Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 10


__ADS_3

Kelak kau akan temukan bahwa perpisahan hanya sebuah jalan untuk kembali dipertemukan


🥀🥀


"Aku dan keluarga pria itu telah sepakat mengikat mereka ke dalam ikatan pernikahan."


Aryo menarik napas kemudian mengangguk tersenyum. Ia menatap pria paruh baya di depannya yang juga tengah tersenyum.


"Lalu bagaimana denganmu? Siapa nama gadis itu?"


Lelaki yang memiliki rahang kokoh itu mengusap tengkuk seraya tersenyum.


"Dia yang datang di wisudamu tempo hari, 'kan? Ah, sudahlah tidak perlu menyembunyikan hal itu dari saya ... bagaimana? Kamu sudah merancang masa depanmu dengan dia bukan?" cecar Pak Santoso ingin tahu. Aryo lagi-lagi tersenyum menanggapi.


"Apa Non Bella sudah mengetahui, Pak?"


Pak Santoso menggeleng, kemudian berkata, "nanti dia akan tahu. Tapi tidak dalam waktu dekat. Mungkin setelah melahirkan."


"Aryo, saya sangat berterima kasih. Kamu sudah menjaga dan melindungi putriku dengan baik," tuturnya.


Lelaki berkulit cokelat itu mengangguk.


"Saya hanya berharap, Non Bella bisa bahagia dan kembali menata hidupnya dengan baik, Pak."


Menanggapi ucapan Aryo, Pak Santoso mengangguk setuju.


🥀🥀


Aryo masih menekuri laptop di ruang tengah saat Bella mengajaknya makan malam. Hari itu sepanjang siang, Bella berkutat di dapur hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya pun bisa masak.


"Bisa ditinggal dulu kan itu kerjaan?" protesnya kesal karena merasa diacuhkan.


Aryo tersenyum kemudian mengangguk mematikan layar di depannya. Tercetak senyum di wajah Bella saat pria itu mengikuti permintaannya.


"Masak apa, Non? Aromanya sedap!" Aryo melihat hidangan yang telah tersaji di meja makan.


Antusias Bella bercerita bagaimana ia bersusah payah membuat sop buntut kegemarannya. Aryo mendengarkan semua penuturan Bella dengan seksama. Baginya, melihat mata perempuan itu saat bercerita seperti bintang yang tak pernah berhenti berkelip.


"Nah sekarang kamu coba deh. Enak atau enggak, aku harap tidak mengecewakan," pungkasnya menutup kisah. Satu mangkuk kecil berisi sop buntut ia sodorkan. Pria itu menerima dengan mengucap terima kasih.


"Enak?" tanyanya dengan mata mengerjap. Lagi-lagi Aryo suka mata itu.


Sejenak ia mencecap merasakan kuah sop di lidah, kemudian tak lama mengangguk dengan mengacungkan jempol pada Bella. Mata bening itu membulat tak percaya.


"Beneran enak?"


"Bener!"


Seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan, ia bersorak gembira. Hingga lupa pria di depannya memandang dengan tatapan hangat.


"Jadi nggak nih makannya, Non?"


Bella tersenyum malu menyadari tingkahnya barusan. Cepat ia memberikan piring yang sudah ia siapkan pada Aryo. Keduanya menikmati hidangan makan malam bersama.


"Aryo, aku boleh minta nggak?" tanya Belle saat ia selesai makan.


"Boleh, Non. Kalau saya bisa pasti saya beri. Eum, ada apa?" Lelaki itu meletakkan gelas yang baru saja ia tandaskan isinya.

__ADS_1


"Kamu bisa kan panggil aku Bella aja? Terus nggak usah pake saya, pake aku kamu aja, gitu ...," Bella menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "aku risih. Sebenarnya udah lama mau bicara ini. Gimana? Kamu bisa, 'kan?" lanjutnya.


Aryo tersenyum tipis lalu mengangguk berucap, "oke, Bella."


Keduanya tertawa kecil.


"Thanks, Aryo. Kamu sudah banyak membantu dan banyak memberi aku pelajaran ... aku rasa kamu berhak mendapatkan bahagia!"


Pria itu diam, kali ini hatinya telah yakin bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada putri sang majikan. Tapi lagi-lagi ia tersadar bahwa dirinya hanya orang yang tengah berada di situasi yang salah.


Pak Santoso sudah mengatur sedemikian rupa hidup putrinya itu. Jelas tak ada lagi celah baginya untuk bisa masuk. Lagipula tidak yakin seorang Bella Anindita jatuh cinta pada pria sepertinya.


"Aryo, kamu melamun?"


Aryo tersadar lalu tersenyum menyugar rambutnya.


"Kamu pasti sangat kehilangan Aira ya?" Terdengar nada sedih dari suara wanita itu.


Pria itu mengusap wajahnya kembali menggeleng, seraya mengatakan bahwa ia sudah merelakan pernikahan gadis itu.


"Maafkan aku, Aryo. Semua pasti karena aku."


"Bukan, bukan karena siapa pun. Aku dan Aira memang bukan jodoh. Itu saja," tuturnya.


Hening sesaat, mereka masing-masing larut dalam suasana.


"Sudah malam, kamu istirahat. Biar aku yang beresin semua ini." Aryo beranjak dari duduk membereskan meja. Bella masih diam, ada tergambar duka di wajahnya.


"Bella, kenapa?" Ia mendekat.


Bella menatap dirinya di pantulan cermin. Perut yang terlihat semakin membesar membuat ia merasa menjadi seseorang yang berbeda.


Andai ia dulu tak melakukan hal terlarang tentu kini ia tengah bahagia dengan entah itu siapa. Tapi saat ini bukan ia tidak sedang berbahagia, tapi ada kebahagiaan lain yang diberikan Tuhan padanya.


Pergerakan bayi dalam rahimnya membuat ia memiliki rasa lain yang sebenarnya ingin ia bagi. Jauh di lubuk hati ia ingin bercerita tentang kehidupan yang ada di dalam sana.


Ia ingin membagi bahagia itu pada Aryo, seseorang yang menurutnya paling pantas tahu tentang kehidupan dan kebahagiaan kecil miliknya.


Namun, ia ragu dan cukup tahu diri, bahwa bayi dalam kandungannya bukan milik Aryo. Tak mungkin pria itu bisa merasakan kebahagiaan yang ia punya. Pria itu hanya melakukan apa yang diperintah sang papa padanya, tanpa rasa cinta tentu.


Bella menarik napas dalam-dalam. Cinta, lima huruf itu begitu lama tak ia dengar. Kata itu sangat mahal kini di telinganya. Betapa dulu ia menyerahkan semua atas nam cinta tapi justru yang ia terima sebaliknya.


Air mata Bella luruh perlahan, betapa ia ingin didengar sebagai seorang ibu yang tengah hamil besar. Betapa ia ingin ada seseorang yang menyentuh lembut perutnya lalu membisikkan kata sayang pada bayi mungil di dalam sana.


"Bella ... kamu belum minum susu malam ini, buka pintunya." Suara Aryo terdengar, ia enggan membukakan pintu tersebut. Bella makin larut dalam sedih.


Lelaki yang saat ini mencurahkan perhatian padanya itu, sebentar lagi tak berada di sisi setelah kelahiran putranya. Entah mengapa mendadak ia merasa tak ingin kehilangan lelaki bijak itu. Setelah beberapa bulan mereka bersama-sama ada rasa nyaman yang ia rasakan.


"Bella ... maaf pintunya terpaksa aku buka. Kamu tidak menguncinya," ujar Aryo sudah berada di depan pintu. Melihat mata Bella berair dan pipi yang basah, Aryo mendekat.


"Kenapa menangis? Mana yang sakit?" tanyanya lembut. Wanita itu menggeleng mengusap pipinya.


"Minumlah, lalu istirahat. Kamu pasti lelah seharian memasak tadi," tuturnya mencoba menghibur Bella.


"Makasih." Bella kembali menyerahkan gelas yang telah kosong kembali pada Aryo.


"Bicara jika kamu ingin berbagi. Aku ada! Jangan menangis," ucapnya kemudian melangkah ke luar.

__ADS_1


🥀🥀


Pagi itu Bella enggan keluar kamar, meski Aryo memanggilnya sejak tadi. Hari itu genap usia kandungannya masuk bulan ke delapan. Itu berarti satu bulan lagi ia akan segera melihat rupa sang putra. Entah harus gembira atau sedih. Semakin dekat saat bersalin ia semakin takut jauh dari pria yang memberikan rasa nyaman itu.


"Bella, sarapan dulu. Hari ini jadwal kontrol, 'kan?" Aryo kembali memanggilnya seraya mengetuk pintu. Bella menghela napas, meski malas ia melangkah lalu membuka pintu.


"Kita sarapan yuk. Aku beli bubur ayam tadi," ajaknya menggandeng tangannya dan isyarat ke meja makan. Bella mengangguk membiarkan tangan Aryo menggenggam erat tangannya. Desir itu kembali menyapa hati Bella. Desir yang belakangan ini terasa saat berada di dekat pria itu.


"Nah, yuk kita makan. Oh iya, kamu ikut golongan yang mana nih?" tanyanya saat mereka sampai di ruang makan.


Bella mengernyit tak mengerti.


"Golongan apa?"


"Golongan makan bubur diaduk atau golongan makan bubur tanpa diaduk?" candanya tertawa lepas diikuti tawa Bella.


"Pagi ini jadwal kontrol, 'kan?" Aryo kembali mengingatkan. Bella mengangguk cepat.


"Dia pasti sudah lincah bergerak ya?" Aryo melihat perut Bella.


Kembali ia mengangguk kemudian mengusap perutnya.


"Dia sering menendang, kuat sekali!"


"Oh ya? Sekarang ... apa dia juga sedang menendang?" tanya lelaki itu ragu seolah ingin merasakan lincahnya gerakan bayi di perut wanita itu.


Bella mengerti, ia meraih tangan kokoh Aryo, mengarahkan ke perut.


"Rasakan!"


Mereka saling tatap dengan tangan berada di tempat yang sama, di perut Bella. Tak ada yang tahu jika masing-masing dari mereka tengah merasakan gemuruh dalam dada yang tak biasa. Degup jantung Aryo terasa bergetar lebih kencang demikian pula Bella.


Sadar ia telah terbawa jauh, Aryo menyudahi kontak mata itu dengan berkata, "aku bisa merasakan dia menendang kuat."


Bella mengangguk menyembunyikan wajahnya yang merona malu setelah sadar ia berada sangat dekat dengan pria yang diam-diam telah mengambil hatinya itu.


"Kamu siap-siap, aku antar ke klinik sekarang," ujarnya pada Bella. Wanita itu lagi-lagi mengangguk. Ada rasa hangat sekaligus nyeri mendengar ucapan Aryo. Hangat karena bahagia mendapatkan siraman perhatian, nyeri membayangkan saat perpisahan semakin dekat.


🥀🥀


"Selamat, Bu, Pak. Putra Anda sehat! Gerakannya sangat lincah! Sepertinya ia penggemar olah raga," tutur dokter ramah berambut sedikit putih itu sambil tersenyum.


Bella dan Aryo saling pandang sejenak, mereka bertukar senyum.


"Ini sudah menginjak bulan ke delapan ya.  Semoga nanti lahirnya lancar, ini anak pertama?" Dokter itu menatap keduanya.


"Iya, dokter. Anak pertama," sahut Aryo yakin sambil tersenyum.


"Biasanya kebanyakan para suami tidak tega mendatangi istrinya saat hamil tua begini, padahal berhubungan **** saat hamil tua sangat aman. Cukup mengatur posisi **** agar tidak menyakitkan bagi ibu hamil saja. Jika merasa kelelahan, ibu hamil bisa istirahat terlebih dulu dan melakukan relaksasi agar tidak merasakan kontraksi," jelas dokter itu panjang lebar.


Aryo tersenyum-senyum mengangguk mendengar penuturan dokter tersebut. Sekilas ia melirik Bella, wajahnya terlihat memerah malu.


"Tidak perlu malu, bukan pornografi, tapi ini edukasi bagi pasangan muda seperti kalian, sebab berhubungan **** selama kehamilan bisa memberi manfaat bagi ibu hamil, diantaranya, membuat perasaan tenang, menimbulkan rasa cinta, mencegah keguguran juga mencegah bayi lahir prematur," imbuhnya lagi.


Kembali mereka berdua hanya bisa mengangguk tersenyum. Setelah menerima resep, keduanya keluar ruangan dengan perasaan canggung.


🥀

__ADS_1


__ADS_2