
Sheila sedang bersiap-siap. Sheila akan pergi ke rumah calon menantunya yah itu mommy Nisa, baru saja mommy Nisa menghubungi Sheila untuk datang ke rumah. Dan sebentar lagi sopir datang menjemput gadis itu.
"Sayang, udah siap?" tanya mama Sisi melihat sang putri.
"Udah ma, mama gak mau ikut aku?" tanya Sheila.
"Gak, papa kamu nanti siang pulang makan di rumah," ucap mama Sisi.
"Yah udah, aku pamit dulu yah ma, takut mommy Nisa udah nunggu lama," ucap Sheila.
"Iya sayang, hati-hati yah, salam mama sama mommy Nisa," ucap mama Sisi.
"Oke ma, Sheila pamit dulu yah. Assalamualaikum ma," ucap Sheila setelah mencium punggung tangan sang mama.
"Waalaikumsalam sayang," ucap mama Sisi.
Sheila keluar dari rumah, dan pak sopir juga sudah menunggunya di luar sana.
Tak berselang lama mobil yang membawa Sheila memasuki pintu gerbang besar, mobil itu membawa Sheila sampai depan pintu utama.
"Makasih yah pak," ucap Sheila.
"Iya non, sama-sama," ucap pak sopir.
Sheila turun dari dalam mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah besar itu. Sheila sudah seperti tuan rumah, kalau tiba di sana langsung masuk begitu saja. Karena Sheila adalah calon menantu keluarga Wijaya.
"Assalamualaikum mom," ucap Sheila.
"Wa'alaikumsalam sayang, kamu udah datang," ucap mommy Nisa langsung menyambut kedatangan sang menantu dengan senang.
"Iya mom," ucap Sheila.
"Ayo duduk sini, mommy kangen pengen ngobrol bareng kamu loh, udah berapa hari kamu gak ke sini," ucap mommy Nisa.
"Iya mom, maaf Sheila juga lagi sedikit sibuk," ucap Sheila.
"Iya gak papa kok, sayang ntar siang temani mommy belanja yah," ucap mommy Nisa.
"Oke mom," ucap Sheila.
"Makasih loh sayang," ucap mommy Nisa.
"Bi, tolong ambilkan minum sama cemilan buat menantu saya yah," ucap mommy Nisa.
"Siap nya," ucap bibi.
__ADS_1
"Sayang, mommy dengar dari daddy katanya ada wanita yang mencoba mendekati Brian yah?" tanya mommy Nisa.
"Pasti yang di maksud mommy mbak Sindi deh, kan cuma dia yang selalu ada kalau aku sama kak Brian lagi di luar," ucap Sheila dalam hati.
Mommy Nisa melihat Sheila yang hanya diam saja, mommy Nisa yakin kalau calon menantunya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang, kok bengong sih?" tanya mommy Nisa.
"Eh mom, iya dia teman TK kaka katanya," ucap Sheila.
"Teman TK, setahu mommy Brian gak punya teman TK wanita deh sayang selain Laura istrinya Tio," ucap mommy Nisa.
"Tapi mbak Sindi mengaku kalau dia temannya kaka dan kak Marsel waktu TK dulu mom," ucap Sheila lagi.
"Ngaku-ngaku aja deh tuh orang," ucap mommy Nisa kesal.
"Udah mom, gak usah marah-marah yah," ucap Sheila.
"Mommy cuma kesal saja sayang, krena itu mommy minta calon suami kamu baut cepat-cepat ngelamar kamu," ucap mommy Nisa.
"Kaka udah ngomong kok mom sam aku, mungkin lagi nyiapin semuanya kaka," ucap Sheila.
"Mommy juga mau gitu sayang," ucap mommy Nisa.
🍀🍀🍀🍀
Sindi termenung di ruangan kerjanya, saat ini Sindi bekerja di kantor sang papa sebagai wakil direktur.
"Aku harus bisa dapatin kamu Bri, apapun caranya, pasti akan aku lakuin," ucap Sindi dalam hati.
Tokk...
Tokk...
"Masuk," ucap Sindi dari dalam ruangannya.
Clekk...
"Permisi bu Sindi, siang ini ibu di minta pak Direktur untuk menggantikan beliau meeting bersama pemilik perusahaan Wijaya Group," ucap Mira sekertaris Sindi.
"Oke, siapkan saja semuanya," ucap Sindi dengan senang.
"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Mira.
"Yes, itu berarti gue bakalan ketemu Brian, gue harus dandan yang cantik nih, agar Brian terpesona ngelian gue," ucap Sindi seorang diri.
__ADS_1
Setelah jam menunjukan pukul 11 siang, Sindi dan sekertaris Mira pergi ke kantor Wijaya Group, Sindi sudah dengan dandanan nya yang terlihat menor.
"Bu Sindi kok dandannya gitu banget sih, berlebihan gak kaya tadi pagi," ucap Mira dalam hati.
"Mir, dandanan aku udah oke belum?" tanya Sindi yang sedang fokus menyetir mobil.
"Udah bu, ibu terlibat cantik," ucap Mira sambil tersenyum.
"Mau ketemu sama CEO Wijaya Group emang harus cantik Mir, kamu tau gak Brian Wijaya?" tanya Sindi.
"Tau bu, putra bungsu dari tuan Nicko Wijaya kan," ucap Mira.
"Iya, dia itu teman TK aku dulu waktu kecil, anak orang kaya tapi mau berteman sam anak orang miskin," ucap Sindi mengingat dulu Brian dan Marvel dan yang lain terus membela Tio.
Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Sindi berhati tepat di lobby kantor Wijaya Group, kantor yang lebih besar dari kantor milik keluarga Sindi.
🍀🍀🍀🍀
Marvel, Brian dan Tio mengobrol sambil menunggu meeting di mulai. Ketiga pemuda itu begitu asik mengobrol, sampai ketiganya di kaget kan dengan suara pintu terbuka.
"Bos, meeting akang segera di mulai," ucap Kevin dari ambang pintu.
"Kita ke ruang meeting sekarang, nanti kita lanjutkan lagi," ucap Marvel.
Ketiganya pun beranak dari sofa, keluar dari ruangan Brian lalu berjalan ke arah ruang meeting yang ada di lantai itu juga.
Di dalam ruang meeting, Sindi, Mira dan rekan bisnis yang lain sudah menunggu, apa lagi Sindi yang sedari tadi tak henti-hentinya mengatur rambutnya agar selalu terlihat rapi.
Clekk...
Kevin membukakan pintu untuk sang bos, Brian masuk bersama Marvel, lalu di ikuti oleh Tio dan juga Kevin sekertaris dari Brian.
"Selamat sing semuanya, maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Brian duduk di kursi paling depan.
Sedangkan Marvel, Tio dan juga Kevin duduk di kursi tak jauh dari Brian. Sindi menatap Brian tak berkedip, Brian begitu gaga dan tampan mengenakan setelan jas berwarna navy, dan dipadukan dengan dasi bergaris hitam, membuat siapa saja akan terpukau melihat Brian.
Marvel melihat wanita yang dandannya begitu menor, menatap Brian tak berkedip sam sekali. Tapi Brian tidak melihat wanita itu sama sekali.
"Baik, kita mulai meeting nya," ucap Brian tampa basa basi, karena ia tak suka satu ruangan dengan Sindi walaupun ada banyak orang di ruang meeting.
Semenjak awal masuk ruang meeting, Brian sudah melihat Sindi duduk bersama sekretarisnya di salah satu kursi, tapi Brian memili untuk berpura-pura tidak tau dan tidak melihat, mengingat Sindi begitu keras ingi mendekatinya walaupun ada Sheila di dekat Brian.
Brian memimpin meeting nya dengan baik, sesekali Brian juga menjelaskan tentang proyek-proyek yang sedang mereka bicarakan saat ini, sedangkan rekan bisnis yang lain hanya mengangguk dan mendengarkan saja.
Next...
__ADS_1