Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
S2. Ethan Jahil.


__ADS_3

"Tunggu ..."


Eren berhenti.


Ethan berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Eren. "Aku mencintaimu ... aku mohon beri aku kesempatan." Membalikkan tubuh Eren untuk mengarah kepadanya, Ethan menatap lekat bola mata Eren.


Sesaat Eren menatap Ethan, namun kemudian ia mengalihkan pandangannya.


Dan sesaat kemudian Eren merasakan ada yang memegang kakinya, ia menatap ke bawah.


Deg.


"Ethan tolong berdiri." Memegang bahu Ethan untuk membantunya berdiri.


Saat ini Ethan sedang bersimpuh di kakinya.


Ethan mendongakkan kepalanya dan masih belum mau berdiri. "Katakan apa yang harus aku lakukan ... supaya kau memaafkan aku."


"Aku sudah memaafkan kamu Ethan, jadi aku mohon jangan seperti ini." Kembali memegang bahu Ethan, namun Ethan malah meraih tangannya lalu ia genggam.


Memberi tatapan memohon. "Tidak, sebelum kau memberi aku kesempatan."


Eren menarik tangannya, ia tampak membuang nafas kasar, dan berpikir sejenak.


"Berdirilah dulu, maka aku akan bicara." Menatap kearah lain.


Ethan mengikuti perintahnya, lalu ia berdiri.


"Apa yang bisa kau lakukan? sehingga aku bisa percaya." Menatap Ethan.


"Jika kau bisa, akan aku pertimbangkan." Tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan Ethan.


Ethan menatap punggung Eren yang berjalan semakin menjauh. "Aku akan buktikan Eren." Tersenyum lega, kini akhirnya ia bisa mengungkapkan isi hatinya.


Keesokan harinya.


Di Boutique milik Eren, semakin hari semakin ramai pengunjung yang datang, bahkan pelanggan pun juga semakin bertambah.


Saat ini Eren sedang menyambut pengunjung Boutique, menyapa ramah dan tersenyum ramah.


Namun saat ia sibuk membantu melayani pengunjung, tiba-tiba ia dikagetkan oleh seorang pria yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"Kau ... mengagetkan aku saja!" Menatap tajam kearah Ethan.


Ya, pria itu adalah Ethan, mulai malam itu setelah ia mengatakan cinta kepada Eren. Ethan selalu menemui Eren, meski Eren masih bersikap dingin.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" Ethan bukannya marah tapi malah menawarkan diri untuk membantu.


"Tidak ada!" Nadanya ketus.


Tapi bukan Ethan kalo menyerah begitu saja. Ia berinisiatif mendekati salah satu pengunjung membantu sebisanya.


Eren geleng-geleng kepala melihat Ethan yang tetap bersikeras ingin membantu, pasalnya ini bukan yang pertama kali, karena Ethan mulai sering datang ke Boutique akhir-akhir ini.


Ethan melihat ibu-ibu paruh baya yang sedang melihat baju jas seorang pria.

__ADS_1


"Apa Nyonya menyukai?"


"Ah, iya ini bahanya halus sekali dan lembut." Ibu itu menjawab tapi tidak melihat orang yang mengajaknya bicara.


Ethan mulai memprovokasi. "Bila Nyonya suka, ambillah."


"Di sini barangnya limited edition." Ethan sedikit berbisik.


"Limited edition." Ibu itu mengulang yang Ethan ucapkan.


"Ya, bila Nyonya tidak mengambil sekarang ... maka nanti akan diambil pengunjung lain."


Ibu itu tampak berpikir, karena ia sendiri juga sudah menyukai jadi ibu itu membelinya.


"Saya akan ambil ini." Ibu itu menatap Ethan.


Dan ....


Deg.


Ibu itu terkejut ternyata orang yang sedari tadi berbicara dengannya adalah CEO Perusahaan Benz Company.


"Tuan berada di sini?" Ibu itu tampak kagum.


"Em saya ... saya pelanggan di sini, ya ... saya pelanggan."


Dan setelah ibu pengunjung itu pergi menuju kasir, Eren menghampiri Ethan lalu menarik telinganya.


"Aww, aku hanya ingin membantumu, kenapa telingaku ditarik." Ethan mengusap-usap telinganya yang terasa panas.


Eren tidak menjawab dan langsung memilih pergi kembali ke ruang kerja.


Eren memberi tatapan tajam seraya mencoba untuk menutup pintu ruang kerjanya, namun bukannya tertutup malah semakin terbuka lebar karena Eren kalah tenaga.


"Kau maunya apa!" bentak Eren.


"Mau ku." Ethan menunjuk dirinya.


Eren memutar bola mata malas.


"Aku maunya duduk di sini melihat kau bekerja." Menghempaskan diri di sofa.


"Ethan, kalo kau seperti ini itu hanya menggangguku." Eren tampak frustasi.


Karena setiap kali Ethan berada di ruang kerjanya itu, Eren tidak jadi mengerjakan kerjaannya karena Ethan yang selalu bertanya ini dan itu.


Ethan yang di tatap tajam oleh Eren seolah mengerti." Aku akan diam ... lihatlah aku akan tidur. Ethan membaringkan tubuhnya di atas sofa yang panjang di ruang itu.


Eren menghela nafas panjang melihat tingkah Ethan. "Apa dia selalu bersikap seperti ini bila dia jatuh cinta." Eren jadi teringat saat dahulu Ethan mencintai Liodra.


"Liodra." Eren membuang nafas kasar, mengingat Liodra membuat hatinya porak-porandakan.


"Bagaimana kalo dia lelah terus menyerah." Melirik Ethan yang sudah mulai terdengar dengkuran halus.


"Ah, tidak tidak, aku kan hanya ingin tahu seberapa penting aku di hatinya." Tampak lesu, memainkan pena mencoret-coret di atas kertas.

__ADS_1


Eren ahirnya lebih memilih melanjutkan kerjaannya, menggambar model gaun yang akan ia jadikan karyanya.


Hingga malam tiba.


Ethan sudah bangun dari tidurnya, dan ia juga membantu merapihkan tempat Boutique sebelum ditutup.


Kini keduanya sedang berjalan di parkiran mobil.


"Dimana mobilku?" Eren terkejut, melihat mobilnya tidak ada.


Berbeda dengan Ethan yang malah tersenyum penuh arti.


Eren menatap Ethan seraya memberi tatapan menyelidik. "Jangan bilang kau yang melakukan." Eren kesal


"Bukan aku." Mengangkat bahunya.


"Tapi Leo." Ethan tergelak tawa.


Eren benar-benar kesal dengan keusilan Ethan, ia langsung membuka handphone untuk memesan taksi online.


"Eh, kau mau apa?" Ethan merebut handphone Eren dengan cepat, sehingga menggagalkan niat Eren yang ingin memesan taksi online.


"Kembalikan handphone aku ..." Eren berusaha merebut.


"Tidak, pulang bersama aku." Ethan mengangkat handphone Eren tinggi-tinggi.


"Ethan!"


"Aku di sini."


Eren benar-benar kesal dibuatnya, karena tidak ada lagi pilihan, ahirnya Eren pasrah di antar pulang oleh Ethan.


"Dasar manusia menyebalkan," umpatnya seraya masuk kedalam mobil Ethan.


Dan meski sekedar mengumpat namun Ethan masih mampu mendengar. "Yang menyebalkan ini adalah pria penggemarmu." Masuk di dalam mobil duduk di kursi pengemudi lalu mengunci seluruh pintu mobil.


Eren yang sadar pintu mobil telah dikunci, ia benar-benar merutuki kebodohannya karena kesal sampai salah ambil duduk, harusnya di belakang saja.


Tapi tiba-tiba ia memiliki ide, Eren mau pindah ke kursi belakang lewat tengah namun Ethan sudah buru menghalangi.


Etha memasang seat belt. "Diam." Sesaat tatapan keduanya terkunci.


Eren ahirnya pasrah dan diam di sepanjang jalan hingga tiba di loby apartemennya.


Eren langsung keluar mobil dan berlari cepat, ia ingin segera jauh-jauh dari Ethan, terlalu lama dekat-dekat dengannya membuat jantungnya tidak sehat.


Ethan mendesah kasar dan setelah itu ia memutar mobilnya lalu melesat pergi meninggalkan Apartemen Eren.


Waktu menunjukan pukul sebelas malam.


Eren yang baru selesai mandi dan ingin segera tidur, namun tiba-tiba ada yang memencet bel kamar apartemennya.


Eren membuka pintu tapi tidak ada siapa-siapa, namun matanya tertuju pada bok di depannya.


Eren membuka bok itu dan ....

__ADS_1


"Aaaaaaaaaa." Eren menjerit ketakutan saat melihat isi bok itu yang ternyata adalah boneka baby yang dilumuri darah.


Eren masuk ke dalam apartemen lagi, lalu menguncinya dengan nafas yang masih tidak beraturan.


__ADS_2