
Audrey yang saat ini sedang makan siang di restoran tanpa sengaja seperti melihat Chen.
Audrey mengikuti untuk memastikan, dan benar saja pria itu adalah Chen yang sedang bersama wanita cantik.
Wanita mana lagi yang dibawa Chen pikir Audrey. Namun Audrey milih pergi ia tidak akan melabrak karena tidak ada urusan.
Baru beberapa langkah Audrey berhenti.
"Chen kan suami aku, harusnya aku marah dan menghajar wanita itu." Audrey kembali menoleh melihat mereka yang saat ini terlihat mesra.
Deg!
Chen, gumam Audrey. Setelah itu Audrey beneran pergi hatinya merasa sakit, padahal cinta juga tidak, entahlah Audrey sendiri juga bingung dengan dirinya sendiri.
Audrey di dalam mobil bersenandung ria, sudah melupakan kejadian yang baru saja ia lihat, musik adalah hidupnya, bila sudah mendengar musik Audrey akan merasa lebih baik, tapi jangan tanyakan sekencang apa musik yang Audrey putar.
Mungkin bila berada dalam satu mobil dengan Audrey saat ini, telinga orang lain akan langsung merasa sakit. Benar-benar kencang, itulah caranya menenangkan hati.
Mobil Audrey sudah sampai Apartemen, Audrey langsung masuk ke dalam menuju lantai kamarnya.
Audrey menghela nafas panjang, melangkah masuk lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi sofa, melihat ke seluruh ruangan, sebuah tempat ia bersembunyi dari Daddy Remon dan kini menjadi tempat tinggalnya sekarang.
Audrey masuk ke kamar, lalu membersihkan diri, Audrey berendam di bathtub.
Di Apartemen ini tidak ada pelayan yang menginap, semua itu atas permintaan Chen, karena tidak ingin ada yang melaporkan dengan keluarganya. Sementara Audrey hanya menurut. Yang penting pelayan tetap datang pagi hari untuk beberes.
"Kalo nanti malam Chen pulang, aku apakan ya enaknya," gumam Audrey dengan bermain busa hingga bertebaran ke lantai.
"Sepertinya dimasak bareng mie instan akan mantap rasanya, hahaha." Audrey tertawa kencang saat membayangkan sedang memasak Chen bercampur mie instan.
Audrey sudah selesai berendam, saat kakinya menempel di lantai, Audrey hampir terpeleset karena busa-busa tadi membuat licin.
Audrey mengguyur tubuhnya lalu mengambil handuk.
Saat ini sudah pukul enam sore. Audrey memakai pakaian santai lalu mengeringkan rambutnya.
Sambil menunggu Chen pulang Audrey menonton TV, di samping ia duduk sudah ada bantal guling yang nanti akan ia gunakan untuk memukul Chen.
Baru nonton TV tiga puluh menit, Audrey merasa lapar, ia membuat mie instan yang langsung teringat ucapannya tadi yang ingin memasak Chen bersama mie instan.
__ADS_1
"Hahah, Chen belum pulang mau dimasak."
Mie instan buatan Audrey sudah jadi, Indomie kuah rasa kari ayam yang aroma wanginya langsung bikin laper, kuahnya masih mengepul panas.
Audrey membawanya sambil nonton TV, suap demi suap hingga mie sudah habis dan waktu juga sudah mulai malam, Chen juga belum pulang.
Merasa mengantuk, Audrey ahirnya milih tidur, namun tidur di luar masih di depan TV.
Tepat pukul dua belas malam, Audrey bangun merasakan tubuhnya sakit karena tidur di karpet.
Teringat Chen, Audrey langsung bangun berjalan menuju kamar, mencari pria itu yang ternyata belum pulang.
"Chen ...."
Audrey menghela nafas panjang, ia kembali duduk di sofa, melihat jam sudah tengah malam, tapi suaminya belum pulang.
"Kayaknya gue akan sembelih dia benar deh, kalo nanti dia pulang!" Audrey kesal hatinya marah, bisa-bisanya Chen belum pulang sudah tengah malam.
Bagaimana kalo perselingkuhan Chen dengan wanita lain di ketahui Daddy Remon kan bahaya pikir Audrey.
Audrey berusaha menelpon Chen, nyambung hanya saja sama Chen tidak diangkat. Audrey mencoba hubungi Scarlett tapi wanita itu bilang sedang tidak bersama Chen.
Kali ini Audrey tidak hanya menyiapkan guling untuk memukul Chen, tetapi juga menyiapkan ikatan, yang nanti akan ia gunakan untuk mengikat Chen.
Audrey menunggu Chen sampai ketiduran kembali. Amarahnya sampai terbawa mimpi, di dalam mimpi Audrey ia menyembelih Chen tapi Chen malah tertawa bagaiman tidak tertawa bila yang digunakan untuk menyembelih adalah tangan Audrey sendiri.
"Oh, Chen diam kau!" teriak Audrey hingga terbangun.
Audrey memegangi dadanya, nafasnya masih naik turun dengan tempo cepat, seperti habis lomba lari.
Audrey masih mengatur nafasnya tiba-tiba pintu apartemen terbuka, menampakkan sosok pria yang sedari tadi telah ia tunggu hingga terbawa mimpi.
Chen melangkah masuk dengan menatap aneh ke arah Audrey, karena wanita itu rambutnya acak-acakan dan mengapa tidur di luar pikir Chen.
Audrey yang tadi sempat mengamuk di dalam mimpi kini semakin marah saat melihat wajah pria yang di tunggu-tunggu baru pulang.
Audrey berdiri lalu mendekati Chen, dan memutari Chen seraya menciumi aroma parfum yang menempel di tubuh Chen.
Audrey mencium parfum wanita, umpatnya langsung kesal.
__ADS_1
"Chen ...."
Mendengar Audrey teriak tiba-tiba, Chen menutup telinganya. Benar-benar membuat telinganya sakit.
"Jam berapa ini kenapa kamu baru pulang!"
Chen hanya memutar bola mata malas, lalu ingin pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam kamar, namun baru mau melangkah, tangannya sudah Audrey tarik.
"Jawab pertanyaan aku, Chen. Jawab!" Audrey membentak, kini keduanya saling menatap tajam.
Chen melipat kedua tangannya di depan dada, meski auranya dingin tapi pembawaannya tetap santai.
"Penting untuk kamu ketahui."
What!
Audrey tidak habis pikir dengan ucapan Chen barusan, benar-benar menusuk hatinya.
Chen membuang nafas panjang seraya menatap Audrey yang masih melotot ke arahnya, terlihat bila wanita itu sangat marah dengannya.
"Aku hanya berkumpul bersama teman-teman aku." Chen akhirnya menjelaskan, namun ia tidak tahu yang membuat Audrey marah itu adalah wanita tadi siang yang bersama Chen makan di restoran. Dan Chen tidak menceritakan hal itu.
"Kau bohong!"
Chen mengangkat kedua bahunya, terserah bila Audrey masih mau mengomel, ia hanya ingin tidur karena mengantuk.
"Tadi siang aku melihatmu makan siang di restoran bersama perempuan!"
Chen yang sudah mau sampai di depan pintu kamar, langkahnya terhenti saat mendengar suara Audrey yang dingin.
"Aku memang bukan wanita yang kamu cintai, Chen. Tapi apakah kau tidak bisa menghargai aku selama pernikahan ini, cuma lima bulan."
Chen langsung berbalik badan, saat mendengar ucapan Audrey lima bulan sembari menangis.
"Aku cuma takut Daddy aku sakitnya kambuh bila sampai melihatmu bersama wanita lain, aku harus bagaimana." Audrey masih menangis.
"Baiklah aku tidak akan ulangi." Chen menjawab cepat, karena ingin semua drama ini selesai, ia benar-benar sudah mengantuk.
Chen memegang handle pintu, namun sama Audrey tangan Chen di tepis.
__ADS_1
"Hukuman untuk kamu, tidur di luar!" Audrey mendorong tubuh Chen, lalu ia segera mengunci pintu dari dalam. Di dalam kamar Audrey tertawa tadi ia hanya akting mengatakan Daddy Remon sakit. Sementara di luar sana Chen mengumpat, dan ahirnya terpaksa tidur di sofa.