Will You Merry Me

Will You Merry Me
Bukan Urusan Kita


__ADS_3

Clekk...


Pintu toilet terbuka, si kembar dan kawan-kawan melihat uncle Brian dan aunty Sheila yang sedang berdiri di dalam sana.


"Hay guys, ternya kalian yah yang lagi ngobrol," ucap Brian sambil menggaruk kepalanya yang tidak hasil.


"Pain ucel Ama oty i amal andi(ngapain uncle sama aunty di kamar mandi)" tanya Galih menatap uncle Brian dan aunty Sheila dengan curiga.


"Ehehe, ini uncle lagi bantuin aunty tadi pusing terus mual, iya kan sayang kamu udah gak mual lagi kan?" Tanya Brian sambil menguap punggung sang kekasih.


Si kembar dan kawan-kawan saling tatap, lalu menggeleng kepala pelan. Seolah gak percaya dengan apa yang di katakan oleh sang uncle.


"Anan oba-oba ipu ita ucel(jnagan coba-coba nipu kita uncle)" ucap Galah menatap sang uncle.


"Aduh siapa yang nipu kalian sih, ini tadi aunty kalian emang lagi mual-mual, adik kalian kok gak percaya gini sih," ucap Brian mati kutu karena kelima bocah kecil itu.


"Ita ga eltaya, ita akin to alo ucel upet ali ita, ia ga ais(kita gak percaya, kita yakin kok kalau uncle ngumpet dari kita, iya gak guys)" ucap Galih melihat sohib-sohibnya.


Uncle Brian menghela nafasnya dengan kasar, sekuat apapun ingin mengelabui si kembar dan kawan-kawan, tetap tidak akan berhasil juga.


"Oty, oty ga apa tan, yo oty(aunty, aunty gak papa kan, ayo aunty)" ajak Galih menarik tangan aunty Sheila kelaur dari dalam toilet, meninggalkan uncle Brian sendiri di sana.


"Ucel au buin Ita, man ita anat ecil pa(uncle mau ngelabuin kita, emang kita anak kecil apa)" ucap Galih dengan sinis.


"Oty Ela ga apa tan(aunty Sheila gak papa kan)" tanya Galah melihat wajah cantik Sheila.


"Gak papa kok sayang, kalian kok bisa ada di sini sih?" Tanya Sheila.


"Ita au temu ucel oty, e ucel ala upet i amal andi(kita mau ke temu uncle aunty, eh uncle malah ngumpet di kamar mandi)" ucap Galih dengan kesal duduk di dekat Nara.


"Abal Alih, anan arah-arah(sabar Galih, jangan marah-marah)" ucap Nara.


Brian terlihat berjalan mendekati sofa yang di duduki oleh si kembar dan yang lain, dengan pelan Brian mendudukkan bokongnya di sana.


"Kalian ngapain di sini, emang ini udah jam pulang sekolah yah," ucap Brian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.


"Ia la, Ita ga utin olos AU(iya lah, kita gak mungkin bolos tau)" ucap Galah dengan sinis melihat sang uncle.


Uncle Brian menelan ludahnya dengan susah paya, tatapan sinis kedua ponakan kembarnya itu begitu menakutkan, sama seperti tatapan tajam sang papa Gilang.


Clekk...


Kevin berdiri di ambang pintu, sambil tersenyum kikuk. Melihat si kembar dan semua yang ada di dalam situ, hanya satu tatapan yang saat ini menusuk lerung hatinya. Ya itu tatapan sang bos, Kevin menunduk menghindari tatapan mematikan itu.


"Ga uca iat om Evin ditu ucel, ni utan ala om Evin to, ia ga ais(gak usah liatin om Kevin gitu ucnle, ini bukan salah om Kevin, iya gak guys)" ucap Galih.


"Ia enal tu(iya benar itu)" ucap Iqbal dan Kifli.


"Awas loh Vin, kali ini loh bisa lolos dari gue karena ada si kurcaci dan kawan-kawan itu, nanti gaji loh gue potong," ucap Brian dalam hati sambil menatap kesal ke arah asistennya itu.


****


Kedua gadis cantik terlihat sedang berjalan keluar dari salah satu kantor, masuk ke dalam mobil dan keluar dari area kantor itu.


"Van, kita makan di tempat yang biasa aja yah," ucap Melatih yang sedang fokus mengendarai mobilnya.


"Iya Mel, gue juga udah kangen makanan di restoran itu," ucap Vani sambil tersenyum melihat ke arah samping, di mana Melatih sedang mengemudi.

__ADS_1


Mobil pun tiba di depan restoran milik Brian, Vani dan Melatih keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam.


"Mari kak, silahkan," ucap pelayan dengan ramah.


"Makasih," ucap Melatih dengan senyum manisnya.


Vani dan Melatih duduk di salah satu meja, meja yang ada di dekat tangga menuju lantai dua.


"Mel, gue ke toilet dulu yah, kamu gak papa kan?" Ucap Vani.


"Iya sana, gue gak papa kok," ucap Melatih.


Vani pergi ke toilet, Melatih memesan menu makan siangnya dan sang sahabat, Melatih melihat-lihat menu yang ada di buku.


Melatih mengatakan menu pesanan mereka pada pelayan, dan pelayan itu mencatat semua menu pesanan Melatih.


"Baik mbak, tunggu sebentar yah," ucap pelayan itu," kemudian berlalu pergi dari hadapan Melatih.


"Kak Melatih," panggil seorang yang baru saja datang.


Melatih melihat ke asal suara, Sheila tersenyum manis melihat Melatih.


"Sheila, yah ampun udah lama gak ketemu kita," ucap Melatih memeluk Sheila dengan senang.


Pandangan Melatih lalu melihat ke arah kelima bocah kecil yang masih mengunakan seragam sekolah itu.


"Ini si kembar, masih ingat kan," ucap Sheila.


"Iya masih ingat kok, ponakannya Brian kan?" Tanya Melatih lagi.


"Iya," ucap Sheila.


"Hay, yah ampun kalian tuh lucu-lucu banget sih," ucap Melatih mengusap wajah si kembar dan kawan-kawan bergantian.


"Ia don ante(iya dong Tante)" ucap Galih sambil meyigir kuda.


"Sayang kok gak langsung masuk?" Tanya Brian yang baru saja masuk.


"Eh, Mel di sini," ucap Brian melihat melatih.


"Iya, gue sama Vani tapi lagi ke toilet dia," ucap Melatih tersenyum.


"Oh, gitu yah udah kita ke atas dulu yah," ucap Brian mengajak Sheila dan para bocil, sebelum para bocil berbuat rusuh di dalam restoran yang sedang ramai-ramainya.


"Iya, Brian, Shel," ucap Melati kembali duduk di kuris.


Brian dan Sheila naik ke lantai dua dan mengajak si kembar dan kawan-kawan, mau tidak mau Brian mengajak ponakannya itu dan dan teman-temannya.


"Duduk diam yah, jangan berisik nanti ganggu pengunjung lain lagi," ucap Brian memperingati si kembar, karena merekalah biang keroknya.


"Angu, man ita pain(ganggu, emang kita ngapain)" ucap Galah melihat sang uncle.


"Ia asan aja ni ucel(iya alasan aja nih uncle)" ucap Galih membela sang kembaran.


"Maksud uncle itu jangan berisik, nanti pengunjung restoran kabur, kalian mau restoran uncle gak dapat uang," ucap Brian memasang wajah sedih.


"Ialin aja, tu usan ucel utan usan Ita(biarin aja, itu urusan uncle bukan urusan kita)" ucap Galih duduk di salah satu sofa.

__ADS_1


Sheila menahan tawanya mendengar apa yang di katakan oleh Galih barusan, Brian melihat sang kekasih yang sedang menahan tawanya.


"Ketawa aja gak papa ko," ucap Brian dengan kesal lalu pergi masuk ke dalam ruangannya.


"Ucel au te ana(uncle mau ke mana)" tanya Kifli melihat si kembar.


"Ia Ita tan lum atan(iya kita kan belum makan)" ucap Iqbal juga.


Galah turun dari atas sofa, lalu menyusul sang uncle masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Clekk...


"Mau ngapain lagi?" Tanya Brian.


"Ita apel ucel, ucel ga au asi ita atan ya, Ita ilanin akek ya(kita laper uncle, uncle gak mau kasih kita makan yah, kita bilangin kakek yah)" ancam Galah, yang berhasil membuat Brian lagi-lagi mengerang kesal melihat ponakan kembarnya itu.


Brian menekan tombol telpon terhubung ke dapur, lalu mengatakan banyak menu untuk di antar ke lantai dua. Membuat senyum Galah terbit dengan jahil melihat sang uncle.


Galah kembali bergabung bersama kawan-kawan, sedangkan aunty Sheila sedang sibuk dengan ponselnya.


"Alah di ana, ucel da esan atan ga(Galah gimana, uncle udah pesan makanan gak)" tanya Galih yang duduk di dekat Nara.


"Uda, adi ucel da epon te apul(udah, tadi uncle udah nelpon ke dapur)" ucap Galah.


Si kembar dan kawan-kawan menunggu pelayan datang mengantarkan menu yang di pesan oleh sang uncle, sambil menunggu para bocil itu mengobrol dengan asik.


****


Sindi sedang serius menatap wajahnya di depan cermin, sambil tersenyum menggoda Sindi mengingat wajah tampan Brian.


"Brian, Brian, kamu tuh tampan banget sih," ucap Sindi berbicara sendiri dengan dirinya.


Sindi melihat jam yang ada di ponselnya, sekarang sudah waktunya makan siang.


"Coba aja tadi gue gak pulang dari kantor nya Brian, mungkin kita udh makan berdua sekarang," ucap Sindi berkhayal sambil terkekeh sendiri.


Sindi lalu berjalan keluar dari dalam toilet, duduk di kursi kerjanya dengan gaya anginnya.


Wanita itu lalu mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari dalam ruangannya, tujuannya saat ini adalah bertemu dengan sang sahabat di salah satu kafe.


Sindi masuk ke dalam lift, sambil mengatur rambutnya yang sudah sedikit berantakan.


Tiba di depan kafe, Sindi menghubungi sang sahabat terlebih dahulu. Setelah memastikan bahwa sahabatnya sudah berada di dalam kafe itu, Sindi lalu memoles bibinya dengan lipstik merah merona, membuat wajahnya bertambah bercahaya.


Sindi keluar dari dalam mobil, tidak lupa melihat penampilannya terlebih dahulu, lalu dengan langkah anggun Sindi berjalan masuk ke dalam Kafe itu. Mencari keberadaan sang sahabat di dalam sana.


"Sorry gue telat," ucap Sindi duduk di kursi yang ada di depan sang sahabat.


"Gak papa kok, santai aja gue juga baru datang," ucap sahabat Sindi.


"Loh udah pesan belum?" Tanya Sindi.


"Belum, sekalian aja," ucap sahabat Sindi.


Sindi memanggil pelayan mengunakan tangannya, lalu mengatakan menu andalan mereka di Kafe itu.


Selesai mengatakan menu pesanan, Sindi dan temannya itu mengobrol dengan begitu serius.

__ADS_1


Next...


__ADS_2