Will You Merry Me

Will You Merry Me
Vila


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, akhirnya mobil Bess yang membawa rombongan keluarga Wijaya dan si kembar pun tiba di puncak.


Sepanjang jalan menuju puncak, si kembar dan kawan-kawannya tak henti-hentinya berceloteh tentang keindahan pemandangan dari atas puncak. Kelima bocah kecil itu sampai berlarian ke sana kemari dalam Bess, hanya untuk melihat pemandangan lewat jendela kaca Bess.


"Ila adus anet ya ais anandan ya, atu uka tun aja atu awa pe(gila bagus banget yah guys pemandangannya, aku suka untung saja aku bawa hp)" ucap Galih bersiap turun dari dalam mobil.


"Ia atu uga awa pe ni(iya aku juga bawa hp ini)" ucap Galah gak mau kalah.


"Awa pe, man amu unya pe, tan uma atu aja yan unya pe(bawa hp, emang kamu punya hp, kan cuma aku saja yang punya hp)" ucap Galih melihat sang kembaran.


"Da la Alih(adalah Galih)" ucap Galah.


"Oba atu au iat(coba aku mau liat)" ucap Galih, jiwa keponya sudah muncul.


"Anti aja i alam(nanti saja di dalam)" ucap Galah sambil tersenyum.


"Sayang, ayo semuanya kita masuk ke dalam Vila," ajak eyang Nisa.


"Ia eyan(iya eyang)" ucap kelima bocah kecil itu.


Semuanya masuk ke dalam Vila, si kembar dan yang lain mendukung tas ransel milik mereka, sedangkan uncle Brian masuk bersama dengan aunty Sheila.


"Akek ila ya ecil ya, ga aya uma ita esal(kakek, Vila nya kecil yah, gak kaya rumah kita besar)" ucap Galih berjalan masuk.


"Iya boy, ini kan hanya Vila," ucap kakek Nicko.


"Eliatan ali ual aja yan ecil, alo da ampe alem esal uga ila ya (keliatan dari luar saja yang kecil, kalau udah sampe dalem besar juga Vila nya)" ucap Galah.


"Ita tan da ampe ila ni, ucel ga amal oty(kita kan udah sampai Vila nih, uncle gak lamar aunty)" tanya Nara dengan polosnya.


"Belum sayang, kita istirahat dulu kan kita baru sampai," ucap eyang Nisa.


"Oo, ditu ya eyan(oh, gitu yah eyang)" ucap Nara.


"Nara tidur sama aunty Sheila, kalau kembar di kamar bersama uncle yah, tapi ada dua ranjang besar kok di kamar," ucap kakek Nicko.


"Ha, itu idul alen ucel ni ke(hah, kita tidur bareng uncle nih kek)" tanya Galih.


"Iya boy," ucap kakek Nicko mengusap kepala sang cucu.


"Ote de(oke deh)" ucap Galih.


"Yo ais, ita asut amal(ayo guys, kita masuk kamar)" ajak Galih.


Si kembar dan kawan-kawan nya masuk ke dalam kamar yang ada di lantai dua bersama uncle Brian, di samping kamar mereka akan menjadi kamar aunty Sheila dan juga Nara.

__ADS_1


"Wa, amal ya ela anet ya, ni alo ita elepat asti uat de idul tini(wah, kamar nya besar banget, ini kalau kita berempat pasti muat deh tidur sini)" ucap Galah.


Galih tertarik berjalan ke arah balkon, dan melihat pemandangan sunset dari balik pintu kaca menuju balkon, pintu yang masi tertutup rapat.


"Wi, elen anet ais, iat de tu ata ali da au endelam (wis, keren banget guys, liat deh tuh matahari udah mau tengelam)" ucap Galih.


"Ayo, taru sini dulu tas nya, baru kalian mandi yah," ucap uncle Brian.


"Etal ulu ucel, ita enen iat enendanan(bentar dulu uncle, kita pengen liat pemandangan)" ucap Galih.


"Nanti saja, mandi dulu nanti udah keburu dingin, cuaca di puncak dingin banget kalau malam hari," ucap uncle Brian.


"Api alo ita bis andi, ataali ya asi da tan ucel(tapi kalau kita habis mandi, matahari nya masi ada kan uncle)" ucap Iqbal.


"Iya masi ada, tapi setengahnya udah mau tengelam," ucap uncle Brian.


"Aia, elati ita lus andi epat ni(guys, berarti kita harus mandi cepat nih)" ucap Galih.


"Ia Alih, amu enal(iya Galih, kamu benar)" ucap Kifli.


Keempat bocah kecil itu pun masuk ke kamar mandi, setelah mengambil handuk kecil yang sudah di siapkan dari rumah.


Setelah melihat si kembar dan kedua sohibnya masuk ke dalam kamar mandi, uncle Brian lalu keluar dan mengetuk pintu kamar yang ada di dekat kamar mereka.


Tokk...


Tokk...


"Sayang, ada apa?" tanya Sheila.


"Jangan mandi telat yah, udara puncak dingin banget kalau malam," ucap uncle Brian.


"Iya sayang, ini aku sama Nara udah mau mandi kok," ucap aunty Sheila.


"Yah sudah, kaka juga mau mandi," ucap uncle Brian.


"Iya, sana mandi," ucap aunty Sheila sambil tersenyum.


"Senyum dulu dong," ucap Brian.


Sheila pun tersenyum, membuat Brian di buat gemes dan memeluk calon istrinya itu dan mencium kening Sheila dengan penuh kasih sayang.


"Eemm, ucel ni ulu ita epat andi, elnata uma enen elutan ama oty ela aja(eeehheemm, uncle ini nyuruh kita cepat mandi, ternyata cuma pengen pelukan sama aunty Sheila saja)" ucap Galih dari balik pintu kamar, dan masi mengunakan handuk kecil yang melilit di dadanya.


"Udah selesai mandi?" tanya uncle Brian.

__ADS_1


"Uda don(udah dong)" ucap Galih.


"Yah sudah, sekarang sayang mandi yah, kaka juga mau mandi," ucap uncle Brian.


"Iya kak," ucap Sheila kembali menutup pintu kamar.


"Kamu ngintip yah?" tanya uncle Brian.


"Ga enada ucel(gak sengaja uncle)" ucap Galih ikut masuk bersama uncle Brian, sedangkan Galah dan kedua sohibnya sudah selesai berganti pakaian.


Uncle Brian mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Galih baru mulai mau memakai baju tidurnya yang sama dengan sang kembaran.


"Alih amu ali ana ci(Galih kamu dari mana sih)" tanya Kifli.


"Ais atu bis iat ucel ama oty ela elutan(guys aku habis liat uncle sama aunty Sheila pelukan)" ucap Galih dengan pelan takut kedengaran sang uncle.


"Amu intip ya(kamu ngintip yah)" ucap Iqbal.


"Atu ga aja ais, bis atu ali ucel ga da ci i amal, adi atu ali e ual, e elnata ucel agi elutan ama oty ela(aku gak sengaja guys, habis aku cari uncle gak ada sih di kamar, jadi aku cari ke luar, eh ternyata uncle lagi pelukan sama aunty Sheila)" ucap Galih.


"Du, ita upa tan au iat ataali(aduh, kita lupa kan mau liat matahari)" ucap Galah.


"Keempat bocah kecil itu pun berlari ke arah balkon, tapi matahari sudah tenggelam dan siang sudah mulai berganti malam.


"Ya, agal de iat ataali egelam(yah, gagal deh liat matahari tengelam)" ucap Galih.


"Enan ais, tan asi da esot(tenang guys, kan masi asa besok)" ucap Iqbal.


Clek...


Uncle Brian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang rampingnya, uncle Brian melihat pintu balkon yang terbuka lebar.


Si kembar dan kawan-kawan sedang berada di sana sambil melihat pemandangan malam hari.


"Ngapain di luar udah malam, ayo masuk." Ajak uncle Brian.


"Ita agi iat unan-unan ucel, tu anyat anet(kita lagi liat kunang-kunang uncle, tuh banyak banget)" ucap Galih.


"Dikit lagi masuk yah, udara puncak dingin banget kalau udah malam, nanti kalian masuk angin," ucap uncle Brian.


"Ia ucel(iya uncle)" ucap si kembar dan kedua sohibnya.


Keempat bocah kecil itu kembali melihat kunang-kunang yang berterbangan, sedangkan uncle Brian kembali masuk dan berganti pakaian.


Next....

__ADS_1


__ADS_2