Will You Merry Me

Will You Merry Me
Butik Aunty Nara


__ADS_3

Brian melihat Tio menghampirinya di lobby kantor, keduanya lalu masuk ke dalam lift bersama.


"Bos, saya tidak bisa hadir di pesta rekan bisnis entar malam, saya tidak mungkin meninggalkan istri saya yang sedang hamil besar," ucap Tio.


"Iya gak papa, santai saja gue ngerti kok," ucap Brian menepuk punggung sang sahabat.


"Makasih bos," ucap Tio.


"Iya sama-sama," ucap Brian.


Ting...


Pintu lift terbuka, Brian dan Tio keluar dari dalam lift bersama.


"Yo, tolong bawakan berkas-berkas yang harus aku tandatangani yah," ucap Brian.


"Siap bos," ucap Tio.


Tio berjalan masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Brian pergi mendekat ke arah meja kerja sekertaris Kevin.


"Pagi bos," sapa Kevin dengan hormat.


"Pagi, Vin kamu ikut ke ruangan saya," ucap Brian.


"Siap bos," ucap Kevin.


Kevin mengikuti Brian masuk ke dalam ruangan Brian, sampai di dalam Brian meminta Kevin untuk duduk di kursi yang ada di depannya.


"Ada apa bos?" tanya Kevin.


"Tolong kamu gantikan saya bertemu dengan klian dari perusahaan xx siang ini, siang ini di restoran Mawar," ucap Brian.


"Baik bos," ucap Kevin tampa membantah, karena itu adalah perintah dari sang bos.


"Terimakasih Vin," ucap Brian.


"Iya bos, sama-sama," ucap Kevin.


Clekk...


Tio masuk sambil membawa berkas yang di minta oleh sang bos, Tio duduk di kursi depan sang bos yang ada di dekat Kevin.


"Ini bos, berkas yang anda minta," ucap Tio menyerahkan berkas itu.


Brian membaca berkas itu, lalu menandatangani, kemudian menyerahkan lada Kevin.


"Ini Vin, nanti tinggal kamu sampaikan saja pada klian kita," ucap Brian.


"Baik bos, tapi kenapa bos tidak mau bertemu klian itu langsung?" tanya Kevin.


"Saya tidak suka bertemu dengan dia, dia berbahaya seperti ular," ucap Tio.


"Siapa?" tanya Tio.


"Si Sindi," ucap Brian.


"Kayak nya dia beneran terobsesi sama bos, bos harus berhati-hati sama orang seperti itu," ucap Kevin.

__ADS_1


"Iya makasih," ucap Brian.


"Kalau begitu saya pamit dulu bos, Yo," ucap Kevin.


"Iya," ucap Brian dan Tio bersama.


"Kok wajah loh cemas gitu?" tanya Tio, kalau lagi berdua Tio memang memanggil sang bos biasa saja.


"Gue cuma kuatir Sindi bakalan nekat sama calon istri gue," ucap Brian menghela nafasnya pelan.


"Semoga saja gak, tapi loh harus berhati-hati sama orang kaya Sindi," ucap Tio.


"Iya, makasih ya Yo," ucap Brian.


"Sama-sama, gue ke ruangan dulu, masi banyak kerjaan," ucap Tio.


"Iya," ucap Brian.


Setelah kepergian Tio, kini tinggallah Brian sendiri, Brian mengambil ponselnya dan menekan panggil pada kontak yang bertuliskan kekasihku.


🍀🍀🍀🍀


Di lain tempat, Sheila sedang bersama sang mama pergi ke butik aunty Nara. Sheila harus menyiapkan gaun yang akan ia kenakan entar malam ke acara bersama Brian.


"Sayang, Si ayo masuk," ajak Nara mommy dari Maura dan Marvel.


"Makasih Nar," ucap Sisi.


"Aunty, Sheila mau liat-liat gaun yah, buat ntar malam," ucap Sheila.


"Iya sayang, liat-liat aja yah, aunty lagi mau ngomong sama mama kamu," ucap aunty Nara.


"Sheila!" panggil seseorang yang baru saja masuk.


"Adel," ucap Sheila tersenyum melihat sahabatnya itu.


Adel datang bersama dengan Marvel, karena Adel juga akan mencari gaun untuk ia kenakan entar malam, bersama dengan Marvel.


"Kamu sama siapa?" tanya Adel.


"Aku sama mama aku, tuh lagi di dalem ngobrol sama aunty Nara," ucap Sheila.


"Kamu lagi liat gaun untuk ntar malam yah, sama aku juga, kata kak Marvel di butik mommy nya bagus-bagus," ucap Adelia.


"Iya, ayo kita pilih-pilih dulu," ucap Sheila.


Kedua gadis itu pun asik memili gaun, sedangkan Marvel pergi menghampiri sang mommy yang ada di ruangannya.


"Sayang!" panggil mama Sisi.


"Iya ma, ada apa?" tanya Sheila.


"Barusan Brian telpon mama, katanya dia nelpon kamu tapi nomer kamu gak aktif," ucap mama Sisi.


"Astaga, aku lupa aktifkan ponsel ku ma," ucap Sheila mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mengaktifkan nya.


"Yah ampun, ada pesan dan panggilan tak terjawab dari kaka," ucap Sheila.

__ADS_1


Baru saja Sheila akan menelpon balik Brian, tapi Brian sudah menelponnya lagi. Dengan cepat Sheila mengangkat telpon dari sang kekasih.


"Hallo Assalamualaikum kak, maaf aku lupa aktifkan ponsel aku," ucap Sheila merasa bersalah.


"Waalaikumsalam, gak papa sayang, aku cuma kuatir saja sama kamu," ucap Brian dari seberang sana.


"Kaka lagi ngapain?" tanya Sheila.


"Lagi mikirin kamu," ucap Brian.


"Aku serius nanya kak," ucap Sheila sambil tersenyum.


"Aku juga serius sayang, lagi mikirin kamu," ucap Brian.


"Kaka ini, bisa aja deh," ucap Brian.


Marvel yang baru saja keluar bersama sang mommy pun mendekat ke arah Sheila, lalu berkata.


"Lebay banget loh," ucap Marvel.


Brian yang sedang tersenyum di balik telpon pun kaget mendengar suara sang sohib, rasa penasaran karena mendengar suara Marvel.


"Sayang kok ada suara Marvel sih, kamu lagi di mana?" tanya Brian.


"Aku lagi di butik aunty Nara kak, sama mama liat gaun buat entar malam," ucap Sheila.


"Tapi kok bisa ada Marvel di situ sayang?" tanya Brian lagi.


"Iya, kak Marvel datang sama Adel, mau liat gaun juga kak," ucap Sheila.


"Oh, gitu," ucap Brian.


"Yah sudah, kaka lanjut kerja lagi yah, hati-hati pulangnya sama mama," ucap Brian.


"Iya kak," ucap Sheila.


Setelah panggilan telpon terputus, Sheila kembali melihat-lihat gaun yang cocok untuk nya.


🍀🍀🍀🍀


Sindi melangkah masuk ke dalam restoran dengan gaya elegannya, kali ini Sindi tidak mengajak Mira sekertaris nya.


"Dandanan gue udah oke, tinggal nunggu Brian datang," ucap Sindi duduk si salah satu meja kosong.


Sindi kembali melihat penampilan nya mengenakan kaca mini, melihat bedak dan lipstik apakah lentur atau tidak.


Klian yang di maksud Brian adalah Sindi, tapi untung saja Brian sudah meminta Kevin untuk menggantikannya bertemu dengan Sindi.


Sindi melihat jam tangan mahal yang melingkar di lengannya yang putih mulus itu, lima menit lagi jam pertemuan mereka.


Sindi beranjak berdiri dan pergi ke arah toilet wanita.


Di luar restoran Kevin baru saja tiba, Kevin langsung masuk ke dalam restoran itu dan duduk di meja yang sudah di pesan oleh Sindi. Kevin duduk membelakangi arah toilet.


Selesai merapikan penampilannya, Sindi membuka kedua kancing dadanya, agar terlihat begitu ****. Setelah itu Sindi keluar dari kamar mandi sambil menenteng tas branded miliknya.


Sindi tersenyum melihat seseorang berjas hitam duduk membelakanginya, di meja yang sudah ia pesan.

__ADS_1


"Yes, Brian datang sendirian, untung aja gue gak ngajak Mira juga," ucap Sindi sambil tersenyum senang, melangkah mendekati meja yang di duduki oleh orang yang di kira Sindi adalah Brian.


Next...


__ADS_2