
setelah tiba di bandara namun tidak bertemu Eren, akhirnya Ethan memutuskan untuk kembali ke kantor.
Ethan membuang nafas kasar seraya menjatuhkan diri di kursi kebesarannya.
menatap langit-langit ruangan tersebut seraya memikirkan waktu masih sangat lama untuk bertemu kembali dan bahkan tidak menentu itu kapan.
"Apa aku harus menyusulnya." Pikirnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ah tidak tidak tidak." Ethan berdiri dan menghela nafas panjang.
Ethan terlihat mondar-mandir di ruang itu, seperti sedang memikirkan sesuatu.hingga terdengar suara Leo.
"Tuan." Leo menghampiri Ethan lalu menyerahkan dokumen ke tangan Ethan.
"Perusahaan sedang mengalami sedikit failed tuan."
Ethan mengambil dokumen tersebut lalu membuka dan membacanya.
setelah selesai membaca dokumen itu Ethan menutup kembali,lalu menyerahkan kembali kepada Leo.
Ethan kembali menghela nafas panjang, kini ia harus fokus ke perusahaan yang saat ini lebih membutuhkan dirinya.
"Besok siapkan meeting, dan kumpulan para dewan direksi."
"Baik tuan."
setelah itu Leo pergi meninggalkan ruang tersebut.
setelah kepergian Leo, Ethan tampak mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.
sebuah benda kecil berwarna mewah bludru yang di dalamnya ada sebuah cincin yang bertahtakan berlian milik keluarga Benz secara turun-temurun itu.
"Aku terlambat." Ethan memandangi cincin itu seraya tersenyum kecut, dirinya tampak berulang-kali membuang nafas panjang.
kemudian ia masukan lagi benda kecil itu kedalam laci tempat semula.
"Semua ini terasa kosong, dia pergi tanpa jejak yang mampu bisa mengobati rasa rinduku," Ethan matanya sudah memerah menahan tangis, berulangkali ia mengerjap-ngerjapkan matanya supaya bulir bening itu tidak menetes.
"Jika aku mampu melukis wajahmu, pasti sudah aku lukis." Ethan tersenyum getir dan sorot matanya sendu.
"Jika pernikahan kala itu bisa aku ulang kembali, aku akan meminta foto pernikahan bersama dirimu sebanyak mungkin, dan ... dan arghhhh."
Ethan marah sama dirinya sendiri, ia sangat menyesali perbuatannya, kepergian Eren seolah membawa pergi seluruh hidupnya, bahkan apa yang mampu ia lihat dari Eren kini tidak ada, satu pun ia tidak memiliki yang mampu mengobati rasa rindunya.
merasa habis mengucapkan kata melukis, Ethan langsung tersenyum penuh arti seolah baru mendapatkan ide.
"Aku harus menemui seseorang yang bisa melukis, ya ... harus, sekarang." Ethan langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya.
saat Ethan sudah berjalan sampai di depan lift, langkahnya terhenti seolah mengingat sesuatu.
"Tapi kemana aku harus mencari," gumamnya sambil berpikir.
setelah teringat ia memiliki asisten yang bisa ia andalkan dalam segala hal apa pun, Ethan langsung menghubungi Leo.
"Leo cepat kau cari seseorang yang ahli melukis, dan bawa dia kemari untuk menemui aku di ruang kerja.
Tut Tut Tut.
sambungan telepon terputus.
Leo menghela nafas panjang, mendengar permintaan bosnya.
"Apa tuan mau belajar menggambar, hah ... pekerjaan masih banyak, mengganggu saja."
Leo menggerutu walau beraninya hanya ketika di belakang bosnya, meski begitu ia tetap melakukan perintah tuannya.
satu jam kemudian.
tok tok "Tuan."
__ADS_1
"Masuk."
kreekk. "Mari pak silahkan masuk." Leo mengajak seorang pria yang ia dapatkan dari informasi bahwa pria itu pandai melukis.
Ethan yang melihat Leo membawa orang yang ia inginkan, Ethan langsung tersenyum.
"Leo kau boleh pergi."
"Baik tuan.
pria itu kini duduk dan sudah siap dengan peralatan lengkap melukis.
"Bisa tuan sebutkan, seperti apa sosok yang akan saya lukis." Pria itu sudah siap mendengarkan seraya dirinya mau mulai melukis yang Ethan bicarakan.
dia bukan malaikat,
tetapi dia adalah wanita tangguh
menyelamatkan keluarganya.
dia buka sebuah pohon rindang,
yang enak untuk bersantai, tetapi
matanya teduh mampu membuat siapapun
merasakan kedamaian.
bagaikan alunan musik penghantar tidur,
ucapannya yang selalu lembut.
mata yang selalu menyilaukan cahaya,
mampu menyembunyikan luka
yang teramat dalam.
pemilik bermacam warna
membuat yang melihat akan mengagumi
seperti karang, yang tidak pernah terkikis
meski terendam air ribuan tahun.
itulah dia yang tidak akan kalah,
ataupun menyerah.
mampu menghidupkan akar mengering,
kini tumbuh dan memiliki harapan.
cinta yang tidak mungkin akan ada lagi,
kini bisa percaya lagi.
senyumnya seperti lukisan ratu,
membuat pikiran seseorang terus mengingatnya.
tanpa terasa sudut mata Ethan mengeluarkan cairan bening, hanya mampu segitu Ethan menggambarkan sosok Eren, karena ia belum mengenal dalam dan disaat ia ingin mengenal lebih dalam, namun takdir belum menginginkan.
"Tuan silahkan ada lihat." Pria tersebut memperlihatkan hasil lukisannya kepada Ethan.
"Amazing." Ethan mengagumi hasil lukisan pria itu, matanya berkaca-kaca seolah saat ini dirinya sedang beneran menatap wajah Eren, lukisan yang sangat nyaris sempurna benar-benar mirip dengan orangnya.
"Terimakasih pak, terimakasih." Ethan menjabat tangan pria itu.
__ADS_1
dan setelah pria itu pergi, Ethan meletakkan lukisan besar itu di dinding ruangannya yang mengarah langsung ke kursi kebesaran miliknya.
dengan bantuan asisten Leo semua berjalan sesuai harapannya.
Ethan tersenyum puas. "Eren ... aku menunggumu."
keesokan harinya.
waktu menunjukan pukul tujuh malam.
setelah selesai meeting bersama klien, Ethan langsung pulang ke mansion, karena tadi ia telah di telfon oleh papa Erland untuk pulang cepat.
mobil Ethan sudah terparkir sempurna di halaman mansion, Ethan segera memasuki ke dalam rumah.
tap tap tap, langkah Ethan terhenti tatkala ia melihat seseorang yang kini duduk di ruang keluarga.
Ethan tampak membuang nafas kasar seraya tersenyum miring. ia tidak perlu heran dengan kedatangan orang itu.
"Ethan duduklah, Nak."
setelah Ethan duduk, papa Erland langsung membuka suara.
"Ethan papa mohon ..." Papa Erland masih menjeda ucapannya.
namun Ethan seolah sudah tau arah pembicaraan sang papa.
"Tolong maafkan kesalahan adikmu, dan biarkan dia tinggal serumah lagi dengan kita."
Ethan tersenyum seraya membuang muka.
"Kesalahan dimasa lalunya tolong maafkanlah." Papa Erland menatap dalam kearah Ethan, berharab putra pertamanya itu mau mengerti keinginannya.
namun Ethan masih belum buka suara. wajahnya datar dan auranya tampak dingin.
"Ethan ... mama mohon nak." kini ibu Lusy juga berusaha membujuknya, seraya menggenggam tangan Ethan dengan lembut.
sentuhan lembut tangan ibunya kini mampu meredakan amarah yang membara di dalam hati Ethan.
"Dia boleh tinggal bersama kita lagi."
ibu Lusy dan papa Erland sudah tersenyum mendengarnya.
"Tetapi ada syarat."
senyum ibu Lusy dan papa Erland langsung meredup mendengar kata syarat.
"Aku terima," ucap pemuda itu, padahal ia belum tahu syarat apa yang dimaksud Ethan, namun demi kedua orangtuanya ia akan lakukan pikirnya.
Ethan tersenyum sinis, dan terus menatap pria muda itu dengan inten.
"Pegang dan urus anak cabang perusahaan yang ada di kota sebelah ... tidak ada uang yang akan kau terima tanpa kerja keras."
pria muda itu tercengang karena harus melakukan pekerjaan yang benar-benar tidak ia sukai, tetapi akan ia lakukan demi orang tuanya.
dan setelah mengatakan hal itu, Ethan langsung melenggang pergi menuju kamarnya.
meski masih ada rasa kecewa terhadap adiknya, namun ahirnya ia memilih menyetujui dia tinggal kembali di mansion ini, mengingat juga bahwa adiknya yang juga ikut andil menyelesaikan masalah Eren.
ya, Chen adalah adik satu-satunya Ethan.
di kamar mandi Ethan membasuh wajah tampannya seraya menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin. Ethan mengingat kembali kejadian lima tahun lalu yang membuat Chen harus pergi.
flas back off.
"Chen!"
suara Ethan menggelegar keseluruhan ruangan.
"Kau, beraninya kau." Ethan menarik kerah baju Chen yang saat itu sedang tidur di kamar.
__ADS_1
bug bug bug.
Ethan langsung memberikan sarapan bogem mentah di wajah dan perut Chen.