
Kalau harus ku mengingatmu lagi
Aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah
Kalah, kuakui aku kalah
Cinta ini pahit dan tak harus memiliki
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang aku pilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah
Panjang perjalanan yang harus aku lalui
merelakan kamu.
"Daniel ...."
tampak seorang wanita cantik berpakaian modis, penampilan yang berbeda dari sebelum dirinya pergi ke Australia, wanita cantik itu terus berjalan seraya menarik kopernya mendekati pria bernama Daniel.
Daniel tersenyum melihat wanita yang terus berjalan kearah dirinya, "kau sudah sampai, apa kau lelah?"
"Tidak sama sekali." Dijawab cepat oleh wanita cantik itu disertai tawanya.
tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri, ada seorang pria tampan yang tersenyum kearah wanita cantik itu.
langkah pria tampan itu yang sempat terhenti saat merasa melihat sosok yang sangat dikenalnya berjalan melewati dirinya kearah yang berbeda. meski penampilan wanita cantik itu kini telah berbeda tidak seperti dulu saat ia mengenalnya, namun dirinya masih mampu mengenali wanita cantik itu.
"Hah, dia cukup hebat menjalani kehidupannya selama ini." Setelah berkata seperti itu, pria tampan itu kembali memakai kaca mata hitam lalu melanjutkan langkahnya untuk menuju penginapan meninggalkan bandara Ngurah Rai international airport di Bali.
ya, pria itu adalah Ethan yang saat ini sedang berada di Bali, ia ingin menyaksikan acara opening boutique milik Eren yang akan di gelar di Bali.
senyum Daniel semakin manis melihat tawa wanita cantik di hadapannya itu, "ayo ketempat penginapan kau pasti lelah." ucapnya seraya meraih tangan wanita cantik itu untuk diajak berjalan bersama.
"2009," gumam wanita cantik itu.
"Ya, aku sudah memesankan kamar ini untukmu, jauh sebelum kau tiba." Daniel menjelaskan.
"Terimakasih, kau sudah banyk membantu."
hahaha.
"Tidak usah berlebihan Eren, masuk dan istirahatlah, kau pasti lelah." Daniel mengacak rambut Eren dengan gemas.
"Emm, aku masuk." Eren mulai membuka pintu kamar.
Daniel menanggapi dengan tersenyum.
dan setelah Eren benar-benar masuk ke dalam kamar sewa, Daniel pergi meninggalkan tempat tersebut.
di tempat lain.
__ADS_1
Ethan tampak kesal saat menerima kartu kamar jauh berbeda dengan kamar yang udah dirinya pesan.
"Aku sudah memesan kamar dengan nomor 2009 dari sebelum-sebelumnya kenapa yang kau berikan nomor 2006!" Ethan memarahi receptionist.
"Maaf tuan kamar nomor 2009 sudah ada yang menempati," ucap receptionist itu seraya menundukkan kepalanya karena bersalah.
"Hah, sudahlah." Ethan langsung berlalu dari tempat itu untuk menuju kamar penginapan.
setelah sampai di deretan kamar, Ethan memandang nomor setiap kamar, untuk memastikan.
"2006 2009." Ethan menyebut nomor kamar yang kini saling berhadapan.
dan setelah itu Ethan membuka kamar nomor 2006, setelah memastikan itu adalah nomor kamarnya.
keesokan paginya.
Ethan sudah rapi lengkap dengan pakaian jas hitam. mengambil salah satu jam mewah miliknya untuk di gunakan, sambil berdiri di depan cermin seraya menatap pantulan dirinya sendiri.
setelah merasa penampilannya cukup, Ethan keluar kamarnya dengan memakai kaca mata hitam, menambah kesan ketampanannya.
pagi ini tujuannya akan melihat acara opening boutique yang di gelar oleh Eren.
waktu menunjukan sepuluh pagi.
di depan boutique.
satu
dua
tiga ....
di hitungan ketiga sebuah pita di potong bersamaan tepuk tangan yang meriah.
Beberapa orang ditempat tersebut mengucapkan selamat kepada Eren atas opening boutique milik Eren.
"Terimakasih."
beberapa orang yang tadi sudah tampak menunggu ingin memasuki boutique milik Eren kini satu per satu telah masuk ke dalam boutique tersebut setelah dipersilahkan.
dan setelah melakukan pemotongan pita, Eren tampak duduk untuk menjawab pertanyaan dari beberapa wartawan yang ingin mewawancarai dirinya.
"Apakan sebagai desainer adalah hobi nona Eren?"
"Iya, saya sangat hobi, dan itu hobi saya dari kecil."
"Apakah nona Eren pernah merasa kesulitan saat melakukan desainer baju?"
"Kesulitan pernah ada, namun terus mencoba dan belajar terus."
"Bisa tolong jelaskan, nona Eren bisa sukses di titik ini, itu seperti apa?"
"Intinya memiliki kegigihan dan semangat, karena apa pun yang ingin kita raih itu kuncinya harus gigih dan semangat, gagal coba lagi hingga berhasil."
"Pertanyaan terakhir nona."
"Apa kah ada seseorang yang spesial yang terus mensuport nona, hingga nona mampu berada di titik ini?"
"Haha, kalo untuk keluarga, keluarga pasti mensupport."
"Kalo seorang yang spesial nona?" Salah satu reporter mengulangi pertanyaannya seolah penasaran dengan kehidupan asmara wanita cantik ini.
"Boleh saya tidak menjawab, haha."
__ADS_1
"Ok baiklah, tidak masalah."
beberapa kamera terus berlomba mengambil gambar wajah Eren, yang saat ini tampak terlihat cantik dan senyum yang terus mengembang menghiasai wajah cantiknya.
Eren menengok kearah Daniel yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, keduanya saling melempar senyum manis.
dan dari tempat yang tidak jauh juga, Ethan melihat kegiatan Eren pagi ini.
Ethan tersenyum dengan menghela nafas. "Dia cukup hebat." Setelah itu dirinya ikut masuk ke dalam boutique, berjalan di belakang beberapa orang.
Ethan menggunakan topi hitam yang ia kenakan hingga menutupi wajah, terus berjalan namun sebelum sampai di pintu masuk boutique, langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja ia menengok ke papan ucapan selamat dari Daniel untuk Eren.
"Papanku harus lebih keren dari ini." Ethan. menengok ke belakang, ia melihat ada seseorang yang menjaga papan nama.
"Kau, cepat ganti nama papan nama ini dengan nama aku, yang besar tulisannya supaya terlihat itu dari aku." Ethan sedikit memukul bahu pria itu lalu menjelaskan keinginannya.
dengan patuh pria itu langsung menggantinya. menunggu beberapa menit nama papan itu kini berubah menjadi nama Ethan CEO Benz company.
setelah puas dengan yang dirinya minta Ethan membawa papan ucapan selamat itu di samping papan ucapan selamat dari Daniel. seolah tidak mau kalah tersaingi.
"Hah, punyaku lebih keren." Seraya memberi kedua jempolnya sendiri.
seorang wanita berpakaian jas yang berdiri sebagai penjaga depan pintu boutique itu terlihat tersenyum menertawakan tingkah ethan.
setelah itu Ethan langsung masuk kedalam boutique milik Eren.
wuuaahhhh.
Ethan merasa takjub melihat baju hasil desainer Eren, dari kalangan dewasa, yang tua dan yang muda hingga anak-anak dan bahkan ada baju bayi juga yang dirancang sangat lucu.
Ethan terus berjalan dirinya ingin mengetahui keberadaan Eren, dan kini dari bawah tangga ia melihat wanita yang mampu mencuri hatinya itu sedang berbicara dengan seorang wanita di lantai dua ditemani oleh Daniel.
Ethan terus menatap lurus kearah Eren, hingga Eren dan Daniel tampak terlihat akan menuruni tangga.
"Hah bahaya ... bahaya." Ethan tampak mencari sesuatu untuk bisa menutupi wajahnya, Ethan mengambil sebuah buku yang tergeletak di meja tidak jauh dari tempat ia berdiri, lalu segera menutup wajahnya, Ethan langsung sembunyi ia tidak ingin penyamarannya diketahui Eren.
Eren dan daniel terus berjalan tidak mengetahui keberadaan Ethan.
Ethan terus memperhatikan keduanya di balik persembunyiannya. "Hah, aku bisa bernafas lega." Ethan mengusap dadanya yang tadi sempat berdegup kencang karena hampir ketahuan.
setelah itu Ethan tampak berjalan lalu berhenti ketika ia melihat gaun anak bayi yang terlihat lucu, satu-satunya gaun bayi di boutique saat ini.
seorang wanita cantik menghampiri Ethan, "Apa tuan mau membelinya?" ucapnya ramah.
"Oh iya saya akan membelinya." Ethan mengeluarkan black card miliknya.
"Baik tuan nanti kami akan mengirimkan ke alamat tuan."
"Jangan nanti saya maunya sekarang." Tolaknya.
"Tapi tuan."
"Sekarang, aku akan membayar lebih." Tanpa mau di bantah.
"Baik tuan."
beberapa menit kemudian.
Eren tampak melihat plangkat yang tertempel di gaun bayi itu. "Sudah terjual."
"Ha ..." Eren terkejut.
"Nona baju ini sudah terjual, tadi ada pembeli yang menginginkan." Penjelasan dari pegawai wanita.
__ADS_1
"Baju itu tidak saya jual."
"Ha ..." pegawai wanita itu terkejut.