
[Episode 043 - Hari Ke Empat Avant Part 2]
"Aku marah."
Satu kata dari Aufia yang mampu menarik Avant untuk menoleh dengan tatapan tidak percaya.
Marah? Tapi Avant sadar itu karenanya.
"Iya, aku salah!"
Aufia menoleh menatap Avant. "Memangnya aku marah pada siapa?"
Eh?
"Aku! Jika bukan padaku siapa lagi?"
Aufia kembali menatap ke jalanan depan. Ia menghela nafas lalu meletakkan buku yang ia peluk diatas dasbor mobil. Aufia kini bersandar dan memejamkan mata untuk menyamankan punggungnya.
"Mengantuk?" tanya Avant yang melihat tingkah laku Aufia.
"Tidak."
"Lalu untuk apa memejamkan mata?" tanya Avant lagi. Ia menghentikan mobil jeepnya di persimpangan jalan karena lampu merah menyala.
"Avant, jika kau sibuk, hari ini tidak perlu dihitung sebagai kesempatan keduamu." Sahut Aufia yang keluar jalur.
Apa?
"Kenapa? Aku tidak sibuk, aku tidak memiliki kesibukan hari ini. Untuk apa ditunda? Akukan sudah izin ke dosenku, tidak mungkin aku harus izin lagi. Bisa-bisa aku di DO dari kampus." Jelas Avant tidak terima jika hari ini tidak dihitung sebagai hari pembuktiannya pada Aufia.
"Oh! Jadi tidak sibuk, lalu kenapa tadi pagi tidak mengangkat telepon dariku?" tanya Aufia menoleh menatap Avant dengan tatapan penuh kecurigaan.
Eh?
Jebakan.
"Tadi pagi aku masih mandi."
Bohong.
"Aku menelponmu mulai dari pukul 6 pagi sampai pukul 8, mandi dua jam?"
Mampus. Avant menelan ludahnya.
"Iyaaa, setelah mandi aku masih sibuk membersihkan kamar."
"Kau tidak pandai berbohong. Aku tahu kau ada masalah, ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu."
"TIDAK!" Seru Avant dengan nada tinggi hingga membuat Aufia terkejut menutup kedua telinganya.
Aufia?
"Maaf, aku tidak sengaja, Aufia! Maafkan aku!"
Avant menghentikan mobilnya di pinggir jalan hanya untuk meraih Aufia dalam dekapannya agar tidak merasa takut dengan apa yang sudah ia lontarkan dengan nada tinggi tadi. Avant merasa sangat bersalah melihat bagaimana paras Aufia yang takut sampai menutup kedua telinganya.
"Jangan berteriak, kumohon." Pinta Aufia dengan lirih, bahkan tangannya tidak pindah. Masih menutupi kedua telinganya.
"Maaf! Maafkan aku! Aku janji tidak akan mengulanginya."
Avant terus mengusap punggung juga mengecup puncak kepala Aufia agar tenang. Ketakutan Aufia tadi benar-benar diluar dugaan. Apalagi ia berteriak juga tanpa sadar. Terlontar begitu saja.
"Jika kau tidak mau berbagi denganku, tidak perlu marah."
Astaga... sakit mendengar suara Aufia yang lirih dan bergetar.
"Tidak, aku tidak marah. Maaf, ya?"
__ADS_1
...•...
...•...
...•...
Sudah 3 hari tidak masuk kampus rasanya menjadi asing di lingkup tempat Aufia mencari ilmu ini. Ia berjalan di koridor sendirian untuk menuju perpustakaan kampus. Beberapa mata tampak menatap aneh pada Aufia karena berita yang beredar itu kadang masih menguap di kampus. Namun, Aufia tetap menenangkan diri agar tidak terbawa hasutan amarah seperti yang dilakukan Avant.
Berbicara tentang Avant, ia tadi berhenti tepat di halte bus biasa Aufia menunggu bus. Aufia tidak ingin orang lain melihatnya. Untuk itu Aufia meminta agar Avant berhenti disana. Cukup jauh sebenarnya jika Aufia berhenti di haltr bus karena masih menempuh kampus dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.
"Aufiaaa!!"
DEG!
Qevna?
Aufia melihat Qevna yang duduk dikantin. Ia tersenyum bertemu Qevna saat melewati kantin kampus. Qevna berlari menghampiri Aufia, untuk itu Aufia menghentikan langkahnya sejenak menunggu Qevna.
"Kau kemana saja? Kenapa baru masuk kuliah?" tanya Qevna kemudian ikut berjalan disamping Aufia.
"Aku memang mengambil cuti, untuk itu aku tidak masuk. Ini aku ingin mengembalikan buku perpustakaan karena sudah lewat masa peminjaman." Jelas Aufia yang melanjutkan berjalan karena belum sampai di perpustakaan. Tidak akan mungkin Aufia mengatakan hal yang jujur pada Qevna kali ini.
"Sini! Biar aku bawakan!" Sahut Qevna mengambil 4 buku yang dibawa Aufia.
"Eh! Jangan! Biar aku yang membawanya!" Kini Aufia kembali mengambil bukunya.
"Biar adil, kau dua, aku dua!" Ucap Qevna membagi bukunya menjadi sama.
Aufia tersenyum meski ia masih ingat betul bagaimana Qevna yang meminta gaun pernikahannya. Sakit. Tapi Aufia harus rela meski sebenarnya tidak rela. Sebenarnya Qevna adalah sahabat terbaik dan paling mengerti. Lihat! Hanya membawa buku saja Qevna tidak membiarkan Aufia menanggung beban berat buku. Itu tanda jika Qevna baik di mata Aufia. Sahabat selamanya.
"Aufia, pulang aku antar ya?" tawar Qevna pada sahabatnya.
Diantar? Jika Aufia diantar Qevna, maka bagaimana dengan Avant dan hari ke empatnya? Tidak. Qevna tidak boleh mengantar Aufia, jika tidak maka akan gagal semua susunan acara hari ini.
"Tidak perlu, aku pulang naik bus saja." Elak Aufia kemudian masuk ke dalam perpustakaan yang diikuti Qevna.
"Kenapa? Naik bus itu merepotkan, menunggunya akan lama!" Sahut Qevna mengingatkan Aufia jika menunggu bus akan memakan banyak waktu.
"Tidak masalah, akukan sudah terbiasa. Jadi, tidak akan lama menunggu bus datang."
Aufia mengambil dua buku yang dibawa Qevna dan meletakkannya pada loker pengembalian buku. Petugas memeriksa keadaan buku lalu meminta tanda tangan dari Aufia. Sedangkan Qevna berdiri disamping Aufia menunggunya.
"Terima kasih!" Ucap Aufia tersenyum pada petugas perpustakaan.
"Kau tidak meminjam buku lagi?" tanya Qevna yang mengikuti langkah Aufia keluar dari perpustakaan.
Hhh... Aufia menghela nafas melihat tingkah Qevna. Entahlah, rasa sakit begitu kentara hingga Aufia menjadi malas meski hanya untuk sekedar mengobrol dengan Qevna. Aufia tahu mungkin fase ini akan bertahap, maka dari itu ia lebih memilih menghindari hal-hal yang menyakitinya.
"Jika aku pinjam, aku tidak akan keluar." Jawab Aufia singkat.
"Aku duluan ya, sebentar lagi bus akan lewat! Sampai jumpa!" Lanjutnya melambaikan tangan lalu pergi.
Terlihat Qevna yang mengatupkan kedua bibirnya karena tidak jadi menghamburkan kata-kata untuk Aufia. Ia melihat Aufia yang terus berjalan dengan cepat menjauh. Tidak seperti biasanya. Aufia selalu menerima tawarannya ketika Qevna ingin mengantarkan pulang. Tapi kali ini? Kenapa Aufia menolaknya?
Qevna hanya berdiri di depan perpustakaan dengan meremat ujung kain dari bajunya.
"Kenapa Avant tidak membalas pesanku ya?"
Tiba-tiba saja Qevna ingat dengan pesan tadi pagi yang sempat ia kirim untuk Avant.
"Apa aku main ke rumahnya saja?" gumamnya lagi.
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
Berbeda dengan Avant yang masih bertengger di dalam mobil jeepnya. Ia menunggu Aufia untuk keluar dari kampus. Sebenarnya sangat ingin berjalan disamping Aufia hingga ke kampus, namun Aufia memintanya agar lebih baik menunggu di luar dan tidak ada satupun yang melihatnya. Itu lebih aman.
Senyum Avant mengembang ketika melihat sosok mungil berjalam sendirian menghampirinya. Panas, tapi Avant bisa apa jika Aufia sudah melarangnya keluar mobil? Yah, Avant diam dan membiarkan Aufia masuk mobilnya.
"Sudah selesai?"
Satu pertanyaan dari Avant ketika mendapati Aufia kini sudah kembali dan masuk ke dalam mobil. Tampaknya ada yang mengacaukan hatinya sehingga muka Aufia seperti di tekuk.
"Kau kenapa?" lanjut Avant bertanya.
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Aufia berbohong.
"Hei, kau pikir aku anak kecil yang bisa kau tipu? Jelas-jelas wajahmu itu masam, apa kau kena denda perpustakaan? Atau kau dimarahin petugasnya karena telat mengembalikan buku?"
Aufia menggeleng pelan malas menjawab pertanyaan dari Avant.
"Ayo, pulang!" Lanjut Aufia dengan malas.
Avant tidak bisa berkutik, dia lebih baik menurut saja jika tidak maka Aufia akan jauh lebih buruk dari mukanya yang masam. Untuk itu Avant menyalakan mesin mobil dan pergi dari area kampus.
Terlihat Aufia hanya diam tanpa kata. Avant yang menatapnya jadi tidak tega membiarkan gadisnya larut dalam kebungkaman hati yang tidak tersenyum.
"Mau kemana?" tanya Aufia sadar ketika tidak melewati jalan untuk pulang.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan hari ke empatku." Jawab Avant.
Aufia menghela nafas lalu menundukkan wajahnya. Ia masih teringta bagaimana senyum Qevna, sahabatnya. Entahlah, kini Qevna berubah menjadi sosok yang paling Aufia hindari hanya karena gaun pernikahan.
"Maaf."
Eh?
Avant menoleh menatap Aufia yang mengatakan kata 'maaf' dengan nada rendah dan hampir tidak terdengar.
"Aku tahu, tidak perlu kau katakan apa-apa, tugasku hari ini adalah membahagiakanmu!"
Avant tersenyum meski Aufia tidak menatapnya. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala Aufia yang membuat gadis berponi ini mendongak tersenyum menatapnya.
"Terima kasih."
Avant mengangguk menatap Aufia yang tersenyum manis.
Mobil jeep yang mereka tumpangi melaju melewati beberapa mobil. Avant memang pandai mengendalikan mobil hitamnya. Dan tentu saja tidak butuh waktu lama untuk menempuh tempat yang menjadi tujuannya kali ini.
Disinilah mereka berdua, setelah memarkirkan mobil ditempat parkir, kini Avant dan Aufia berjalan memasuki lift yang membawa mereka untuk ke atas. Sebenarnya Aufia tidak tahu ini dimana, bahkan gedung apa yang ia masukin pun ia tidak tahu. Ia hanya mengikuti kemana langkah Avant mengajaknya.
"Avant, kita dimana ini? Ini gedung siapa?"
Patut jika Aufia bertanya. Ia merasa kecil dan asing untuk gedung tinggi pencakar langit yang sama sekali tak ia kenal.
"Tenanglah, ada aku disini." Tangan Avant menggenggam erat tangan Aufia.
"Aku tahu kau disini, tapi darimana kau tahu ada tempat seperti ini? Dan untuk apa kita disini?"
Avant hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Aufia. Ia bisa memahami gadisnya bertanya seperti itu. Tapi Avant enggan menjawab pertanyaan Aufia, ia lebih memilih untuk diam karena ini adalah kejutan untuk Aufia.
Berada didalam lift membuat Aufia takut, ia melirik masih berada di lantai 30-an. Aufia memilih memeluk lengan Avant karena takut berada di benda kotak yang terus membawanya naik.
"Kita akan ke lantai berapa?"
Aufia mendongak menatap Avant.
"Paling atas."
Huh???
[Bersambung...]
__ADS_1