
Brian sudah siap dengan setelan jas berwarna abu, jas yang di pilihan oleh sang kekasih tadi siang.
"Mom, dad." Panggil Brian menuruni anak tangga.
"Boy, kau sudah siap?" tanya Deddy Nicko.
"Iya dad," ucap Brian mendekati daddy dan juga sang mommy.
"Aku langsung pamit yah mom, dad, mau jemput calon istri dulu," ucap Brian.
"Iya, kalian hati-hati yah," ucap daddy Nicko.
"Siap dad, Brian pergi dulu yah," ucap Brian.
"Iya," ucap mommy Nisa dan daddy Nicko.
"Putramu itu, sama persis seperti kamu mas," ucap mommy Nisa.
"Yah kan aku ayah nya sayang, masa kamu lupa sih heemm," ucap daddy Nicko mendekati sang istri.
"Ini mau apa?" tanya mommy Nisa curiga menatap sang suami.
"Yah mau berduaan sama istri lah, terus apa ngapain lagi," ucap daddy Nicko menarik turun kan alisnya.
"Dasar kakek-kakek, udah tua juga," ucap mommy Nisa.
"Malahan lebih bagus sayang, lebih tua lebih romantis," ucap daddy Nicko.
"Ish, mas ini," ucap mommy Nisa sambil tersenyum malu.
"Sayang, kamu ini masi saja malu sam Amas," ucap daddy Nicko.
Mommy Nisa mala pergi meninggalkan sang suami, membaut daddy Nicko tersenyum penuh arti, lalu menyusul sang istri.
🍀🍀🍀🍀
Sheila melihat pantulan dirinya di depan cermin, malam ini Sheila mengenakan gaun berwarna puti gelap, senada dengan jas abu yang di kenakan oleh Brian.
"Sayang, udah siap? wah putri mama cantik banget sih," ucap mama Sisi.
"Mama bisa aja deh," ucap Sheila sambil tersenyum.
"Mama serius sayang, kamu cantik banget malam ini," ucap mama Sisi lagi.
"Makasih ma," ucap Sheila.
Sheila dan mama Sisi keluar dari dalam kamar Sheila, pergi ke ruang tengah di mana papa Leo sedang duduk dan menonton TV.
"Pa." panggil mama Sisi.
"Sayang, ini beneran kamu, cantik banget putri ayah," ucap papa Leo.
"Makasih loh pa," ucap Sheila.
__ADS_1
Papa Leo, mama Sisi dan juga Sheila mendengar suara mobil yang baru saja berhenti di depan rumah.
"Itu Brian, udah datang," ucap mama Sisi.
Brian turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah sang kekasih.
"Assalamualaikum, pa, ma, sayang," ucap Brian.
"Waalaikumsalam salam nak," ucap mama Sisi dan papa Leo.
"Sayang, ini beneran kamu? cantik banget," ucap Brian tersenyum melihat sang kekasih.
"Makasih kak, kaka juga ganteng," ucap Sheila.
"Pa, ma, aku jadi ga tega membawa calon istriku ke pesta itu," ucap Brian.
"Kenapa sayang?" tanya mama Sisi.
"Aku gak rela kecantikan calon istriku di liat semua orang yang ada di sana," ucap Brian.
"Kaka lebay banget sih, ayo kita berangkat sekarang, nanti telat lagi," ucap Sheila mengandeng lengan Brian.
"Iya sayang, ma, pa kita pamit dulu yah. Kalau Sheila lagi pulang nanti nginap di rumah yah," ucap Brian.
"Ingat yah, nginap di rumah, bukan di hotel," ucap papa Leo.
"Astaga pa, yah gak lah, aku ini buka daddy Nicko," bisik Brian dengan pelan pada calon mertua.
"Iya, kalian hati-hati yah," ucap papa Leo dan mama Sisi.
Setelah berpamitan pada kedua orang tua Sheila, Brian mengandeng tangan sang kekasih keluar dari rumah Sheila.
Brian membuahkan pintu mobil untuk Sheila, mobil yang Brian pakai adalah mobil sport berwarna hitam miliknya. Brian masuk ke dalam kursi kemudi dan mengendarai mobilnya keluar dari gerbang rumah Sheila.
🍀🍀🍀🍀
Di dalam mobilnya, Sindi sedang menelpon orang suruhannya. Mulai malam ini mereka akan mulai menjalankan rencana yang sudah mereka susun.
"Kamu ingat yah, jangan sampai ada yang tau, kamu harus bisa membuat gadis itu pergi dari dekat Brian," ucap Sindi.
"....."
"Oke, kamu siap-siap aja," ucap Sindi lalu mematikan panggilan telpon mereka.
"Aku akan membuat Brian menjadi milikku, hanya aku yang akan menjadi nyonya Wijaya, hahaha," ucap Sindi sambil tertawa seperti orang gila.
Sindi lalu mengendarai mobilnya menuju hotel di mana acara berlangsung, ia sangat berharap bisa menjebak Brian dan kekasihnya itu di sana.
Mobil yang di kendarai oleh Brian terparkir di lobby hotel, semu mata para tamu undangan yang baru saja datang, melihat ke arah mobil sport berwarna hitam itu.
Brian turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Sheila.
"Makasih kak," ucap Sheila.
__ADS_1
Brian memeluk dengan posesif pinggang ramping Sheila, membuat siapa saja yang melihat itu pasti akan sangat iri.
"Wah itu CEO Wijaya Group yah, ganteng banget," ucap salah satu tamu undangan.
"Iya, dia datang bersama tunangannya loh, mereka begitu serasi yah," ucap tamu yang lain.
Brian dan Sheila tak menghiraukan omongan para tamu, mereka berjalan masuk ke dalam mencari tempat yang sudah di siapkan untuk para petinggi perusahaan.
"Sayang duduk di sana aja yah," ucap Brian.
"Iya kak," ucap Sheila.
Brian mengajak sang kekasih duduk si kursi kosong, suasana ballroom hotel sudah di penuhi oleh para tamu undangan yang hadir.
Brian mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Marvel sang sohib. Tapi batang hidung nya belum keliatan.
"Kak, mau aku ambilkan minum gak," ucap Sheila.
"Boleh sayang," ucap Brian.
Sheila pergi mengambilkan minum untuk dirinya dan sang kekasih, sedangkan dari jarak yang tak terlalu jauh, seorang wanita menatap Sheila dengan tajam dan tak suka.
"Sekarang kamu bisa tersenyum, tapi nanti kamu akan menangis," ucap wanita itu dalam hati.
Wanita itu lalu memberikan kode pada seseorang yang mengenakan seragam pelayan, dan orang tersebut hanya mengangkat jempol pertanda kalau semua pasti akan beres.
"Kak, ini minum nya," ucap Sheila memberikan minuman bersoda buat Brian.
"Makasih yah sayang," ucap Brian.
Sheila kembali duduk di kursi yang ia duduki tadi, yah itu di dekat Brian.
"Hay pak Brian," sapa seorang pria paru baya.
"Eh pak Surya," sapa Brian juga berjabat tangan dengan pria paru baya itu.
"Pak Nicko tidak datang?" tanya pak Surya.
"Tidak pak, saya yang sudah mewakili daddy saya," ucap Brian sambil tersenyum.
"Ini pacar atau?" tanya pak Surya.
"Kenalkan pak, ini calon istri saya, nama nya Sheila," ucap Brian.
"Cantik, tapi kok wajahnya gak asing yah," ucap pak Surya melihat wajah cantik Sheila.
"Iya pak, calon istri saya ini adalah putri tunggal pak Leo Raharja," ucap Brian melihat sang istri dengan penuh rasa cinta.
"Pantes saja wajahnya begitu mirip dengan pak Leo," ucap pak Surya sambil tersenyum.
Sheila hanya ikut tersenyum saja, membiarkan Brian mengobrol bersama rekan bisnisnya itu. Tapi kalau di tanyain, Sheila pasti akan menjawab, dan ikut mengobrol juga.
Next...
__ADS_1