
Di tempat yang berbeda.
Daniel yang tadinya hendak mau menjemput Eren, namun saat sampai di ruko tempat Eren bekerja, ia malah melihat seorang laki-laki yang keluar dari dalam ruko dengan keadaan lesu.
"Eren." Daniel mendekati Eren yang sedang duduk di ruang gelap.
Lampu menyala.
Kini Daniel dapat dengan jelas melihat wajah Eren yang terlihat habis menangis.
"Siapa pria itu?" batin Daniel.
Satu Minggu berlalu.
Daniel yang waktu itu sempat bertanya-tanya, tentang siapakah laki-laki yang keluar dari tempat kerja Eren dengan keadaan lesu.
Kini ia sudah mendapatkan informasi tentang pria itu yang ternyata adalah mantan suaminya Eren.
"Ethan Benz." Membaca nama seseorang yang berada di berkas tersebut.
"Tapi aku sudah terlanjur mencintainya ... meski aku sudah ia tolak ... tapi aku juga tidak ingin ada orang yang membuat dia menangis." Daniel menutup berkas itu, lalu ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Di boutique milik Eren, tampak pengunjung lebih ramai dari biasanya, setelah kolaborasi dengan perusahaan Benz Company benar-benar membuat karyanya semakin dikenal oleh banyak kalangan.
Dari kalangan menengah hingga kalangan sosialita ke atas. Seperti halnya dengan hari ini, para istri-istri pembisnis datang berkunjung ke boutique milik Eren.
"Wah, Nona Eren ini sangat bagus sekali." Ibu Ketty menatap kagum pada gaun yang ia pegang.
Eren tersenyum. "Terimakasih atas pujiannya Nyonya."
"Saya mau yang ini." Ibu Ketty menatap Eren dengan tersenyum. "Buat menantu kesayangan, kikiki."
"Wah, bakalan senang pasti menantunya dapet hadiah dari Nyonya." Eren tersenyum seraya menunduk hormat.
"Sinta." Eren memanggil karyawannya.
"Baik Nona." Sinta berjalan mendekat.
"Tolong dibungkus ya, gaun ini." Eren menunjuk gaun yang masih di pegang oleh Ibu Ketty.
"Baik Nona."
"Nyonya, maaf saya tinggal dulu."
"Baik Nona, tidak apa-apa. Ibu Ketty tersenyum.
Eren lalu berjalan menemui pelanggan VIP, yang baru melangkah masuk.
"Nyonya." Sapa Eren saat sudah dekat dengan keluarga Wijaya.
"Nona, hari ini suami saya tidak bisa hadir ... apakah bisa yang di ukur lebih dulu saya dan putri saya ini?" Eren tersenyum. "Bisa Nyonya."
"Mari Nyonya." Eren mempersilahkan keluarga Wijaya untuk masuk ke dalam ruangannya, untuk pengukuran, karena akan memesan gaun beserta baju.
Perusahaan Benz Company.
"Tuan nanti malam ada acara amal."
"Hmm." Membubuhkan tanda tangan di setiap berkas.
"Apakah Tuan mau menghadiri?"
"Hemm." Membolak-balikkan berkas seraya memastikan tidak ada yang salah.
"Baik Tuan."
Ethan menumpuk beberapa berkas lalu memberikannya lagi kepada Asisten Leo. "Jam berapa acaranya dimulai." Menatap Asisten Leo.
"Jam delapan malam Tuan." Menjawab cepat.
__ADS_1
"Siapkan semuanya."
Kreekk.
Pintu dibuka dari luar menampakkan wanita paruh baya, dengan wajahnya tampak kesal.
Asisten Leo langsung undur diri melihat siapa yang datang ke ruang Presdir.
"Mama." Ethan menatap Ibunya.
"Apa yang membuat mama menyempatkan waktu datang kemari?" Ethan mengerutkan dahinya.
Ibu Lusy berjalan cepat kearah sofa.
Brukk.
Ibu Lusy melempar tas, dan menjatuhkan diri duduk di sofa, dengan wajah ditekuk.
Ethan melihat hal itu langsung geleng-geleng kepala. "Oh, benar-benar Nyonya ini," batinnya.
Tiba malam hari.
Daniel menghampiri Eren di tempat kerja. Ia menunggunya di dalam mobil, tidak lama setelah beberapa saat muncul sosok wanita cantik yang berjalan kearah mobilnya.
Daniel keluar mobil seraya tersenyum. "Sudah siap."
"Tentu saja." Eren membalas senyuman.
Daniel membukakan pintu. "Silahkan."
"Terimakasih." Eren lalu masuk ke dalam mobil.
Dan setelahnya mobil melaju ke sesuatu tempat yaitu sebuah acar amal.
"Malam ini kau sangat cantik." Daniel menengok kearah Eren.
"Terimakasih." Eren tersenyum kecil.
Di tempat lain.
Ethan sedang drama memilih-milih jas yang ingin ia pakai untuk acara malam ini.
"Leo ini gimana ... kenapa jas nya semua jelek." Memandang jas yang di pakai lewat pantulan cermin.
Leo yang diajak bicara berdecak kesal. "Tuan acaranya sudah mau mulai nanti telat."
"Apa kau bilang!" Memberi tatapan tajam.
"Apa kau mau melihat aku menggunakan jas jelek-jelek ini, huh." Ethan kesal seraya menunjuk jas-jas yang tergeletak di sofa.
"Bukan seperti itu Tuan." Asisten Leo mendekati jas-jas yang tergeletak di sofa.
Asisten Leo turun tangan untuk membantu memilihkan. "Ini bagus Tuan, saya jamin." Memberikan satu set jas warna hitam.
Ethan menatap sekilas lalu meraihnya dan langsung masuk ke ruang ganti.
"Ada apa sih dia ..." Asisten Leo geleng-geleng kepala memikirkan tingkah bosnya yang kadang-kadang.
Beberapa saat kemudian Ethan keluar dari ruang ganti.
Asisten Leo yang melihat hal itu langsung menarik tangan Ethan. "Ah, Tuan anda sudah sangat keren." Langsung membawanya ke luar ruangan untuk menghadiri acara amal.
Tanpa membiarkan bosnya berkaca dahulu, takut akan ada drama tidak cocok lagi dan di lepas lagi, mengingat waktu sudah mendekati acara di mulai.
Di Hotel tempat acara amal dilangsungkan.
Tampak semua orang pembisnis besar sudah berkumpul di sebuah ruangan untuk mengikuti acara amal.
Eren dan Daniel tampak duduk berdampingan.
__ADS_1
Seorang pria mulai naik ke podium untuk memulai acara amal.
"Selamat malam semuanya." Pria itu menatap semua orang yang ada di hadapannya.
"Baik, terimakasih atas kehadiran tamu undangan semua di acara amal malam ini."
Tepuk tangan meriah mulai bersahutan.
"Dan mengingat waktu acara sudah tiba ... mari kita mulai acara amal malam ini."
Tepuk tangan kembali meriah.
Tampak dua wanita cantik dan seksi sedang mendorong BOK ke atas podium.
"Ini dia sebuah barang yang akan direbutkan!" Pria itu berteriak, dan mulai membuka bok tersebut.
Tampak sebuah kalung mutiara yang sangat berkilau, membuat semua orang yang hadir menatapnya dengan kagum-kagum.
"Kalung ini dibuat dari bahan yang berkualitas dan memiliki berat sepuluh gram ... warnanya yang bagus dan tidak akan pernah berubah." Jelas pria itu.
"Harga yang kami akan berikan adalah." Menatap semua orang.
"Tiga ratus juta." Ada yang mau menawar?.
"Lima ratus juta." A mengangkat tangannya.
"Enam ratus juta." B mengangkat tangannya.
"Delapan ratus juta." C mengangkat tangannya.
"Wah, kalungnya benar-benar sangat bagus." Eren tampak sangat mengagumi.
"Apa kau menyukainya?" Daniel menatap Eren.
Eren mengangguk, namun tidak tahu rencana Daniel.
Daniel tersenyum seraya kembali menatap kearah depan.
"Satu miliar!" ucapnya lantang dari sebuah suara dari arah belakang.
Semua orang menatap kearah pintu masuk.
"Ethan," gumam Eren.
Pria di atas podium langsung semangat. "Wah, satu miliar ... ada yang mau menawar?
"Satu miliar setengah." Daniel berdiri.
tepuk tangan kembali langsung meriah.
Ethan tidak mau kalah. "Dua miliar."
Tepuk tangan kembali semakin meriah.
Daniel semakin tertantang. "Tiga miliar."
Eren tampak bingung menatap dua pria yang sepertinya sedang berlomba-lomba.
Ethan menarik sudut bibirnya. "Lima miliar."
Tepuk tangan kembali meriah bersamaan suara pria di atas podium.
"Ada yang mau menawar lagi?" Menatap semua orang.
Daniel ahirnya menyerah, seraya tersenyum sinis kearah Ethan.
"Satu ... dua ... tiga."
"Baik, berlian ini menjadi milik Tuan."
__ADS_1
Tepuk tangan meriah menyambut Ethan yang sedang berjalan ke arah podium.
Ethan mengambil kalung berlian itu, seraya menatap kearah Eren yang sedang duduk di samping Daniel.