
[Episode 039 - Hari Ke Tiga Avant Part 3]
Aufia tidak bisa mengelak lagi ataupun menolak untuk tidak dibawa ke dokter. Avant sudah menggendongnya tanpa memberikan kesempatan memberontak. Disinilah Aufia, duduk dalam mobil yang dikendarai Avant menuju dokter.
Ditatapnya Avant yang fokus mengendalikan kuda besi ini. Entahlah, Aufia gugup untuk saat ini dan buktinya ia mulai memainkan ujung dari kuku-kukunya yang lentik.
"Avant, perutku baik-baik saja. Sudah tidak mual lagi, ayo pulang!"
Satu alasan Aufia agar tidak dibawa ke dokter. Suaranya terdengar lirih karena takut. Apa yang akan ia jelaskan nanti saat ditanya oleh dokter? Apa harus seserius ini hingga dokter yang menanganinya? Astaga...
"Tidak, aku tahu itu alasanmu saja, kau tahu? Kau dari pagi belum makan, bisa jadi itu penyebab utama kau sakit." Sahut Avant tidak ingin kembali ke rumah Bibi, ini sudah setengah perjalanan menuju rumah sakit.
"Kaukan dokter! Kenapa tidak kau saja yang memeriksaku?" tanya Aufia membuat Avant menghentikan mobil dengan tiba-tiba.
"Aawww..!"
Hampir saja kepala Aufia membentur dasbor depan mobil.
"Kenapa berhenti mendadak?" lanjut Aufia bertanya.
"Kau benar, aku dokter." Ucap Avant baru ingat jika dia juga seornag dokter.
Hhh... Aufia memutar bola matanya jengah. Dasar!
"Baiklah, sekarang katakan padaku apa keluhanmu?" satu pertanyaan dari Avant setelah memarkirkan mobilnya ke tepi jalan.
Huh?
"Katakan, rasa sakit itu berada di perutmu yang bagian mana?"
Huh?
Aufia menatap Avant yang disampingnya dengan penuh kebingungan.
"Aku pikir kau hanya dokter gadungan, kau tidak bisa menganalisa sakitku yang sejak tadi mengeluh rasa sakit di perut dan rasanya seperti mual!" Aufia berkata dengan tidak sopan.
"Kau pikir? Aku bertanya karena butuh jawaban yang pasti dan ketika semua jawaban sudah terkumpul akan aku simpulkan penyakit apa yang kau derita! Kau pikir jadi dokter itu mudah?" Avant jelas tidak terima keahliannya diragukan.
"Ya, Tuan Dokter!" Seru Aufia terdengar lebih seperti ejekan untuk Avant.
...•...
...•...
...•...
Setelah berdebat, akhirnya Aufia yang mengalah dan Avant membawanya ke dokter. Kini Aufia diperiksa oleh dokter. Avant menunggu diluar. Setelah pemeriksaan selesai, barulah Avant dipanggil masuk ke ruang dimana Aufia diperiksa.
"Bagaimana keadaan Aufia, Dok?"
Tanya Avant tanpa basa-basi, Dokter juga sudah duduk di kursinya dengan menuliskan beberapa catatan untuk obat yang akan Aufia minum.
"Dia baik, apakah anda suaminya?"
Suami?
Avant maupun Aufia mengerjapkan mata tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan dokter dengan paras cantik ini.
"Suami?" ulang Avant bertanya.
"Bukankah kalian sepasang suami istri?" tanya Dokter itu lagi dengan menatap ke arah Aufia maupun Avant.
"Bukan, Dok! Kami hanya sepasang kekasih." Sahut Avant menjawab pertanyaan Dokter cantik itu yang membuat Aufia hampir tersedak mendengarnya.
"Baiklah, romantis sekali kalian berdua. Jadi kekasih anda ini mengalami gejala maag, dia telat makan sehingga asam lambung naik dan tidak ada yang dicerna, jadi asam lambung bisa saja mencerna dan merusak jaringan dinding lambung itu sendiri. Jadi tolong perhatikan makan dan tepat waktu, usahakan untuk selalu tepat waktu untuk mengisi perut ya.."
Hanya dengan mendengar penjelasan dari dokter, Avant sudah tahu jika Aufia pasti jarang makan atau makan dengan tidak teratur.
__ADS_1
"Kau dengar? Ini gejala maag, itu artinya kau telat makan. Sudah aku bilang kau harus makan! Tapi kau tidak mau, apa akibatnya? Kau sakit bukan? Apa kau pikir sakit itu menyenangkan? Tidak, sakit itu tidak menyenangkan."
Aufia hanya diam mendengar celoteh panjang dari Avant, sedangkan dokter itu tersenyum melihat aksi sepasang kekasih ini yang begitu lucu menurutnya.
"Tuan, tolong ingatkan agar kekasihmu teratur makannya." Dokter memberikan resep obat pada Avant.
"Terima kasih, Dok!" Ucap Avant kemudian berdiri dna menggandeng Aufia untuk keluar dari ruang pemeriksaan.
"Aku tidak mau makan."
Avant membulatkan mata mendengar Aufia yang bicara seperti itu. Keras kepala rupanya.
"Kau ingin mati? Jika iya akan aku bantu. Tidak perlu membuat repot dirimu sendiri, mari selesaikan maka akan cepat selesai." Sahut Avant.
Aufia melirik menatap Avant. "Jadi kau ingin aku mati?"
"Aku tidak menginginkannya, kau sendiri yang membuatnya." Jawab Avant.
"Aku? Kau pikit aku sebodoh apa ingin mati muda?"
"Entahlah, buktinya kau tidak mau makan. Memangnya apa susahnya makan? Kau tinggal bilang ingin makan apa nanti akan kubelikan, bukankah itu sangat mudah bagimu? Atau kau ingin aku menyuapimu? Baiklah akan aku lakukan jika itu maumu. Apalagi yang ku-"
"Berhenti bicaranya! Aku tidak butuh nasehatmu!" Seru Aufia menghentikan kalimat panjang dari Avant.
"Hei! Aufia! Tunggu!"
Avant menyusul Aufia yang melepas gandengannya dan berjalan lebih dulu.
...•...
...•...
...•...
Aufia terdiam duduk di mobil jeep Avant. Suasana malam ini dingin sehingga membuat Aufia memeluk tubuhnya sendiri. Avant yang melihatnya mematikan AC mobil agar Aufia tidak kedinginan lagi. Entah ada apa hari ini, Aufia tidak nafsu untuk makan atau sekedar mengisi perutnya yang jujur saja lapar.
"Aufia, makan ya?"
"Kau kenapa?" lanjut Avant bertanya.
Gaunku...
Tes.
Aufia segera mengusap air matanya yang jatuh agar tidak terlihat Avant. Aufia masih tidak terima gaun indahnya jadi milik orang lain. Aufia tidak bisa melupakan bagaimana ekor menjuntai dengan cantik. Aufia sakit. Hanya memikirkannyapun membuat dada Aufia menjadi sesak. Meski pemilik gaun itu sahabatnya sendiri, Qevna, namun awalny memang tidak ada niatan untuk diberikan pada Qevna.
Gaunku, Avant... diambil Qevna!
Aufia hanya bisa diam tanpa memberi tahu Avant, ia takut jika Avant kecewa atau bahkan marah padanya. Aufia tidak mau itu terjadi, maka dari itu ia diam meski sakit.
Tidak terasa mobil berhenti tepat di depan rumah Bibi. Avant mematikan mesin mobil dan menatap Aufia yang bersandar dengan lesu.
"Apa kau ada masalah?" Avant tidak bisa melihat Aufia seperti ini. Seakan Aufia mengalami hal yang menyakitkan.
"Jika kau ada masalah, kau bisa ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu." Lanjut Avant mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala Aufia.
"Avant!" Panggil Aufia menatap Avant.
"Hm?"
"Aku membuat kesalahan besar, apa aku pantas dimaafkan?" lanjut Aufia.
"Kau ini bicara apa? Memangnya kesalahan besar apa yang kau lakukan? Bukankah disini aku yang membuat kesalahan besar, hm?"
"Tapi kau berusaha memperbaiki kesalahanmu, aku? Aku mungkin tidak bisa memperbaiki kesalahanku."
Avant tidak bisa melihat Aufia sedih seperti ini.
__ADS_1
"Tidak, kau bisa memperbaiki kesalahanmu. Sekarang coba beritahu aku, kesalahan besar apa yang kau lakuakan, hm?"
Avant menatap Aufia dengan lembut juga hangat.
Tidak! Avant tidak boleh tahu jika gaun pemberiannya aku berikan pada orang lain.
"Aku ingin makan nasi goreng." Jawab Aufia dengan polos.
Avant yang mendengarnya pun jadi tertawa meski tertahan.
"Jadi kau ingin nasi goreng, hm?"
"Buatanmu!"
Apa?
Sial.
"Ayolah! Kau tadi sudah menawarkan jasa untuk memasakkan aku bukan?"
Bagaimana bisa dia masih ingat?
"Avant.., ya?"
...•...
...•...
...•...
Bukan cinta sejati jika tidak memenuhi keinginan dari orang yang kita cintai. Kini Avant terlihat sedang bekerja di dapur untuk mengupas bumbu yang akan ia gunakan menggoreng nasi. Aufia sendiri terlihat duduk di kursi meja makan memperhatikan bagaimana pria tinggi ini mengolah bahan makanan.
"Kau ingin rasanya pedas atau tidak?" tanya Avant ketika ingin mengambil cabai.
"Hot Spicy!" Seru Aufia mengedipkan sebelah matanya pada Avant.
Avant mengambil beberapa tangkai cabai dan dimasukkan ke dalam cobek batu.
"Kurang!" Seru Aufia lagi.
Kurang? Avant menatap Aufia dengan tidak percaya.
"Ayo tambah lagi!"
"Hei! Kau tidak makan dari pagi, dan sekarang kau ingin mengisi perut kosongmu dengan makanan pedas? Astaga... pantas saja kau hampir mengidap sakit maag. Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu makan makanan yang pedas, itu tidak sehat! Kau ingat kata doker tadi? Aku harus memperhatikan makanmu, artinya aku bisa mengatur makanan apa saja yang ingin kau makan. Paham?" Jelas Avant pada Aufia dan tidak jadi menambah cabai pada bumbu yang akan ia haluskan.
"Itu jika kau kekasihku! Faktanya kau bukan kekasihku!" Elak Aufia sesuai kenyataan.
Apa? Avant membulatkan kedua matanya mendengar perkataan dari Aufia.
"Kau!"
Avant mendekati Aufia yang duduk dikursi makan.
"Kenapa? Memang benar bukan kau bukan kekasihku?" Aufia berkata benar. Faktanya Avant dan Aufia memang tidak memiliki ikatan apapun.
"Aku memang bukan kekasihmu, tapi kebenarannya aku sudah bisa mengambil hatimu. Benarkan?"
Mengambil hati?
Aufia terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entahlah, kenapa sekarang Aufia merasa canggung menatap kedua bola mata Avant.
"Aku benar bukan?"
Avant menarik dagu Aufia agar mendongak menatapnya. Kedua manik itu bertemu dalam satu pandangan dan semakin hilang jarak diantara keduanya.
CUP.
__ADS_1
Satu sapuan lembut mendarat di bibir ranum Aufia. Dan semakin menyapu indah saat Avant tidak merasakan adanya penolakan dari Aufia.
[Bersambung...]