
Uncle Brian melihat keempat bocah kecil yang sudah tertidur pules di atas ranjang, ranjang yang besar dan bisa memuat si kembar dan kawan-kawan.
Uncle Brian tersenyum melihat kedua ponakan kembarnya yang tidur berpelukan, si kembar memang begitu kalau sedang tertidur.
Uncle Brian lalu menutup selimut sampai leher keempat bocah kecil itu, lalu mematikan AC nya. Karena udara puncak begitu dingin.
Brian lalu keluar kamar dan mengetuk pintu kamar sang kekasih. Tak berselang lama, pintu kamar pun terbuka.
"Sayang, belum tidur?" tanya Brian.
"Belum kak, aku baru saja habis pakai krim malam," ucap Sheila tersenyum.
"Nara udah tidur belum?" tanya Brian.
"Udah kak, dari tadi lagi," ucap Sheila.
"Ngobrol di balkon yuk bentar," ucap Brian.
"Ayo kak, aku juga gerah di dalam," ucap Sheila.
Keduanya mengobrol di balkon lantai dua, udara malam begitu sejuk dan di hiasi bintang-bintang di atas sana. Sheila tersenyum melihat ke kerlap bintang-bintang.
"Bagus yah, sayangnya gak ada bulannya," ucap Sheila.
"Ada kok bulannya," ucap Brian.
"Mana? Gak ada kok," ucap Sheila.
"Nih sekarang ada di depan aku, bulannya bercahaya dengan indah dan cantik," ucap Brian.
"Jadi aku di anggap bulan yah?" tanya Sheila.
"Iya, bulannya Brian Wijaya," ucap Brian tersenyum geli.
"Kaka ini, bisa aja kalau nge gombal," ucap Sheila.
"Kak, si Kembar, Iqbal dan Kifli udah tidur?" tanya Sheila.
"Udah sayang, dari tadi," ucap Brian.
Brian menatap calon istrinya itu dengan penuh cinta, membuat Sheila tersipu malu di tatap seperti itu oleh Brian.
"Kenapa sih masi malu aja?" tanya Brian.
__ADS_1
"Habis kaka ngeliat aku gitu banget sih, gimana aku gak malu," ucap Sheila.
"Tapi nanti kan bakalan jadi istri aku sayang, gak usah malu lagi," ucap Brian.
"Iya-iya sayang," ucap Sheila sambil tertawa.
Brian mengegam tangan Sheila, lalu menciumnya. Membuat jantung Sheila berdetak lebih kencang dari biasannya. Setelah itu Brian membawa Sheila ke dalam pelukannya, mendekap tubuh mungil itu dengan erat, karena udara malam juga sudah semakin dingin.
"Masuk yuk, udaranya udah dingin banget, nanti masuk angin," ucap Brian.
"Iya kak, ayo," ucap Sheila juga.
Keduanya masuk ke dalam, Brian mengantar Sheila sampai depan pintu kamar, lalu mencium kening Sheila dan meminta Sheila masuk dan tidur. Karena saat ini jam juga sudah telat.
Brian kembali masuk ke dalam kamar, dan melihat si kembar dan kawan-kawan masi tertidur pules, gaya tidur si kembar masi sama, yah itu berpelukan.
Brian mematikan lampu besar, dan menyisakan lampu tidur saja. Brian berbaring di ranjangnya dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian Brian sudah menyusul si kembar dan kawan-kawan ke alam mimpi.
🍀🍀🍀🍀
Sindi terlihat sedang kesal, ia baru saja mendapat laporan dari orang suruhannya. Kalau Brian sedang mengadakan acara lamaran untuk Sheila, tapi mereka tak tau di mana tempatnya.
"Sial, jadi aku kecolongan," ucap Sindi dengan marah.
"Kamu liat saja Brian, aku gak akan biarin kamu menikah dengan Sheila," ucap Sindi.
"Aku harus cari tau sendiri, di mana Brian mengadakan acara lamaran untuk Sheila," ucap Sindi dalam hati.
Rupanya Sindi belum menyerah juga, ia tidak berpikir lawannya saat ini adalah keluarga Wijaya, Sindi hanya memikirkan obsesi cintanya saja pada Brian. Tampa berpikir resiko yang akan ia dapatkan nanti, karena sudah berani bermain-main dengan keluarga Wijaya.
Sindi lalu bersiap-siap keluar, padahal saat ini jam sudah menunjukan pukul 12 malam, tapi wanita itu sedan berdandan dan akan keluar. Kemana lagi kalau bukan clahbing, karena seperti itulah Sindi kalau lagi stres.
🍀🍀🍀🍀
Suasana pagi hari di kediaman si kembar, rumah begitu sepi dan hanya terdengar tangisan beby kembar skali-skali.
Biasanya kalau sudah menjelang sarapan, ruang makan begitu ramai dengan celotehan si kembar dan juga Nara. Tapi kali ini begitu sepi tampah celotehan mereka.
"Sepi yah bu, gak ada celotehan den kembar dan neng Nara," ucap bibi melihat bu Rika.
"Iya bi, nanti bakalan ribut lagi kalau mereka sudah kembali dari puncak," ucap bu Rika sambil tersenyum.
"Iya bu," ucap bibi.
__ADS_1
Mami Ambar melihat papi Gilang yang sedang membujuk beby Galuh yang begitu rewel kalau pagi hari.
"Mas, rumah sepi banget yah gak ada anak-anak," ucap mami Ambar.
"Iya sayang, semenjak mereka pergi ke puncak rumah kaya kuburan," ucap papi Gilang.
"Mami jadi kangen mereka mas," ucap mami Ambar.
"Nanti kita vc mereka, kan hp papi ada sama Galah," ucap papi Gilang.
Dan mami Ambar hanya mengangguk saja, lalu kembali memberikan asi pada beby Gisel, sambil mengajaknya mengobrol.
🍀🍀🍀🍀
Pagi hari di puncak...
Keributan terdengar dari ruang tengah di lantai bawa, siapa lagi kalau bukan si kembar dan kawan-kawan nya.
"Alo emua alo emua, ita el ain eltama ci ololo(hallo semua hallo semua, kita bermain bersama sih Pororo)" terdengar si kembar dan kawan-kawan sedang bernyanyi sambil menonton film kartun Pororo dan kawan-kawan.
Kelima bocah kecil itu juga ikut bernyanyi, membuat uncle Brian yang masi tidur pun terganggu.
Uncle Brian melihat ke arah tempat tidur si kembar dan kawan-kawan, sudah kosong dan hanya selimut dan bantal yang berserah kan di atas ranjang. Uncle Brian melihat ke arah luar jendela balkon, mata hari juga sudah menampakan cahaya nya di muka bumi. Uncle Brian bangun dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Di lantai bawa si kembar dan kawan-kawan sedang serius menonton film kartun Pororo dan kawan-kawan, masi mengunakan piyama tidur dan belum mandi, mereka sudah langsung menyalakan tv dan menonton. Karena mereka kalau hari libur, dan pagi-pagi gini suka menonton film kartun Pororo dan film kartun yang lain.
"Wa ololo ain aju ais(wah Pororo main salju guys)" ucap Galih.
"Ia, elu anet ya ama abat-abat ya(iya, seruh banget yah sama sahabat-sahabatnya)" ucap Nara juga.
Uncle Brian turun ke lantai bawa, dan melihat si kembar dan kawan-kawan sedang asik menonton, sedangkan di dapur eyang Nisa dan eyang Sisi sedang sibuk membuat sarapan pagi.
"Kalian udah bangun?" tanya uncle Brian duduk di dekat Galih.
"Ia ucel, ita tan enen onton ololo(iya uncle, kita kan pengen nonton Pororo)" ucap Galih.
"Aunty Sheila mana?" tanya uncle Brian.
"Lum anun ucel, ia tan Nala(belum bangun uncle, iya kan Nara)" ucap Galih.
"Da anun to adi, api oty agi iat aju-aju olain (udah bangun kok tadi, tapi aunty lagi liat baju-baju online)" ucap Nara.
Si kembar dan yang lain lalu kembali menonton dengan serius, sedangkan uncle Brian beranjak dan pergi ke dapur.
__ADS_1
Next...