Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 1


__ADS_3

Gadis itu  membiarkan tetesan air keluar deras dari mata. Tatapannya kosong. Bayangan pernikahan indah nan romantis sirna seketika. Pria yang ia cintai telah menabur luka padanya dan keluarga. Undangan telah menyebar pada rekan kerja dan kolega sang papa, demikian pula dengan kawan-kawannya. Restoran megah telah siap menyambut dirinya dan lelaki pujaan.


Siapa sangka jika Doni, pria yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati ternyata telah memiliki keluarga. Pria yang tiga tahun terakhir telah memberi warna di hidupnya telah berdusta. Kelembutan, perhatian dan rasa cinta membuat Bella hanyut dalam asmara, sehingga membiarkan Doni menikmati miliknya yang paling pribadi atas nama cinta.


Lelaki itu menghilang ketika semua persiapan pernikahan telah siap. Bella dan keluarga mengetahui hal yang sesungguhnya dari pesan singkat  dari seseorang dan bukti foto keluarga kecil pria itu. Tak ada alamat jelas yang bisa dihubungi, Doni hilang ditelan bumi.


Dua kali sudah tangan papanya mendarat di pipi meninggalkan bekas merah di sana. Tak ada perlawanan dari gadis bermata indah itu. Ia tetap bergeming seolah menikmati kesakitan. Bagi Bella tak ada yang lebih sakit dari ditinggalkan Doni yang telah menitipkan benih di rahimnya.


"Pernikahan ini harus terlaksana! Mau di taruh mana muka papa jika batal? Apalagi kamu hamil, Bella! Memalukan!" hardik pria paruh baya itu. Hampir saja tangan itu kembali mendarat di pipi Bella jika saja sang mama tidak mencegah.


Pak Santoso dikenal sebagai orang sukses dalam mengelola bisnisnya. Banyak kolega dan relasi sehingga akan menjadi hal yang memalukan jika pernikahan putri tunggalnya ternyata harus batal. Terlebih Bella telah berbadan dua.


Ratih sang mama mendekat mengusap lembut bahu putrinya seolah ingin memberi energi agar kuat.


"Pa, pesta tinggal tiga hari lagi, apa yang yang harus kita lakukan?" tanya mama Bella. Pak Santoso diam, ia melangkah keluar meninggalkan keduanya.


🍓🍓


Pria berkulit cokelat  dengan lengan yang terlihat berotot itu duduk sopan di hadapan Pak Santoso.


"Saya harap kamu mau menolong, Aryo!"  suara berat dari pria di depannya menunjukkan bahwa lelaki paruh baya itu tidak main-main dengan permintaannya.


"Kamu tenang saja, tak perlu berpikir tentang biaya, saya yang cover semua," Pak Santoso menghela napas panjang, "setelah menikah nanti, kalian bisa tinggal di rumah yang sudah saya sediakan. Jauh dari tempat ini," sambungnya.


Hening, pria berhidung mancung itu mengusap wajahnya. Permintaan untuk menjadi pria pengganti di pernikahan putri bos-nya bukan permintaan sederhana. Jika menolak, tentu ada konsekuensinya, sedang ia sendiri sangat membutuhkan pekerjaan saat ini. Aryo adalah sopir pribadi Pak Santoso.


Baginya lelaki itu adalah penyelamat. Saat itu ia bingung hendak membayar pengobatan ibunya yang dirawat di rumah sakit. Bersyukur setelah bekerja Aryo bisa membiayai pengobatan sang ibu, meski akhirnya perempuan yang telah melahirkan dia itu pun harus menyerah pada takdir. Hingga pria itu hidup sebatang kara.


Lima tahun lalu, Aryo menolong seorang bapak yang hampir saja di rampok saat baru keluar dari ATM. Kepiawaian Aryo dalam bela diri berhasil membuat perampok lari tunggang langgang. Sejak itu Pak Santoso berniat membalas kebaikan dengan mempekerjakan Aryo sebagai sopir. Meski berprofesi sopir ia juga mengikuti kuliah sore hari, agar kelak bisa memperbaiki nasib.


"Bagaimana, Aryo? Kamu setuju? Jadi kamu hanya perlu menemani sampai Bella melahirkan, setelah itu kalian bercerai," jelasnya menatap intens ke Aryo.


"Ber_ cerai, Pak?" tanyanya dengan suara serak. Lelaki di depannya itu mengangguk.


"Iya, Bella akan sekolah ke luar negeri, dan kamu bisa terus bekerja dengan saya dan menikah dengan wanita pujaanmu," balasnya tersenyum.

__ADS_1


"Saya akan beri kamu jabatan di kantor sebagai staf manajemen. Itu sesuai dengan studi kuliahmu, 'kan?"


Aryo mengangguk, meski otaknya masih berputar-putar memikirkan apa yang akan terjadi di hidupnya.


***


Tak ada binar bahagia di wajah gadis semampai itu. Matanya kosong meski sesekali melempar senyum terpaksa pada para undangan. Gaun pengantin indah  bertabur kristal yang terlihat mahal itu bahkan tak mampu membuat aura gembira muncul. Sementara pria di sebelahnya mencoba bersikap wajar dengan menebar senyum. Sesekali ia harus bersandiwara menggenggam jemari lentik Bella meski terlihat tangannya berkali ditepis.


Hari ini, Aryo Seno telah resmi menjadi suami Bella Anindita, putri tunggal pemilik beberapa perusahaan transportasi. Pria itu sudah lama mengenal Bella tapi sebatas sopir dan anak majikan. Bella sebenarnya gadis baik, ramah. Hanya saja keadaan yang membuatnya menjadi sosok pemurung dan tak banyak bicara. Acara pernikahan mewah telah selesai.


"Aryo, besok kamu berdua bersiap pergi ke  tempat yang sudah kami siapkan," ucap Pak Santoso saat pesta baru saja usai.


"Jangan khawatir, kamu bisa memantau pekerjaan dari rumah. Tak perlu setiap hari ke kantor. Karena jarak tiga jam itu cukup jauh, apalagi jika terkena macet," terang Pak Santoso seakan tahu apa yang dipikirkan manantunya.


"Sudah, sekarang kamu istirahat di kamar," saran Bu Ratih tersenyum lalu mengajak suaminya pergi. Aryo membuang napas kasar menyugar rambut lalu merebahkan diri di sofa. Tak mungkin ia masuk ke kamar Bella, ia cukup tahu diri untuk itu.


Beruntung pesta diadakan di restoran, bukan di rumah. Jika di rumah pasti kerabat Pak Santoso bertanya-tanya.


Pria beralis tebal itu memejamkan mata berharap waktu cepat berlalu dan ia bisa kembali bernapas lega.


Bella duduk memeluk lutut, pipi itu terus basah. Gaun pengantin telah ia lepas dan dibiarkan berserak. Terlihat kesedihan mendalam di mata indahnya. Bella menggigit bibir kuat menahan desak emosi.


"Kamu jahat, Mas Doni! Kamu tega membuat aku begini!" gumamnya beranjak menatap cermin. Sesaat ia menatap nanar pada bayangannya, lalu kemudian melempar apa saja yang ada di depannya ke arah cermin sehingga menciptakan suara berisik.


Aryo yang baru saja memejamkan mata tersentak mendengar jeritan pilu Bella. Cepat ia membuka pintu yang memang tak terkunci. Pria jangkung itu tertegun melihat putri majikannya duduk memeluk lutut di antara barang-barang yang telah berantakan. Bahunya bergetar hebat dengan tangan mengepal.


Meski ragu, Aryo mendekat mencoba menenangkan istrinya. Perlahan ia mencoba menyentuh bahu Bella, tapi gadis itu berontak.


"Jangan sentuh! Pergi kamu!" hardiknya menatap penuh amarah. Aryo diam, pria itu mundur mengangguk.


"Maaf, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Non," ungkapnya pelan. Bella masih menatap marah.


"Kamu pikir aku mau bunuh diri, heh! Picik sekali pikiranmu!" sergahnya. Pria itu  tersenyum menggeleng.


"Baik, aku pergi, setelah semua yang berantakan ini beres. Sehingga Non bisa tidur nyenyak," ucapnya seraya merapikan barang-barang yang tercecer. Gadis itu bergeming masih di tempatnya. Manik matanya mengikuti gerak-gerik Aryo yang sibuk membereskan semua yang ia lemparkan tadi. Tak menunggu lama, kamar sudah kembali rapi.

__ADS_1


"Sudah malam, sebaiknya Non tidur," ujar Aryo tersenyum lalu pergi meninggalkan Bella yang masih termangu.


🍓🍓


Perjalanan ke tempat yang baru tidak begitu jauh, membutuhkan waktu tiga jam saja. Semua perlengkapan dan keperluan sudah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga tak ada yang tertinggal. Sepanjang jalan perempuan berambut sepunggung itu diam. Sedang Aryo tak punya nyali untuk sekedar bertanya, ia hanya fokus mengemudi.


Mereka sampai di rumah mungil bercat hijau nan asri. Halaman luas, dengan beraneka tanaman tertata rapi di sana. Ada pohon mangga rindang yang tengah berbuah membuat nyaman siapa pun yang duduk di depan rumah itu.


Bella turun menenteng dua koper berisi perlengkapannya.


"Non langsung masuk saja, biar aku yang bawa semua ke dalam," cegah Aryo. Bella tak menjawab, ia meninggalkan begitu saja koper itu lalu masuk ke dalam rumah.


Rumah mungil itu sudah lengkap dengan perabotnya. Ada dua kamar di rumah itu, ruang tamu dengan sofa berwarna putih, ruang keluarga dilengkapi televisi dan pantry. Bella memilih masuk ke kamar, wajahnya terlihat sangat lelah.


"Maaf, ini kopernya," ucap Aryo meletakkan koper di depan pintu kamar yang belum tertutup rapat, lalu kembali mengambil tas miliknya di mobil.


🍒🍒


Sore menjelang, Aryo merasa perutnya  harus diisi. Ada beberapa telur di kulkas dan mie instan serta sayur di kulkas. Terbiasa sendiri, membuatnya sigap bekerja apa pun termasuk memasak. Tak menunggu lama dua porsi mie instan lengkap dengan sayuran dan telur siap dinikmati.


Pria itu menatap ke pintu kamar Bella, sejak mereka tiba wanita itu tidak sekalipun keluar kamar. Hal itu membuatnya khawatir, sebab Bella belum makan apa pun.


Dengan membawa semangkuk mie instan yang ia buat tadi, kini ia berdiri di depan pintu kamar wanita itu. Baru saja ia hendak mengetuk pintu, si empunya kamar telah lebih dulu membuka dan menatap heran pada Aryo.


"Ngapain di depan kamar aku?" tanyanya ketus. Lelaki itu tersenyum menyodorkan mie instan buatannya.


"Non belum makan, 'kan? Maaf hanya ada ini di kulkas. Besok aku belanja supaya kamu bisa mendapatkan gizi yang baik untuk ...."


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya," sela Bella masih berdiri di depan pintu.


Aryo diam, tangannya masih memegang mangkuk berisi mie hangat.


"Baiklah, tapi Non harus makan."


Bella menerima mangkuk itu kemudian mengucap terima kasih. Aryo mengangguk tersenyum, lalu berbalik badan kembali ke ruang makan.

__ADS_1


🍓🍓


__ADS_2