
Hari terus berlalu, dan hari pernikahan Brian dan Sheila juga sudah semakin dekat. Brian sudah mengambil cuti dari kantor, dan semua pekerjaan Brian di handel oleh Tio dan Kevin sekertaris Brian.
Brian saat ini sudah siapa dengan pakaian santainya, karena ia akan pergi untuk fitting baju pengantin bersama Sheila calon istrinya.
Dengan celana jeans berwarna navy di padukan dengan atasan kaos putih dan jaket kulit berwarna hitam. Membuat penampilan Brian terlihat begitu keren. Brian mengambil jam tangan lalu memakainya, setelah melihat penampilannya sudah siap, Brian pun kelaur dari dalam kamar.
"Hay mom," sapa Brian melihat sang mommy yang baru saja kelaur dari kamar.
"Kamu udah siapa sayang, aunty Nara udah nungguin kamu dari tadi loh," omel mommy Nisa melihat putranya itu.
"Baru telat sejam ma, pasti aunty ngerti kok," ucap Brian mencium pipi sang mommy dengan gemes.
"Kok ini beda yah," ucap Brian, membuat mommy Nisa mengernyit keningnya dengan heran.
"Apa nya yang beda?" Tanya mommy Nisa tidak mengerti.
"Pipi mommy rasanya beda, apa karena sering di cium sama Daddy yah ehehhehe," ucap Brian dengan jahil.
"Kamu nih, kurang kerjaan banget sih," ucap mommy Nisa mencubit perut putranya itu.
"Tapi emang benar mom," ucap Brian kembali menggoda sang mommy.
"Udah sana kamu pergi, kasian Sheila sama aunty Nara udah nunggu sayang," ucap mommy Nisa sambil menggeleng kepala melihat tingkah putranya itu.
"Iya-iya mom, ini udah nya pergi kok," ucap Pria kembali mencium sang mommy lagi.
"Uuuhh, udah beda rasanya," ucap Brian lagi sambil terkekeh geli keluar dari ruang tengah.
"Udah mau nikah, masih aja kelakuan kaya bocah," ucap mommy Nisa masuk ke dapur sambil mengomel.
Brian masuk ke dalam mobil sport nya yang berwana merah, mobil sport yang sama dengan milik si kembar. Brian rupanya tidak mau kalah dari dua ponakan kembarnya itu, meskipun harus menguras kantong dengan harganya.
Brian memakai kacamata hitamnya dan mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah besar itu. Trik matahari begitu panas, Brian terus mengendarai mobilnya membelah jalan ibu kota Jakarta.
Brummm....
Brummm...
Mobil sport berwarna merah memasuki pintu gerbang rumah Sheila. Brian lalu turun dari mobil, Tampa melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Senyum terbit di bibir Brian melihat gadis yang ia cintai sudah siap menunggunya di ambang pintu masuk, dengan gaya cool nya Brian mendekati Sheila Tampa melepas kacamata hitam miliknya.
"Hay gadis cantik, udah nunggu lama yah?" Tanya Brian saat sudah berada di depan Sheila.
"Iya nunggu lama banget, Kaka tuh Ngapain aja sih aku tuh udah nunggu dari tadi loh," ucap Sheila marah-marah pada calon suaminya itu.
"Hehehe, maaf sayang aku baru bangun," ucap Brian melepas kacamata hitamnya.
"Apa, baru bangun jam segini baru bangun," ucap Sheila berbalik menatap Brian dengan tajam.
"Iya sayang baru bangun," ucap Brian dengan pelan.
"Dasar pemalas," ucap Sheila Masi menatap Brian dengan tajam.
Brian melotot kaget, lalu kembali normal lagi melihat sang kekasih, Brian melihat ke dalam rumah ingin meminta bantuan mama Sisi, tapi sia-sia.
"Mau cari siapa, mama gak ada lagi pergi," ucap Sheila lagi dengan suara keras.
Membuat Brian bergidik ngeri melihat Sheila yang sedang marah-marah dan mengomel tak jelas.
"Sayang udah yah marah nya, kita pergi sekarang yuk," ajak Brian dengan suara lembut sangat lembut.
Sheila berjalan duluan tanpa berkata apa-apa, Brian mengikut di belakang dan langsung membukakan pintu untuk sang kekasih.
"Silahkan amsuk tuan putri," ucap Brian sambil tersenyum manis.
Sheila hanya melihatnya dengan tatapan sinis saja, membuat Brian mengelus dadanya dengan pelan. Kemudian memutari mobil dan masuk duduk di kursi kemudi.
"Gila serem juga kalau lagi ngambek nih calon istri gue," ucap Brian dalam hati, dan mulai menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara, Brian hanya melirik Sheila sesekali, Brian ingin mengajak nya mengobrol, tapi melihat tatapan sinis dari Sheila membuat nyali Brian menciut.
"Gila lebih gampang ngadapin si kembar," ucap Brian lagi dalam hati.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, tapi sampai mobil sport itu tiba di parkiran butik, tidak ada omongan di antara Brian dan juga Sheila, rupanya gadis itu Masi marah pada Brian.
Brian turun duluan dan ingin membuka kan pintu untuk sang kekasih, tapi sang kekasih sudah turun duluan dan berjalan cepat masuk ke dalam butik.
__ADS_1
Brian mengusap wajahnya dengan kasar, melihat sang kekasih yang sudah masuk duluan. Brian dengan cepat mengejar Sheila masuk ke dalam.
"Hay aunty," sapa Brian setelah tiba di dalam butik.
"Hay, anak nakal," ucap aunty Nara yang sedang melihat ponakannya itu.
"Kau pasti membuat calon mantu aunty marah kan?" Ucap aunty Nara menatap ponakannya itu dengan tajam.
"Hehehe, ia aunty," ucap Brian sambil terkekeh geli.
"Dasar kamu ini yah, gak berubah padahal udah mau nikah juga," ucap aunty Nara.
"Ayo sayang ikut aunty, baju pengantin kalian ada di sini," ucap aunty Nara mengajak Sheila dan juga Brian.
"Sayang udah dong marahnya, aku minta maaf yah," ucap Brian berusaha untuk membujuk Sheila sepanjang jalan menuju ruangan ganti.
"Aku lagi gak pengen ngomong sama Kaka, jauh-jauh deh," ucap Sheila masi dengan suara kesal.
"Udah dong sayang marah nya yah," ucap Brian tak menyerah untuk membujuk Sheila.
"Aunty gaunnya cantik banget," ucap Sheila melihat gaun itu.
"Iya sayang, ini Tante bikin khusu buat kamu, mommy kami minta yang paling elegan deh," ucap aunty Nara sambil tersenyum.
Sheila tersenyum mengambil gaun itu, lalu meliaht ke arah Brian sambil tersenyum juga, membaut Brian mengira kalau amarahnya Sheila sudah mereda.
"Ini pasti cantik banget deh kalau di pakai sama kamu sayang," ucap Brian memegang gaunnya juga.
"Aku gak nanya," ucap Sheila ketus, membuat Brian kaget melihat sang kekasih yang ternyata masih marah padanya.
"Kirain udah gak marah, eh masih marah ternyata," ucap Brian dalam hati.
"Ini buat kamu sayang," ucap aunty Nara memberikan jas yang senada dengan gaun yang di pegang oleh Sheila.
"Makasih aunty, kita coba dulu yah," ucap Brian.
"Iya, sana tapi jangan satu ruangan yah, kalian belum halal," ucap aunty Nara.
Brian dan Sheila masuk ke dalam ruang ganti, aunty Nara hanya menggeleng kepala saja melihat tingkah kedua calon pengantin baru itu.
Sheila melihat penampilan dirinya di depan cermin besar, Sheila tersenyum lalu keluar dari ruang ganti itu. Bersamaan dengan Brian yang juga abru kelaur.
Brian melihat Sheila yang sedang memakai gaun pengantin mereka, Brian seolah terhipnotis dengan apa yang ia liat sekarang.
"Sayang, kau begitu cantik," ucap Brian sambil mendekat ke arah Sheila.
"Makasih," ucap Sheila masih dengan suara cuek.
"Ayo lah sayang, aku minta maaf udah bikin kamu marah dan nunggu lama," ucap Brian dengan suara lesu, karena Sheila Masi saja merah padanya.
Brian menghela nafas kasar, karena Sheila tak juga mau mengobrol dengannya, Brian dan Sheila lalu kembali berganti baju lagi.
Keluar dari ruang ganti, Sheila hanya berbicara dengan aunty Nara saja, tidak dengan Brian yang hanya sibuk dengan ponselnya. Saat ini Brian sedang bertukar pesan dengan Marvel sang sohib.
****
Mobil yang menjemput si kembar dan kawan-kawan baru saja tiba di ruang, kelima bocah kecil itu keluar dari dalam mobil dan langsung berhamburan masuk kedalam rumah.
"Hey, jangan lari-lari sayang," ucap ruang Sinta yang sedang menjaga kedua cucu kembar nya.
"Eyan Inta(eyang Sinta)" teriak si kembar dan kawan-kawan bersama.
"Hay, baru pulang sekolah yah?" Tanya Eyang Sinta.
"Ia eyan, ita lu ulan kolah, ami ana eyan(iya eyang, kita baru pulang Sekolah, mami mana eyang)" tanya Galih melihat sang eyang.
"Mami lagi di dapur, bikin susu buat adik kalian," ucap eyang Nisa sambil tersenyum.
"Allo ade Isel, di ucu anet ci amu(hallo adek Gisel, aduh lucu banget sih kamu)" ucap Iqbal melihat beby Gisel yang sedang bermain bola kecil.
"Ibal, anan etat-etat(Iqbal jangan dekat-dekat)" peringatan Galih pada sang sahabat.
"Alih atu tan uma iat aja, amu esif anet ci(Alih aku kan cuma liat saja, kamu posesif banget sih)" ucap Iqbal melihat ke arah Galih.
"Ga ole(gak boleh)" ucap Galih sambil menggeleng kepala.
"Hadu, usa alo omon Ama Alih(aduh, sudah kalau ngomong sama Galih)" ucap Iqbal berdiri dari dekat beby Gisel.
__ADS_1
"Hay sayang, kalian udah pulang?" Tanya mami Ambar yang baru saja datang, sambil membawa dua susu untuk si kembar.
"Ia ami(iya mami)" ucap Galih menyalami punggung tangan sang mami.
"Ami Abal atu oleh tan etat-etat ama adit Isel(mami Ambar aku boleh kan dekat-dekat sama adik Gisel)" tanya Iqbal.
"Ga oleh(gak boleh)" ucap Galih dan Galah bersama.
"Boleh kok sayang, kenapa gak boleh," ucap mami Ambar sambil tersenyum.
"Tu ata ami Abal oleh to (tuh kata mami Ambar boleh kok)" ucap Iqbal melihat si kembar bergantian.
"Api alo ita ga idinin imana don(tapi kalau kita gak izinin gimana dong)" ucap Galih melihat ke arah Iqbal.
"Api atu tan da inta idin ama ami Abal (tapi aku kan udah minta izin sama mami Ambar)" ucap Iqbal lagi.
Mami Mabar dan mommy Sinta hanya menggeleng kepala melihat tingkah si kembar dan juga sahabatnya itu, si kembar masih bersih keras untuk tidak mengizinkan adiknya di deketin oleh para sahabatnya.
"Sudah-sudah jangan berantem, kalian kan teman," ucap mami Ambar.
"Ia, anan antem don ais(iya jangan berantem dong guys)" ucap Nara yang sedari tadi hanya diam aja.
"Ia nan antem ya (iya jangan berantem yah)" ucap Kifli juga Yanga da di dekat Galih.
"Ia, aap ya Ibal, amu oleh etat-etat ama adit Isel, api da alat ya (iya, maaf yah Iqbal, kamu boleh dekat-dekat sama adik Gisel, tapi ada surat nya)" ucap Galih sambil tersenyum melihat ke arah Galah sang kembaran.
"Apa alat ya(apa syarat nya)" tanya Iqbal.
"Amu lus awa etal yan enat ia ali te kolah(kamu harus bawa bekal yang enak setiap hari ke sekolah)" ucap Galih.
"Ote, iapa Atut(oke, siapa takut)" ucap Iqbal dengan mantap.
"Da Yo ita anti aju(udha ayo kita ganti baju)" ucap Galah mengajak kawan-kawan.
"Yo, Nala anti ita etemu i eja atan ya(ayo, Nara nanti kita ketemu di meja makan yah)" ucap Galih melihat ke arah Nara.
"Ote Alih(oke Galih)" ucap Nara lalu pergi ke arah kamarnya dan sang ibu.
Sedangkan si kembar dan kedua sohibnya naik ke lantai dua, di mana kamar mereka berada.
****
Brian masuk ke dalam ruangan kerja Marvel begitu saja, membuat Marvel yang sedang sibuk bekerja melihat ke dah pintu yang baru saja terbuka itu.
"Kenapa tuh muka, udah mau nikah gitu amet," ucap Marvel melihat wajah sohibnya itu.
"Sheila marah sama gue, dia gak mau ngomong," ucap Brian setelah mendaratkan bokongnya di sofa.
Marvel mengernyit kening heran, melihat wajah sahabatnya itu. Marvel lalu beranjak dari kuris kerjanya, ikut bergabung bersama dengan Brian.
"Kenapa, kalian berantem?" Tanya Marvel memicingkan kedua matanya.
"Gak, dia ngambek gara-gara gue telat jemput mau ke butik tadi," ucap Brian.
"Loh sih, bangunnya lama, mentang-mentang udah cuti dari kantor malah tidur kaya kebo," ucap Marvel sambil terkekeh geli melihat wajah kesal sohibnya itu.
"Santai," ucap Marvel mengangkat kedua tangan nya sambil tersenyum.
"Ada minuman gak, gue haus nih," ucap Brian.
"Ada, loh tunggu bentar," ucap Marvel beranjak dari duduknya, lalu berjalan keluar untuk meminta minuman pada sekertaris nya.
Brian melihat sohibnya itu, membuat Marvel menatap heran ke arah Brian. Brian lalu mengambil ponselnya dan mencoba untuk mengirim pesan pada Sheila.
Sehabis dari butik, Sheila langsung minta di antar pulang ke rumah, karena hari ini suasana hati Sheila sedang tidak mood. Setelah mengantar Sheila pulang, Brian pun langsung menuju ke kantor Marvel dan ingin berbagi cerita dengan sohibnya itu.
Dan disinilah Brian sekarang di kantor Marvel dan menganggu sohibnya yang sedang bekerja Iyu itu.
"Nih minum nya," ucap Marvel meletakan dua minuman kaleng di atas meja.
"Makasih," ucap Brian mengambil satu dan membukanya.
Brian melihat Marvel yang hanya berdiri saja.
"Loh gak duduk?" Tanya Brian.
"Gak gue mau lanjut kerja dulu, nanti kalau loh mau curhat, sambil gue kerja oke," ucap Marvel sambil tersenyum geli.
__ADS_1
Brian melihat sohibnya itu dengan kesal, lalu menyuruh Marvel untuk bekerja lagi.
Next....