
[Episode 021 - Pernikahan Part 1]
"Aufiaaaa!!"
Sang Bibi langsung berlari memeluk Aufia yang masih berjalan di gang menuju rumahnya. Tangisnya pecah melihat keponakannya yang pucat pasi karena kehujanan. Bibi juga tidak peduli hujan mengguyur tubuhnya. Dengan cepat Bibi membawa Aufia untuk masuk ke rumah. Tangisan dari Bibi sudah menghiasi telinga Aufia. Rasa cemas, khawatir, takut menjadi satu saat Aufia belum pulang.
"Kau dari mana saja?"
Sang Bibi membawa Aufia duduk diruang tamu, tidak peduli jika sofanya basah. Setelah itu Bibi mengambilkan beberapa handuk untuk Aufia, sebelumnya ia juga sudah menyalakan kompor untuk memasak air.
"Fia? Kau kenapa?"
Tanya Bibi melihat luka pada bibir Aufia. Bahkan sedari tadi Aufia tampak diam tanpa sepatah kata. Matanya kosong tanpa menatap Bibinya.
"Fia! Apa yang terjadi? Kau darimana saja, Nak? Kenapa semalaman kau tidak pulang? Fia! Jawab Bibi!"
Lagi-lagi tangis Bibi pecah karena Aufia tidak seperti biasanya. Kali ini Aufia diam. Kali ini Aufia menunjukkan mata yang kosong. Bibi tahu ini pasti ada hal yang tidak baik. Tapi hal yang tidak baik itulah yang Bibi tidak ketahaui.
Air mata.
Hanya air mata yang berbicara saat ini, Aufia diam tanpa kata namun tetes air mata mulai membasahi pipi. Tangisnya semakin menjadi saat Bibi memeluknya erat. Bibi orang baik, tidak boleh tahu apa yang terjadi. Tidak. Itu akan menyakiti Bibi.
"Fiaa.., Bibi mohon bicaralah pada Bibi! Apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya Bibi kemudian melepas pelukan dan menatap wajah Aufia. Kedua mata Bibi memperhatikan bagaimana wajah yang kusam penuh air mata dan tanpa adanya sirat bahagia. Apalagi ada luka bibir yang menghiasi wajah Aufia.
"Fiaa.." sekali lagi Bibi memohon pada Aufia agar cerita apa yang terjadi.
Namun lagi-lagi hanya air mata yang berbicara tanpa Aufia menjelaskan apapun.
Melihat itu, Bibi hanya menghela nafas. Bibi tahu Aufia belum sanggup bicara, Bibi tahu Aufia begitu berat untuk terbuka, maka dari itu Bibi yang mengalah meski sangat ingin tahu apa yang terjadi.
"Baiklah, tidak masalah jika kau tidak mau bercerita sekarang, yang terpenting kau sudah pulang itu sudah membuat Bibi sangat bahagia. Sekarang kau ke kamar, bersihkan badanmu, ganti pakaianmu, Bibi akan membuatkan susu cokelat untukmu."
Sang Bibi sengaja meninggalkan Aufia yang sendirian di ruang tamu. Ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan dan susu cokelat kesukaan Aufia.
"Maafkan aku, Bibi!"
Begitu Bibi pergi ke dapur, tangis Aufia semakin pecah meski tertahan. Suaranya gemetar pelan dan bahkan tidak terdengar. Aufia tidak berani menyakiti Bibi dengan menceritakan apa yang ia alami. Cukup dirinya yang terhina. Bibi tidak boleh menanggung apa yang telah Aufia alami.
Untuk itu Aufia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya benar-benar berantakan saat ini, dapat Aufia lihat dari pantulan gambar yang tercetak dalam cermin yang ada dikamar Aufia. Air mata terus mengalir walau mata Aufia sudah sembab dan memerah. Ini benar-benar hancur.
Tempat tidur bertilam cokelat milik Aufia menjadi pilihan Aufia untuk menyamankan pantat saat duduk. Aufia menunduk malu. Aufia sudah tidak suci. Aufia sekarang menjadi wanita yang menjijikkan. Aufia bukanlah anak gadis yang baik. Aufia sekarang bukan Aufia yang dulu.
"Aku harus memulainya dari mana, Ibu? Ayah? Aku harus apa sekarang ini?"
__ADS_1
Aufia merutuki nasibnya yang tidak baik. Entah apa kesalahannya, namun kenapa sekejam ini hukumannya? Dengan miris Aufia menatap kedua tangannya yang bergetar tanda takut. Merah. Pergelangan Aufia memerah karena Avant.
TIDAAKK!!
JANGAN SEBUTKAN NAMA ITU!!
TIDAAKKKK!!!
Aufia melempar bantal ke pantulan cermin yang memperlihatkan gambarnya. Cermin itu tidak pecah karena bantal yang tidak tajam. Aufia kembali menangis. Tubuhnya lelah namun Aufia juga ingin membersihkan sisa-sisa jamahan pria tak berotak itu.
...•...
...•...
...•...
Malam hari hujan mulai reda. Bintang-bintang di langit bersinar dengan terang tanda awan hitam tidak datang. Bahkan bulan terlihat cerah bersinar di atas.
Malam ini, Hadiyata sudah dibolehkan pulang karena kondisi kesehatannya yang semakin membaik. Dengam kursi roda, Hadiyata duduk didorong oleh Avant. Sebelumnya Ibu sudah menelpon pihak rumah untuk mengirimkan satu mobil untuk mereka pulang dari rumah sakit.
Mobil hitam sudah menunggu di pintu utama rumah sakit. Kursi roda yang di dorong Avant disambut dua bodyguard yang langsung menggantikan tugas Avant yang mendorong kursi roda. Ibu juga menyusul untuk masuk ke dalam mobil setelah melihat suaminya sudah masuk duluan.
"Avant?" seru Ibu ketika Avant tak kunjung masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati jika mengendarai motor, jangan mengebut!" Sahut sang Ayah mengingatkan, karena Hadiyata tahu persis bagaimana anak laki-lakinya itu membawa motor.
"Siap, Ayah!"
Mobil melaju meninggalkan rumah sakit dan Avant.
"Aku masih ada urusan di kedai kopi, Ayah."
Gumam Avant kemudian melangkah menuju parkir mengambil motornya.
Jalanan sepi meski hujan sudah reda. Maka dari itu Avant melaju dengan cepat tanpa mengingat nasehat dari Ayahnya. Avant sudah terbiasa mengendarai motor maupun mobil dengan kecepatan tinggi. Karena Avant pengendara yang handal.
Secepatnya Avant mengendarai motor, namun ia menghentikan motornya saat melewati resto bintang lima yang menjadi favoritnya untuk memesan makanan. Avant turun dari motor dan masuk ke resto tanpa melepas pelindung kepalanya, helm. Tidak lama Avant di dalam karena sekarang Avant sudah keluar dengan membawa dua kantong plastik berwarna putih.
Avant kembali mengendarai motor menuju kedai kopi. Rupanya Avant ingat pada Aufia. Untuk itu ia membelikan makanan untuknya.
Sebenarnya Avant tidak ingin melakukan ini pada Aufia. Namun rasa sakit dan kecewa melebihi apapun. Apalagi Ayahnya yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban dari kekacauan yang sama sekali tidak berdasar ini.
Sakit.
__ADS_1
Avant sendiri sakit setelah melakukan hal serendah itu pada Aufia. Rasanya Avant sudah melampui batasannya. Masih diingat betul bagaimana tangis Aufia menolak kenyataan, namun Avant juga ingin membuktikan jika penilaian Aufia terhadapnya salah.
Tak lama dan tak butuh banyak waktu, Avant mengendarai motor yang sekarang sudah sampai di kedai kopi.
"Dia pasti lapar. Dari siang hingga malam aku tinggal sendirian."
Pria pemilik tungkai panjang itu turun dari motor dengan membawa dua plastik putih untuk Aufia. Dengan mudah tanpa ribet Avant membuka pintu depan kedai. Langkahnya semakin cepat untuk menuju ke lantai atas. Tak lupa juga ia untuk menutup pintu.
"Sayang! Aku pulang!"
Teriak Avant begitu sampai di lantai paling atas, lantai ke tiga.
"Say-"
Avant menghentikan kalimatnya saat mengetahui tidak ada Aufia di dalam kamarnya setelah membuka pintu.
"Aufia?"
Kakinya melangkah masuk dan mencari Aufia ke dalam kamar mandi namun kosong.
Panik. Avant mulai panik.
"Kemana bocah itu?"
Avant kembali memeriksa kamar mandi namun tetap kosong.
Dengan cepat Avant mencari ke seluruh ruangan untuk menemukan Aufia. Dari lantai paling atas hingga bawah namun hasilnya nihil. Di usapnya dengan kasar wajahnya karena tidak bisa menemukan Aufia dimana-mana.
Kemana dia?
Avant mulai panik saat tak menemukan Aufia.
Astagaaa...
Dapat dilihat sekarang bahwa pintu belakang yang ada di dekat dapur terbuka. Sudah dipastikan jika Aufia keluar lewat sana.
"AAAARRRGGHHHH...!! SIAAAL!"
Terial Avant marah karena tahu Aufia sudah kabur melalui pintu belakang.
"Awas kau Aufia! Kau tidak akan bisa lepas dariku!"
[Bersambung...]
__ADS_1