
Di pusat perbelanjaan, Eren yang keluar dari gedung tersebut tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang berpakaian biasa.
brukk!
Ahh!
Wanita itu jatuh di lantai, Eren yang melihat itu langsung menolong ia membatunya untuk berdiri.
Eren melihat penampilan wanita muda itu yang sekitar berusia dua puluh dua tahun, dengan tas besar di samping wanita itu.
wanita itu seperti ketakutan, menoleh ke belakang terus seolah sedang menghindari seseorang.
Dan benar saja wanita itu langsung bersembunyi di balik punggung Eren saat melihat laki-laki seperti preman.
Eren terus membawa wanita itu, untuk mengamankan, kini Eren mengajak wanita itu untuk duduk di restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Eren mulai bertanya, ingin tahu siapa nama wanita itu, dan mengapa terlihat ketakutan.
"Namamu siapa?" Eren menatap wanita itu.
"Saya Mila." Wanita itu menunduk takut.
Eren tersenyum. "Jangan takut aku bukan orang jahat."
Mila mengangguk kecil, tapi masih menunduk.
"Mengapa kamu sampai di kejar preman?" Eren ingin lebih tahu.
Mila melihat Eren sekilas kemudian kembali menunduk. "Saya awalnya ikut preman itu, dan aku disuruh mencuri, tapi aku tidak mau lagi sekarang, maka dari itu aku kabur, dan preman tadi mencariku, hiks hiks." Mila menangis mengingat kepedihan hidupnya.
Eren menjadi merasa iba sama Mila, mendengar dari ceritanya pasti gadis di depannya itu tidak punya tempat tinggal.
Eren kembali melirik tas besar yang mungkin berisikan baju itu di lantai samping kursi Mila duduk.
"Setelah ini kamu mau kemana?" Eren memastikan, sapa tahu kesimpulannya salah, dan Mila sebenarnya punya rumah, kan tidak tahu.
"Saya dari kampung, dan ingin mencari kerja. Tapi tidak tahu mau kerja apa? dan malah bertemu preman."
Eren diam sejenak, ia berusaha berpikir untuk cara menolong Mila.
Setelah Mila selesai makan, Eren mengajak Mila ke tempat ia kerja, karena waktu masih siang hari, dan pekerjaan di Boutique masih banyak yang belum ia selesaikan.
Setelah sampai di Boutique miliknya, Eren meminta Mila untuk istirahat, sementara dirinya melanjutkan pekerjaannya.
Namun sebelum Eren memulai pekerjaannya, Eren menghubungi Ethan, menceritakan kejadiannya bertemu Mila.
__ADS_1
Niatnya Eren ingin menolong Mila, dan biarlah Mila bekerja di Mansionnya, yang baru beberapa hari ini Eren dan Ethan tempati.
Pelayan di Mansion memang sudah banyak, tapi membiarkan Mila hidup di luaran sendirian itu sangat bahaya.
Rasa kepedulian Eren sangat tinggi terhadap Mila, Ethan yang mendengar cerita Eren melalui sambungan telepon, Ethan merasa bangga dengan niat baik istrinya.
"Aku padamu."
"Is, gombal lagi." Eren terkekeh.
"Ini serius."
"Sudah sana aku mau kerja lagi." Eren menutup mulutnya yang tertawa.
"Ok, bersiaplah untuk nanti malam."
"Apaan, sih."
Tut, tut.
Pipi Eren bersemu merah mendengar kalimat terakhir Ethan, entah pria itu berubah jahil setelah menikah, Eren menggelengkan kepalanya saat pikirannya teringat kegiatan Ethan setiap malam bila di atas ranjang.
Eren memukul-mukul pelan kepalanya supaya kembali fokus dengan pekerjaannya.
Waktu menunjuk sore hari.
Kebetulan Eren dan karyawannya ke luarnya bersamaan, sebelum masuk ke bus, para karyawannya menunduk hormat pada Eren, Eren membalas senyuman dan mengucapkan untuk berhati-hati.
Eren bersama sopir, dan juga Mila, tidak butuh waktu lama, mobil sudah sampai di pelataran Mansion.
Mila ke luar mobil menatap kagum pada bangunan mewah yang di lihatnya.
"Mulai sekarang kamu kerja di sini, nanti pelayan yang lainnya akan membantu memberi tahu pekerjaannya." Eren menjelaskan, Mila mengangguk paham.
Pelayan mengajak Mila untuk masuk ke dalam, sementara Eren langsung menuju kamarnya.
Membersihkan diri, Eren berendam di bathtub yang sudah di siapkan pelayan airnya, wangi aroma terapi membuat tubuhnya yang lelah karena bekerja seharian menjadi lebih segar.
Tiga puluh menit Eren berendam, setelah merasa sudah cukup, Eren membilas tubuhnya, kemudian ia menggunakan handuk untuk membalut tubuhnya.
Menggunakan baju rumahan, bersandar di ranjang sambil membaca majalah edisi ke luaran terbaru milik Benz Company.
Tepat pukul tujuh malam, Ethan sampai di Mansion, berjalan cepat ke arah kamar, untuk segera menemui istri tercinta.
pintu kamar tersebut.
__ADS_1
"Ah, aku lelah."
Eren mencebik mendengar suara Ethan, Eren sudah bisa menduga bahwa suaminya hanya berakting.
"Aku lelah sekali." Ethan berguling-guling di ranjang hingga kepalanya berhenti di pangkuan Eren.
Eren menghela nafas, kalo sudah seperti ini Eren sudah tahu kelakukan suaminya, yang minta di kasih kiss sore hari.
Eren mengusap rambut Ethan seraya mencium kening pria itu, Ethan memejamkan matanya, menikmati usapan lembut di kepalanya, saat lelah bekerja hal seperti ini membuat Ethan bahagia.
"Sana mandi."
Hemm.
"Aku siapkan air." Eren mau beranjak, namun di cegah oleh Ethan.
"Mandi bersama." Mata Ethan terbuka lebar, Eren yang belum siap sudah di tarik tangannya oleh Ethan.
Meski Eren sudah menjelaskan bahwa ia sudah mandi, tapi Ethan tetap tidak peduli, dan ahirnya Eren menurut, yang niatnya hanya mandi membersihkan diri menjadi mandi plus-plus.
Mandi yang seharusnya selesai dalam lima belas menit, kini baru selesai setelah satu jam tiga puluh menit.
Eren mendengus meski pipinya merah merona, kini sudah berpakaian lagi, tapi rambutnya masih acak-acakan belum Eren sisir.
Ethan yang melihat wajah mengemaskan Eren, mendekati wanitanya dengan membawa sisir, setelah ia selesai menyisir rambutnya.
Pertama rambut Eren yang masih basah, Ethan hair dryer supaya kering, setelah itu Ethan sisir rambut Eren.
Menatap wanitanya yang cantik, dengan rambut panjang berwarna hitam. Ethan tersenyum dan mengecup bibir Eren sekilas. Kemudian ia mengajak Eren untuk makan malam, pelayan tadi datang memberi tahu makan malam sudah siap.
Setelah selesai makan malam, Entah dan Eren berdiri di balkon kamar.
Ethan memeluk pinggang Eren dari belakang, mengecup leher Eren, yang langsung membuat Eren merinding, kemudian meletakkan kepalanya di kepala Eren, tingginya yang lebih tinggi dari Eren tentu memungkinkan.
"Perusahaan papa yang di Dubai sedang ada masalah, aku harus ke sana besok, kamu harus ikut." Ethan mengecup bahu Eren.
"Be-besok." Eren terkejut, karena belum ada persiapan apa pun.
Ethan bukannya menjawab pertanyaan Eren malah membahas hal lain yang langsung membuat pipi Eren bersemu merah.
"Sekalian kita bulan madu." Terdengar gelak tawa kecil dari bibir Ethan, Eren mencubit lengan Ethan, pria itu hanya terkekeh seraya kembali memberi bekas merah di leher Eren.
Di ruang yang gelap.
Wanita muda sedang menelfon bosnya, dan melaporkan sesuatu pada bosnya melalu sambungan telepon.
__ADS_1
Setelah selesai menelpon bosnya, wanita itu menyimpan handphonenya kembali, lalu ke luar dari gudang tersebut dengan hati-hati supaya tidak ketahuan.