Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
S2. Belajar masak ceplok telor


__ADS_3

Eren saat ini tengah duduk di atas ranjangnya, keringat dingin masih menetes di dahinya.


Eren masih tampak ketakutan yang tiba-tiba mendapat kiriman bok seperti itu.


Apakah ada orang sengaja atau ada orang cuma iseng, entahlah Eren belum bisa memastikan.


Dan setelah cukup lama ia bergelut dengan pikirannya, kini Eren memilih untuk tidur.


keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, masih sangat pagi.


Matahari masih malas menampakkan wujudnya, tetapi seorang pemuda tampan sudah bangun dan menggunakan stelan baju olahraga.


Ia keluar kamar dan langsung menuju halaman mansion yang luas.


Awalnya pemanasan jalan-jalan di tempat hingga beberapa menit, setelah itu mulai berlari-lari kecil mengelilingi taman yang ada di mansion. Terus dilakukan hingga pukul enam pagi.


Dahinya bercucuran keringat, lalu ia mengusapnya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.


Saat ini sedang berjalan lalu masuk keruang nge-gym.


Ethan melepas kasar kaos yang melekat di badannya, lalu melempar asal dengan gerakan dramatis seperti di film action.


Ethan nampak sedang melihat beberapa alat olahraga di depannya dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagu.


Kini pilihannya jatuh pada alat olahraga yaitu barbel.


Ethan mulai ambil posisi, lalu mulai mengangkat barbel itu dan sambil menghitung. Seperti itu terus hingga tiga puluh menit.


Masih di posisi semula, Ethan nampak mengambil nafas berkali-kali, dan jangan tanyakan keringat yang sudah seperti mandi.


Ethan mulai mengangkat barbel lagi dan menghitung. "Satu ... dua ... tiga ..."


"Elo semangat banget olahraga, percuma badan bagus cuma elo yang lihat." Chen mengejek, seraya tersenyum sinis melihat Ethan, padahal yang bicara juga jomblo.


Ethan tetap fokus mengangkat barbel dan menghitung, ia tidak sama sekali terpengaruh oleh pembicaraan Chen, baginya Chen hanya adik laknat.


Chen nampak berjalan mendekati salah satu alat olahraga yaitu Treadmill, lalu ia naik di atas Treadmill dan memilih kecepatan sedang, lalu mulai berjalan di tempat.


Ethan nampak menjatuhkan Barbel tersebut hingga membuatnya menggelinding.


Ethan menatap tajam kearah Chen lalu berjalan mendekatinya.


Chen yang merasa akan diserang oleh Singa, ia langsung menambah kecepatan Treadmill, kini Chen sudah seperti berlari kencang di tempat.


Ethan mengangkat kedua tangannya di atas kepala Chen, seraya ingin meremat kepala itu, tampak benar-benar geregetan.


Dan setelah Ethan pergi, Chen mengurangi kecepatan Treadmill itu hingga perlahan berhenti.


Chen juga ikut keluar dari ruang nge-gym itu, dengan wajah yang bahagia seolah benar-benar puas sudah mengerjai Ethan.


Satu jam kemudian.


Di ruang makan.


Ibu Lusy menyiapkan sarapan dibantu oleh dua pelayan.


"Anakmu itu, mending diborgol aja tangan dan kakinya biar tidak keluar masuk di sembarang tempat."


Ketiga wanita yang sedang menata sarapan langsung menengok kearah sumber suara yang baru duduk di kursi.


"Ethan ... kalian yang akur dong, kan jarang ketemu."

__ADS_1


Nasehat Ibu Lusy.


"Udahlah malas mau bahas ... aku mau berangkat kantor aja." Berdiri langsung dari duduknya.


"Tunggu." Ibu Lusy meraih tangan Ethan.


Ethan menengok ke ibunya.


"Mama punya sarapan buat Eren ... berikan padanya." Meletakkan tas kecil berisi kotak nasi di tangan Ethan.


Ethan mengangguk lalu pergi.


Ibu Lusy menggelengkan kepala melihat tingkah putra pertamanya.


Saat Ibu Lusy sedang melamun, tiba-tiba ....


"Mama, cup." Chen menyapa serta mencium pipi mamanya secara tiba-tiba.


Ibu Lusy menatap Chen yang sedang tersenyum kearahnya.


"Ini juga!" Ibu Lusy mencubit pinggang Chen.


"Apa sih ma, aku kan mau sarapan." Mengusap pinggangnya yang terasa panas.


"Bisa tidak kamu tidak usah menjahili kakak kamu." Ibu Lusy melotot.


Chen tergelak tawa seraya mencapit lauk. "Seru kali ma, kalo lihat dia lagi marah."


Ibu Lusy tampak mendesah kasar, benar-benar susah bilangin dua putranya.


Di perjalanan.


Di dalam mobil. Ethan tampak sedang berbicara dengan seorang melalui sambungan telepon "Leo, hari ini urusan perusahaan kamu yang handal lagi ya ... aku biasa, kikikiki." Ethan tertawa dengan masih fokus menyetir.


Dan kini tidak butuh waktu lama, mobil yang membawa Ethan telah sampai di parkiran tempat Eren bekerja.


Ethan melangkah masuk dengan gaya percaya diri. Penampilan keren, jasnya licin, kaca mata hitam, dan sepatu tidak kalah mengkilat. Sambil tangannya menenteng bekal sarapan. Duh-duh benar-benar keren sudah masuk daftar rekomendasi pria perhatian.


Kreekk.


"Aku masuk." Menatap sekeliling ruangan tidak ada siapa-siapa.


Ethan mengingat sesuatu. "Di bawah ada mobilnya." Melangkah masuk seraya mencari. "Di mana dia?" Meletakkan bekal sarapan.


Tidak berselang lama dari ia bergumam sendiri, Eren masuk ke ruangannya bersama Daniel.


Ketiganya tampak kaget namun hanya sesat, setelah itu Daniel pamit pergi karena tadi niat hati memang cuma mau mengantar Eren selesai sarapan pagi di luar.


Setelah kepergian Daniel, keduanya masih tampak diam, bukan tidak ada alasan bagi Ethan, tentu ia cemburu.


Eren melihat Ethan yang sedang membuang muka dan bibir mengerucut.


Eren tergelak tawa, sangat lucu baginya. Eren melangkah mendekati mejanya namun ia melihat sesuatu di atas mejanya.


Eren baru memegang dan ingin bertanya, namun Ethan sudah menjelaskan lebih dulu.


"Itu mama yang buat ... bekal untukmu." Duduk di sofa dengan kasar, masih membuang muka.


Eren menengok kearah Ethan yang ternyata masih membuang muka, lalu kembali melihat bekal sarapan.


Eren menghela nafas panjang. "Bagaimana kalo kita belanja." Eren memikirkan sesuatu untuk membuat mood booster Ethan kembali.


Dan benar saja Ethan langsung menyahut cepat.

__ADS_1


"Belanja di mana?" senyumnya merekah, Ethan merasa sudah ada kemajuan atas usahanya.


"Emm, ikut saja." Eren berjalan keluar lebih dahulu dan Ethan mengikuti dari belakang.


Setelah beberapa saat kini mobil yang membawa keduanya sudah sampai di area pasar.


Eren keluar lebih dulu dan menunggu Ethan.


"Kenapa belanjanya di sini?" Ethan enggan masuk pasar.


"Di sini harganya lebih murah, ayo masuk." Eren meraih tangan Ethan.


Melihat tangannya digenggam oleh Eren, Ethan sedikit menurut.


kini keduanya sudah memasuki pasar bagian penjual ikan.


Ethan merasa jijik, jalanan yang becek serta bau amis, rasa-rasanya ingin muntah namun ia tahan.


Eren menengok ke bawah. "Mengapa jalannya seperti itu? jadi lambat kan." Menatap Ethan.


"Kasihan sepatu mahalku."


Eren mendesah kasar, lalu ia melepas genggaman tangannya dan membeli beberapa jenis ikan dan siput.


Ethan diam berdiri menunggu Eren, namun tiba-tiba merasa tubuhnya terhuyung.


"Loh loh Iki ko ono wong ganteng nang pasar to, yo." Nenek-nenek mengguncang tubuh Ethan lalu melabuhkan ciuman di pipi Ethan.


"Hih hih, lepas." Ethan merasa jijik, tapi Nenek di hadapannya tidak mau melepas.


Dan tiba-tiba ada beberapa anak gadis mendekat dan langsung minta foto bareng tanpa ijin dahulu.


"Kenapa jadi seperti ini ... lepaskan aku." Ethan kesal.


Eren yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak.


Eren membantu Ethan untuk terlepas dari kumpulan para gadis tua.


Dan langsung berlari saat melihat para gadis-gadis tua itu mengejarnya.


"Hei, babang tampan jangan pergi!" teriaknya.


Eren kembali tertawa terpingkal-pingkal di dalam mobil.


"Seneng ya, lihat orang susah diketawain." Ethan mendengus kesal.


"Kau lucu sekali." Eren kembali tertawa sampai air matanya keluar.


Setelah beberapa saat kini keduanya sudah sampai di apartemen.


"Aku ingin mengajarimu memasak."


"Memasak." Ethan mengulangi.


"Gunakan dulu celemeknya." Eren memasangkan celemek di tubuh Ethan.


"Cara masak telur ceplok."


Ethan melakukan cara yang barusan Eren kasih tahu.


Kini ia mulai mencobanya, tapi nampak takut-takut.


Mengetukkan telur di bibir piring. "Duh gimana ya." Mengetukkan telur lagi. "Duh gimana ya." Belum pecah juga, mengetukkan lagi. "Duh gimana ya." Belum pecah juga, kini lebih keras mengetuknya. dan ....

__ADS_1


Pluk. Isi dalam telurnya jatuh.


__ADS_2