Yang Terdalam

Yang Terdalam
Tidak Rela


__ADS_3

[Episode 040 - Tidak Rela]


"Bagaimana rasanya?"


Satu pertanyaan dari Avant ketika Aufia melahap satu suap nasu goreng buatannya. Tampak Aufia menikmati setiap gigit rasa yang bersentuhan lidah.


"Hei, aku tanya bagaimana rasanya?" lanjut Avant yang tidak mendapat jawabannya.


Seketika itu Aufia mengubah raut wajahnya menatap Avant tidak suka.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" Avant takut.


"Biarkan aku merasakannya dulu di lidahku! Baru nanti akan ku beri nilai, ini masih di kunyah kau sudah bertanya." Jelas Aufia kemudian mengambil satu gelas air putih yang ada di meja makan depannya.


"Baiklah, aku minta maaf." Avant mengalah karena salah. Kemudian Avant kembali menyuapi Aufia.


"Sebenarnya ada alasan apa hingga kau tidak mau mengisi perutmu, hm?" tanya Avant lagi.


Eh? Sontak Aufia menundukkan kepalanya inngat rasa sakit yang mengetuk hatinya.


Gaunku...


"Tidak, aku hanya tidak selera makan... mungkin memikirkan bagaimana akhirnya nanti kita berdua." Jawab Aufia berbohong.


"Tentu saja kita akan menikah!" Sahut Avant dengan semangat hingga membuat Aufia menatapnya.


DEG!


"Menikah?" ulang Aufia.


"Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku? Apa aku tidak boleh seyakin ini denganmu?"


Menikah?


"Aufia, kau tahukan? Aku mencintaimu... aku akui aku salah mengawali pertemuan kita, tapi aku ingin melakukan kebahagiaan bersamamu." Lanjut Avant.


Aufia terlihat diam lalu menundukkan kepalanya. Ia masih bingung bahkan bimbang dengan semua perasaan yang muncul dan kadang tenggelam dalam hatinya. Sisi lain ia sudah nyaman dengan pria yang disampingnya, namun kadang hati yang terluka menyadarkan Aufia untuk pergi menjauh dari pria yang menyakiti juga merendahkan harga dirinya. Semua perasaan itu beradu dalam satu bilik, yaitu hati Aufia.


"Apa kau masih meragukan aku?"


Mendengar itu dari Avant membuat Aufia menoleh menatap pria dengan paras manis ini. Jujur saja Avant tampan menurut Aufia, namun hatinya buruk. Memberikan goresan luka terdalam yang pernah Aufia alami.


Kini Avant meletakkan piring yang berisi nasi goreng diatas meja makan disampingnya. Diraihnya kedua tangan Aufia, digenggam hangat dan menatap kedua netra Aufia yang kini menatapnya.


"Aufia...!" Panggil Avant dengan lembut. "Apa kau tidak yakin denganku? Atau kau masih takut denganku? Apa tiga hari yang kita lalui ini masih belum meyakinkan hatimu untukku?"


Pertanyaan dari Avant membuat Aufia terdiam. Mendengarnya seolah Avant meyakinkan dia untuk menjadi pendamping hidup yang bahagia. Namun Aufia masih tidak ingin terlena. Otaknya masih sangat bisa untuk ia gunakan berfikir jernih. Aufia tidak ingin salah langkah apalagi sampai terperangkap ke jalan yang berlubang.


"Jika kau masih ragu, tidak masalah... aku pasti bisa membuang keraguanmu itu dan merubahnya menjadi sebuah keyakinan bahwa kita berdua ditakdirkan untuk bersama."


Jujur, melihat senyum dari Avant di akhit kalimat membuat secercah kebahagiaan dan rasa nyaman untuk Aufia.


"Maafkan aku. Tapi jika kau ingin bersamaku, tolong yakinkan aku agar mengambil langkah yang benar." Ucap Aufia dengan lirih namun Avant mendengarnya.


Hanya satu kalimat yang terucap dari Aufia namun itu sudah membuat Avant tersenyum hangat. Artinya Aufia memang masih ragu untuk menerima Avant, dan setengah ragu itu adalah sebuah keyakinan.


"Aku tidak akan membuatmu melangkah sendirian, kita akan melangkah bersama. Mengerti?"


Entahlah, kata-kata seperti inilah yang mampu menyingkirkan keraguan itu untuk sementara. Hamburan kata yang terucap seakan memberikan jalan setapak untuk Aufia lewati. Namun kadang saat Aufia sendirian, rasa takut kembali hinggap. Dinding keraguan membuat batasan. Aufia masih terjebak dalam gelembung rasa sakit.


"Janji?"


Satu kata yang Aufia ucapkan dengan mengangkat satu tangan dan satu jari kelingking yang berdiri. Avant menatapnya lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Aufia.


"Janji!" Avant tersenyum menatap Aufia.

__ADS_1


...•...


...•...


...•...


Cantik.


Satu kata yang pantas Qevna sandang saat ini. Ia tengah mencoba gaun pernikahan pemberian dari sahabatnya, Aufia. Ekor yang menjuntai memberikan kesan yang indah. Warna putih polos begitu sempurna membalut tubuh ramping Qevna. Pantulan gambar di cermin memberikan kepuasan untuk Qevna yang menatap dirinya sendiri.


"Bukankah ini cantik?"


Satu pertanyaan Qevna pada pelayan yang berdiri di belakangnya.


"Itu sangat cantik, Nona Muda."


Tersenyum.


Qevna tersenyum mendengar sanjungan itu.


"Aufia benar-benar memberikan hadiah yang istimewa untukku." Ucap Qevna masih terpaku dengan dirinya yang tercetak di cermin.


"Itu pemberian dari Nona Fia?" tanya pelayan itu.


Jangan heran, pelayan yang berdiri di belakang Qevna sudah tahu jika Qevna dan Aufia bersahabat. Jika Aufia datang ke rumah Qevna, maka ialah yang menyambut dan membuatkan satu gelas minuman. Jadi Aufia bukan orang asing lagi untuk pelayan dengan paras manis ini.


"Iya, ini dari Aufia. Aku benar-benar senang saat gaun cantik ini diberikan padaku, hal yang terindah yang pernah Aufia berikan padaku adalah gaun cantik ini." Jelas Qevna.


"Maaf, Nona. Apakah Nona Muda akan memakainya saat pernikahan nanti?"


"Tentu saja! Aku ingin memberikan kebahagiaan untuk Aufia disaat hari pernikahanku nanti dengan memakai gaun pemberiannya." Sahut Qevna menjawab pertanyaan dari pelayan itu.


Senyum tidak memudar dari bibir Qevna yang begitu terkagum melihat gaun cantik ini yang menggantung indah ditubuhnya. Sangat cantik. Benar-benar cantik.


"Tolong ambilkan ponselku!"


"Ini, Nona!"


"Terimakasih!"


Qevna tampak memainkan ponsel itu yang ternyata membuka aplikasi kamera.


"Tolong ambil gambarku! Yang cantik!" Pinta Qevna mengulurkan tangannya memberikan ponselnya kepada pelayan.


"Baik, Nona Muda!"


Kini pelayan bertubuh lebih pendek dari Qevna itu mengambil ponsel dan mundur beberapa langkah untuk mengambil gambar Qevna dengan baik. Satu, dua, tiga hingga beberapa kali pengambilan gambar ia lakukan kemudian memberikan lagi ponsel itu pada Qevna.


"Ini, Nona Muda."


Qevna senang melihat hasil jepret dari pelayannya saat menerima ponselnya kembali. Ternyata wanita bertubuh pendek ini pandai mengambil gambar, untuk itu ia tersenyum.


"Bagus, ternyata kau pandai mengambil gambar!" Puji Qevna pada pelayannya.


"Akan aku kirimkan pada Aufia!" Lanjut Qevna dengan tersenyum senang.


...•...


...•...


...•...


"Hati-hati di jalan!"


Satu kalimat yang Aufia berikan pada Avant yang ingin pulang.

__ADS_1


"Setelah ini tidurlah, kau pasti lelah setelah kita bermain di pantak pagi tadi!"


Aufia mengangguk mengiyakan perkataan Avant.


"Aku akan pamit kepada Bib-"


"Tidak! Bibi pasti sudah tidur, kau pulang saja, ya?" Sahut Aufia menghentikan langkah Avant yang ingin berpamitan pada Bibi.


"Baiklah jika begitu, sampaikan salamku padanya."


Avant mengecup kening Aufia yang berponi lalu tersenyum. Mobil jeep hitamnya menjauh saat sudah dikendarai untuk melaju. Aufia memandang pada mobil itu yang semakin jauh dan menghilang di ujung jalan yang berbelok.


"Maafkan aku untuk hari ini."


Ucap Aufia dengan lirih menyadari dirinya menyusahkan Avant untuk hari ini. Mulai dari sedih yang tidak pergi, perut yang tak terisi, hingga perdebatan untuk pergi ke dokter. Aufia sadar jika dirinya merepotkan.


Kaki mungil Aufia melangkah masuk namun tertunda saat ponsel di saku bergetar.


"Siapa?"


Gumam Aufia kemudian mengambil ponsel dan melihat nama Qevna yang tertera di layar ponsel. Satu pesan masuk dan Aufia membukanya.


[Qevna❤] °Terima kasih untuk hadiah paling spesial ini❤°


Aufia mengernyitkan dahi.


Spesial?


Ada satu pesan masuk lagi. Qevna mengirimkan satu gambar untuk Aufia.


DEG!


Dapat Aufia lihat satu gambar itu.


Gaunku...


Rasa sakit kembali singgah melihat Qevna yang begitu cantik terbalut dengan gaun putih indah yang menjuntai kebawah. Senyum kebahagiaan Qevna adalah rasa sakit untuk Aufia.


Gaunku...


Tes.


Satu bulir air mata berhasil lolos membasahi pipi.


Aufia kembali menyimpan ponsel tanpa membalas pesan dari Qevna. Entah kali ini Aufia tidak bisa berbagi dengan Qevna. Aufia sudah mencoba untuk rela namun akar rasa sakit kembali tumbuh. Dengan cepat Aufia masuk dan menutup pintu hingga berbunyi membuat Bibi terkejut.


"Aufia? Ada apa?"


Tanya Bibi yang keluar dari kamar mandi dan melihat Aufia menutup pintu dengan keras.


"Tidak, Bibi. Aku baik-baik saja."


Berbohong dan terus berbohong yang Aufia lakukan. Ia masuk kamar tanpa menatap Bibi yang bertanya. Sakit.


Tubuh mungil dan ringkuh itu terhempas lepas di atas tilam berselimut kain cokelat. Aufia tidak bisa melepas gaun itu meski ia sudah memberikannya pada Qevna.


Ada apa denganku?


Aku sudah terbiasa berbagi dengam Qevna, tapi kenapa kali ini aku tidak bisa?


Aufia sudah terbiasa berbagi apapun itu dengan Qevna. Sejak kecil saat Aufia memiliki kue ataupun mainan, sekalu ia bagi dengan Qevna. Begitu juga sebaliknya. Namun kali ini berbeda. Hak milik atas gaun itu begitu kuat untuk Aufia, namun ia berikan pada Qevna yang memintanya langsung kemarin malam. Sakit. Mengingatnya saja membuat sakit apalagi saat melihat Qevna yang benar-benar memakai gaun itu di hari pernikahannya. Aufia tidak bisa.


Aufia menangis dalam diam. Ia tidak ingin membuat sang Bibi bertanya jika sampai suara tangis keluar dari mulut mungilnya.


Qevna, kembalikan gaunku...

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2