
Brian turun dari dalam mobil, kemudian membukakan pintu mobil untuk Shiela. Sheila melihat wajah Brian yang sedari tadi terlihat kusut.
"Kenapa sih?" Tanya Sheila berjalan masuk bersama Brian.
"Kesal," ucap Brian.
"Kesal sama si kembar?" Tanya Sheila.
"Iya, habis kesal sama siapa lagi, kalau bukan sama kurcaci itu," ucap Brian. Seharian ini Brian sudah di buat sakit kepala dengan ulah si kembar.
Sheila tersenyum melihat Brian, cuma karena ponakan-ponakan nakalnya itu, sudah bikin sakit kepala.
"Sayang kok kamu malah ketawa sih?" Tanya Brian mendekati Sheila.
"Terus aku harus apa, Kaka aja yang terlalu lebay gitu," ucap Sheila.
"Lebay gimana sih, pusing ini sayang karena si kembar," ucap Brian duduk di salah satu sofa Yanga da di ruang tengah.
"Sayang, kalian udah pulang?" Tanya mommy Nisa yang berjalan ke ruang tengah.
"Iya mom, dan mommy tau gak seharian ini aku di buat pusing oleh cucu-cucu kembar mommy," ucap Brian menatap sang mommy dengan manja.
"Si kembar, kok bisa sih?" Tanya mommy Nisa heran menatap putranya itu.
"Bisa lah ma, apa yang gak bisa di bikin si kembar," ucap Brian membaringkan tubuhnya di sofa.
"Gitu-gitu mereka tuh ponakan kamu sayang," ucap mommy Nisa mengusap kepala sang putra.
Brian menatap sang mommy, lalu beralih melihat ke arah Sheila. Mommy Nisa berdiri dari duduknya.
"Mommy mau ke mana?" Tanya Brian.
"Mau ke kamar, mau bangunin Daddy kamu, Masi tidur jam segini," ucap Mommy Nisa.
"Daddy mah enak cuma tiduran di rumah, aku di kantor kerja," ucap Brian saat mommy Nisa sudah berlalu.
"Jangan banyak protes kak, gak baik tau," ucap Sheila.
"Gak protes sayang, emang kenyataan," ucap Brian melihat Sheila.
****
Tio terlihat sedang mengendong bayinya yang masih berumur hampir sebulan itu, tepat di bulan puasa kemarin Laura istri Tio melahirkan Putra pertama mereka. Yang di beri nama Ricko.
"Sayang putra kita gantengnya kaya aku yah," ucap Tio menatap sang putra Tampa berkedip.
"Iya mas, tapi hidungnya ikut hidung aku," ucap Laura gak mau kalah.
"Iya, cuma wajah ikut aku," ucap Tio.
"Sayang adek nangis," ucap Tio melihat putranya akan menangis.
Dengan cepat Laura mengangkat putranya, lalu memberikan asi yang ada padanya. Bayi kecil itu meminum asi nya dengan cepat, membuat Tio dan Laura tersenyum melihat putra mereka.
"Sayang, kau harus berbagi sama papa yah," ucap Tio membuat Laura menghadiai cubitan di lengan suaminya itu.
"Sakit sayang," ucap Tio sambil mengusap lengannya.
"Habis mas sih, ngomong asal," ucap Laura.
"Gak papa sayang, kan adek belum ngerti," ucap Tio sambil terkekeh geli.
"Papa kamu sayang, suka asal kalau ngomong," ucap Laura mengajak putranya mengobrol.
Tio mengusap rambut anaknya yang terlihat lebat dan hitam, Tio lalu beranjak dari duduknya. Masuk ke dalam kamar mandi, Laura yang sedang memberikan asi pada sang putra melihat ke arah pintu yang baru saja tertutup itu.
__ADS_1
Clekk...
"Sayang," panggil Tio.
"Ada apa mas," ucap Laura.
"Sabun di kamar mandi kok habis sih?" Tanya Tio melihat sang istri.
"Buat apa mas, kau selalu saja menghabiskan sabun buat main," ucap Laura.
"Habis gimana dong, kan Andi puasa," ucap Tio dengan wajah lesu.
"Sabun nya udah habis, nanti beli lagi," ucap Laura sambil menahan senyum melihat wajah lesu suaminya itu.
Tio berjalan keluar dari kamar mandi dengan wajah menahan lesu, sudah berpuasa cukup lama dan sekarang sabun habis, Tio menghela nafasnya dengan pelan duduk di dekat sang istri yang sedang mengendong putra mereka.
Laura punya kejutan buat Tio nanti malam, pasti suaminya itu akan bahagian mendengarnya.
Laura kembali menidurkan Ricko yang sudah kembali tertidur pules ke dalam box bayi, Ricko begitu tenang dalam tidurnya, tidak terganggu sama sekali.
****
Suasana meja makan di kediaman Jovian dan Maura terlihat begitu ramai, rumah Maura dan Jovian kedatangan Marvel dan kedua orang tuanya.
Mommy Nara dan Daddy Erik datang untuk melihat cucu mereka yang sudah mulai aktif, celotehan beby Aqil terdengar memekakan telinga yang ada di ruang makan.
"Kak, anak kalian berisik banget sih," ucap Marvel yang sedang menyantap makan malamnya.
"Namanya juga anak kecil Dek, gak bisa diam," ucap Maura melihat putrinya yang sedang duduk di pangkuan sang eyang.
Aahhh, teriak beby Aqil melihat sang uncle, Marvel hanya bisa mengusap dadanya saja ketiga si kecil Aqil meneriakinya.
"Hey kenapa, kamu marah yah sama uncle," ucap Daddy Erik mengajak cucunya itu mengobrol.
"Beby nanti kamu gak boleh yah ikut kaya Kaka kembar, jangan bikin kepala sakit," ucap Marvel mendekati ponakannya itu.
Jovian dan Maura tertawa melihat Marvel, Maura lalu memanggil sang adik.
"Dek, percuma ngomong sama Aqil, dia gak bakalan ngerti," ucap Maura.
"Cuma ingatin aja kak, jangan sampai kaya si kembar," ucap Marvel melihat sang Kaka.
"Memangnya kembar kenapa sayang?" Tanya mommy Nara melihat putranya itu.
"Biang rusuh mereka, apa lagi kalau sama kawan-kawan, uuh gak bisa berkata-kata lagi deh," ucap Marvel mengingat kelakuan si kembar dan kawan-kawan.
"Hati-hati loh dek, nanti kedengaran si kembar," ucap Maura tersenyum melihat Jovian sang kekasih.
"Jangan sampai kak, nanti bisa-bisa aku di demo lagi sampai kantor," ucap Marvel kembali menyuap makanannya.
****
Brian berbaring ke sana kemari di atas ranjang king size miliknya, Brian mengambil ponselnya yang ada di meja nakas.
Brian mencari kontak seseorang, lalu menelponnya. Sudah dua kali panggilan, tapi yang di sebrang sana belum juga mengangkat telpon dari Brian. Membaut Brian kesal.
Brian lalu bangun dari baringnya, turun menuju lantai bawa untuk mengambil air minum.
"Boy, kau belum tidur?" Tanya Daddy Nicko yang baru saja keluar dari kamar.
"Belum dad, aku haus jadi ambil minum dulu," ucap Brian.
"Mommy udah tidur dad?" Tanya Brian.
"Udah, mommy mu tidur dari tadi," ucap Daddy Nicko yang juga mengambil air minum.
__ADS_1
Daddy Nicko mengajak putra nya duduk di kursi meja makan, Brian duduk di kursi ketiga dari yang duduki sang Daddy.
"Apa ada sesuatu yang ingin Daddy sampaikan?" Tanya Brian melihat sang Daddy dengan serius.
"Iya, ada yang ingin Daddy sampaikan sama kamu," ucap Daddy Nicko meminum air Yanga da di gelas sampai habis.
"Apa dad?" Tanya Brian penasaran.
"Daddy sudah tau siapa yang selama ini, mencoba bermain-main dengan keluarga kita," ucap daddy Nicko.
"Siapa dad?" Tanya Brian penasaran.
"Wanita yang bernama Sindi, dia yang selama ini yang mencoba menculik Sheila," ucap daddy Nicko.
Brian mengepalkan tangannya dengan kuat, lagi-lagi wanita itu yang mencoba untuk menculik Sheila dulu. Daddy Nicko melihat sang putra yang terlihat begitu marah, watak Brian sama persis seperti drinya kalau sedang marah.
"Brian akan berikan pelajaran pada wanita itu dad," ucap Brian setelah cukup lama diam.
"Jangan dulu gegabah nak, kita ikuti permainan wanita itu dulu, kita liat sampai mana dia bisa bermain-main dengan kita," ucap Daddy Nicko.
Brian melihat sang Daddy, senyum licik muncul di bibir Brian, senyum yang siapa saja yang melihatnya akan merasa ketakutan.
Selesai mengobrol bersama sang Daddy, Brian lalu kembali naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Begitu pun dengan Daddy Nicko, masuk ke dalam kamar dan bergabung bersama sang istri yang sudah berada di alam mimpi.
****
Malam berganti siang, Brian saat ini sudah berada di dalam mobil menuju kantor, pagi ini Brian ada rapat bersama para karyawannya.
Jalan sudah mulai padat, suara klakson mobil terdengar dari luar sana, tapi tidak menganggu ketenangan Brian yang sedang bertukar Chet dengan sang kekasih.
"Den di depan macet," ucap pak Sopir melihat ke kursi belakang.
"Kita lewat jalan lain saja pak," ucap Brian Tampa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Baik den," ucap pak sopir putar balik, mencari jalan yang tidak terjebak macet, untung saja jalur sebelah tidak terlalu macet, sehingga mobil mereka bisa putar balik dengan gampang.
Brian tersenyum melihat sang kekasih menjahilinya melalui pesan, tiba-tiba ponsel Brian berbunyi pertanda panggilan masuk.
Brian melihat nama yang tertera di layar ponselnya, tampa menunggu lama Brian langsung mengangkatnya.
"Hallo kak ad..." Ucapan Brian terhenti mendengar suara dari balik telpon.
"Alo ucel, ucel ita ole te es olan ucel Agi ga(hallo uncle, uncle kita boleh ke restoran uncle lagi gak)" ucap suara cadel si kembar dari balik telpon.
"Mau ngapain ke restoran, uncle gak ke restoran hari ini," ucap Brian.
"Ga apa alo ucel ga atan, ita aja yan elgi(gak papa kalau uncle gak datang, kita aja yang pergi)" ucap Galih dari balik telpon.
Brian mendapat ide, dengan mengatakan hallo banyak kali, seperti jaringan sedang tidak bagus, lalu mematikan sambungan telponnya.
"Ganggu aja," ucap Brian kembali melanjutkan Chet nya dengan Sheila.
Di seberang sana Galih mengumpat kesal, karena sang uncle mematikan telponnya begitu saja.
"Ulan adal ni ucel, asa epon ya i atiin ci(kurang ajar nih uncle, masa telpon nya di matiin sih)" ucap Galih melihat layar ponsel yang sudah mati.
"Enapa Alih(kenapa Galih)" tanya Galah sang kembaran yang sedang duduk di sofa.
"Ucel atiin epon ya ditu aja, asan alo alinan ya ga adus(uncle matiin telponnya gitu aja, alasan kalau jaringannya gak bagus)" ucap Galih dengan kesal meletakan ponsel sang mami di atas meja.
"Epon Agi aja(telpon lagi aja)" ucap Galah.
"Eltuma ga atalan i antat(percuma gak bakalan di angkat)" ucap Galih turun Dari atas sofa, lalu pergi mencari keberadaan sang mami.
Next...
__ADS_1