Will You Merry Me

Will You Merry Me
Brian kesal


__ADS_3

Setelah mengantar Sheila pulang ke rumah, Brian putar balik dan langsung menuju kantor Wijaya group.


Tiba di lobby kantor, Brian langsung memarkirkan mobilnya. Pria tampan itu turun dari mobil dan langsung melangkah menuju lift.


Meskipun sudah memiliki calon istri, tapi masi banyak karyawan wanita yang mengagumi ketampanan CEO muda itu.


Brian masuk ke dalam lift dengan sebelah tangannya di masukan ke dalam saku celana nya. Membuat ketampanan Brian semakin bertambah saja.


Ting...


Brian keluar dari dalam lift, dan melihat sekertarisnya sedang sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Brian berjalan dengan pelan tanpa menimbulkan langkah kakinya.


Brian memicingkan matanya. Melihat Kevin sang sekretaris sedang melakukan Vidio call bersama seorang wanita cantik, Kevin masih belum menyadari keberadaan sang bos di belakangnya saat ini.


"Aku serius sayang, aku begitu merindukan kamu," ucap Kevin dengan suara manja.


Membuat Brian menggeleng kepala, baru kali ini Kevin terlihat manja pada wanita yang Brian duga adalah sang kekasih.


"Aku pun sama sayang," ucap sang wanita.


"Kalau gitu cium ak..." ucapan Kevin terhenti saat mendengar dehem sang bos.


Dengan pelan Kevin melihat ke arah belakang, dan benar saja sang bos sedang berdiri tepat di belakangnya saat ini. Kevin menurunkan ponselnya dan meletakan di atas meja kerjanya.


"Pagi bos," sapa Kevin dengan senyum kikuk melihat sang bos.


"Siapa?" tanya Brian melihat ke arah ponsel Kevin.


"Itu bos, eeemmm," Kevin bingung harus memberikan jawaban apa, pria itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pacar kamu?" tanya Brian lagi.


"Iya bos, itu barusan pacar saya," ucap Kevin mengiyakan ucapan sang bos, dengan tersenyum kikuk.


"Cuma bilang itu aja kok susah sih," ucap Brian sambil tersenyum.


"Bos baru sampai, apa ada yang bos butuhkan?" tanya Kevin berbasa-basi.


"Tidak ada, kamu siapkan berkas yang akan di adakan rapat siang ini Bin," ucap Brian. Kemudian berlalu masuk ke dalam ruangannya.


"Baik bos," ucap Kevin mengangguk hormat.


Kevin dengan cepat melihat ke arah ponselnya yang sudah mati, Kevin menghela nafas pelan dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Kevin menyiapkan berkas yang di minta oleh sang bos.


Di dalam ruangannya Brian duduk di kursi kerjanya, tiba-tiba ruangan Brian terbuka begitu saja.


Seorang pria tampan masuk dengan setelan jas kantornya, tanpa di suruh pria itu langsung duduk di salah satu sofa.


Brian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ini baru jam setengah sembilan pagi, tapi pria itu sudah datang ke kantor.


"Rapat nanti di mulai jam sebelas, kenapa kamu sudah datang?" tanya Brian melihat pria itu.


"Pengen aja," ucap pria itu yang tak lain adalah Marvel sang sohib.


Brian membiarkan sohibnya itu duduk sendiri, sedangkan Brian sibuk dengan pekerjaan yang harus ia selesaikan.

__ADS_1


Marvel memilih untuk bermain dengan ponselnya saja.


"Loh gak mau nemanin gue ngobrol?" tanya Marvel melihat ke arah sang sohib.


Brian melihat ke arah Marvel sejenak, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih banyak itu.


"Loh gak liat gue lagi kerja," ucap Brian tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di atas meja.


"Kalau gitu gue ke ruangan Tio aja, cuma liat loh sibuk aja," ucap Marvel beranjak keluar dari ruagan Brian, dan pergi ke ruangan Tio sang sahabat.


"Pak Marvel, mau ke mana?" tanya Kevin melihat Marvel keluar dari ruagan sang bos.


"Mau ke ruangan Tio Vin, bosan gue di ruangan Brian," ucap Marvel melihat sekertaris sohibnya itu.


"Pak Tio kan sedang cuti pak Marvel, soalnya istri pak Tio sedang hamil tua," ucap Kevin.


"Sial, kenapa Brian gak bilang sama gue sih," ucap Marvel kembali masuk ke ruangan kerja Brian.


Clekk...


Brian kembali melihat ke arah pintu, di mana Marvel masuk dan duduk di sofa kembali. Marvel menatap sohibnya itu dengan kesal, tapi Bryan hanya santai saja dan melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa sih lo nggak bilang sama gue kalau Tio lagi cuti," ucap Marvel masih menatap sagsohib dengan tatapan kesal.


"habis lo nggak nanya sih," ucap Bryan sambil terkekeh geli melihat wajah kesal sang sohib.


"tapi kan seenggaknya lo bilang waktu gue keluar tadi," ucap Marvel.


"udah lo duduk diam aja di situ nggak usah gangguin gue yang lagi kerja, siapa nyuruh loh datang pagi-pagi. Kan loh tahu sendiri rapatnya nanti dimulai jam 11.00 siang," ucap Bryan melihat Marvel.


"Bosan gue di kantor karena itu gue cepat-cepat datang ke sini," ucap Marvel dengan santai sambil melihat Brian.


"Mending lo kerja aja deh bikin kepala gue tambah pusing tau nggak," ucap Marvel sambil membaringkan tubuhnya di sofa panjang.


Bryan hanya menggelengkan kepala melihat sohibnya itu, dari dulu Marvel memang tidak pernah berubah. Selalu saja lari dari pekerjaan, berbeda dengan Brian yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, Bryan melihat ke arah Marvel yang sedang berbaring di sofa.


Tak berselang lama Kevin masuk sambil membawa berkas, Kevin melihat Marvel yang sedang berbaring di sofa lalu menghampiri sang bos.


"Bos rapat akan segera dimulai," ucap Kevin.


"apa rekan bisnis yang lain sudah tiba?" tanya Bryan mengalihkan tatapannya ke arah Kevin.


"Yah sudah bos, hanya tinggal bos dan pak Marvel saja yang belum tiba di ruang rapat," ucap Kevin.


Brian melihat ke arah Marvel yang masih berbaring di sofa, Brian berdiri dari duduknya lalu menghampiri sang sohib.


"Mau sampai kapan kamu akan tidur, rapat akan segera dimulai," ucap pria melihat wajah Marvel yang sedang tertidur damai.


Marvel membuka kedua matanya, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Brian. membuat pria mengernyit keningnya dengan heran, apa maksud Marvel mengulurkan tangannya.


"Apa?" tanya Brian melihat Marvel.


"bantuin gue bangun," Marvel masih mengulurkan kedua tangannya ke arah Brian.


"kayak anak kecil aja loh," ucap Brian tapi menarik tangan sohibnya itu sampai membuat Marvel terbangun dari baringnya.

__ADS_1


"Maaci Blian(makasih Brian)" ucap Marvel sambil terkekeh geli melihat sang sohib.


Bryan memandang kesal wajah sohibnya itu, lalu meninggalkan Marvel yang masih terduduk di sofa, Marvel dengan cepat mengejar Brian dan juga Kevin yang sudah keluar dari ruangan Brian terlebih dahulu.


ketiga pria itu berjalan ke arah ruang rapat, Kevin membukakan pintu untuk Brian dan juga Marvel, para rekam bisnis menyambut kedatangan dua pria tampan itu sambil tersenyum ramah.


Bryan dan Marvel duduk di kursi yang khusus untuk mereka, dengan Rama Brian menyapa semua para rekan bisnis. hanya satu kursi yang Brian enggan melihatnya, yaitu kursi yang diduduki oleh wanita yang bernama Cindy.


Marvel melihat ke arah Sindi dengan tak suka, karena wanita itu sedari tadi terus melihat ke arah sepupunya tanpa berkedip.


tanpa tahu malunya Cindy menyimpan Brian sambil tersenyum menggoda, tapi Brian hanya melihat sekilas selalu melihat para rekan bisnis yang lain.


"Sial, kenapa sih Brian cuek banget sama gue," ucapin di dalam hati.


Brian pun mulai memimpin rapat, para rekannya bisnis yang lain mengganggu menyimak rapat yang dipimpin oleh Brian.


Ketampanan Brian yang turun dari sang ayah, membuat wanita manapun akan terpesona melihatnya, tapi sayang seribu sayang hati Brian sudah terpaut pada satu gadis yang ia sukai sedari bayi.


"Apa ada yang perlu ditanyakan?" tanya Bryan melihat semua rekan bisnis yang hadir di rapat itu.


"Saya setuju dengan pendapat pak Brian," ucap rekan bisnis yang duduk di dekat Sindy.


"terima kasih, apa ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Brian lagi memberi waktu kepada para rekan bisnis yang lain lagi untuk bertanya.


"tidak ada pak Brian, kita semua setuju dengan pendapat pak Brian barusan," ucap ragam bisnis yang lain.


"kalau begitu rapat kita tutup sampai di sini, selamat siang," ucap Bryan bersiap beranjak dari duduknya.


Cindy dengan cepat mengambil kesempatan untuk mendekati Brian, dengan tak tahu malunya Cindy mengajak Brian untuk mengobrol sebentar.


"Pak Brian saya ingin mengundang pak Brian buka puasa di rumah saya sore ini," ucap Cindy dengan senyuman yang dibuat begitu manis.


Marvel yang sedari tadi duduk di dekat Brian, hanya melihat pemandangan itu saja. Marvel bisa melihat raut kekesalan di wajah Brian.


"Maaf tapi saya ada banyak pekerjaan, mungkin telat pulangnya," ucap Bryan dengan menahan kesal, karena Brian masih punya hati untuk tidak bersuara keras pada wanita.


"Wah sayang sekali ya padahal saya ingin mengajak pak Brian berbuka di kediaman saya," ucap Cindy masih tersenyum menggoda ke arah Brian.


"Saya permisi dulu," ucap Brian pergi dari hadapan wanita itu, rasanya Brian ingin berteriak saat itu juga.


Kevin dan Marvel mengejar Brian yang sudah keluar terlebih dahulu, Bryan tidak suka ada wanita lain yang mendekatinya, apalagi wanita itu berusaha untuk mencuri-curi perhatiannya.


Karena di hati Brian hanya ada Sheila seorang ah, Bryan jadi merindukan gadisnya itu.


Bryan membuka pintu ruangannya dan langsung mencari ponsel miliknya, karena ia sudah sangat merindukan gadisnya, padahal mereka baru saja bertemu tadi pagi.


Pintu ruangan kerja Brian kembali terbuka, dan itu adalah Marvel, Marvel mendekati kursi yang ada di hadapan Brian dan mendaratkan bokongnya di sana.


"Gila tuh cewek, besar juga nyalinya," ucap Marvel melirik sang sohib.


"Nggak usah bahas dia, gue malas dengarnya," ucap Brian menatap Marvel dengan tajam.


"Loh lagi ngapain?" tanya Marvel melihat ke arah ponsel yang dipegang oleh Bryan.


"Kepo aja loh," ucap Brian masih sibuk dengan ponselnya.


Marvel menatap Brian dengan bibir manyun, Brian memang seperti itu kalau sedang sibuk. Marvel memilih untuk melihat berkas yang ad Adi atas meja sohibnya itu saja.

__ADS_1


Next...


__ADS_2