Will You Merry Me

Will You Merry Me
Ngumpet Dari Si Kembar & Kawan-kawan


__ADS_3

Sebulan telah berlalu...


Brian mengandeng tangan calon istrinya masuk ke dalam lift, Brian dan Sheila saat ini sedang berada di kantor Wijaya Group.


Brian ngotot pada Sheila untuk di temani saat bekerja, apa lagi siang nanti mereka akan melakukan fitting baju pengantin mereka.


Setelah sebulan menjalankan ibadah puasa, dan merai hari kemenangan, kini semuanya kembali beraktifitas seperti bulan-bulan sebelumnya.


Ting...


Pintu lift terbuka Brian mengandeng tangan Sheila keluar dari dalam lift, melewati meja kerja Kevin yang berada di depan ruangan CEO.


"Pagi bos, dan ibu bos," sapa Kevin dengan hormat.


"Pagi kak Kevin," sapa Sheila dengan ramah.


Brian berhenti melangkah dan melihat ke arah sang kekasih, lalu beralih menatap tajam ke arah sekertarisnya itu. Kevin menelan ludahnya dengan susah paya, melihat wajah menakutkan sang bos.


Seolah-olah Kevin lah di sini yang bersalah, karena Sheila menyapa balik Kevin dengan begitu ramah. Tapi tak ada salahnya kan menyapa dengan sopan dan di balas dengan tak kalah sopan nya juga.


Sheila yang melihat calon suaminya menatap tajam ke arah sekertarisnya, Sheila langsung menjewer telinga Brian dengan kuat. Membuat Brian mengadu kesakitan berjalan masuk ke dalam ruangannya.


"Sakit sayang, kamu kenapa sih suka banget deh jewer telinga aku," keluh Brian saat mereka sudah tiba di ruangan kerja Brian.


"Lagian Kaka sih, liatnya gitu banget sama kak Kevin, kan dia cuma nyapa kita dengan baik," ucap Sheila meletakan kedua tangannya di dada, sambil menatap Brian yang sedang mengusap telinganya yang masih panas.


"Aku gak suka kamu nyapa cowok lain sayang," ucap Brian mendekati Shila.


"Stop di situ, jangan mendekat," ucap Sheila meminta Brian berhenti di tempat.


Brian melihat Sheila dengan heran, Brian ingin mendekat tapi lagi-lagi Sheila memintanya untuk berhenti di tempat.


"Ada apa sih?" Tanya Brian heran.


"Kaka minta aku kan buat nemanin kerja, yah udah sekarang Kaka Kerja, aku tunggu di situ," ucap Sheila menunjuk ke arah sofa.


Brian menghela nafasnya dengan pelan, kalau sudah berkata seperti itu Brian tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Oke, aku kerja dulu kalau gitu, tapi apa gak ada penyemangat gitu?" Tanya Brian melihat Sheila dengan me naik turunkan alisnya dengan jahil.


"Gak ada, kan aku udah duduk di situ kak," ucap Sheila lagi.


"Oke, aku kerja dulu," ucap Brian berbalik dengan wajah lesu seperti orang yang putus cinta.


Sheila duduk di salah satu sofa, sedangkan Brian duduk di kursi kebesarannya dengan cepat, sambil melirik sang kekasih yang sedang sibuk dengan majalah yang ia baca.


"Sayang," panggil Brian.


"Ada apa kak?" Tanya Sheila tapi Engan mengalihkan tatapnya dari majalah.


Brian bingung mau mengatakan apa, karena ia juga kehabisan topik gak tau mau membahas apa.


Brian pun membuka laptop miliknya, dan memeriksa email yang di kirimkan oleh Tio Sanga sistem, setelah di beri cuti selama satu bulan, Tio pun kembali beraktivitas seperti biasa. Istri Tio Maura juga sudah melahirkan anak pertama mereka Perempuan di minggu kedua puasa bulan kemarin.


Tokk...


Tokk...


"Masuk," ucap Brian.


Clekk...


"Bos, ada ibu Sindi ingin bertemu dengan bos," ucap Kevin membuat Sheila yang sedang asik membaca majalah pun melihat ke arah Kevin.

__ADS_1


"Ada perlu apa dia datang ke sini, bilang pada resepsionis kalau saya sedang sibuk," ucap Brian dengan suara tegas.


"Baik bos," ucap Kevin lalu undur diri kembali.


Brian menghela nafas kasar melihat ke arah Sheila, Brian beranjak dari kursi kerjanya lalu mendekati Sheila yang sedang duduk di sofa.


"Kenapa wajahnya lusuh gitu?" Tanya Sheila.


Bukannya menjawab Brian malah membawa Sheila ke dalam pelukannya, Brian seolah tidak mau kalau waktu berdua nya dengan sang kekasih di ganggu oleh orang-orang yang tidak penting.


"Kenapa sih jadi manja gini?" Tanya Sheila menggenggam tangan Brian.


"Gak pengen aja," ucap Brian mencuri kecupan di pipi Sheila.


Sheila hanya tersenyum melihat tingkah manja Brian, kalau sedang berduaan Brian memang sangat manja pada Sheila.


"Nanti makan siang di restoran yah," ucap Brian.


"Iya," ucap Sheila sambil mengacak-acak rambut Brian.


"Jangan di acakin sayang, nanti udah gak ganteng lagi," ucap Brian memasang wajah merajuk.


"Biarin aja gak ganteng, jadi gak ada lagi yang ngelirik kan bagus," ucap Sheila sambil terkekeh geli.


"Awas yah kamu," ucap Brian mencubit pipi Sheila sebelah kiri.


"Auuh, sakit tau," aduh Sheila dengan manja.


"Kamu tuh gemes banget sih kalau lagi merajuk gini, mau di cium lagi yah," ucap Brian sambil tersenyum.


"Cium aja terus," ucap Sheila memegang kedua pipi Brian.


"Calon istri aku tuh cantik banget sih," ucap Brian memandang wajah Sheila dengan senyum manis.


"Nanti aja, selesai makan siang, lagian gak lama lagi jam makan siang tiba," ucap Brian kembali memeluk Shila lagi.


Di lobby kantor, mobil yang tak asing baru saja terparkir di depan pintu masuk kantor, kelima bocah kecil turun dari dalam mobil bergantian.


"Yo ais epat(ayo guys cepat)" ajak Galih yang sudah turun duluan.


"Ia Alih, abal Don(iya Galih, sabar dong)" ucap Kifli yang turun paling belakang.


"Yo ita asut(ayo kita masuk)" ucap Si kembar.


"Yo Nala(ayo Nara)" ajak Galih yang gak mau meninggalkan Nara di belakang.


Si kembar dan kawan-kawan berjalan menuju lift, semua karyawan sudah tau siap kelima bocah kecil itu kalau sudah tiba di kantor, jadi jangan ada yang melarang mereka atau pun menganggu mereka.


Si kembar dan kawan-kawan masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka menuju lantai paling atas, di mana ruangan sang uncle berada.


Galih menekan angka paling tinggi, setelah mereka semua masuk ke dalam lift. Di dalam lift hanya ada kelima bocah kecil itu, dan lift yang mereka gunakan adalah lift khusu CEO.


Tingg...


"Yo Nala, edan anan ayu(ayo Nara, pegang tangan aku)" ucap Galih mengandeng tangan mungil Nara.


Galah, Iqbal dan Kifli hanya menggeleng kepala melihat tingkah Galih yang sudah berjalan di depan, sambil mengandeng tangan mungil Nara.


"Alo om Evin(hallo om Kevin)" sapa kelima bocah kecil itu.


Kevin melihat ke asal suara, di mana si kembar dan kawan-kawan sedang berdiri tak jauh dari meja kerjanya.


"Hay, kalian baru sampai yah?" Tanya Kevin.

__ADS_1


"Ia om, om ucel da i alam ga(iya om, om uncle ada di dalam gak)" tanya Galih Masi mengengam tangan Nara.


"Ada di dalam, lagi sama aunty Sheila," ucap Kevin sambil tersenyum.


"Oty Ela i alam om(aunty Sheila ada di dalam om)" tanya Galah lagi.


"Iya, sana kalian masuk aja," ucap Kevin sambil tersenyum.


"Ote om, yo ais ita asut(oke om, ayo guys kita masuk)" ucap Galih mengajak kawan-kawan.


Di dalam ruangan Brian mengajak Sheila beranjak dan akan pergi mencari makan siang.


"Aku panggil Kevin bentar yah sayang," ucap Brian yang mendapat anggukan dari Sheila.


Brian berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Tupp...


Brian kembali menutup pintu dan berlari cepat menarik tangan Sheila yang akan mengambil tas yang ada di atas sofa, belum sempat tas di genggam oleh Sheila dia sudah di tarik amsuk ke dalam toilet oleh Brian.


Yup...


Pintu kamar mandi tertutup, lalu Brian mengisyaratkan untuk tidak berisik pada calon istrinya itu.


"Ada apa sih?" Tanya Sheila seperti berbisik pelan.


"Jangan berisik sayang," ucap Brian lagi meletakan jari telunjuknya di bibir.


"Iya memangnya ada apa, kenapa kita sembunyikan di toilet sih?" Tanya Sheila masih dengan rasa penasaran, karena Brian menariknya masuk ke dalam toilet.


Bukannya menjawab pertanyaan Sheila, Brian malah menempelkan telinganya di daun pintu toilet, untuk mendengar suara di dalam ruangan nya.


Clekk...


Galah membuka pintu ruangan sang uncle, kemudian kelima bocah kecil itu masuk bersamaan, karena pintu ruangan CEO memang besar. Jadi tubuh mungil kelima bocah kecil itu masuk bersama.


Kelima bocah kecil itu melihat seisi ruangan yang begitu sepi, tak ada tanda-tanda ada penghuninya di dalam sana. Padahal tadi pria dewasa di luar sana mengatakan kalau di dalam ada sang bos dan juga calon istrinya.


"To epi ci, ata om Evin adi ata ya ucel da i alam ama onty ela(kok sepi sih, kata om Kevin tadi katanya uncle ada di dalam sama aunty Sheila)" ucap Galih melihat kawan-kawannya.


"Ia, pa agan-agan om Evin eldain Ita ya(iya, apa jangan-jangan om Kevin ngerjain kita yah)" ucap Iqbal.


"Ga untin ais, oba iat de tu as ya oty Ela(gak mungkin guys, coba deh liat itu tasnya aunty Sheila)" ucap Galih menunjuk ke arah tas branded milik Sheila yang berada di atas sofa.


"Ia tu tan as ya oty Ela, asti ni ucel Ama oty Ela umpet(iya tuh kan tas nya aunty Sheila, pasti nih uncle sama aunty Sheila ngumpet)" ucap Galah yang mendapat anggukan dari kawan-kawan.


"Ita Ali aja yo ais(kita cari saja yuk guys)" ucap Iqbal.


Kelima bocah kecil itu pun mencari snag uncle dan juga aunty Sheila, mereka yakin kalau kedua orang dewasa itu pasti mengumpat dari mereka.


Si kembar sudah mencari ke dalam kamar yang biasa Brian gunakan untuk beristirahat, tapi kosong tidak ada orang di dalam sana.


"Ita ali te ana agi ya(kita cari ke mana lagi yah)" ucap Galah saat ini kelima bocah kecil itu sedang duduk di sofa, karena kelelahan mencari sang uncle.


Sedangkan di dalam toilet Sheila bisa mendengar obrolan si kembar dan kawan-kawan di luar sana, Sheila menatap Brian dengan tajam. Tapi Brian hanya mengisyaratkan untuk tidak berisik.


"Ais ini de(guys sini deh)" ucap Galih meminta kawan-kawan untuk mendekat.


Galah, Iqbal, Kifli dan Nara pun mendekati Galih, lalu Galih membisikkan sesuatu.


"Asti de ni ucel aman oty Eli agi umpet i amal andi (pasti deh nih uncle sama aunty Sheila lagi ngumpet di kamar mandi)" ucap Galih melihat ke arah kamar mandi Yanga da di lorong samping ruangan sang uncle.


Yang lain pun hanya mengangguk, lalu dengan pelan kelima bocah kecil itu berjalan ke arah toilet, tampa membunyikan suara. Karena mereka tau , pasti uncle dan aunty Sheila ada di dalam toilet.

__ADS_1


Next....


__ADS_2