
Megy baru selesai mandi, ia saat ini sedang berdiri di depan cermin seraya menangkup wajahnya sendiri.
"Megy, kamu cantik. Kamu pasti bisa menaklukkan hati kak Daniel." Seraya tersenyum puas menatap pantulan dirinya.
Namun itu hanya sesaat, karena di detik berikutnya Megy kembali cemberut karena mengingat dirinya yang meski cantik tapi jomblo, Megy menghela nafas panjang seraya duduk di kursi meja rias, ia mengambil sisir lalu mulai menyisir rambutnya.
"Tuhan tolong kirimkan aku kekasih yang baik hati," gumamnya lesu, masih menyisir rambutnya dengan gerakan pelan.
Dengan malas Megy menatap jam dinding di kamarnya, setiap hari waktunya habis untuk bekerja ngurus perusahaan, tapi hatinya kosong merasa hampa.
"Ah! yasudah lah, terima takdir." Megy berdiri lalu berjalan mengambil pakaian santai di almarinya, hari ini ia hanya akan di dalam kamar, hatinya lagi males karena ke luar juga tidak miliki teman.
...****************...
Chen yang baru sampai di Mansion Benz, ia langsung mengatakan tujuannya untuk pulang, Papa Erland dan Ibu Lusy kini sedang saling pandang dengan apa yang barusan putra keduanya ucapkan, bahwa akan menikah.
Ibu Lusy dan Papa Erland antara terkejut dan senang mendengar kabar ini, senang karena pernikahan putra keduanya yang sudah dinanti-nantikan akan terwujud, terkejut karena Chen tiba-tiba mengatakan ingin menikah, membuat Ibu Lusy memberi tatapan menyelidik, karena ia tahu betul putranya itu seperti apa.
Dan bila benar maka Ibu Lusy akan berterimakasih pada wanita calon menantunya itu, karena sudah membuat putra keduanya yang keras kepala ahirnya mau menikah.
"Ibu tidak salah dengar, kan?"
"Tidak," jawab Chen singkat sambil kunyah-kunyah karena saat ini sedang sarapan.
Papa Erland meletakkan sendok dan garpu, lalu menatap Chen yang masih asyik makan. "Kira-kira sampai kapan kamu akan menjalani pernikahanmu nanti?"
"Papa!"
"Li-."
Ibu Lusy kesal dengan pertanyaan suaminya, sementara Chen baru berucap dua huruf langsung sadar dengan pertanyaan Papanya, ia tidak menyangka Papanya menaruh curiga padanya, hingga memberi pertanyaan jebakan.
Chen meneguk air minum lebih dulu untuk menghilangkan dahaga sebelum akhirnya ia berucap kembali,"Tentu selamanya, Papa. Dan nanti malam kita harus pertemuan keluarga, karena lebih cepat lebih baik, benar bukan?" Chen meringis seraya kembali menyuap nasi, kunyah-kunyah tanpa peduli Papa dan Ibunya dalam mode terkejut.
Ibu Lusy dan Papa Erland kembali saling pandang, mereka kali ini lebih terkejut karena tiba-tiba nanti malam harus pertemuan keluarga, ini seperti mimpi bagi Ibu Lusy, memastikan ia tidak ingin rasa bahagianya hanya sekedar mimpi, Ibu Lusy mencubit lengannya sendiri.
"Ahhww!" sakit gumamnya pelan, "Berati aku tidak mimpi." Menangkup wajahnya sendiri masih dengan tatapan kosong, dan di detik kemudian Ibu Lusy berteriak senang.
__ADS_1
Aaaaaaaa!
"Ibu!"
Chen dan Papa Erland menyebut Ibu Lusy bersamaan seraya menutup kupingnya, karena suara teriakan Ibu Lusy yang cempreng membuat keduanya segera menutup telinga.
Bahkan beberapa pelayan hingga datang menghampiri, karena takut terjadi sesuatu.
"Ada apa, Nyonya?" tanya lembut salah satu pelayan wanita.
"Ah, tidak apa-apa? hanya karena terlalu senang." Ibu Lusy nyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Baik, Nyonya. Kamu pamit mau lanjut kerja." Semua pelayan yang tadi datang langsung pergi.
Ibu Lusy beralih menatap Chen yang saat ini sudah selesai sarapan dan mau hendak pergi.
"Chen, Ibu akan bersiap untuk nanti malam." Ibu Lusy menekan setiap ucapannya, jangan sampai mengecewakan begitu arti ucapannya.
"Baik, Bu?" Chen menoleh ke belakang, lalu kembali melangkah menuju kamarnya. Dan akan segera menghubungi Tuan Remon untuk memberi informasi bahwa ia sudah mengatakan pada keluarganya.
Tuan Remon yang saat ini sedang menyeruput kopi hangat buatan Bibi, ia langsung tersenyum saat mendapat pesan masuk dari Chen.
Tiba malam hari.
Chen bersama kedua orang tuanya ke luar mobil dan kemudian berjalan menuju restoran yang sudah menjadi kesepakatan untuk pertemuan antar keluarga.
Di dalam ruang VIP sudah ada Tuan Remon dan Audrey yang menunggu kedatangan keluarga dari Chen.
Chen dan Papa Ibunya melangkah masuk ke ruang VIP, Papa Erland dengan langkah santai berjalan menuju tempat duduk, namun seketika mata Papa Erland membulat saat melihat sosok yang ia kenal berdiri di hadapannya.
"Re-Remon," Papa Erland menunjuk wajah Tuan Remon.
"Erland, hahaha kita ketemu kembali." Tuan Remon yang tadi sudah berdiri untuk menyambut calon besan, kini ia langsung berjalan menghampiri Papa Erland dan memeluk seraya menepuk punggung Papa Erland.
Audrey dan Chen sangat terkejut yang ternyata Ayah keduanya saling kenal.
Audrey yang masih belum percaya ia memastikan. "Ded, kenal?"
__ADS_1
Tuan Remon menoleh ke arah Audrey masih ada sisa-sisa tawa di wajahnya. "Tuan Erland adalan sahabat Daddy."
What!
Ucap Chen dan Audrey bersamaan, keduanya semakin terkejut, dan semakin terkejut dengan penjelasan Papa Erland.
"Dulu waktu kalian masih kecil, kalian sudah kami jodohkan."
What!
Ucap Chen dan Audrey bersamaan lagi dengan mata membulat hampir ke luar.
"Tapi mungkin kalian tidak ingat, karena kalian dulu masih terlalu kecil."
Ah,! rasanya Audrey ingin pingsan, jiwanya benar-benar ingin menolak bahwa Chen adalah pria baik masa kecilnya.
Tidak! ini tidak mungkin, padahal aku berencana akan mencari priaku masa kecil setelah nanti kami bercerai, dia bukan priaku, tidak! Audrey menggelengkan kepalanya membuang pikiran-pikiran buruknya.
Audrey dan Chen yang masih terkejut, mereka berdua tidak begitu mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya yang membahas hari pernikahan.
Chen dan Audrey saling menatap tajam, sama-sama mencari kebenaran tentang teman masa kecil, Chen yang juga tidak ingin Audrey adalah teman masa kecilnya karena wanita itu jauh berbeda, bahkan Tuan Remon juga wajahnya berubah, menurut Chen dulu Tuan Remon berwajah tampan dan sekarang jadi tua dan berkumis tebal serta rambut halus di wajah.
Chen beralih menatap Tuan Remon, ia menelisik wajah Tuan Remon dalam-dalam, Chen langsung menepuk jidatnya. "Oh my God," gumamnya setelah menatap dalam-dalam wajah Tuan Remon ternyata benar.
Audrey bersungut saat melihat Chen menepuk jidat, seolah bertanya kenapa kau.
Apa pun hasil keputusan kedua orang tuanya yang mengatakan satu minggu lagi keduanya harus menikah, Chen dan Audrey tidak menolak, keduanya masih berkubang dalam pikiran masing-masing.
Sampai rumah Ibu Lusy langsung mengabari Ethan perihal pernikahan Chen.
Di Dubai.
"Siapa?" Eren duduk di pangkuan Ethan seraya merangkul leher Ethan yang saat ini duduk di tepi ranjang.
"Ibu mengatakan satu Minggu lagi Chen akan menikah."
"Menikah." Eren mengulang ucapan Ethan seraya terkejut, pria playboy ternyata cepat juga mau menikahnya batin Eren.
__ADS_1
"Selesai urusan kita di sini, nanti kita langsung pulang." Ethan menatap wajah Eren yang mengangguk kecil, perlahan Ethan mendekatkan wajahnya lalu ******* bibir manis milik Ere.