Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
S2 . Surat nikah kontrak, Chen dan Audrey


__ADS_3

Tepat pukul sembilan pagi, Eren dan Ethan menuju bandara, yang diantar oleh supir.


Keberangkatan ke Dubai UAE bersama Asisten Leo, perjalanan bisnis sekalian bulan madu.


Setelah sampai bandara, ketiganya langsung memasuki pesawat pribadi milik keluarga Benz, dan langsung lepas landas.


Di tempat lain.


Di sebuah Mansion yang juga sangat mewah, seorang pria tua sedang berhadapan dengan dua pemuda, yang dalam dua hari ini membuat dirinya berasa naik darah.


"Baiklah jadi kapan kalian akan menikah?"


Audrey dan Chen seketika langsung saling pendang, bahkan saling menyenggol siku tangannya masing-masing.


Melihat itu semua Tuan Remon kembali membuang nafas kasar. "Daddy sudah menduga bahwa kalian hanya bersandiwara!"


"Tidak, Dad. Kami saling mencintai, iya, kan. Sayang." Audrey memainkan matanya supaya Chen mau ikutan menjawab.


"Iya benar."


Audrey bernafas lega. "Tuh, kan. Dad kami perlu ngobrolo berdua, dan Chen juga perlu bicara dengan kedua orang tuanya, Daddy juga harus bertemu dulu dengan orang tua Chen, baru kita bahas pernikahan, iya, kan. Sayang."


"Iya." Chen kembali bicara saat merasakan cubitan di pinggangnya.


Tuan Remon kembali berpikir, merasa ada benarnya juga yang di katakan putrinya.


Dan setelah menimbang-nimbang keputusannya akhirnya Tuan Remon menyetujuinya.


"Ok, tiga hari lagi kita adakan pertemuan antara keluarga, dan ..."


Ah! Deddy dan apa ini? jangan membuat aku khawatir. Batin Audrey cemas.


"Karena Audrey adalah putri saya satu-satunya, pernikahan ini harus digelar megah."


"What!"


Audrey dan Tuan Remon langsung menatap Chen dengan tanda tanya.


"Saya tidak setuju!" dengan lantang Chen menolak, Chen yang begitu terkejut, pikirannya tertuju pada semua wanita simpanannya, bila pernikahan ini harus mewah, pasti ia akan ketahuan memiliki banyak kekasih, bukan takut sama para wanita-wanitanya, ia takut sama ibu negara alias ibunya yang pasti akan memarahinya.

__ADS_1


Tuan Remon memberi tatapan menyelidik, Audrey memalingkan wajahnya ke arah lain seraya mengumpat kesal takut jawaban Chen membuat Tuan Remon kembali curiga.


"Aku hanya-."


"Suka, Dad." Audrey memotong cepat seraya menutup mulut Chen dengan kedua tangannya. "Chen suka, pokoknya beres cukup Daddy yang urus."


Chen menjauhkan tangan Audrey. "Tidak! bukan begitu!"


"Chen!" Audrey menatap tajam dan mendekati telinga Chen. "Jangan membuat Daddy aku curiga."


Chen mendengus kesal, merasa menyesal sudah masuk dalam permainannya, sekarang ia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi ke depan.


...****************...


Di Apartemen.


Audrey mengikuti Chen pulang karena ada beberapa hal yang akan menjadi kesepakatan mereka berdua untuk menikah nanti.


"Pokoknya aku tidak mau pernikahan mewah!"


"Chen, ayo lah jangan seperti ini, nanti Daddy aku curiga!" Audrey juga berteriak kesal karena Chen susah mengerti.


Audrey tidak kalah diam ia akan berusaha membujuknya terus.


"Chen, tolong, tolong aku kali ini."


"Kali ini! kemarin aku sudah menolongmu!" Chen melepas jasnya lalu melempar ke sembarang arah.


"Iya aku tah, aku janji akan memberikan apapun yang kamu mau."


"Apa pun." Chen tersenyum menyeringai.


"Ya." Audrey mengangguk cepat, ia sudah tidak ada pilihan lain.


Chen mendekati Audrey, wanita itu terus berjalan mundur hingga membentur dinding, Chen semakin melangkah mendekat, punggungnya sedikit menunduk, kini wajah keduanya sangat dekat, Audrey menangkap mata jernih bewarna biru yang semakin menatap nakal ke arahnya. Hembusan nafasnya menerpa wajahnya, yang seketika membuat tubuhnya membeku saat mendengar bisikan sexy.


"Meski pun aku meminta tubuhmu di saat malam pertama."


Hahaha!

__ADS_1


Chen menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan dramatis, sangat puas sudah membuat Audrey merasa malu, bahkan pipinya berubah merah seperti udang rebus. Audrey kemudian duduk di sebelahnya.


"Ingat kau harus mengikuti kemauan Daddy aku, bila tidak rencana kita akan gagal."


"Ini rencana kamu!" Chen menatap kesal.


"Iya aku tahu, tapi tolonglah, cuma lima bulan, setelah itu diantara kita akan membuat perceraian yang seolah-olah ada yang berkhianat diantara kita."


Chen berdiri lalu mengambil kertas dan pena, lalu ia menulis sesuatu di kertas tersebut, kemudian memberikannya pada Audrey.


Audrey menerima kertas tersebut lalu mulai membacanya.


"Peraturan satu, pihak kedua harus menurut apa pun yang di perintah pihak pertama. Peraturan dua, pihak kedua harus menepati sesuai janjinya akan memberikan uang senilai sepuluh miliar, bila tidak menepati akan berganti dua kali lipat. Peraturan ketiga, tidak boleh mengurusi urusan masing-masing."


Audrey mengangguk mengerti tidak ada yang masalah dari isi surat perjanjian itu, soal uang memang sudah janjinya akan memberi bayaran pada Chen asal pria itu mau menikah sementara dengannya.


"Deal." Chen dan Audrey saling berjabat tangan, Audrey pamit pulang ke Mansionnya, Chen tersenyum menyeringai menatap punggung Audrey berjalan ke luar Apartemennya hingga hilang di balik pintu.


Setelah kepergian Audrey, Chen mendapat telepon dari salah satu wanitanya yang mengatakan akan datang ke Apartemennya.


Di mobil menuju perjalanan pulang, Audrey membuang nafas kasar seraya menatap jalanan, pikirannya kalut bercabang-cabang ke mana-mana.


Dalam hati kecilnya tidak rela bila nanti harus menyandang status janda, namun mau bagaimana lagi bila tidak seperti ini maka ia akan dipaksa melanjutkan pernikahannya dengan pria tua menurut Audrey.


Mobil sampai di depan kedai kopi, Audrey turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam kedai kopi.


Rambut pirang panjangnya yang bergelombang disampirkan di bahu, helaian rambutnya saja begitu sexy dan menggoda! bulu mata yang lebat dan lentik, pandangan mata yang menggoda, berjalan menuju tempat duduk, bibir merah sexy langsung menarik garis lengkung menampakkan senyum yang manis saat pelayan datang menghampiri.


Matanya berkedip indah membaca menu makanan di tangannya. Suaranya yang halus seperti angin berhembus, membuat pelayan pria sejenak terpaku lalu pergi mengambil pesanannya.


Audrey memainkan handphonenya ia berbalas chat dengan teman-temannya, ia mulai mencari-cari gaun pengantin yang indah melalui gambar gaun pengantin yang ada di hadapannya.


Tidak berselang lama pesananya datang, Audrey tidak lupa mengucapkan terima kasih serta senyum manis yang lagi-lagi membuat pelayan pria itu terpaku.


Audrey kembali menutup wajahnya tiba-tiba, saat ia mengingat ucapan Chen saat membahas malam pertama.


Hah! mengapa pria itu menakutkan sekali, tubuhku hingga merasa merinding mendengar ucapannya tadi. Bagaimana bila dia beneran melakukannya, apa aku bisa menolak, ahh! pusing sekali aku, bila itu terjadi yang untung banyk dia lah, udah aku bayar terus dapet kehormatan aku, sial sial! benar-benar tidak ada pilihan. Pikiran Audrey berkecamuk.


Setelah selesai menyantap semua makannya, Audrey langsung menuju pulang, butuh tenaga ekstra untuk mempersiapkan hari pernikahan bahkan hari-hari selanjutnya setelah menikah.

__ADS_1


__ADS_2