
Eren masih diam dan terus memperhatikan laki-laki yang bisa dibilang adalah bos pemilik tempat ini.
"Siapa yang mencari aku?"
mendengar suara itu, Eren yang posisinya berdiri di belang Chen kini dia maju selangkah di hadapan Chen.
"Aku." Eren menatap pria tersebut, serta membawa ribuan pertanyaan di pikirannya.
dalam hati pria itu, dia merasa kaget ketika bertemu wanita yang kini sudah ada di hadapannya, tapi tidak di luarnya, ia begitu terlihat santai.
"Kau tidak mau memeluk pamanmu ini?" Pria itu merentangkan kedua tangannya.
melihat hal itu Eren membuang muka, kali ini ia harus profesional tidak boleh lemah, Eren mengingatkan diri.
ya, pria itu adalah pamannya Eren, saudara kembar ayahnya Eren, paman Bram.
"Ok, ternyata gadis kecil paman sedang merajuk." Bram tersenyum untuk menutupi rasa keterkejutannya yang luar biasa.
Eren kembali menatap paman Bram dengan amarah yang tertahan.
"Jelaskan, apa alsan paman hingga tega merenggut nyawa kedua orangtuaku." Eren berjalan lalu mengitari paman Bram, disertai perasaan yang sangat hancur.
ya, Eren sudah diberitahu oleh Antoni, bahwa orang yang mengadu domba Antoni dengan orang tua Eren adalah bos dari komplotan mafia.
datanglah ke Bandung, aku mendengar dia sekarang berada di Indonesia, dua tahun belakangan ini meski hubungan aku dengan orang itu tidak cukup dekat, namun aku cukup tahu tentang dia.
Eren terus teringan ucapan Antoni, meski hatinya terus menolak bahwa tidak mungkin pamannya sendiri yang telah tega membunuh orang tuannya, namun kenyataannya paman Bramlah bos dari mafia itu.
hahahaha.
merasa tidak ada lagi yang harus Bram tutup-tutupi, ahirnya ia lebih memilih untuk terus terang.
"Apa yang ingin kau ketahui?"
bram bukannya menjawab tapi malah balik bertanya, seraya menatap Eren melalui ekor matanya.
Eren hanya tersenyum miring, benar-benar tipu muslihat, permainan yang hanya membuang-buang waktu.
"Benci ... dendam!"
Bram ahirnya mengatakan alasannya.
dan seketika membuat hati Eren semakin hancur di dalam sana.
__ADS_1
Eren yang berdiri di belakang punggung paman Bram langsung balik arah dan menatap paman Bram.
"Ayahku adalah adikmu paman ... adalah adikmu!" Eren menunjuk wajah paman Bram.
hahahaha.
Bram tertawa seraya menurunkan tangan Eren.
"Aku sangat membenci ayahmu, sangat!" Bram menekan kata sangat, sambil memegang bahu Eren.
"Kakek dan nenekmu, atau ayah dan ibuku, mereka semua." Bram semakin dalam menatap Eren.
"Selalu membedakan kasih sayang sejak aku masih kecil."
Eren menurunkan tangan Bram yang memegang bahunya.
"Itu karena paman susah diatur dan tidak mau nurut sama nenek dan kakek!" suara Eren terdengar meninggi, ia tidak terima ayahnya disalahkan.
ya, Dimas Teo ayahnya Eren pernah bercerita tentang Bram kepada Eren, tentang ayah ibunya yang membedakan kasih sayang dan bahkan Dimas Teo merasa tidak enak hati ketika seluruh harta warisan di berikan kepadanya tanpa memberi sedikitpun untuk Bram.
pamanmu memiliki sifat licik dari kecil, suka mencuri dan meresahkan, dan sifat buruk itu semakin menjadi saat dia dewasa. suka berjudi dan bermain wanita bahkan pamanmu gabung komplotan mafia.
terakhir kali pamanmu melakukan perampokan besar-besaran di Amerika dan itu menjadi hari terakhir kakek nenekmu karena terkena serangan jantung.
"Kau!" Bram mengangkat tangannya untuk menampar Eren.
"Gunakan tangan kokohmu, untuk memukul laki-laki Jangan wanita." Chen menangkap tangan Bram, sebelum mengenai wajah Eren.
Bram menghempaskan tangan Chen, lalu menyingkirkan Chen dari hadapannya.
"Jangan membuat paman kehabisan kesabaran, dan membuatmu seperti saudaramu!"
Bram mengingatkan dengan nada bicaranya yang sangat marah.
hahahaha.
Eren tertawa keras, namun hati kecilnya semakin sakit ketika teringat Megi.
Megi ya Megi ucapnya dalam hati.
Eren membalas tatapan Bram, sorot matanya yang tajam lebih dari rasa dendam, itu sudah seperti singa yang kelaparan dan siap membunuh menghabisi musuh.
"Apa yang akan paman mau lakukan lagi terhadapku, huh?"
__ADS_1
tubuh Eren bergetar menahan amarah.
"Membunuh ayah ibuku, membuat Megy lumpuh, mengambil alih harta ayahku!"
cairan bening ahirnya lolos di pipi mulus Eren, mengingat kejadian itu.
"Apa itu semua belum cukup paman!" Eren berteriak.
"Bukankah itu lebih dari di bunuh." Suaranya tercekat.
"Ragaku tidak hancur, tapi perasaanku." Eren menunjuk dadanya, suaranya sedikit rendah.
"Bukankah itu seperti mati, bukankah itu sama dengan di bunuh. di bunuh perasaanku di hancurkan hidupku." Suaranya lebih rendah, bahkan sampai tidak terdengar, namun sorot matanya menunjukan luka yang sangat dalam.
"Apa paman tahu, apa paman berpikir, gimana caranya aku bangkit setelah kejadian itu!" Eren kembali berteriak suaranya penuh penekanan di setiap kata.
dor.
Eren meloloskan satu tembakan namun ke arah lain, dan setelah itu tubuhnya ambruk di lantai. Eren berteriak ia menangis.
"Eren ..."
Ketrin mau melangkah mendekati, namun belum sempat ia mendekat, Eren mengangkat satu tangannya untuk berhenti.
"Jawab aku paman!" Eren mengangkat kepalanya ia kembali berteriak.
Bram hanya diam, di tatap Eren segitu menyedihkan membuat dirinya tidak kuasa.
Eren tersenyum miring. "Kau menyebutku gadis kecilmu, kau juga sangat dekat denganku, dan kau juga yang menjagaku selama di Australia, dan kau juga yang menjagaku dari laki-laki, lalu apa itu artinya paman, apa!" Eren meninggikan suaranya.
"Karena aku menganggap kau adalah putriku eren." Bram berkata sambil mengarah ke arah lain.
"Karena ibumu." Bram mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ibumu adalah wanita pertama yang aku cintai, Anggun Fatima." Bram tubuhnya terlihat bergetar menahan sesak, meski wanita itu sudah mati, namun walau hanya sekedar menyebut namanya, itu mampu membuat hatinya berdesir, dan hal ini membuat Bram merasa menyesal telah membunuhnya.
seketika Eren langsung syok mendengar pengakuan dari Paman Bram, ia tidak menyangka orang tuanya memiliki masa lalu yang rumit.
"Tetapi ibumu lebih memilih menikah dengan ayahmu." Bram mengusap matanya, setiap kali teringat masa itu ia selalu terbawa perasaan.
Eren yang sudah tidak sanggup mendengarkan kenyataan pahit lagi dari paman Bram, kepalanya tiba-tiba terasa berat disertai pandangan yang mulai kabur dan di detik berikutnya Eren pingsan, karena kondisi sedang hamil membuat emosional nya berubah-ubah.
pria tampan yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, ia langsung berlari ketika melihat Eren terkulai tak berdaya.
__ADS_1
"Eren." Tangan pria itu menepuk lembut pipi Eren.