
Eren yang sudah selesai memotong sayur, ia beralih ingin melihat hasil telur yang Ethan buat, tapi baru menoleh Eren langsung menutup mulutnya dengan mata terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, telurnya hampir semua jatuh pecah di lantai, dan Eren melihat telur yang sudah di goreng hanya ada dua dengan warna sedikit hitam.
"Ethan mengapa telurnya ..." Eren menunjuk telur di atas lantai.
Ethan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf tadi pecah." Tertawa masam.
"Dan ini ..." Eren beralih menunjuk telur yang udah digoreng.
"Ah, iya ini hasilnya."
puji dong puji udah usaha keras ini, batin Ethan.
Eren tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, baginya ini sudah cukup, mengingat bahwa Ethan seorang pria yang terkesan tidak peduli apa lagi soal masak-memasak.
Tapi ini adalah salah satu bukti, pria yang pernah menjadi suaminya dulu, kini mulai merubah sikapnya, dan menuruti apa maunya.
Ethan masih menatap lekat wajah Eren yang masih melihat telur hasil kerja kerasnya. "Coba kau cicipi rasanya."
"Nanti kita makan bersama." Potong Eren cepat seraya tersenyum manis kearah Ethan.
Melihat pemandangan langka seperti ini, tentu membuat hatinya bahagia, Ethan seperti mengingat-ingat kapan terakhir Eren tersenyum manis padanya.
Yang pasti itu sudah lama sekali. Ethan mendesah kasar saat sekelebat teringat kenangan pahit saat memperlakukan Eren.
Kini semua masakan sudah tertata rapi di atas meja, Eren baru selesai memindahkan semua ke meja makan, Eren duduk sambil nunggu Ethan datang, karena tadi Ethan ijin mandi.
"Udah selesai," tanya Eren ketika melihat Ethan menarik kursi lalu duduk di sebelahnya.
"Udah ... ayo makan aku sudah lapar." Menatap kearah Eren.
Dan seketika Eren mengalihkan pandangannya, ia belum siap bila mata keduanya itu saling bertemu.
Kini keduanya makan bersama namun saling diam hingga makan siang itu selesai.
Eren membersihkan meja makan lalu mencuci piring.
Di ruang tamu Ethan sedang perang dengan pikirannya.
"Ah, malu sekali dengan hasil telur yang aku goreng." Mengusap wajahnya dengan kasar.
"Padahal rasanya asin dan pahit, tapi kenapa dia mengatakan enak." Menengok ke belakang arah Eren sedang mencuci piring.
Ethan buru-buru ke posisi semula saat matanya menangkap bayangan Eren melangkah ke arahnya.
Tidak lama dari itu, sofa yang Ethan duduki berasa bergerak, ia menoleh kearah samping dan matanya langsung menatap wajah wanita yang nampak terlihat lelah.
Eren menyandarkan punggungnya di sofa tersebut dengan mata terpejam.
"Kau tampak lelah dan ngantuk." Ethan memberanikan diri ingin mengusap puncak kepala Eren. Namun tangannya berhenti di udara saat mendengar sebuah suara.
__ADS_1
"Jangan coba-coba memegang rambutku," ucapnya dingin masih dengan mata terpejam.
ealah nyonya tau aja niat hati, padahal itu mata melek juga kagak, batin Ethan.
Perlahan Ethan menjauhkan tangannya dari kepala Eren seraya terkekeh. "Maaf gak ada niat apa-apa kok."
Eren memiringkan tubuhnya mengarah ke Ethan, masih posisi bersandar. "Apa kamu tidak kembali ke kantor ... kasihan Asisten Leo ... ayolah profesional." Eren membuka mata sebentar lalu terpejam lagi.
"Apa kmu mengusirku?" Ethan menatap Eren, sedikit ngambek.
Eren membuka matanya lagi meski terasa berat. "Perusahaanmu juga penting ... tetaplah bekerja jangan hanya fokus kepada aku."
"Baik aku kan menurutimu ...asal kau mau janji." Ethan menaikan ujung bibirnya.
"Apa ..."
"Asal kamu jangan bertemu lagi sama Daniel ... Daniel playboy itu."
"Hemm."
Ethan tersenyum penuh kemenangan, Ethan membetulkan bagian pundak jasnya dan merapikan jas depannya seraya berdiri penuh rasa bangga, karena sudah mengatakan kalimat larangan untuk Eren dan di sanggupi.
"Aku pergi."
"Hemm."
Ethan menatap Eren sejenak sebelum pergi dan dengan memberanikan diri Ethan melabuhkan ciuman di pipi Eren sebelum ahirnya ia berlari kencang hingga membuat kakinya menendang tong sampah dekat pintu.
Setelah merasa sudah mendingan, Ethan melangkah keluar namun sebelum itu ia sempatkan untuk menengok Eren yang masih tertidur di sofa.
Di Perusahaan Benz Company.
Para karyawan bagian staf terlihat duduk santai sehabis makan siang dan masih ada jam waktu istirahat.
"Hampir satu minggu ini aku tidak lihat si Bos," ucap Tina sambil menyuap cemilan.
"Bukannya enak gak ada si, Bos."
"Kerjaan santai ..." nada bicaranya mendayu.
"Iya santai tidak ada yang buru-buru," timpal gia.
Hhhhhhh.
Ketiga gadis itu tertawa bersama.
Namun seketika tawa kencang itu lenyap tanpa bekas saat tiba-tiba melihat siapa yang datang.
Gia menepuk tangan temannya yang masih belum menyadari siapa yang datang supaya temannya mau diam.
Ketiga gadis itu semakin gemetaran saat melihat sosok yang berpengaruh di perusahaan ini, itu berjalan mendekat kearahnya. Dan ....
__ADS_1
"Susi."
Susi gadis berkacamata bulat rambut ikal itu langsung menatap pemilik suara.
"I ... iya, Tuan."
"Segera pesan ruang VIP di restoran ... untuk makan malam ... dan buat undangan seluruh karyawan untuk hadir, selamat bersenang-senang. " Ethan berlalu dan tersenyum ramah kearah semua bawahannya.
Susi yang tadi posisi berdiri, ia langsung kembali duduk dan merasa lega, terlihat beberapa kali menarik nafas.
"Si Bos kesambet apa ya, kenapa jadi baik dan ramah gitu."
"Iya baru pertama kali aku lihat si Bos tersenyum, aduhh ganteng banget."
"Hei, udah-udah kerja-kerja waktu istirahat habis!"
Di ruang Presdir.
Ethan langsung duduk di kursi kebesarannya, tidak lama dari ia masuk ruang kerja, Asisten Leo masuk seraya membawa beberapa file dokumen.
"Tuan." Meletakan file yang ia bawa di atas meja kerja milik Ethan.
Ethan meraih lalu segera menandatanganinya.
"Tiga hari ke depan kita ada perjalanan bisnis ke Bali Tuan.
"Lama sekali." Menatap tak suka kearah Asisten Leo.
"Tiga hari Tuan, tidak lama."
"Itu lama! ... bagaimana dengan Eren ku." Meletakkan kasar file ke tangan Asisten Leo.
Asisten Leo membuang nafas panjang.
"Tuan, di Bali kan banyk khas barang-barang antik." Mengintip eskpresi wajah bosnya yang masih biasa aja berati aman, melanjutkan bicara lagi, "Tuan nanti beli hadiah, pasti Nona suka."
Asisten Leo mengintip lagi eskpresi bosnya dan ternyata idenya mujarab, wajah Ethan yang tadi di tekuk kini berubah senyum sumringah.
"Kau benar kau benar."
"Dan kau harus bantu nyariin hadiah itu."
"Siap Tuan pasti Tuan."
**C**ari aman saja supaya semua berjalan lancar, batin Asisten Leo.
Tiba malam hari.
Di Apartemen Eren.
Eren baru pulang dari tempat kerjanya karena sehabis makan siang ia kembali ke Boutique. dan saat ia mau masuk ke Apartemennya, ia menemukan sesuatu di depan pintu.
__ADS_1
"Peso, mengapa di bungkus kain?" Eren mengambil benda itu dan seketika matanya terbelalak saat kain yang menyelimuti peso itu Eren buka.