
Eren membasuh wajahnya dengan air berulang kali di kamar mandi. Sesekali berhenti melihat wajahnya di pantulan cermin lalu membasuh wajahnya dengan air lagi.
Eren membuang nafas kasar dengan pikirannya yang masih terkejut. Eren meletakkan tangannya di dada dan menarik nafas buang nafas ia lakukan berkali-kali.
Ingatannya masih melekat dengan selembar kain yang bertuliskan menggunakan darah.
Kau pembunuh!, aku kan membalas perbuatanmu!, aku akan membuat kau menangis darah!. Hahaha.
Eren memejamkan matanya, tangannya terkepal namun berkeringat dingin.
Eren terlihat menatap langit-langit kamar mandi. Pikirannya masih mencari-cari apa kesalahannya hingga ia mendapat teror seperti ini.
Eren menggelengkan kepalanya ketika pikirannya tiba-tiba tertuju atas kematian Paman Bram.
"Apa Paman Bram memiliki seorang anak." Eren gelisah lagi. "Tapi tidak mungkin ... Paman Bram belum menikah." Eren menggelengkan kepalanya lagi.
Eren merasa sudah lelah seharian ini bekerja, dan saat kembali ke Apartemen ia malah mendapatkan hal yang membuatnya makin pusing.
Eren berjalan keluar kamar mandi dengan memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
Siang hari.
Di Boutique milik Eren.
Eren masih tampak sangat sibuk, matanya sangat fokus dengan gaun rancangan yang sedang ia kerjakan.
Semua anggota tubuhnya bekerja sama, tangannya mengambil manik mutiara tanpa salah, pikirannya mengingat formasi desainer khusus untuk gaun itu yang akan di rancang berbeda. Matanya menatap jeli.
Satu per satu pemasangan manik mutiara itu hampir selesai di setiap bagian, hingga sangking fokusnya bahkan Eren tidak menyadari seseorang yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
Saat tangan Eren hendak mau mengambil manik mutiara lagi, sudut matanya sedikit menangkap high heels warna hitam.
Batin Eren terkejut siapa yang berani masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu.
Perlahan Eren mendongakkan kepalanya seraya menelisik penampilan seseorang yang berdiri di hadapannya.
Dahi Eren berkerut, Eren merasa mengenali sosok yang berdiri di hadapannya dari postur tubuh orang itu. Dan ....
Megy bertolak pinggang. "Kakak, gitu ya ... gitu ya, kak." Pura-pura ngambek dengan membawa tangannya sendakep seraya membuang muka.
Hahaha.
"Bukan seperti itu." Eren meraih tangan Megy. "Kemarilah ayo duduk."
"Kan kamu tidak ketuk pintu dulu."
Megy yang sudah mau duduk langsung mengurungkan. "Kakak! aku sudah ketuk pintu berkali-kali ... bahkan suara sepatu aku sudah aku kerasin, Kak." Mendudukkan pantatnya dengan kasar di atas sofa.
Eren masih tersenyum geli merasa bersalah. "Kakak lagi fokus mengerjakan kerjaan Kakak, maaf ya ...."
Megy melihat gaun yang belum jadi yang tadi sedang dikerjakan oleh kakaknya.
__ADS_1
Memasang wajah imut. "Maafin aku juga ... Kakak pasti lelah." Memeluk Eren lalu bermanja-manja.
Eren terkekeh geli melihat tingkah adiknya.
"Sudah biasa." Mengusap lengan Megy.
"Kau mau makan apa?"
"Makan." Megy mengulang.
"Aku mau ...."
Tok tok.
Keduanya menoleh ke arah suara pintu.
"Kakak buka pintu sebentar." Eren berdiri berjalan kearah pintu.
"Tara ..." suara seseorang setelah Eren membukakan pintu.
"Kamu belum makan siang kan ... aku bawakan ini untuk kamu." Daniel mengangkat kantong plastik yang ia bawa.
Eren tersenyum. "Masuklah."
Bersamaan Daniel masuk, Megy menatap kearah pintu.
"Siapa kak?" Seketika waktu di sekeliling Megy berhenti berputar saat ia melihat wajah tampan Daniel.
Matanya tidak teralihkan, ia terus menatap kagum kearah Daniel hingga tidak menyadari Eren l kini sudah berada di sampingnya dan beberapa kali memanggil Megy, tapi tidak di hiraukan.
Maha karya Tuhan yang sempurna, bibirnya yang terus membentuk garis lengkung sejak tadi aku melihat. Oh Tuhan dia begitu manis seperti gula Jawa, puji Megy dalam hati.
Daniel yang sejak tadi dipandang begitu inci oleh Megy, ia mulai tidak merasa nyaman.
Eren menghela nafas panjang, Eren menjatuhkan benda ke lantai hingga membuat bunyi nyaring.
Prannkkk.
"Kakak!" Megy terlonjak kaget.
Hahaha. Eren tertawa. Sedangkan Daniel pria itu hanya terkekeh.
Di tempat yang berbeda.
Masih satu negara.
Bali.
Ethan dan Asisten Leo baru selesai pertemuan meeting. Kini keduanya sedang berada di salah satu restoran untuk makan siang.
Sambil menunggu pesanan makanan datang, Ethan mengambil handphonenya dan langsung melakukan panggilan telepon kepada seseorang yang sudah membuatnya rindu berat.
__ADS_1
Baru geh satu hari tidak bertemu, duh duh Nona sekarang kehadiranmu mempengaruhi baik buruknya mood si Bos. ngedumel Leo dalam hati.
Asisten Leo mendesah kasar saat ia kembali mengingat kejadian saat meeting tadi.
Ethan benar-benar terlihat tidak fokus, beberapa kali kolega bisnisnya menyampaikan hal penting kepadanya tapi malah kurang menanggapi.
Asisten Leo sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bahkan kalo bisa ia ingin meletakkan dulu kepalanya yang berdenyut pusing karena memikirkan tingkah bosnya, setelah hilang denyutnya kepalanya di pasang lagi. Seperti itulah pikir Asisten Leo saat di ruang meeting tadi.
Hahaha pikiran konyol mana bisa, Asisten Leo menertawakan dirinya sendiri. Merasa ikutan gila lama-lama deket bosnya.
Dering sambungan Vido call diangkat oleh seseorang di seberang sana.
Kini Ethan bisa melihat wajah cantik milik Eren. Bibir yang tadi terus mengerucut kini langsung berubah membentuk garis lengkung saat melihat sosok cantik di layar handphonenya.
"Lagi makan," suara Eren.
"Sama siapa?"
Eren membawa handphonenya kearah Daniel yang duduk di sampingnya.
Jelas saja Ethan langsung meradang, garis lengkung di bibirnya hilang langsung entah kemana, berubah ucapan pedas.
"Hei, Daniel playboy kenapa ada di situ." Ethan menunjuk wajah Daniel dengan marah.
Megy yang mendengar suara mantan Kakak iparnya itu merasa bingung.
Benarkah Daniel tampan yang baru ia kenal beberapa detik ini itu adalah seorang pria playboy, batin Megy.
Eren membuang nafas panjang. Lalu ia mengarahkan handphone ke Megy.
"Kakak." Megy menyapa dengan senyum manis.
Ethan bernafas lega seraya mengelus dadanya, setelah tau ternyata Eren tidak berduaan saja sama Daniel.
"Sudah tau kan ... kita lagi makan bersama."
Ethan mengangguk.
"Kamu makan juga." Eren menyuap nasi.
"Ini lagi pesan." Ethan merasa gemas melihat Eren saat lagi makan.
Keduanya tidak saling berbicara lagi, Ethan asyik melihat Eren yang sedang makan. Sedangkan Eren sibuk menyuap makan ke mulutnya.
Daniel yang melihat cara Ethan memandang Eren melalui layar handphone Eren yang ia lihat. Daniel tersenyum penuh arti.
"Eren kamu makannya belepotan lho." Daniel mengelap bibir Eren dengan ibu jarinya. Dengan suara yang sengaja Daniel perjelas supaya pria di balik layar handphone itu mendengar.
"Hei, Daniel playboy jauhkan tangan kotormu dari Eren ku!"
Namun Daniel malah melingkarkan tangannya di pundak Eren. "Kalau aku gak mau kenapa?" Tersenyum penuh kemenangan kearah Ethan.
__ADS_1
Megy yang duduk di samping Eren tubuhnya langsung lemas. Harapan yang muncul beberapa menit langsung terhempas. perasaan pupus duluan sebelum diungkapkan.