
Brian keluar dari mobil berjalan menuju lift. Tiba-tiba seseorang menghadang pintu lift yang akan tertutup itu.
"Hehehe, pagi bos," sapa Kevin sambil tertawa melihat sang bos.
"Kau baru datang juga?" Tanya Brian melirik ke arah sekertarisnya itu.
"Iya bos, ini kan Masi jam 8 pagi, saya belum telat juga," ucap Kevin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Brian melihat ponselnya, pesan dari sang kekasih lalu Brian membalasnya lagi, siang ini Brian akan mengajak Sheila makan siang di luar.
Tingg...
Brian keluar duluan dari dalam lift, lalu di susul oleh Kevin sang asisten.
"Vin, setelah itu ke ruangan ku yah," ucap Brian berbalik melihat sekertaris nya itu.
"Oke bos, siap," ucap Kevin dengan mantap.
Clekk....
Brian masuk ke dalam ruangannya, Brian mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, Brian kembali melirik ponselnya yang berbunyi.
"Kaka ipar, kak Gilang kenapa yah nelpon aku," ucap Brian lalu mengangkat telpon dari Kaka iparnya itu.
"Hallo kak, ada apa nelpon?" Tanya Brian, setelah sambungan telponnya terhubung.
"Hallo Yan, kau sedang berada di kantor?" Tanya Gilang dari seberang sana.
"Iya kak, aku baru saja datang, ada apa kak tumben nelpon?" Tanya Brian.
"Ita au omon ucel(kita mau ngomong uncle)" ucap suara cadel dari balik telpon, membuat Brian menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Hah, gue gak salah dengar kan yah barusan," ucap Brian dalam hati.
"Allo ucel egal Ita ga (hallo uncle dengar kita gak)" ucap suara kecil itu lagi dari balik telpon.
"Maaf ini siapa yah?" Tanya Brian sambil jarinya mengetuk meja kerjanya.
"Ula-ula ga enal agi, ni ita embal(pura-pura gak kenal lagi, ini kita kembar)" ucap Galih dari seberang telpon.
"Kenapa, tadi nelpon dari ponsel mami, sekarang dari ponsel papi, ada apa sih?" Tanya Brian.
"Iya au the es olan agi, ole ga(kita mau ke restoran lagi, boleh gak)" tanya Galih.
"Mau ngapain di sana, uncle gak ke restoran, lagi banyak kerjaan nih," ucap Brian beralasan, tapi ia memang sedang banyak pekerjaan sekarang.
"Anan anyat asan ucel, ilan aja alo ucel ga au adat Ita tan(jangan banyak alasan uncle, bilang aja kalau uncle gak mau ajak kita kan)" ucap Galih dengan kesal.
"Bukan gitu maksud un..." Ucapan Brian terhenti saat mendengar suara Galah.
"Alo ucel ga au adat ita, ita akal es olan ucel(kalau uncle gak mau ajak kita, kita bakar restoran uncle)" ucap Galah.
"Ia enal, ita akal aja(iya bener, kita bakar aja)" ucap Galih juga.
Brian membuang nafas kasar dan mengusap wajahnya, berhadapan dengan dua ponakannya ini memang membuat Brian putus urat.
"Di ana ucel au ga(gimana uncle mau gak)" tanya Galih gak sabar menunggu jawaban sang uncle.
"Oke-oke, nanti uncle minta uncle Marvel yang akan membawa kalian ke sana oke," ucap Brian akhirnya membawa Marvel dalam hal urusan si kembar.
"Ote de, uma ilan ditu aja usa anet ci Ali Adi(oke deh, cuma bilang gitu aja susah banget sih dari tadi)" ucap Galih, lalu mematikan telponnya begitu saja, membuat Brian kaget melihat layar ponsel sudah kembali seperti biasa.
"Benar-benar nih si kembar, bikin naik darah aja pagi-pagi," ucap Brian meletakan ponselnya di atas meja dengan pelan.
__ADS_1
Clekk...
"Hallo bos," sapa Kevin masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang bos.
"Vin, taro aja di situ berkasnya, terus loh keluar deh pala gue pusing banget nih," ucap Brian Masi menunduk Tampa melihat ke arah sekertarisnya itu.
"Berkas apaan bos, bos kan yang minta saya ke ruangan bos tadi," ucap Kevin melihat sang bos dengan heran.
Brian melihat ke arah Kevin, Brian baru ingat kalau ia sendiri yang meminta Kevin tadi untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Bos sakit?" Tanya Kevin memicingkan matanya melihat sang bos.
"Gak Vin, cuma pusing aja habis ngomong sama si kembar," ucap Brian melihat Kevin.
"Ooh, saya kira bos sedang sakit," ucap Kevin.
Brian lalu mengatakan tujuannya untuk memanggil Kevin ke ruangannya, Kevin hanya mengangguk mendengar apa yang di katakan oleh sang bos.
****
Paris(France)...
Raffa mengendarai mobilnya kelaur dari kediamannya, wanita cantik yang sedang bergelayut manja di lengan Raffa sedari tadi begitu senang, karena ia di ajak oleh Raffa jalan-jalan.
"Sayang makasih yah, kamu udah mau ajak aku jalan-jalan lagi, aku senang banget," ucap Wanita cantik yang bernama Sophia.
"Iya sama-sama," ucap Raffa melihat ke arah shopia sambil tersenyum.
Sophia kembali memeluk lengan Raffa dengan manja, membaut Raffa melihat ke arah Sophia.
"Maaf kan aku Sophia, aku sudah berusaha tapi nama Melatih gak bisa di gantikan oleh siapapun," ucap Raffa melihat ke arah Shopia.
Mobil terus membelah jalan kota Paris, lampu-lampu hias di sepanjang jalan memancarkan keindahan yang begitu indah di liat, tapi tidak dengan suasana hati Raffa yang saat ini sedang kacau, kacau memikirkan gadis kecilnya yang tak kunjung ketemu.
"Udah sampai, kamu masuk yah," ucap Raffa melihat kekasihnya itu.
"Iya, makasih yah udah nganterin aku," ucap Sophia lalu mencium bibir Raffa sebentar.
"Love you," bisik Sophia di depan wajah Raffa.
"Love you too," ucap Raffa tersenyum, lalu Sophia keluar dari dalam mobil.
"Daa, kamu hati-hati yah," ucap Sophia sambil melambaikan tangannya.
Raffa membunyikan klakson mobil, lalu kembali menjalankan mobilnya. Raffa memegang bibirnya yang di cium oleh sang kekasih barusan, tidak ada getaran aneh dalam hati Raffa. Mungkin karena Raffa tidak mencintai Sophia.
Raffa terus mengendarai mobilnya, pikiran Raffa saat ini benar-benar kacau. Apa lagi nama melatih selalu saja muncul dalam pikirannya akhir-akhir ini.
****
Brian berjalan bersama Tio, kedua pria itu sedang meninjau proyek di daerah Jakarta Barat.
Setelah mengantar sang kekasih habis makan siang, Brian dan Tio langsung pergi untuk meninjau proyek.
"Tio, apa wajah anak mu mirip kamu apa Laura?" Tanya Brian melihat ke arah Tio.
"Wajahnya mirip saya bos, tapi bibir sama matanya mirip istri saya," ucap Tio sambil tersenyum mengingat wajah putranya.
"Selamat sore pak Brian, pak Tio," sapa kepala pemegang proyek.
Brian dan Tio hanya menganggu saja, lalu melihat-lihat proyek yang sedang berjalan, sudah 99% lancar.
Brian melihat salah satu pekerja yang sedang memegang perutnya, Brian lalu mendekati pekerja itu.
__ADS_1
"Bapak kenapa?" Tanya Brian berjongkok di depan pekerja yang sudah berumur itu.
"Perut saya sakit pak," ucap pekerja itu dengan wajah menahan sakit.
"Apa bapak sudah makan?" Tanya Brian melihat wajah kesakitan bapak itu.
"Belum pak, hari ini saya gak bawa bekal, karena stok makanan di rumah saya habis," ucap pekerja itu menunduk.
Brian melihat ke arah Tio, dan Tio mengerti arti tatapan dari bosnya itu, karena Brian paling tidak suka melihat orang kesusahan. Apa lagi sampai sakit seperti ini.
"Bos di situ ada rumah makan," ucap Tio menunjuk ke arah wartek kecil di seberang jalan.
Brian melihat ke arah yang di tunjuk oleh Tio, benar ada wartek kecil di seberang jalan, Brian lalu melihat pekerja itu.
"Ayo makan dulu pak, mungkin maag nya bapak kambuh," ucap Brian.
"Gak usah pak, saya gak bisa makan kalau istri saya dan anak saya di rumah gak makan," ucap pekerja itu dengan sedih. Brian tersenyum maksud pekerja itu.
"Nanti bapak bisa bawakan makanan untuk istri dan anak bapak, ayo bapak harus makan dulu yah," ajak Brian.
Pekerja itu melihat ke arah Brian dan Tio, lalu melihat ke arah wartek yang berada di sebrang jalan.
"Ayo, nanti biar saya yang bayar," ucap Brian lagi.
Pekerja itu pun berdiri dengan di bantu oleh Brian dan Tio, mereka menyebrangi jalan dan masuk ke dalam wartek itu.
Brian memesan banyak makanan, lalu meminta pemilik rumah makan untuk membungkus beberapa makanan lagi, untuk bapak itu di bawa pulang.
Hari sudah semakin sore, Brian dan Tio kembali ke kantor setelah meninjau proyek. Lelah terlihat jelas di wajah kedua pria tampan itu.
"Nanti berkasnya di taruh di atas meja saja yah, kamu langsung pulang aja kasian istri dan anak kamu," ucap Brian melihat Tio.
"Baik, kalau gitu aku pulang dulu yah," ucap Tio yang mendapat anggukan dari Brian.
Brian mengambil jasnya lalu kembali keluar dari ruangannya lagi, suasana kantor sudah sepi, karena sekarang jam sudah menunjukan pukul 7 malam.
Brian amsuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai bawa, dua petugas yang sedang berjaga-jaga menyapa Brian dengan hormat.
"Hati-hati bos," ucap dua petugas itu.
Brian hanya membunyikan suara klakson mobil, lalu mobil keluar dari lobby kantor. Brian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil mendengar radio yang ada di dalam mobil.
****
Sheila terlihat sedang mengetik sesuatu dalam laptop, gadis itu terlihat begitu serius dengan apa yang ia liat dalam lap top.
"Sayang, kamu lagi apa?" Tanya mama Sisi yang harus saja masuk.
"Lagi nulis ma," ucap Sheila tersenyum melihat sang mama.
Sheila beberapa hari ini terjun ke dunia menulis, dan Sheila menulis salah satu novel online yang sekarang sedang ramai di baca oleh semua pembaca online.
"Udah banyak yah," ucap mama Sisi.
"Iya ma, yang baca juga banyak, hampir 2 juta orang," ucap Sheila.
"Wah berarti novel kamu bagus sayang, mama waktu muda dulu juga suka baca novel loh," ucap mama Sisi.
"Mama suka baca novel apa?" Tanya Sheila penasaran.
"Dulu mama suka baca novel berjudul Putri Kecilku Tampa Daddy, itu loh hasil karyanya Auntor Faijha.Asr novelnya bagus banget, mama suka bacanya," ucap mama Sisi melihat wajah putrinya.
Sheila tersenyum melihat mamanya, Sheila lalu kembali lanjut mengetik lagi, karena para pembaca sudah menati episod baru.
__ADS_1
Next...