
Eren baru saja mengantar Ethan berangkat kerja, mobil yang dibawa Ethan baru saja ke luar gerbang, saat Eren ingin kembali ke dalam Mansion, tiba-tiba ada yang memanggil dirinya, Eren menoleh ke arah sumber suara.
"Nyonya, ada surat," ucap satpam penjaga gerbang, Eren menerima surat itu lalu membawanya masuk ke dalam.
Eren membolak-balikkan surat tersebut ternyata tidak ada namanya.
"Dari siapa?" gumamnya sendiri seraya duduk di sofa. Eren membuka surat tersebut lalu membacanya, seketika matanya terbelalak ketika membaca isi surat tersebut ternyata berisikan sebuah ancaman untuk keluarganya.
Eren meremat surat tersebut hingga tidak berbentuk, seraya memikirkan bahwa ini bukan yang pertama tapi sudah berkali-kali Eren mendapat teror.
"Siapa sebenarnya yang tidak suka dengan aku." Eren berpikir keras mengingat-ingat siapa tahu dirinya punya salah pada orang lain dan ia lupa.
Eren membuang nafas berat saat tidak menemukan siapa pun di ingatannya, Eren memijit pelipisnya untuk menenangkan.
Setelah lama berpikir, Eren lebih baik menemui Ethan, dan berbicara dengan suaminya itu.
Eren lekas bangkit dari duduknya, lalu menuju kamar untuk bersiap.
Tiga puluh menit Eren sudah selesai bersiap, kini tujuannya mendatangi perusahaan Suaminya.
Tidak butuh waktu lama, Eren sudah sampai di Perusahaan Benz Company.
Saat ia masuk ingin ke ruang Presdir, receptionist mengatakan Ethan sedang pergi ke luar bersama Sekertaris Leo.
Ahirnya Eren milih menunggu di ruang kerja Ethan, berpikir sudah lama sekali tidak berkunjung di ruang kerja Suaminya, terakhir sepertinya saat pulang dari Paris dan mendatangi ke ruangan ini memergoki Ethan berciuman dengan wanita lain.
Eren menghela nafas kasar, mengingat kejadian waktu itu hanya membuat dadanya sesak.
Sambil menunggu Ethan kembali, ahirnya Eren lebih memilih tiduran di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Di tempat lain.
Di salah satu restoran ternama. Ethan sedang ada pertemuan dengan klien barunya yang bernama Fatih.
Ditemani Sekertaris Leo, meeting membicarakan sebuah kerja sama yang akan membangun sebuah Apartemen.
Cukup lama keduanya terikat perbincangan, membicarakan untung dan rugi juga serta jumlah pengeluaran.
Apartemen yang akan di bangun nanti letaknya di Bogor, dan salah satu Apartemen berkelas, tentu membutuhkan modal yang tidak sedikit.
__ADS_1
"Bagaimana, Tuan Ethan. Apa kah Anda setuju," ucap Fatih seraya tersenyum.
Ethan masih terlihat menimbang-nimbang keputusannya, karena ini kerja sama yang membutuhkan dana besar, ia harus memikirkan matang-matang.
"Boleh saya pikirkan dahulu? bukan apa-apa, besok akan langsung kabarin Anda." Ethan menatap Fatih seraya mengetuk-ngetuk meja dengan pena.
"Baiklah tidak masalah, kami siap menunggu."
Meeting antara keduanya selesai, Fatih bersama sekertarisnya keluar lebih dulu, Ethan membuka handphonenya yang ternyata ada pesan masuk Eren, yang mengatakan sudah berada di kantornya.
Ethan menghabiskan minuman kopinya, lalu bergegas pergi yang diikuti Sekertaris Leo di belakangnya.
Mobil melaju membelah jalanan raya, saat mobil melewati toko kue, Ethan meminta Sekertaris Leo untuk menghentikan mobilnya.
Sekertaris Leo menepikan mobilnya, Ethan ke luar mobil lalu berjalan masuk ke toko kue, mengingat Eren sangat menyukai kue, Ethan ingin membeli kue, yang kebetulan Eren berada di kantornya sekarang.
Setelah mendapatkan kuenya, Ethan langsung menuju perusahaannya dengan cepat.
Perusahaan Benz Company.
Ethan berjalan masuk, beberapa karyawannya menunduk saat berpapasan dengannya.
"Sayang," sapaannya setelah membuka pintu, berjalan mendekati Eren yang sedang berbaring di sofa.
"Apa yang membuatmu datang kemari, hem." Ethan berjongkok seraya mengusap puncak kepala Eren yang sedang tiduran di sofa.
"Ada hal penting." Eren bangkit, kini ia berubah duduk, Ethan berdiri lalu duduk di sebelah Eren.
Eren menatap Ethan, ia mulai menjelaskan tentang surat yang tadi pagi ia dapat, dan menjelaskan juga bahwa selama ini dia sering mendapat teror seperti itu, namun tidak selalu surat.
Mendengar cerita Eren, Ethan langsung memeluk Eren, takut Eren kenapa-napa.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh sendirian." Baru mengatakan tidak boleh sendirian, Ethan teringat bahwa Eren datang ke sini pasti sendirian.
Ethan menghela nafas panjang, perasaanya benar-benar khawatir, Ethan menangkup wajah Eren. "Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, aku akan mencari pelakunya."
Eren tersenyum kemudian memeluk Ethan. Setelah selesai pembicaraan tersebut, Ethan membuka kue, lalu memakan kue itu bersama.
Eren mau menyuap kue yang di pegang, namun tiba-tiba Ethan menyodorkan kue ke mulut Eren. "Makanlah, ini beda rasanya, lebih lezat," ucapnya seraya terkekeh.
__ADS_1
Hiss kuenya sama, apanya juga yang berbeda ucap Eren dalam hati.
Eren ahirnya melahap kue yang Ethan berikan, hingga tiba siang hari Eren mengatakan pulang, hari ini Eren tidak datang ke tempat kerja, ia ingin kembali ke Mansion.
Eren pulang di temani Sekertaris Leo, namun beda mobil. Karena Eren membawa mobil sendiri.
Di tempat lain.
Di sebuah ruangan yang tampak ruangan kerja juga, Fatih berdiri menghadap jendela menatap bangunan luar.
"Langkah awal untuk bisa bertemu, Eren. Sudah dimulai, hahaha."
Suara tawanya menggelegar keseluruhan ruangan, seolah merayakan awal mula rencananya yang berjalan sempurna.
Sekertarisnya datang memberi laporan, bahwa dari pihak perusahaan Benz Company, telah menyetujui.
Mendengar laporan tersebut, tawa Fatih semakin puas, peluang untuk merusak rumah tangga Eren akan semakin mudah.
Fatih mengibaskan tangannya, bertanda Sekertarisnya harus pergi dari ruangannya.
Fati membuka laci meja kerjanya, dan mengambil foto, yang ternyata adalah foto Eren dengannya di masa lalu.
"Kita memang sepupu Eren, tapi kita sepupu jauh, dan aku sangat mencintaimu. Sangat, Eren." Fatih mencium foto tersebut, foto yang sudah lama ia simpan, foto semasa SMA, dirinya menjauh karena Eren dahulu menolaknya atas alasan sepupu.
"Kau hanya milikku, hanya milikku ..."
Hahahaha!
Teriaknya dengan tertawa kencang, Fatih akan kembali memperjuangkan cintanya, karena kali ini ia merasa kekayaannya melimpah ruah, jadi sangat yakin bisa membahagiakan Eren, karena pikirnya semua wanita suka materi.
Fatih terdiam dengan sedikit membungkuk, tangannya terkepal di atas meja kerjanya, matanya berubah menajam, serta rahang mengeras. " Tunggu aku datang, Eren." Tersenyum menyeringai.
Malam hari.
Ethan pulang sampai rumah jam dua belas malam, karena pekerjaan banyak ia harus lembur, Ethan langsung membuka kamar, berjalan mendekati ranjang melihat wanita cantik yang selalu membuat hatinya rindu.
Ethan menundukkan kepalanya lalu mencium kening Eren dengan begitu dalam.
"I love you." Ethan mengusap lembut wajah Eren, tiba-tiba Ethan teringat obrolannya sama Eren tentang teror. Hatinya semakin khawatir terhadap wanita yang tidur dengan wajah teduh itu.
__ADS_1
"Aku harus segera menemukan orang tersebut," gumamnya dengan tangan terkepal.