
Pagi hari.
Eren memasuki kamar yang habis dari dapur mengambil minum, kini ia melihat suaminya sudah memakai pakaian kerja.
Eren mendekat lalu berdiri tepat di depan Ethan. Eren tersenyum tangannya terulur merapihkan kerah kemeja, lalu memasangkan dasi untuk Ethan.
Pemakaian dasi selesai, Ethan mengecup pipi Eren, yang langsung membuat wajah Eren merah merona.
Ethan menarik pinggang Eren hingga menempel, wajah keduanya sangat dekat hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan.
"Ingat, mulai hari ini, kamu harus selalu bersama pengawalku."
Eren mengangguk tidak mau membantah.
"Aku mencintaimu." Ethan mencium bibir Eren, keduanya terpaut dengan ciuman beberapa detik, sebelum ahirnya Ethan pergi ke kantor.
"Ingat! awasi terus istri aku, jangan sampai lengah!" ucap Ethan tegas di sambungan telepon berbicara dengan anak buahnya sebelum memasuki mobil.
Eren melambaikan tangan melihat mobil yang dikendarai Ethan mulai ke luar gerbang Mansion.
Eren balik badan, kini ia juga akan bersiap untuk datang ke tempat kerjanya.
Pukul delapan pagi. Eren sampai di tempat kerja, matanya langsung terbelalak saat melihat banyak orang di depan Boutique miliknya.
Eren langsung berjalan cepat ke luar mobil, menuju Boutique untuk melihat apa yang terjadi.
"Ini bajunya rusak!"
"Bahannya juga jelek, tapi bilangnya ori!"
"Kembalikan uang kami, kami rugi besar!"
"Boutique ini menipu, tutup saja kalo sudah tidak jujur! mentang-mentang sudah sukses mau menipu!"
Suara teriakan serta komplain para ibu-ibu terdengar di telinga Eren, Eren semakin bingung mengapa bisa mereka demo sampai seperti ini, padahal semua barang dari boutique nya pasti terbaik, karena selalu di cek dulu sebelum di jual.
"Tenang, ibu-ibu tenang!" ucap Eren setelah menerobos lewat di tengah-tengah para kerumunan ibu-ibu.
Namun para ibu-ibu semakin menjadi melempar semua barang rusak yang mereka bawa ke wajah Eren dan karyawannya, Eren dan dua karyawan sampai kewalahan menahan amarah ibu-ibu, bahkan pakaian yang di lempar ke arahnya sampai membuat pipinya memerah sakit, karena tadi ada yang mengenai tepat pada pipinya.
"Nona Eren, wajah Anda merah! sebaiknya Anda masuk ke dalam, biar kami berdua yang menangani." Salah satu karyawannya membantu Eren untuk masuk ke dalam.
sampai di dalam, Eren menghubungi pihak keamanan yang ada di tempat tersebut, tidak lama kemudian sekuriti datang, namun masih kewalahan menahan tenaga ibu-ibu yang kuat.
__ADS_1
"Jangan halangi kami Pak sekuriti ..." teriaknya para ibu-ibu yang masih ingin membuat keributan karena kekesalan hatinya.
"Kembalikan dulu uang kami, kami tidak akan pergi ..."
Pyar!
Suara kaca pecah, salah satu orang melempar batu ke jendela kaca. Eren menutup kuping dan mata, merasa menyeramkan. Memejamkan mata seraya mengingat ucapan para ibu-ibu yang meminta uangnya kembali, entah harus berapa ratus juta kerugiannya, Eren ahirnya lebih memilih mengganti rugi, dari pada boutique miliknya semakin rusak di lempar batu.
Eren ke luar lagi, dan meminta semua orang untuk tenang.
"Baiklah, ibu-ibu saya akan mengganti rugi, dan silahkan satu per satu masuk ke dalam."
"Gitu dong dari tadi!"
Eren masuk ke dalam lagi, satu per satu para ibu-ibu masuk ke dalam menyertakan barang yang di beli di boutiquenya yang katanya rusak.
Ada sekitar dua puluh orang datang, dengan harga barang rata-rata mencapai tiga ratus juta sampai lima ratus juta, Eren menguras banyak rekeningnya untuk mengganti kerugian mereka.
Setelah para ibu-ibu pergi semua, Eren mentekurapkan kepalanya di meja, dua karyawannya mendekat, berdiri tepat di depan Eren.
"Nona bagaimana ini?"
Mendengar pertanyaan kedua karyawannya, Eren mengangkat kepalanya menatap mereka. "Tetap bekerjalah seperti biasanya, biar semua ini saya yang urus."
"Baik, Nona."
Di luar Boutique, seseorang tertawa melihat Boutique milik Eren berantakan, sesuai rencana untuk memberi pelajaran pada Eren.
"Ini baru awal mula, besok-besok kamu akan mendapat hadiah lebih mengejutkan lagi dari aku."
Hahahaha!
Orang tersebut akhirnya pergi setelah sedari tadi ia mengawasi keributan yang terjadi di Boutique Eren.
Sementara Eren mulai melihat rekaman CCTV, ia belum mau bercerita dengan Ethan karena ingin mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.
Eren dengan jeli menatap gambar di layar komputer, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang mencurigakan, Eren mencoba zoom rekaman CCTV tersebut, terlihat seseorang memakai jubah hitam kaca mata hitam yang berdiri di balik pohon dan terus mengawasi arah boutique nya selama kejadian.
"Siapa dia?" gumam Eren.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Eren ahirnya ke luar, ia mendatangi tempat orang tersebut mencari jejak.
Eren berdiri di bawah pohon tempat seseorang tadi, Eren mengelilingi pohon tersebut, tidak menemukan apapun, Eren mencoba menghirup dalam-dalam udara, siapa tahu masih mencium parfum yang tertinggal.
__ADS_1
Deg!
Eren langsung menghentikan nafasnya seketika dengan mata membola saat merasa mengenali parfum yang tadi sempat tercium.
"Tidak, ini tidak mungkin, pasti orang lain yang mungkin sama parfumnya dengan dia." Eren mencoba menyangkal karena tidak ingin salah menuduh.
Eren memutuskan ingin kembali ke dalam, namun saat kakinya melangkah, tiba-tiba menginjak sesuatu. Eren melihat ke bawah.
"Gelang." Eren mengambil benda tersebut, melihat-lihat gelang itu dan akan menyimpannya sapa tahu bisa menjadi barang bukti.
Di tempat lain.
Seseorang yang tadi memata-matai boutique Eren, merasa ada yang aneh saat melihat pergelangan tangannya.
"Dimana gelangku," ucapnya yang langsung menghentikan laju mobilnya.
Orang tersebut mencoba mencari di dalam mobil, namun juga tidak menemukan. Ahirnya berhenti mencari merasa gelang itu tidak penting, dan kembali melajukan mobilnya.
Di Boutique Eren, beberapa orang datang untuk membenahi kerusakan, seperti mengganti kaca dan mengulang cat tembok kembali.
Sementara Eren di ruang kerjanya, masih membolak-balikkan gelang yang ada di genggaman tangannya.
Kemana aku harus mencari kalian, untuk menghentikan semua ini, apa salah ku sama kalian! ucap Eren dalam hati seraya meremat gelang tersebut.
"Nona, ada yang ingin bertemu Anda."
Suara karyawannya menyadarkan lamunan Eren, Eren ke luar dari ruang kerjanya, menemui orang tersebut.
"Apa kabar, Nona Eren."
"Baik, Nyonya Ike."
Eren mengajak wanita yang bernama Ike untuk duduk.
"Ada apa, kenapa Boutique nya seperti sedang di renovasi."
"Iya, Nyonya." Eren menjawab saja tanpa mau menceritakan kejadian sebenarnya.
Nyonya Ike kemudian menceritakan kedatangannya yang ingin memesan pakaian kapel untuk keluarga.
Eren masih bingung mau menyanggupi karena keadaan masih seperti ini, takut seperti kejadian tadi, bahwa jelas-jelas kemarin barang bagus dan tadi saat komplain barang rusak.
"Bagaimana, Nona Eren. Apa bisa?" Nyonya Ike memastikan.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Di minggu ini saya mau ke luar negeri sepertinya saya belum bisa membuatkan." Eren terpaksa menolak karena ingin menyelesaikan masalah ini dulu.
Nyonya Ike pergi tidak masalah dengan penolakan Eren, Eren menghela nafas panjang lalu kembali ke ruang kerjanya.