
Yang Terdalam
19
Cinta mengajariku melihat dengan cara memejam dan mengerti tanpa perlu penjelasan."
***
"Iya, kamu Doni, 'kan?" Bella kembali mengulang dengan menyebut nama pria masa lalunya. Aryo menatap ke mata Bella dalam-dalam.
"Bukan, Bella. Aku Aryo, bukan Doni," tuturnya lembut.
"Maaf, tadinya aku pikir kamu ...."
"Pak Aryo, bisa ikut saya sekarang?" Seorang perawat muncul di pintu, "dokter ingin bicara dengan Anda," sambungnya.
"Bella aku tinggal dulu ya."
Aryo mengikuti langkah perawat itu menuju ruangan dokter. Setelah dipersilakan duduk, dokter menjelaskan kondisi Bella yang sesungguhnya. Wanita itu mengalami amnesia retrogade.
Amnesia jenis ini ditujukan kepada seseorang yang kesulitan untuk memperoleh kembali ingatan di masa lalu. Hal yang menyebabkan seseorang mengidap amnesia jenis ini karena pernah mengalami cedera pada otak.
Hal ini terjadi pada Bella, wanita itu terkena benturan cukup kuat di kepala saat kecelakaan terjadi. Menurut dokter Bella harus menjalani beberapa terapi. Terapi agar ia bisa kembali. Terapi okupasi, terapi ini mengajarkan pasien untuk mengenalkan informasi baru dengan ingatan yang masih ada.
"Tapi dengan catatan, harus perlahan, Pak. Kita harus sabar," jelas dokter itu sambil tersenyum, "selain itu ada juga terapi kognitif, terapi ini bertujuan untuk memperkuat daya ingat pasien dengan cara bantuan teknologi, seperti telepon, tablet," sambungnya lagi.
Aryo mendengarkan dengan seksama. Ia mulai paham kenapa wanita itu memanggil dia dengan nama Doni.
"Lalu apakah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan itu semua, Dokter?"
"Tergantung pasien, jadi kita tidak boleh memaksa dia untuk segera memulihkan ingatannya."
Setelah banyak mendapat wejangan dari dokter mengerti kemudian pamit kembali ke ruangan Bella. Di sana sudah ada Pak Santoso, Bu Ratih, Tomi juga Mbok Win dan tentu saja Archie. Aryo menguluk salam masuk ke ruangan.
Ada tatapan sedih terpancar dari wajah mereka semua.
"Aryo ... Bella ...."
"Kita harus bersabar, Pak." Aryo memotong kalimat Pak Santoso.
"Tapi dia juga tidak mengenali Archie," bisik Bu Ratih.
Bella menatap Aryo penuh tanya.
"Kamu bilang kamu Aryo ya? Perawat bilang kamu suamiku?"
Aryo menatap kedua mertuanya ragu. Bu Ratih menyeka air matanya lalu mengangguk, "iya, Nak. Dia suamimu."
Bella diam kemudian memandang Archie.
"Lalu dia? Dia ...."
"Dia anakmu," ungkap Pak Santoso.
"Lalu Doni? Kenapa aku tidak bisa mengingat kalian semua? Kenapa di kepalaku hanya Doni?" Bella berteriak histeris memegang kepalanya. Sontak hal itu membuat Aryo khawatir, cepat ia meraih bahu wanita itu berharap bisa menenangkannya.
"Kamu siapa? Jangan pegang!" Bella menghindar menepis tangan pria itu.
"Dia suamimu, Bella!" Papa Bella tak sabar.
"Aku punya suami? Sejak kapan aku punya suami? Aku tidak kenal siapa dia!" Bella tersedu menelungkupkan tangan ke wajahnya. Aryo pelan mundur melepas tangannya. Ada bias kecewa terukir jelas di raut mukanya.
"Sabar, Yo!" Tomi menepuk pundaknya.
"Aku tahu, Tom. Makasih," balasnya. Pak Santoso tampak sedikit kesal dengan Bella dengan wajah marah ia kembali mengatakan bahwa Aryo adalah suaminya.
"Kamu yakin tidak mengingat Aryo?" tanyanya pada sang putri. Bella masih tergugu, ia menggeleng.
"Bella, dia suamimu. Sepulang dari rumah sakit ini, kamu pulang dan kembali bersama dia!" tegasnya.
Bu Ratih mencoba meredakan kemarahan sang suami.
__ADS_1
"Dan Archie ... dia anakmu bersama pria yang kamu ingat namanya itu!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Pak Santoso mengajak istrinya keluar dari ruangan.
"Aryo, keputusan semua ada padamu. Jika kamu tidak sanggup kembalikan dia pada kami. Tapi saya tahu seperti apa perasaan kamu padanya." Pria itu menepuk bahu Aryo lalu pergi.
***
Kondisi fisik Bella semakin baik, hingga dokter memutuskan wanita itu boleh pulang. Meski ia harus terus terus kontrol dan terapi untuk pemulihan ingatannya. Siang itu, Aryo mengajak Bella pulang ke rumah mereka. Binar bahagia tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Meski wanita itu belum ingat siapa dirinya.
"Wellcome home, Bella," ucap Aryo saat membuka pintu. Bella tersenyum singkat mengamati seluruh ruangan. Mbok Win menyambut dengan senyum seraya menggendong Archie.
"Dia tinggal di sini juga?" tanya Bella saat ia meletakkan tubuh di sofa. Perempuan itu mengangguk tersenyum. Matanya menatap sekilas pada Aryo, pria itu mengangguk memberi isyarat agar Mbok Win menghampiri Bella.
"Dia lucu ya, Mbok." Ia menatap gemas pada Archie, "boleh saya pangku?"
Mengangguk, pelan Mbok Win memberikan Archie padanya. Lama ia menatap bayi mungil itu. Aryo menatap dari ruang makan. Pria itu terlihat menarik napas dalam-dalam. Kemudian membuat sesuatu di dapur.
"Mbok, aku boleh ke sana?" tanyanya menunjuk halaman belakang.
"Boleh, Non." Mbok Win mengambil Archie dari tangan Bella. Ia membiarkan wanita itu ke halaman belakang. Bunga beraneka ragam mekar indah di sana. Bibirnya membentuk senyum melihat pemandangan itu.
"Mau salad?" Aryo tiba-tiba muncul di sampingnya. Ia menoleh sekilas kemudian tersenyum mengangguk. Pria itu mengajak Bella duduk di bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kamu yang membuatnya?" tanya Bella menikmati salad buah di depannya. Aryo mengangguk.
"Kamu suka?"
"Suka! Ini enak!"
Bella terus menikmati hingga tandas. Pria itu tersenyum puas dengan mata tak lepas menatapnya.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?"
"Maaf," tutur Aryo membuang pandangan ke arah lain.
Hening sejenak. Keduanya menatap ke bunga-bunga di depan mereka.
"Aryo ...."
"Ya?"
Aryo bergeming, ia bangkit dari duduk menuju ke tanaman anggrek yang sedang berbunga, memetik sebagian, kemudian beralih ke bunga mawar ia juga memetik beberapa tangkai lalu merangkainya.
"Untukmu," ucapnya menyodorkan rangakaian indah itu pada Bella. Wajah Bella merona, ia menerima buket bunga dari tangan pria itu.
"Terima kasih." Ia menghirup aroma bunga itu dengan memejamkan mata.
"Bungamu cantik-cantik!" ungkapnya menatap Aryo.
"Sama seperti yang menanam," balasnya menatap kembali ke bunga-bunga di depannya.
Bella mengernyit heran.
"Yang menanam? Emang siapa dia?"
Lelaki itu meraup udara sebanyak mungkin lalu tersenyum.
"Dia perempuan yang sangat aku cintai."
Bella terdiam, ia kembali menikmati aroma bunga di genggamannya.
"Kalau kita suami istri, kenapa perempuan lain yang kamu cintai?"
Aryo tersenyum.
"Apa kamu percaya dan ingat kalau kubilang kamu lah perempuan itu?"
Bella bergeming, ia menggeleng frustrasi. Ada genangan air yang hendak tumpah dari mata indahnya. Bibir Bella terlihat bergetar mengucap maaf.
"Sudahlah, sekarang kamu istirahat ya. Pasti lelah." Aryo mengulurkan tangannya mengajak Bella bangkit. Namun, Bella tak menyambut uluran tangan itu.
"Oke, aku mau istirahat," tuturnya menunduk.
__ADS_1
Meski kecewa, ia mengangguk mengajak Bella menuju kamarnya.
"Selamat beristirahat, kalau butuh apa-apa bisa panggil aku."
"Terima kasih ...."
Aryo menutup pintu perlahan kemudian menjauh.
"Aryo." Suara Bella menghentikan langkahnya. Ia melihat wanita itu melongokkan kepalanya di pintu.
"Iya?"
"Kalau aku tidur di sini, kamu tidur di mana?"tanyanya polos. Mendengar itu Aryo mengulum senyum. Ia menjelaskan ada satu kamar lagi.
"Lalu bayi itu?" Wajahnya berubah serius.
"Dia tidur bersamaku."
Bella menatap Aryo lekat kemudian mengangguk tersenyum.
"Kamu ayah yang baik!"
Wanita itu menutup pintu perlahan, membiarkan Aryo yang masih tak bosan menatapnya.
***
Aryo bolak-balik mencoba menenangkan Archie demikian juga dengan Mbok Win, tapi bayi lucu itu tak juga berhenti merengek.
"Mbok, biasanya apa seperti ini sejak saya di rumah sakit?" tanya Aryo mulai resah.
Mbok menggeleng mengatakan sebelumnya Archie tidak seperti itu.
"Biasanya kalau sudah di beri susu, di diem, Mas," jelasnya.
Mendengar keributan di luar kamar, Bella mencoba mencari tahu. Ia melihat Aryo tengah berusaha menenangkan Archie. Namun, bayi itu masih merengek gelisah.
"Kenapa dia, Mbok?"
Mbok Win berhati-hati menjelaskan pada Bella, seperti yang dikatakan Aryo. Bahwa perlu kesabaran untuk kembali memulihkan ingatannya. Wanita itu mendekati Aryo.
"Boleh aku gendong dia?" tanyanya dengan tatapan ragu.
"Kamu mau gendong dia?"
Bella mengangguk.
"Mungkin aku bisa membantu menenangkan Archie."
Pria itu menelan saliva menatap Bella. Ia mengangguk perlahan menyerahkan bayi itu kepadanya. Mata Mbok Win berkaca-kaca melihat Archie tampak mulai tenang dalam dekapan Bella. Sedangkan Aryo lagi-lagi menikmati pemandangan itu.
Bella berhasil menimang Archie hingga akhirnya bayi lelaki itu terlelap.
"Dia tertidur!" seru Bella gembira menatap Aryo.
"Kamu hebat bisa membuatnya terlelap!"
Bella tersenyum tipis memberikan kembali Archie pada Mbok Win. Perempuan itu membawa Archie ke kamar Aryo.
"Sudah malam, kamu sebaiknya istirahat."
Aryo meletakkan tubuh di sofa.
"Aryo!"
"Ya?"
"Kalau kita pernah menikah ... pasti ada fotonya, 'kan?"
Lelaki itu menatap Bella kemudian mengangguk. Aryo menyuruh Bella menunggu di sofa. Sementara ia mengambil bingkai mungil berisi foto mereka berdua saat pernikahan itu terjadi.
"Ini ... ini kamu, 'kan?"
__ADS_1
Wanita itu lama menatap foto di tangannya. Tak lama ia menggeleng berkata, "maafkan aku, kenapa aku tidak ingat, jika aku istrimu, kenapa aku tidak bisa merasakan cinta? Maaf ...." Dengan air mata berderai ia meninggalkan ruangan itu menuju ke kamar.
***