Will You Merry Me

Will You Merry Me
Will You Merry Me


__ADS_3

Semuanya saat ini sudah siapa akan pergi ke tempat di mana akan di adakan acara lamaran untuk Sheila. Uncle Brian sudah terlihat gaga dan tampan mengunakan setelan jas berwarna hitam.


"Ais atu da anten lum(guys aku udah ganteng belum)" tanya Galih berdiri di tengah-tengah sohibnya.


"Da anten to Alih(udah ganteng kok Galih)" ucap Nara.


"Maaci ya Nala, Nala uga antit(makasih yah Nara, Nara juga cantik)" ucap Galih.


"Udah-udah ayo semuanya kita berangkat," ucap eyang Nicko.


"Du akek ni, adetin aja de(aduh kakek ini, ngagetin saja deh)" ucap Galih.


"Hehehe,, maaf boy," ucap kakek Nicko.


"Ita antat ake is agi ke(kita berangkat pake Bess lagi kek)" tanya Galah.


"Iya boy, biar seru. Tuh ada uncle Marvel sama kak Adel juga," ucap kakek Nicko.


"Hallo guys, ketemu lagi kita," ucap uncle Marvel.


"Allo tat Adel(hallo kak Adel)" ucap Galih, bukannya membalas sapaan uncle Marvel.


"Kok cuma kak adel aja sih, uncle gak di sapa nih?" tanya uncle Marvel.


"Ucel anya(uncle nanya)" ucap Galih.


Membuat uncle Marvel melengos mendengar perkataan Galih, ada-ada saja bahasa gaul si kembar.


Semuanya pun berangkat ke tempat acara lamaran berlangsung, si kembar dan kawan-kawan masuk ke dalam Bess.


"Alah, pe amu tu i awa tan uat poto ucel ama oty ela(Galah, hp kamu di bawa kan buat foto uncle sama aunty Sheila)" ucap Galih.


"Da to ni pe api(ada kok ini hp papi)" ucap Galah.


Mobil Bess membawa rombongan ke tempat acara, celotehan si kembar menjadi penghibur buat mereka para orang tua.


"Ucel anti amal oty ela ake uga ya(uncle nanti lamar aunty Sheila pake bunga)" tanya Galih kepo.


"Gak boy, pake cincin," ucap uncle Brian.


"Ake incin, ga ake uga ya(pake cincin, gak pake bunga yah)" ucap Galih.


"Gak, kenapa kok nanya gitu?" tanya uncle Brian.


"Atu uga au amal Nala ucel(aku juga mau lamar Nara uncle)" ucap Galih dengan polosnya.


"Hah," ucap uncle Brian kaget.


"Kamu ini masi kecil, mana bis lamaran," ucap uncle Brian.

__ADS_1


"Man ga ole ya(emang gak boleh yah)" ucap Galih.


"Nanti deh kalau udah besar yah," ucap uncle Brian.


"Iat anti de(liat nanti deh)" ucap Galih.


Uncle Brian menggeleng kepala melihat sang sohib, Marvel hanya tertawa melihat Brian dan Galih yang sedang mengobrol. Ada-ada saja keponakan mereka itu.


"Ketawa aja loh terus, sampai suara loh habis," ucap uncle Marvel.


"Habis kalian berdua lucu sih, lagian ini bocil pake cara mau lamar anak gadis orang, kencing belum lurus juga," ucap uncle Marvel sambil tertawa.


"Ist, ucel emein atu(ish, uncle remehin aku)" ucap Galih.


"Gak uncle gak remehin kamu, habis kamu ini lucu sih," ucap uncle Marvel.


"Tu ama aja ucel(itu sama saja uncle)" ucap Galih kesal.


Tak berselang lama, Bess berhenti di depan restoran yang sudah di sulap menjadi begitu indah di pandang, banyak bunga dan lampu-lampu yang sudah di tata dengan begitu rapi di setiap sudut ruangan.


"Wa, adus anet(wah, bagus banget)" ucap Nara melihat dari balik jendela Bess.


"Ayo semuanya kita turun anak-naka, pelan-pelan yah nanti jatuh," ucap kakek Nicko.


"Dad, kok kita di bilangin anak-anak sih," ucap Brian.


"Daddy ngajak si kembar dan kawan-kawan nya boy," ucap daddy Nicko.


"Amu ni, ibut anet(kamu ini, sibuk banget)" ucap Galah.


Galah pun meng foto Galih dan juga Nara, kedua bocah kecil itu berdiri di depan pintu masuk yang terdapat banyak bunga-bunga.


"Loh yang mau lamaran, si kembar yang heboh)" ucap uncle Marvel sambil terkekeh geli melihat wajah kesal sang sohib.


Di salah satu ruangan, Sheila sudah selesai di rias. Sheila terlihat begitu berbeda dengan mengenakan gaun berwarna biru langit.


"Sayang, kamu cantik banget," ucap mama Sisi.


"Sheila kan cantik nya dari mama," ucap Sheila.


"Kamu ini, bisa aja deh," ucap mama Sisi.


"Bu, pak Brian dan yang yang sudah tiba," ucap seorang pelayan.


"Terimakasih mbak," ucap Sheila.


Nara di minta untuk menemui aunty Sheila, karena nanti Nara yang akan menuntun aunty Sheila keluar untuk bertemu uncle Brian.


Galih juga pengen ikut, tapi di tahan oleh sang kakek, karena hanya Nara yang boleh masuk ke dalam ruangan di mana aunty Sheila berada.

__ADS_1


"Oty ela aya inces, antit anet(aunty Sheila kaya princess, cantik banget)" ucap si kecil Nara.


"Makasih Nara, Nara juga cantik sayang," ucap aunty Sheila.


"Maaci oty(makasih aunty)" ucap Nara.


"Sama-sama sayang, ayo sekarang kita keluar yah," ucap aunty Sheila.


Mama Sisi, aunty Sheila dan juga nara keluar dari ruangan itu, si kecil Nara menuntun aunty Sheila berjalan dengan pelan memasuki dalam Resto.


"Wa ises antit(wah princess cantik)" ucap Galah.


"Ia, poto ulu a(iya, foto dulu ah)" ucap Galih dan langsung mengambil ponselnya dari saku jas kecil miliknya.


Tak mau kalah dari sang kembaran, Galah juga mengambil ponselnya sang papi yang ia bawa, lalu memotret aunty kesayangan mereka.


"Elan-elan oty alan ya(pelan-pelan aunty jalannya)" ucap Galih.


Uncle Brian menatap sang gadis tampa berkedip, Sheila terlihat begitu cantik malam ini, mengenakan gaun berwarna biru langit terang.


Dengan pelan Brian berjalan dan menyambut sang gadis, membuat semua yang ada di saya tersenyum melihat semua itu.


"Tidak ada pemandangan yang lebih indah selain kamu sayang," ucap Brian.


"Makasih kak," ucap Sheila tersenyum malu.


Si kembar dan kawan-kawan melihat sang uncle dan aunty Sheila, tiba-tiba suara Galih mengagetkan semuanya.


"Amal-amal(lamar-lamar)" ucap Galih.


"Boy, kau diam dulu yah," ucap kakek Nicko.


"Ia ke(iya kek)" ucap Galih.


Sheila melihat sekeliling yang tampak begitu indah, bunga-bunga dan lampu-lampu yang di hias seindah mungkin. Membuat suasana menjadi begitu romantis.


"Ini semua kaka yang nyiapin?" tanya Sheila.


"Iya sayang, maaf kalau tidak terlalu romantis," ucap Brian.


"Ini begitu indah kak, aku suka," ucap Sheila.


Brian lalu berlutut di depan sang gadis dan memegang tangan sang gadis, dan menatap Sheila penuh cinta, membuat Sheila menjadi gugup seketika.


"Sayang, maaf kalau aku tak bisa merangkai kata-kata yang indah, maaf kalau aku tak bisa romantis seperti yang kamu mau, malam ini di depan semuanya, di depan orang tua kita, aku mau mengutarakan niat baik ku untukmu. Sheila Rahardja, Will You Merry Me?" ucap Brian sambil memegang cincin berlian yang sudah ia siapkan untuk Sheila.


Sheila menangis haru, pria yang ia cintai telah melamar nya malam ini, di depan semuanya dan di depan kedua orang tuannya juga. Belum sempat Sheila menjawab, tiba-tiba semuanya di kaget kan dengan si kecil Galih.


"Tinala il u eli mi(Kinara will you merry me)" ucap Galih berjongkok di depan Nara sambil memegang setangkai bunga yang akan ia serahkan lada Nara, entah bunga dari mana yang Galih ambil.

__ADS_1


Next...


__ADS_2