Will You Merry Me

Will You Merry Me
Otw Puncak


__ADS_3

Semuanya kini sudah bersiap-siap, Brian terlihat sudah mengenakan sweater berwarna puti dan di padukan dengan celana jeans hitam. Membuat penampilan Brian bertambah keren.


"Sayang kamu sudah siap?" tanya mommy Nisa.


"Iya ma, calon istri aku udah dateng belum?" tanya Brian.


"Udah sayang, tuh lagi ngobrol sama daddy di ruang tengah," ucap mommy Nisa.


Brian lalu berjalan ke arah ruang tengah, karena ia bari saja turun dari kamarnya.


"Sayang." Panggil Brian.


Sheila, mama Sisi dan papa Leo hanya tersenyum melihat Brian duduk di dekat Sheila, mungkin karena efek rindu tidak bertemu beberapa hari.


"Sayang, kok pake baju gini sih, di puncak itu dingin loh nanti kmu masuk angin," ucap Brian dengan kuatir.


"Aku bawa jaket kok kak ini," ucap Sheila.


"Kaka kira kamu gak bawa jaket," ucap Brian.


Brian lalu melihat semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga, tinggal menunggu otw puncak.


"Dad, mom, semuanya udah siap kan, kita pergi sekarang selagi ini masi jam 4 sore," ucap Brian.


"Sabar boy, kita lagi nunggu orang lagi," ucap daddy Nicko sambil tersenyum.


"Nunggu orang? Emangnya siapa lagu yang mau ikut dad, kan kita udah cukup berenam," ucap Brian.


"Ada deh, nanti kamu juga tau. Mereka lagi otw kemari," ucap daddy Nicko sambil tersenyum melihat sang istri.


Belum belum tau kalau yang di maksud sang daddy adalah si kembar dan kawan-kawan nya, hanya Sheila dan yang lain yang gau.


Mobil hitam yang biasa membawa para bocil, kini berhenti tepat di depan pintu utama rumah sang kakek.


"Ais ita da ampai, yo ita ulun asti eyan ama akek da ungu in ita de(guys kita udah sampai, ayo kita turun pasti eyang sama kakek udah nungguin kita deh)" ucap Galih.


Para bocah kecil itu pun turun dari dalam mobil, sambil membawa tas ransel kecil masing-masing, tak lupa dengan kacamata hitam kecil milik mereka yang mengandung di hidung.


"Yo ita asut, maaci ya pa opil(ayo kita masuk, makasih yah pak sopir)" ucap Galih.


"Iya den, sama-sama kalau gitu bapak langsung balik yah," ucap pak sopir.

__ADS_1


"Ote pa, ati-ati ya(oke pak, hati-hati yah)" ucap Galah.


Si kembar dan kawan-kawan lalu masuk kedalam rumah, sambil mendukung tas ransel kecil berisikan potongan pakaian mereka.


"Assalamualaikum," ucap kelima bocah kecil itu.


"Waalaikumsalam, eh cucu-cucu kakek udah datang," ucap kakek Nicko, menyambut kedatangan kelima bocah kecil itu.


Uncle Brian masi terdiam di tempat, melihat kedatangan ponakan kembarnya dan kawan-kawan nya.


"Dad, jadi ini orang yang kita tunggu dari tadi?" tanya Brian melihat sang daddy.


"Yes boy, mereka pengen ikut. Gak papa besok kan mereka libur sampai minggu," ucap daddy Nicko.


Brian membuang nafas nya dengan kasar, si biang perusuh akan ikut ke puncak, semoga saja gak membuat kekacauan di sana.


"Ucel enapa ci, aya ga uka ditu(uncle kenapa sih, kaya gak suka gitu)" ucap Galih menatap sang uncle dengan sinis.


"Bukan gak suka, asal jangan buat rusuh di sana," ucap uncle Brian.


"Ucel enan aja, ita ga atan akal to, tan ita uga enen iata ucel au amal oty ela(uncle tenang saja, kita gak akan nakal kok, kan kita juga pengen liat uncle mau lamar aunty Sheila)" ucap Galah.


Kakek Nicko, eyang Nisa, Sheila dan kedua orang tua Sheila hanya tersenyum melihat si kembar, lalu kakek Nicko mengajak semuanya untuk berangkat bersama.


Di halaman depan, Bess besar dan mewah sudah terparkir di depan pintu utama. Semuanya berangkat ke puncak mengunakan Bess.


"Ke, ita ait ess, ita ga ait obil (kek, kita naik Bess, kita gak naik mobil)" tanya Galih.


"Iya boy, kita naik Bess," ucap kakek Nicko sambil tersenyum.


"Ayo semuanya naik, pelan-pelan yah nanti jatuh," ucap kakek Nicko.


Si kembar dan kawan-kawan, bersorak menaiki Bess besar dan mewah itu. Uncle Brian hanya menggeleng kepala melihat semua itu.


Ada uncle Marvel dan kak Adel juga yang akan ikut ke puncak, tapi mereka nanti akan menyusul belakangan.


"Sayang, cari tempat duduk sendiri-sendiri yah," ucap eyang Nisa.


"Ia eyan, atu au udut ama Nala(iya eyang, aku mau duduk sama Nara)" ucap Galih, karena cuma ada dua kursi yang berdekatan.


"Amu au tan Nala(kamu mau kan Nara)" ucap Galih.

__ADS_1


"Ia Alih(iya Galih)" ucap Nara.


Galih duduk bersama Nara, sedangkan Iqbal duduk di kursi berdekatan dengan Kifli, Galah duduk sendiri di kursi dekat eyang dan juga sang kakek.


Papa Leo dan mama Sisi duduk di kursi yang depan, sedangkan yang di belakang di duduki oleh Brian dan Sheila.


Masi banyak kursi kosong, karena memang hanya merekalah penumpangnya yang akan pergi menuju puncak. Kakek Nicko sengaja pergi ke puncak mengunakan Bess, agar tak ada yang curiga, kakek Nicko juga mau melihat sampai mana orang yang berani bermain-main dengan keluarga Wijaya.


Bess berjalan dan keluar dari gerbang rumah besar, si kembar dan kawan-kawan bersorak senang. Karena perjalanan kali ini terasa berbeda mengunakan Bess besar dan luas.


"Aman anet ya ais, ali ada ait obil empit(nyaman banget yah guys, dari pada naik mobil sempit)" ucap Galih.


"Ia, akek eliin ita obil ess dini uga don, ial ita te kola awa obil ess(iya, kakek beliin kita mobil Bess dong, biar nanti kita sekolah bawa mobil Bess)" ucap Galah.


"Kalian kan cuma berlima boy, kok harus bawa mobil Bess sih?" tanya kakek Nicko.


"Alo abat-abat ita itut mua, obil ita ga uat ke empit, alo dini tan adus ia ga ais(kalau sahabat-sahabat kita ikut semua, mobil kita gak muat kek sempit, kalau gini kan bagus iya gak guys)" ucap Galih, yang mendapat anggukan dari kawan-kawan.


"Nanti ada yang ngira kalian mau pergi wisata lagi," ucap uncle Brian dari arah belakang.


"Ga apa ucel, adus don(gak apa uncle, bagus dong)" ucap Galih.


"Tuh dad, mereka minta Bess," ucap uncle Brian.


"Nanti kakek belikan yah, tapi cuma khusu saja," ucap kakek Nicko.


"Ote de tat(oke deh kak)" ucap Galih.


Bess berjalan di jalan yang sepi, pepohonan begitu hijau di sisi kanan dan kiri, Galih terdengar mengajak Nara bernyanyi.


"Ait-ait te untat unun, ingi-ingi tetali(naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali)" Galih bernyanyi di ikuti oleh Nara.


"Alah enin tini de, amu udut ama ita ni asi uas to(Galah sini deh, kamu duduk sama kita ini masi luas kok)" ajak Iqbal.


"Oleh de, ga asit uga uma udaut dili(boleh deh, gak asik juga duduk sendiri)" ucap Galah berpindah duduk di dekat kedua sohib nya.


Uncle Brian dan aunty Sheila sedang asik mendengarkan musik lewat ponsel, sambil menikmati pemandangan di luar jendela Bess.


Dalam perjalanan kali ini hanya Galih dan Nara yang heboh, karena kedua bocah kecil itu sedang bernyanyi bersama.


Next....

__ADS_1


__ADS_2