.


kreekk.

__ADS_1


bruukk.


aaaaaaaa "Kau."


__ADS_2