
Dengan cepat Sindi melangkah mendekati meja yang di duduki oleh Kevin, Sindi masi mengira sosok itu adalah Brian.
"Bri, maaf yah uda nung..." ucapan Sindi terhenti saat melihat sosok yang ia kira adalah Brian.
"Hay mbak Sindi, saya Kevin sekertaris nya pak Brian," ucap Kevin.
"Kok kamu sih, Brian mana?" tanya Sindi melihat seisi restoran untuk mencari Brian.
"Pak Brian tidak bisa hadir, beliau meminta saya untuk mewakilkan," ucap Kevin.
"Sial, udah dandan cantik-cantik, yang dateng ternyata bukan Brian," ucap Sindi dalam hati.
Sindi duduk di kursi depan Kevin, keduanya lalu memulai pertemuan dan membicarakan masalah pekerjaan. Walaupun dalam hati Sindi masi kesal, karena yang datang adalah sekertaris Brian.
"Jadi bagaimana mbak Sindi, apa mbak sudah paham dengan penjelasan saya barusan?" tanya Kevin melihat wanita yang duduk di depannya itu.
"Iya saya paham kok, jadi deal yah ini kontrak kerja sama dengan perusahaan Wijaya Group," ucap Sindi.
"Baik mbak, nanti biar bos saya yang akan menandatangani berkasnya langsung," ucap Kevin.
"Iya, sampaikan juga sama bos, ada salam dari saya," ucap Sindi dengan tak tau malu.
Membuat Kevin melengos seperti orang bodoh, mendengar perkataan dari Sindi.
"Kamu dengar gak sih, apa yang saya bilang," ucap Sindi.
"Iya mbak, saya dengar kok," ucap Kevin.
"Oke, kalau gitu saya permisi duluan," ucap Sindi beranjak pergi begitu saja, sambil menenteng tas branded miliknya.
"Gak tau apa tuh cewek, kalau si bos udah punya calon istri," ucap Kevin sambil menggeleng kepala, melihat kepergian Sindi.
Kevin membereskan berkas yang akan ia bawa ke kantor lagi, tapi sebelum itu Kevin memesan makan siang terlebih dahulu, lalu kembali lagi ke kantor.
🍀🍀🍀🍀
Seorang gadis sedang termenung di dalam ruangan kerja nya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Mel, kok bengong terus sih?" tanya gadis yang baru saja masuk.
"Gak kok Van, cuma lagi mikirin kerjaan aja," ucap Melatih sambil memaksakan tersenyum.
"Mikirin kerjaan apa mikirin Raffa," ucap Vani lagi.
"Gak lah, ngapain mikirin dia," ucap Melatih.
Semenjak pertemuan mereka di vila 9 bulan yang lalu, sampai saat ini Melatih tidak pernah ketemu pria yang sudah menolongnya tersesat di hutan waktu di vila.
Melatih sangat berharap kalau Raffa kecilnya adalah Raffa yang menolongnya waktu itu, tapi Melatih tidak tau kalau saat ini Raffa sedang berada di Prancis.
"Udah gak usah bengong, kita ke kedai es krim yuk," ajak Vani berusaha menghibur sang sahabat.
"Boleh, bentar yah aku selesaikan ini dulu," ucap Melatih.
__ADS_1
"Iya, aku tunggu di luar yah," ucap Vani.
"Oke," ucap Melatih.
Melatih berusaha untuk membuang bayangan Raffa dari ingatannya. Karena dalam beberapa bulan ini, Melatih memang sering memikirkan Raffa.
🍀🍀🍀🍀
Di ruangannya Brian sedang serius mengobrol dengan seseorang di layar ponsel miliknya.
"Loh serius gak mau balik Indonesia lagi?" tanya Brian dengan serius.
"Gak lah, gue balik kalau loh udah mau nikah," ucap pria tampan yang ada di layar ponsel miliknya Brian.
"Awas saja kalau loh gak datang yah," ucap Brian.
"Gue pasti datang kok, sama tunangan gue" ucap pria itu, yang tak lain adalah Raffa.
"Wiih, pantes aja yah udah betah di paris, teryata udah punya tunangan," ucap Brian menjahili sang sahabat.
"Iya, permintaan kakek gue, untuk yang terakhir kalinya, dia pengen liat gue tunangan sama gadis pilihan dia, cucu dari sahabat nya kakek," ucap Raffa dengan raut wajah lesu.
"Loh cinta sama tunangan loh?" tanya Brin dengan serius.
"Sekarang ini sih belum, tapi gue bakalan berusaha membuka hati buat tunangan gue," ucap Raffa.
"Terus gimana dengan Melatih, gadis kecil loh dulu?" tanya Brian.
Raffa memandang Brian cukup lama, lalu ia tersenyum dan mengusap rambutnya dengan kasar.
"Gue cuma bisa doain yang terbaik buat loh men, semoga loh bahagia dengan pilihan loh," ucap Brian.
"Makasih bro," ucap Raffa.
"Sayang, aku cariin kamu ternyata kamu di sini," ucap seorang wanita dari balik telpon.
"Iya sayang, aku lagi ngobrol sama teman," ucap Raffa.
Brian melihat bagaimana dengan mesranya wanita yang memanggil Raffa dengan sebutan sayang itu, mencium kedua pipi Raffa dengan mesra.
"Lanjutin aja deh bro, gue tutup dulu telponnya," ucap Brian.
"Oke bro," ucap Raffa.
Setelah sambungan vedio call dengan Raffa terputus, Brian meletakan ponsel miliknya di atas meja.
Tokk...
Tokk...
"Masuk," ucap Brian.
Kevin masuk sambil membawakan berkas yang akan di tandatangani oleh sang bos, Kevin langsung duduk di kursi depan sang bos.
__ADS_1
"Cepat banget balik nya?" tanya Brian.
"Iya lah bos, gimana gak cepat coba, si klien kita langsung pergi gitu aja selesai bahas pekerjaan," ucap Kevin.
"Kok gak ngobrol dulu kek, makan siang bareng gitu, ini kan jam makan siang," ucap Brian.
"Saya makan siang sendirian bos, oh iya tadi mbak Sindi nitip salam buat bos," ucap Kevin.
"Apa, makin keterlaluan aja tuh cewek lama-lama," ucap Brian.
"Tadi dia sempat mengira saya ini bos, soalnya saya duduk membelakangi arah toilet, ternyata dia baru saja habis dari toilet," ucap Kevin.
"Udah gak usaha bahas dia, mana berkas kerja sama perusahaan kita sama perusahaan dia?" tanya Brian.
"Ini bos, bisa bos perkasa saja dulu," ucap Kevin.
Brian mengambil berkas itu, lalu memeriksa dan membacanya dengan sangat teliti, setelah itu Brian membubuhi tandatangannya di berkas itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu yah bos," ucap Kevin.
"Iya, sekali lagi makasih yah Vin, kamu udah mau menggantikan saya bertemu dengan Sindi," ucap Brian.
"Gak masalah bos, itu sudah menjadi tugas saya juga sebagai sekertaris bos," ucap Kevin lalu keluar dari ruangan sang bos.
"Aku kok kangen kamu lagi sih," ucap Brian mengambil ponselnya, dan menelpon sang kekasih lagi.
"*Hallo kak, ada apa?" tanya Sheila dari seberang sana.
"Cuma pengen dengar suara kamu aja, kaka kangen banget," ucap Brian.
"Tadi kan kita udah ngomong kak," ucap Sheila.
"Tapi kaka masi kangen sayang, kamu sama mama udah pulang dari butik aunty?" tanya Brian.
"Iya, ini baru saja sampai di rumah," ucap Sheila.
"Gaunnya udah ada?" tanya Brian.
"Ada, sama aku juga pilih kan jas buat kaka, nanti aku kirim ke rumah ya," ucap Sheila.
"Oke sayang, kamu udah makan kan?" tanya Brian.
"Udah kok, kalau kaka udah makan belum?" tanya Sheila balik.
"Udah sayang, makan bareng Tio di ruangan kaka," ucap Brian.
"Ya udah, aku mau mandi dulu kak, terus istirahat," ucap Sheila.
"Yah udah, nanti malam kaka jemput yah jam 7 malam," ucap Brian.
"Iya kak, I Love You," ucap Sheila.
"I Love You too calon istri ku," ucap Brian sambil tersenyum*.
__ADS_1
Panggilan telpon lalu mati, Brian meletakan ponselnya di atas meja lagi. Kemudian melanjutkan pekerjaan nya yang belum selesai itu, karena sekarang jam masi menunjukan pukul 2 siang.
Next...