Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
BAB 50. Chen dan Audrey.


__ADS_3

Audrey menguap seraya meregangkan otot-ototnya, kini ia baru bangun tidur, matanya menelisik ke seluruh ruangan, ia baru teringat bahwa saat ini sedang tidak berada di Mansionnya.


Tiba-tiba pikirannya teringat pria tampan yang kemarin menolongnya, dengan tersenyum Audrey menurunkan kakinya menginjak lantai, lalu ia berjalan membuka pintu.


Audrey menguap lagi tepat di depan pintu, bersamaan itu Chen menoleh ke arahnya sudah berpakaian rapih menggunakan stelan kerja.


Audrey lupa menutup mulutnya, matanya begitu mengagumi pria tampan yang saat ini berdiri gagah di hadapannya.


Audrey menatap tampilan Chen dari ujung kaki hingga ujung rambut, rambutnya tersisir rapih, tubuhnya yang tinggi tegap dan sangat pas jas warna hitam melekat di badannya, terlihat putih dan sedikit berbulu kulit tangannya, semakin terlihat sempurna dengan adanya jam mewah yang melingkar di pergelangan tangan saat pria itu membenahi dasinya.


"Apa aku terlihat begitu tampan, hingga kau tidak berkedip." Chen bicara tanpa melihat lawannya, ia sibuk meraih handphone dan dompet.


Ih, narsis sekali dia, tapi ia juga sih, dia keren. Audrey membenarkan dalam hati.


Audrey mendekat seraya menghirup aroma wangi parfum yang Chen gunakan, Audrey kembali berdiri tegap saat tepat di hadapan Chen.


"Jam berapa biasa pulang kerja? bila kemalaman, aku sendirian." Audrey duduk di sofa seraya membuang nafas panjang.


"Tidak tentu." Sebuah kalimat singkat padat, dan langsung membuat lawan bicaranya mendengus kesal.


Chen berlalu dari tempat itu dan langsung turun ke lobby untuk berangkat ke kantor.


Setelah kepergian Chen, Audrey kembali tiduran di sofa sambil mengeluhkan hidupnya, bibirnya terus komat-kamit mengatakan menjadi anak orang kaya, hidup bergelimang harta tetapi tidak bahagia, yang kadang tiba-tiba menangis mengatakan rindu Papanya, namun sesaat berubah kesal dan marah saat teringat Papanya sudah menjodohkannya dengan pria jelek menurut Audrey.


Audrey merasa kesal sangat kesal, wanita itu memukul bantal sebagai pelampiasannya.


Di tempat lain.


Seorang pria tua sekitar usia enam puluh tahunan, ia terus berjalan mencari seseorang di setiap tempat bersama pengawalnya.


Saat melihat Tuannya kelelahan, salah satu pengawalnya memberikan air minum, pria tua itu menerimanya, dan setelah istirahat sebentar, pria tua itu mengajak pengawalnya untuk mencari anaknya lagi.

__ADS_1


"Audrey, di mana kamu, Nak!" Pria tua itu meneriaki yang kadang menunjukan foto pada setiap orang yang lewat.


Entah sudah berapa banyak orang yang ia temui dan ia tanyakan, namun satu pun tidak ada yang melihat putrinya, sejak kepergian Audrey dari acara pernikahan, pria tua itu terus mencari, bahkan saat ini kondisi kesehatan tubuhnya sedang menurun, karena terus memikirkan Audrey.


"Tuan Remon." Salah satu pengawalnya yang bernama Aziz mendekat, lalu memberitahu untuk segera datang ke restoran, karena ada yang ingin bertemu membicarakan soal Audrey.


Ya, pria tua itu adalah Tuan Remon, ayah Audrey yang membesarkan putrinya seorang diri, karena Ibunya Audrey sudah meninggal sejak Audrey masih kecil.


Karena begitu cinta dan sayang terhadap putrinya, Tuan Remon sampai mengambil salah langkah, ia mengira putrinya yang suka berfoya-foya akan mau bila dinikahkan dengan pria kaya, walaupun soal tampang memang kurang.


Tuan Remon baru menyadari ternyata putrinya tidak mau menikah bila tanpa cinta bila bukan pria yang ia inginkan sendiri, kata-kata itu terus menghantui perasaan Tuan Remon, kini ia menyesal putrinya pergi dan belum ia temukan.


Dengan tubuhnya yang sudah lelah, Tuan Remon berjalan menuju mobil yang pengawalnya sudah siapkan untuk membawa pergi ke restoran.


Siang hari itu, Audrey yang menelpon Chen secara tiba-tiba, karena mengatakan bosan hanya diam saja di Apartemen, ahirnya Scarlett menjemput Audrey.


Dan tibalah di sini keduanya sedang makan siang, Chen yang menyantap makanannya dengan gaya cool, membuat mata Audrey tak mengalihkan pandangannya.


Cuma menatap wajahnya saja Audrey merasa jantungnya berdegup kencang, wanita itu menjerit dalam hati mengatakan tentang bagaimana bisa ia mengagumi pria yang cuek seperti Chen, dan lihat saja sekarang pria itu bahkan sudah selesai makan lalu berjalan mulai ke luar restoran.


Membuat Audrey wanita cantik berparas bule itu harus menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu mengejar langkah Chen yang kini sudah mulai memasuki mobil sport warna hitam miliknya.


Brukk!


Suara keras Audrey duduk, seketika membuat Chen menoleh ke belakang dengan tatapan kesal, bagaiman tidak kesal, jika tadi wanita itu ingin makan siang di restoran mewah namun harus ditemani oleh Chen, dan alhasil pria sejuta pesona itu terpaksa menemani Audrey dengan segala umpatan di hatinya.


Yang mengatakan memang ia supirnya kah, pengawalnya kah, namun meski pun begitu Chen bukan karena memang ingin sengaja menemani Scarlett, ia juga punya tujuan lain yang menghindar dengan pacarnya yang baru tiga hari jadian, karena bosan dan ingin segera putusin.


Baru mau jalan, dari luar ada yang menggedor kaca mobil milik Chen, dari arah depan Tuan Remon berdiri gagah menghadang mobilnya Chen.


"Chen, tolong jangan buka pintunya! itu ada Papa aku!" Audrey ketakutan.

__ADS_1


Namun di luar semakin di gedor-gedor, Chen berpikir kalo ia mau ia bisa langsung melajukan mobilnya, tapi itu aki-aki tua dapat di pastikan langsung mati ke tabarak, mengingat ia adalah mantan mafia, apa saja bisa ia lakuin, cuma masalahnya yang menghadang itu papanya Audrey.


Tidak mungkin juga kan, ia menabrak Ayah dari wanita yang saat ini ia tolong, bodoh sekali bila beneran seperti itu.


Karena pusing, Chen akhirnya lebih memilih menghadapi, dari pada di dalam bisa-bisa mobilnya retak karena kelamaan di gedor-gedor, kan sayang mobilnya, mobil mahal-mahal juga pikir Chen.


Chen membuka pintu mobilnya, tanpa menghiraukan teriakan Audrey di dalam mobil sana.


"Maaf, ada apa ya? Tuan-tuan yang terhormat." Chen berdiri gagah di hadapan semua orang, wajahnya tetap datar dan auranya terlihat sombong.


Salah satu pengawal berdecih. "Cih orang kaya sombong, yang kaya padahal orang tuanya."


Arti tatapan mata Chen membenarkan yang kaya orang tuanya, tapi masih mendingkan orang tuanya kaya dan jadi anak bisa menikmati, begitulah Chen membalas ucapan pengawal lewat tatapan matanya yang tajam.


Tuan Remon berjalan mendekati Chen seraya memberi tatapan tajam, dari arti matanya seolah mengatakan bahwa berani-beraninya menyembunyikan putrinya.


Tuan Remon beralih menatap pintu mobil, yang ia tahu di dalam sana ada putrinya, kembali menatap Chen seraya berkata, " Buka pintu mobilnya!"


Chen mau mengelak bahwa di dalam sana tidak ada siapa-siapa namun sudah kalah duluan dengan sebuah suara yang seperti suara Papa Erland ketika sedang marah.


Hah, dasar semua aki-aki tua itu sama!


Setelah pintu mobil di buka, Audrey menyembul ke luar dan langsung memeluk Chen dengan segala dramanya yang keluar dari bibirnya.


"Papa, dia pacar aku, aku tidak mau pisah dengannya, Papa. Dan aku hanya ingin menikah dengannya saja, Papa."


Tidak, bukan begitu, kami tidak pacaran. Begitu jeritan hati Chen.


Dan Chen semakin di buat kesal oleh Audrey.


"Benarkan, Sayang." Audrey mencium pipi Chen, Tuan Remon dan pengawal lainnya langsung memalingkan wajah.

__ADS_1


__ADS_2