
malam harinya.
"Kak?"
Megy yang baru datang ia berjalan mendekati kakaknya.
Eren tersenyum melihat kedatangan sang adik, dalam hati ia sangat bersyukur, kini adiknya bisa berjalan meski masih dalam bantuan tongkat.
Eren merentangkan kedua tangannya. "Kakak merindukanmu ...."
Megy langsung memeluk kakaknya. "Kak, selalulah sehat, Jagan sakit lagi."
"Kau juga, hem." Eren mengusap punggung sang adik.
"Iya, kakak sendiri." Megy melerai pelukannya, matanya seraya memandang ke sekeliling ruangan.
Eren tersenyum mendapati wajah kebingungan dari sang adik. "Kau mencari siapa? kakak ipar sedang keluar, kakak tidak sendiri ada suster juga ada dokter." Jlasnya kepada sang adik.
Eren meraih tangan Megy, ia menepuk-nepuk punggung tangan itu, "sekarang semuanya telah selesai," menjeda ucapannya seraya menatap dalam kearah Megy.
Eren menggenggam erat tangan sang adik, "Mulai sekarang jangan takut lagi ... dan mulailah hidup normal seperti dulu lagi." Eren meraih sang adik dan kembali memeluknya.
"Tante Talita." tanyanya sambil membalas pelukan sang kakak.
Eren nampak membuang nafas panjang lebih dulu."Tadi sebelum kakak ipar pergi dia mengatakan bahwa Tante Talita dan Antoni mantan sekretaris papa, mereka sudah diamankan di kantor polisi."
obrolan keduanya terhenti ketika tiba-tiba ada sebuah suara mengagetkan.
"Hey ... taraaaaaa." Ibu Lusy masuk disertai suaranya yang cempreng.
senyumnya merekah seperti bunga baru bermekaran, kakinya terus melangkah masuk, kedua tangannya membawa kue ulangtahun sesekali membawanya berputar-putar seperti menari.
"La la la laaaaaa." berhenti berputar lalu menghampiri Eren.
"Happy birthday sayang." Ibu Lusy mencium puncak kepala Eren, senyumnya masih terus mengembang.
Eren tersenyum, lalu ia meniup lilin yang baru saja di nyalakan.
"Kurang meriah kurang meriah tepuk tangannya." Ibu Lusy menatap suaminya dan Megy untuk memberi tepuk tangan yang lebih meriah.
seulas senyum nampak terlihat bahagia di wajah Eren, bola matanya nampak jelas berbinar melihat tiga orang tersayang dengan segenap usaha mereka untuk menghibur dirinya, kini ia tidak menyangka akan merasakan seperti keluarga utuh sama hal nya disaat orang tuanya dulu masih ada.
rasanya sulit untuk dipercaya, mendapatkan perlakuan manis seperti ini, bila mengingat pernikahannya dulu ditentang oleh ibu mertuanya, namun kini ibu mertuanya lah yang paling antusias membawa kue dan membuat suasana menjadi rame.
__ADS_1
"Mama." Eren memeluk ibu Lusy sambil terisak, kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya yang masih sedih karena habis kehilangan calon bayinya.
ibu Lusy mencium puncak kepala Eren seraya mengusap punggung menantunya, seolah memberi ketenangan dan kekuatan.
beberapa detik keduanya dalam suasana pilu, masih dalam saling memeluk, tuan Erland tampak membenarkan kaca matanya lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu, hingga sebuah suara mampu merubah suasana yang tadi pilu berubah canggung.
"Kakak kan bisa bikin adik bayi lagi sama kakak ipar, jadi jangan bersedih lagi."
setelah berkata seperti itu Megy tersenyum meringis tanpa dosa.
ibu Lusy seolah langsung mendapat pencerahan, dalam hatinya membenarkan ucapan Megy. ibu Lusy mengedipkan satu matanya ke arah Megy.
"Wahhh itu benar sayang, kau Jagan berlarut-larut bersedih." Ibu Lusy menatap wajah Eren.
"Mama apaan sih." Eren menyembunyikan rona rasa malunya.
"Wahhh liat wajahmu sudah merah merona, hahahaha." Ibu Lusy semakin semangat mencandai Eren.
waktu semakin larut, kini Eren tinggallah sendiri, kedua mertua dan adiknya sudah pulang lima belas menit yang lalu.
waktu menunjukan pukul dua belas malam.
seorang pria tampan masih lengkap dengan pakaian kerja membuka pintu ruang tersebut lalu berjalan masuk menghampiri wanita yang tengah berbaring, meski tadi auranya tampak lelah namun setelah melihat wajah wanitanya, kini seolah mendapat vitamin hingga membuat aura lelah itu menghilang seketika.
matanya terus mengunci menatap lurus wajah Eren, seolah untuk membayar waktu yang beberapa jam lalu pergi meninggalkannya.
satu Minggu berlalu.
hari ini Eren sudah lebih baik, dan sebentar lagi sudah boleh pulang kata dokter.
kreekk, pintu ruangan tersebut terbuka, membuat Eren yang saat ini berdiri di balik jendela langsung menengok ke arah sumber suara.
"ayo saatnya sarapan, aku membawakan sarapan dari luar, pasti kau bosan makan masakan rumah sakit terus." ucapnya seraya meraih tangan Eren untuk membawanya duduk.
"Buka mulutnya."
satu suapan telah masuk di mulut Eren.
ya, setiap jam makan, pasti Ethan akan menyiapkan dan menyuapi Eren, ini ia terus lakukan selama ini, Ethan pergi bila ada pekerjaan yang hanya benar-benar penting membutuhkan kehadirannya bila tidak semua pekerjaan cukup di handle oleh Leo.
"Apa aku boleh bertanya?" Eren membuka mulutnya lagi untuk menerima suapan.
"Makan, habiskan dulu." Sudah seperti perintah dan larangan, wajahnya datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Eren buru-buru mengunyah supaya cepat selesai, namun kegiatannya terhenti saat kembali mendengar suara peringatan.
"Tidak usah buru-buru mengunyahnya, pelan-pelan nanti tersedak." Ethan menyodorkan gelas minum ke arah Eren.
Eren tampak menghela nafas lalu setelahnya ia meminum air itu seraya memutar bola mata malas.
biasanya juga pasien yang bawel bukan suster, tapi kenapa dia yang bawel dan bukan aku.
sarapan pagi itu di lalui seperti biasanya.
Eren yang melihat Ethan mau keluar ruangan ia buru-buru mencegah.
"Tunggu."
"Duduklah aku mau bicara."
Ethan yang tadinya mau ke minimarket sebentar jadi mengurungkan niatnya.
"Untuk soal surat perjanjian itu ... aku serahkan semuanya kepadamu." Eren menatap lurus kearah lain.
ya, pada akhirnya Eren memilih untuk mengiklaskan, karena sesuai perjanjian itu bahwa ketika masalahnya selesai maka hubungannya dengan Ethan pun juga selesai.
Ethan saat ini sedang berada di dalam kamar mandi, ia membasuh wajahnya dengan air berulang kali, untuk meredakan hawa panas karena menahan kesal, ingin rasanya ia berkata kenapa kau ingin pergi?, apa kau tidak ingin memulai semua dari awal?, kenapa kau tidak memberikan kesempatan kepadaku? namun sayangnya semua pertanyaan itu hanya berhenti di tenggorokannya.
Ethan menatap dirinya melalui pantulan cermin, sesekali masih membasuh wajahnya dengan air, nafasnya masih tidak beraturan.
ya, ada rasa tidak terima ketika Eren meminta ingin pergi dan mengakhiri hubungannya, ada rasa sakit di dalam sana lebih dari sebelumnya, seperti di tusuk ribuan jarum.
Eren yang sedang bersandar di ranjang pasien, merasa bingung melihat kepergian Ethan, padahal ia belum selesai bicara.
"Apa dia sakit, kenapa buru-buru sekali masuk ke kamar mandi." Eren menatap ke arah pintu kamar mandi dan kedua matanya kini bertemu dengan bola mata manik indah milik Ethan yang saat itu keluar dari dalam kamar mandi.
Ethan menghampiri Eren, tatapnya mengunci tanpa mau berkedip.
"Kau baik-baik saj ...."
ucapan Eren langsung di potong cepat oleh Ethan.
"Aku ijinkan kau pergi, dan akan aku penuhi semua permintaanmu."
Deg.
meski awalnya Eren terkejut Ethan akan semudah itu mempersetujui, namun setelahnya ia sadar ini lah yang paling terbaik untuk keduanya.
__ADS_1
Ethan menarik sudut bibirnya sedikit.