
Daddy Nicko menunggu Fathan orang suruhannya di ruang kerjaan, saat ini jam sudah menunjukan pukul lima sore.
Clekk...
"Selamat sore bos," sapa Fathan masuk ke ruangan Nicko, sambil membawa berkas yang ada di tangannya.
"Sore, silahkan duduk Fathan," ucap daddy Nicko meminta pria yang masi terlihat muda itu.
"Terimakasih bos," ucap Fathan mendaratkan bokong nya di atas kursi yang ada di depan daddy Nicko.
"Apa kau sudah mengetahui siapa dalang dari kejadian itu?" tanya daddy Nicko dengan tatapan serius ke arah Fathan.
"Sudah bos, bos bisa melihatnya di sini," ucap Fathan meletakan berkas yang ia bawa tadi di atas meja depan sang bos.
Daddy Nicko mengambil berkas itu dan melihatnya, daddy Nicko terlihat serius membaca berkas dari anak buah nya itu.
"Jadi dia yang sudah berani bermain-main dengan keluarga Wijaya," ucap daddy Nicko masi membaca berkas yang ada di tangannya itu.
"Benar bos, dia yang sudah berani hampir menculik nona Sheila," ucap Fathan membenarkan.
"Dia salah bermain-main dengan saya," ucap daddy Nicko sambil tersenyum jahat. Sampai membaut Fathan bergidik ngeri juga melihat itu.
"Ada yang akan kita lalukan bos?" tanya Fathan menatap sang bos.
"Jangan terlalu buru-buru Fathan, saya masi suka bermain-main dengan orang orang yang mencoba mengusik keluarga ku," ucap daddy Nicko sambil tersenyum penuh arti.
"Jadi kita biarkan saja dulu bos?" tanya Fathan lagi.
"Iya, kita liat sampai di mana usahanya untuk menganggu putra saya," ucap daddy Nicko.
"Baik bos, nanti saya akan selalu memberikan laporan untuk bos," ucap Fathan.
"Iya terimakasih Fathan," ucap daddy Nicko.
"Sama-sama bos," ucap Fathan sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Bos, saya harus pamit dulu sudah sore," ucap Fathan melihat Nicko.
"Baik," ucap daddy Nicko mengangguk.
Fathan lalu keluar dari dalam ruang kerja daddy Nicko, daddy Nicko melihat berkas yang ada di atas meja.
"Kamu akan menyesal sudah bermain-main dengan saya," ucap daddy Nicko dalam hatinya.
Daddy Nicko tidak akan membiarkan orang asik mengusik keluarnya, apa lagi orang seperti Sindi.
Cellkk...
Daddy Nicko melihat ke arah pintu yang baru saja terbuka, seorang wanita paru baya yang masi terlihat cantik masuk sambil tersenyum manis.
"Mas, kok masi di sini sih, bentar lagi udah mau buka loh," ucap mommy Nisa mendekati sang suami.
"Iya sayang, mas habis ketemu sama Fathan," ucap daddy Nicko berdiri dari duduk nya.
"Brian udah pulang kan sayang?" tanya daddy Nicko mengajak sang istri keluar dari ruang kerjaan Nicko.
"Udah mas, lagi mandi," ucap Mommy Nisa.
"Calon mantu kita mana sayang?" tanya daddy Nicko.
"Lagi nonton di ruang TV mas, sambil nunggu buka puasa," ucap mommy Nisa sambil tersenyum.
Mommy Nisa dan daddy Nicko berjalan ke arah ruang TV, bersamaan dengan Brian yang terlihat sedang menuruni anak tangga.
"Dad, mom, calon istriku mana?" tanya Brian yang masi berada di tengah-tengah anak tangga.
"Lagi nonton sayang," ucap mommy Nisa melihat sang suami menggeleng kepala.
"Panggil in Sheila sayang, bentar lagi kita buka," ucap mommy Nisa.
"Iya mom," ucap Brian pergi ke arah ruang tengah.
"Sayang di panggil mommy, kita udah mau buka," ucap Brian mendekati calon istrinya itu.
__ADS_1
"Iya kak," ucap Shila beranjak dari duduknya.
Brian mengajak Shila ke ruang makan, di mana di sana sudah tertata dengan begitu rapi di atas meja.
Daddy Nicko duduk di kursi yang biasa ia duduki, begitu pun dengan mommy Nisa.
Brian melihat menu kesukaannya yang ada di atas meja, rupanya Sheila dan mommy Nisa membuatkan menu buka puasa kesukaan Brian.
Tak berselang lama suara beduk sudah terdengar, daddy Nicko memimpin doa buka puasa.
"Alhamdulillah," ucap semua yang ada di situ.
"Kaka mau buka puasa sama lauk apa?" tanya Sheila mengambil piring Brian.
"Nasi sama ayam aja sayang, kecapnya di banyakin yah," ucap Brian sambil tersenyum manis melihat calon istrinya yang sedang mengambil makanan untuk Brian.
"Iya kak," ucap Sheila.
Mommy Nisa juga terlihat sedang mengambilkan menu makanan untuk daddy Nicko, kemudian mereka pun buka puasa bersama.
"Sayang gak coba ayam goreng?" tanya Brian yang melihat Sheila hanya makan lauk sayur dan ikan goreng saja.
"Gak kak, aku pengen makan ikan goreng sama sayur buatan mommy," ucap Sheila tersenyum melihat mommy Nisa.
Suasana buka puasa pertama di kediaman rumah Nicko Wijaya terlihat begitu damai, apa lagi dengan hadirnya anggota baru dalam keluarga mereka. Yah itu Sheila yang sebentar lagi akan menjadi istri dari Brian.
Sheila dengan talenta mengambilkan makanan untuk Brian, kala Brian meminta untuk tambah menu lagi. Membaut daddy Nicko dan mommy Nisa tersenyum melihat hal kecil itu.
****
Sruppp....
Sruppp....
Galih terlihat sedang meminum es campur yang mereka beli tadi, di atas meja yang besar itu terdapat banyak menu buka puasa, dari kue-kue dan juga menu masakan yang lain.
"Du es ampul ya enat anet ais(aduh es campur nya enak banget guys)" ucap Galih melegakan gelasnya dia tas meja.
Sedangkan milik Galah dan yang lain masi belum, karena mereka masi menikmati kue-kue yang mereka beli tadi.
"Ais to es ampul alian ga i inum ci, enat au(guys kok es campur kalian gak di minum sih, enak tau)" ucap Galih melihat kawan-kawannya.
"Ni da au i inum to(ini udah mau di minum kok)" ucap Galah meminum es campur.
"Tat esot ita eli es ampul agi ya ama ue(kak besok kita beli es campur lagi yah sama kue)" ucap Galih melihat ke arah kak Dev yang sedang menikmati es campur juga.
"Jangan sering-sering minum es, apa lagi sekarang bulan puasa, nanti kalian bisa sakit," ucap kak Dev menatap si kembar.
"Api ita tan aus tat, pa agi es ampul ya enat anet, ia ga ais(tapi kan haus kak, apa lagi es campur nya enak banget, iya gak guys)" ucap Galih melihat kawan-kawan.
"Ia enal tu(iya benar tuh)" ucap Galah mengangguk.
"Kalau gak percaya tanya aja sama mami kalian," ucap kak Dev.
Galih melihat sang mami dan sang papi yang sedang duduk berdekatan, senyum terbit di bibir mami Ambar kala melihat sang putra menatapnya.
"Man enal mi, alo ita inum es ampul elus anti isa akit (emang benar mi, kalau kita minum es campur terus nanti bisa sakit)" tanya Galih melihat sang mami.
"Benar sayang, nanti kalian gak bisa puasa karena kan sakit," ucap mami Ambar mengingatkan sang putra.
"Ya daal tan es ampul ya enat anet(yah padahal kan es campur enak banget)" ucap Galih.
Membaut mami Ambar dan papi Gilang saling pandang dan menggeleng kepala, melihat wajah sang putra.
"Udah makan aja kue nya sampai habis," ucap kak Dev.
"Atu au atan ue onis(aku mau makan kue brownie)" ucap Galah mengambil sepotong kue berwarna coklat itu yang terdapat meses di atasnya.
"Atu uga(aku juga)" ucap Galih gak mau kala.
Iqbal dan Kifli juga ikutan makan kue brownies, sedangkan Nara sudah tidak makan apa-apa lagi. Karena gadis kecil itu sudah terlihat kekenyangan.
"Nala amu ga atan ue onis, ni enat anet lo(Nara kamu gak makan kue brownies, ini enak banget loh)" ucap Galih melihat ke arah Nara, sambil mengunyah kue brownie.
__ADS_1
"Ga Alih, atu da enyan, atu ga au elut atu adi uncit(gak Galih, aku udha kenyang, aku gak mau perut aku jadi buncit)" ucap Nara sambil terkikik geli.
"Ais ita isin aja ue onis ya, Nala da enyan(guys kita habisin saja kue brownie nya, Nara udah kenyang)" ucap Galih melihat ketiga sohibnya itu.
"Ote(oke)" ucap Iqbal, Galah dan Kifli.
Nara terlihat turun dari atas kursi yang ia duduki, membuat Galih yang belepotan coklat bertanya pada Nara.
"Nala, amu au te ana(Nara, kamu mau ke mana)" tanya Galih sambil menjilat coklat yang ada di jarinya.
"Atu au iat ibu Alih(aku mau liat ibu Galih)" ucap Nara.
Nara masuk ke dapur, meninggal akan si kembar dan kedua sohibnya yangs sedang memakan kue brownie.
****
Paris (France)....
Seorang pria terlihat sedang termenung di atas ranjang, matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.
Tokk...
Tokk....
Pria itu melihat ke arah pintu yang sedang di ketuk, pria itu bangun dari baringan.
"Masuk," ucap pria itu setelah duduk di atas ranjang.
Clekk....
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya sekarang wanita paru baya.
"Belum mi, ada apa?" tanya itu yang tidak lain adalah Raffa.
"Kamu di panggil papi di bawa, katanya ada yang mau papi omongin," ucap mami Raffa menatap wajah lelah sang putra.
"Iya ma, nanti Raffa turun, mami duluan saja," ucap Raffa beranjak turun dari tempat tidur.
"Yah sudah, mami duluan yah," ucap mami Raffa, dan Raffa hanya mengangguk saja.
Raffa akan mengatakan pada kedua orang tuanya, kalau selsai lebaran nanti ia akan kembali ke indonesia untuk menghadiri acara pernikahan sang sahabat.
Raffa menuruni tangga menuju lantai bawa, Raffa melihat kedua orang tuanya sedang mengobrol di ruang tengah.
"Nak, sini," panggil papa Raffa yang tak lain adalah tuan Mahendra.
"Ada apa pi?" tanya Raffa setelah mendudukkan bokongnya ke salah satu sofa.
"Tadi di kantor papa bertemu dengan daddy nya Sophia, dan membicarakan tentang persiapan pernikahan kalian," ucap tuan Mahendra menatap sang putra.
Raffa terlihat menghela nafa dengan kasar, membuat kedua orang tuanya saling pandang sesaat, lalu kembali melihat sang putra.
"Iya pi," ucap Raffa pelan.
"Kau bisa menolak kalau merasa keberatan boy, papi dan mami tidak akan memaksa kamu, kita ngerti kalau itu cuma perjodohan yang di buat oleh almarhum kakek kamu," ucap tuan Mahendra.
"Raffa menerima nya kok pi," ucap Raffa tersenyum kecut.
"Apa kau sudah melupakannya?" tanya mami Raffa menatap sang putra.
Dan Raffa hanya menggeleng pelan, membuat sang mami menatap sang putra dengan iba.
"Oh iya lewat lebaran nanti aku akan kembali ke indonesia, untuk menghadiri acara pernikahan Brian mi, pi," ucap Raffa melihat kedua orang tuanya.
"Apa kau akan mengajak tunangan kamu?" tanya tuan Mahendra.
"Iya, aku akan mengajak Sophia ke indonesia," ucap Raffa sambil mengangguk.
"Yah terserah kau saja," ucap tuan Mahendra.
Raffa dan kedua orang tuanya mengobrol cukup lama, sampai waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.
Next...
__ADS_1