
[Episode 029 - Hari Pertama Avant Part 1 ]
Aisshhh...
Aufia mendengus dengan kesal. Kedua tangannya ia lipat di bawah dada. Tiba-tiba dia ingat bagaimana ia melewati pagi dengan hal panas bersama Avant. Entah Aufia yang sudah terkena hanyut atau memang Avant yang memuaskan, yang jelas tadi pagi tubuh Aufia tidak bisa menolak.
Lagi-lagi Aufia berusaha melupakan apa yang sudah terjadi tadi pagi. Tidak! Lupakan!
"Kita akan kemana?" tanya Aufia menoleh menatap Avant.
"Kau ingin kemana?" jawab Avant justru bertanya balik.
"Aku? Kenapa harus aku yang menentukan?" Aufia bertanya lagi.
Avant menghela nafas kemudian menginjak pedal gas karena mobil-mobil didepannya sudah mulai melaju. Sedangkan Aufia tetap diam dengan memperhatikan pemandangan diluar jendela. Untung saja kemacetan tidak berlangsung lama.
"Kita akan kemana?" sekali lagi Aufia bertanya dan menatap Avant kesal. Ia tidak suka jika pergi tanpa tujuan.
"Sudahlah, diam. Kau akan tahu saat tiba nanti."
Sebenarnya Aufia kesal karena pertanyaannya tidak dijawab, tapi mau bagaimana lagi? Aufia lebih memilih diam dan menyandarkan punggung.
Jika boleh jujur, ini kali pertama Aufia keluar bersama seorang pria. Sebelumnya? Sama sekali tidak.
Setelah mengitari kota, mobil jeep Avant berhenti disebuah butik dengan bangunan yang memiliki empat lantai. Avant menghentikan mobilnya di parkiran lalu ia melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil serta tidak lupa mematikan mesin mobilnya.
"Turunlah!" Perintah Avant dari luar mobil ke Aufia yang masih di dalam.
Aufia yang melihat gedung dengan empat lantai tersebut membuatnya hampir lupa untuk melepas sabuk pengaman. Ia tidak ingin membuat Avant menunggu lehih lama lagi, untuk itu Aufia segera turun. Namun entah kenapa sabuk ini jadi sangat susah dibuka.
"Ayolaah!! Jangan memalukan aku!" Gumam Aufia berusaha membuka sabuk pengaman yang menguncinya. Kedua tangan Aufia bekerja untuk melepaskan sabuk itu namun sia-sia. Sabuk tetap mengait tanpa ada yang lepas. Aufia melirik Avant yang menunggungnya di luar mobil.
Astaga!
"Ayolah! Kau jangan merepotkan aku!"
Sekali lagi Aufia berusaha melepasnya. Entah apa ini, biasanya Aufia tidak kesusahan melepas sabuk pengaman, namun kali ini sabuk pengaman tidak mau bekerja sama dengan baik. Sepertinya.
GREK!!
Huh?
Aufia sungguh terkejut saat Avant tiba-tiba membuka pintu mobil lalu menatapnya. Gugup. Aufia ingin sekali memgubur dirinya karena tidak bisa melepaskan sabuk pengaman.
"Sabuknya memang susah dibuka."
Avant menunduk dan masuk untuk meraih sabuk pengaman agar bisa melepasnya.
DEG!
Melihat Avant yang sedekat ini membuat jantung Aufia bekerja lebih cepat dari biasanya. Degupnya begitu cepat hingga ia takut jika Avant mendengarnya. Untuk itu Aufia menahan nafasnya. Bahkan untuk sekedar menelan ludahpun Aufia sulit melakukannya.
DEG!
Hidungnya, rahangnya, matanya, bibirnya, semua terpahat dengan sempurna. Apa ini? Aufia jatuh dalam pesona Avant?
TIDAK!
"Sudah, kau bisa turun!"
Eh?
Aufia tidak berani menatap Avant karena mungkin sekarang pipinya sudah memerah seperti tomat.
"Kita dimana?" tanya Aufia setelah turun dari mobil. Kakinya melangkah mengikuti kemana Avant melangkah. Meskipun sudah melihat gedung empat lantai di depan matanya, namun Aufia tidak tahu bahwa itu butik.
Aisshhh...
__ADS_1
Aufia sedikit menambah kecepatannya dalam melangkah agar tidak tertinggal oleh langkah kaki bertungkai panjang milik Avant.
"Tunggu!" Seru Aufia menarik kaos yang di pakai Avant.
Avant yang melihatnya tertawa kecil. Lihat sekarang Aufia memerengut menatapnya.
"Maaf, ayo!" Ucap Avant.
Eh? Lagi-lagi Aufia tidak tahu perasaan apa ini yang mengalir deras hingga membuatnya gugup. Saat ini tangan Avant menggandeng tangan Aufia dan berjalan masuk ke butik yang paling dicari di kota ini.
Mata Aufia dibuat kagum akan keindahan desain dalam butik dan banyak lembar baju yang tergantung cantik. Beberapa yang lain terpasang indah di manekin yang ramping. Beberapa pelayan menampilkan senyum mereka sepanjang Aufia dan Avant berjalan. Diantara rasa kagum, terselip rasa bingung dibenak Aufia, sebenarnya apa tujuannya Avant mengajaknya kesini? Aufia tidak tahu.
"Selamat pagi, Tuan! Nona! Ada yang bisa kami bantu?" Seorang pelayan butik menghampiri mereka berdua dengan senyum yang tidak pudar.
"Apa disini menyediakan gaun pernikahan?" tanya Avant pada pelayan perempuan itu.
Mendengar hal itu, mulut Aufia terbuka lebar dengan membulatkan mata namun dengan cepat tangan Aufia menutup mulutnya. Gaun pernikahan? Untuk siapa? Dan untuk apa? Berbagai pertanyaan muncul di benak Aufia sekarang ini.
"Tentu ada, Tuan. Mari saya tunjukkan beberapa contoh gaun pernikahan. Ingin warna apa?"
Sang pelayan memberikan sebuah buku katalog untuk Avant. Disana banyak model gaun pernikahan yang cantik. Sementara itu Aufia juga ikut melirik ke buku katalog yang dibawa Avant. Wow!
"Kau ingin apa? Kenapa membeli pakaian pernikahan?" tanya Aufia menatap Avant yang jauh lebih tinggi darinya. Mendongak.
"Kitakan ini menikah!"
APA?
Sontak Aufia tersedak mendengar kalimat yang terucap dari Avant hingga membuatnya batuk.
"Aufia!" Seru Avant memberikan buku katalog pada pelayan dan mulai memukul pelan punggung Aufia.
Menikah? Aufia masih batuk-batuk karena tersedak dengan pernyataan Avant. Menikah?
"Kau tidak apa-apa?" lanjut Avant bertanya.
Dapat Aufia lihat raut wajah Avant yang begitu khawatir menatapnya. Bahkan ia memberikan segelas air putih yang diambilkan pelayan butik tadi.
Aufia masih tertegun dengan kalimat Avant tadi meski ia sedang minum air putihnya.
Menikah? Dengan Avant?
"Kau baik-baik sajakan? Atau kita ke rumah sakit?" tanya Avant lagi-lagi khawatir.
Rumah sakit? Astaga! Berlebihan sekali!
Aufia menggeleng dengan cepat agar tidak dilarikan ke rumah sakit sesuai ide konyol Avant. Ini hanya tersedan kaget, bukan penyakit yang serius hingga harus ditangani oleh dokter. Diminumnya lagi air putih itu sampai habis lalu Aufia memberikan gelasnya pada pelayan manis itu.
"Nona bisa duduk jika lelah." Kata pelayan memberikan masukan.
Benar! Aufia pasti lelah!
"Kau ingin duduk? Biar aku ambilkan kursi." Avant bertanya.
"Aku tidak apa-apa, aku baik." Jawab Aufia menggeleng pelan.
"Yakin?"
"Iya."
Avant mengambil nafas lega setelah mendengar Aufia baik-baik saja. Tadinya Avant sangat khawatir ketika Aufia tiba-tiba batuk begitu saja tanpa ada yang membuatnya batuk.
HEII!! SEMUA KARENAMU, AVANT!!!
Disinilah Avant dan Aufia berada di lantai paling atas, lantai untuk semua gaun pernikahan. Begitu banyak gaun pernikahan yang cantik dengan ekor yang menjuntai panjang. Beberapa diantara mereka memiliki kain yang mengembang sehingga seperti putri-putri kerajaan.
"Pilihlah mana yang kau suka!"
__ADS_1
Aufia menatap Avant dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa? Atau perlu aku bantu mencarinya?"
Gaun pernikahan memanglah cantik dan anggun. Warna apapun terlebih warna putih sungguh menawan. Rasa kagum Aufia benar-benar membuatnya tidak bisa bicara banyak. Aufia cukup diam saat memilih salah satu dari puluhan baju pernikahan yang ada. Namun kini Aufia malah tidak mendapatkan satu diantara mereka. Dengan pelan Aufia menghampiri Avant yang menunggu duduk di sofa yang tersedia.
"Sudah ketemu?" tanya Avant menatap Aufia.
"Walaupun ketemu, memangnya kita akan menikah? Tidak, kan?" Jawab Aufia yang membuat pelayan tadi menahan tawanya. Avant yang mendengarnya sedikit tersinggung.
"Setidaknya cobalah satu atau dua diantara gaun yang ada, jika kau suka maka akan ku belikan." Sahut Avant tidak terima jika kesini dengan hasil tangan kosong.
"Untuk apa beli jika tidak dipakai?"
ASTAGA!!
Ingin rasanya Avant mengecup bibir mungil milik Aufia yang banyak bertanya.
"Sudah ku bilangkan, kita akan menikah!"
Detik itu juga Aufia menatap Avant dengan tatapan serius tanpa berkedip. Death glare. Namun bukannya Avant takut malah ia melayangkan cubitan gemas di pipi Aufia.
"Aww! Sakit!" Seru Aufia menatap punggung Avant yang berdiri dan berjalan meninggalkannya.
"Kau mau kemana? Tunggu!" Aufia berlari untuk mengejar Avant.
Avant berjalan mengitari lantai empat yang cukup luas yang diikuti Aufia dan pelayan tadi. Langkah mereka berhenti saat Avant juga berhenti di depan sebuah manekin yang menjadi peraga gaun pernikahan.
Tangan Avant sengaja menarik tubuh Aufia dan disandingkan disamping manekin itu.
"Cocok!" Avant mengamati tubuh keduanya yang juga sama ramping.
"Mbak, coba yang ini ya?" Kata Avant menunjuk gaun pernikahan yang dipasang di manekin dengan cantik.
"Baik, Tuan."
Tak perlu waktu yang lama, kini Aufia sudah mengenakan gaun putih yang begitu cantik membalut tubuhnya yang ramping. Aufia melihat bagaimana pantulan gambar dirinya yang ada di cermin menampilkan seluruh tubuh. Melihat tubuhnya yang terbalut kain indah menjuntai kebawah, membuat Aufia tersenyum. Bagaimanapun pernikahan adalah impian semua gadis termasuk Aufia.
Aufia masih memperhatikan dirinya dari segala sisi. Cantik. Entah ini membuat Aufia bahagia atau tidak yang jelas saat ini Aufia kagum pada dirinya sendiri. Kain menjuntai indah terlihat cantik, sepertinya Aufia nyaman dan tidak ingin melepasnya. Masih bangga dengan dirinya, Aufia terus memandangi kagum ke arah cermin.
Ada rasa mengalir yang tidak bisa Aufia jelaskan saat ini.
"Cantik!"
Huh?
Aufia terkejut mendengar suara Avant dari belakang. Kini ia berbalik dan menatap Avant dengan malu dan senyum yang tertahan. Bahkan Aufia menunduk karena malu.
"Tidak perlu malu dengan calon suamimu!"
DEG!!
AVAAANT!!
Sungguh, Aufia butuh sesuatu untuk menyumpal mulut Avant yang membuat jantungnya berolah raga hanya karena mendengar kata-kata yang sama sekali tidak pasti.
"Jangan katakan itu." Ucap Aufia lirih dengan memainkan ujung dari kuku-kukunya yang cantik juga lentik.
Melihat itu Avant mulai menghapus jarak. Ia memegang kedua pundak Aufia dan memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah cermin lagi. Tangan Avant menekan dagu Aufia untuk menegapkan kepala agar tidak tertunduk. Saat itu terjadi, kini kedua tangan Avant melingkah indah dan hangat pada perut rata Aufia.
"Siap yang melarang aku mengatakan itu, hm?"
DEG!!
Bibir Aufia kelu tidak bisa menolak ataupun hanya untuk sekedar membantah. Dapat Aufia rasakan kini dagu milik Avant menumpang pada pundaknya yang terekspos tanpa pelindung.
Pandangan mata Aufia maupun Avant bertemu hingga membuat satu pandangan yang bertahan lama.
__ADS_1
Entah mereka berdua saling tertarik oleh pesona masing-masing. Hingga tidak menganggap keberadaan pelayan butik yang malu melihat mereka berdua.
[Bersambung...]