
Wajah perempuan itu menegang bertanya, "kurang apa?"
"Kurang ... senyum ...." godanya menatap Bella.
Mendengar penuturan Aryo sontak wajah perempuan berambut panjang itu merona. Aryo tersenyum tipis menyaksikan pemandangan itu.
"Eum, kamu kok siang udah balik?" Bella mengalihkan pembicaraan.
"Pekerjaan saya sudah selesai, besok tiga hari aku harus pergi ke luar kota. Eum ... maaf, Non nggak apa-apa kan sendiri?" Wajah pria itu terlihat ragu menatap perempuan di depannya.
Bella tersenyum menggeleng.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan aku. Kan sudah aku bilang, aku bukan siapa-siapa, kamu bebas menentukan hidupmu." Bella beranjak pergi menuju kamar. Aryo menatap punggung wanita hamil itu dengan wajah bersalah.
"Non, tunggu!" Cepat ia mendekat dan meraih tangan Bella. Mata indah wanita itu menatap Aryo kemudian beralih ke tangannya yang tengah di genggam pria itu. Sadar perbuatannya melampaui batas, segera ia meminta maaf dan pelan melepaskan.
"Ada apa?"
"Kalau Non keberatan, saya bisa menolak tawaran itu dan mengganti dengan staf yang lain."
Bella menggeleng.
"Aryo, kamu nggak perlu berlebihan ... udah! aku mau istirahat." Perempuan itu masuk ke kamar dan menguncinya. Sementara Aryo masih mematung di depan kamar Bella.
Pria itu mengusap tengkuk kembali ke ruang makan. Aryo duduk menatap mangkuk salad yang belum habis di depannya. Entah mengapa ada rasa enggan jika harus meninggalkan Bella berhari-hari. Terlebih perut perempuan itu mulai membuncit. Tentu bukan hal mudah baginya beraktivitas. Lelaki itu melirik arloji, ia beranjak ke kamar untuk berganti pakaian.
🦋🦋
Matahari mulai redup, sore menjelang. Aryo meregangkan otot dengan push up di halaman belakang. Setelah siang tadi Bella menolak untuk makan siang, ia tak lagi memaksa. Pria itu memilih menyibukkan diri merawat bunga-bunga kesayangan perempuan itu sebelum ia berolahraga. Peluh memenuhi tubuh pria itu.
Aryo terlihat kekar dengan perut tercetak enam kotak. Getar ponsel membuat ia menghentikan gerakan. Dengan sekali sentuh, telepon selulernya tak lagi berbunyi. Ia kembali melanjutkan aktivitas.
Bella keluar dari kamar, penampilan wanita itu tampak segar dengan rambut dikuncir ke belakang yang menyisakan sedikit di kiri dan kanan. Gadis itu menuju dapur, mengambil beberapa kerat roti di piring, kemudian mengolesnya dengan selai. Tak lupa membuat susu untuk dirinya.
Dengan bersenandung ia membawa piring berisi roti dan segelas susu ke kamar. Langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggil. Aryo tersenyum menatap Bella, tapi tidak dengan gadis itu. Wajahnya memerah malu melihat pria yang terlihat tak seperti biasanya.
"Kenapa Non nggak makan siang tadi?" tanya Aryo seraya mengusap peluh di kening seolah tak menyadari bahwa penampilannya membuat wanita di depannya itu malu.
"Aku nggak lapar!" Ia cepat melangkah kembali ke kamar. Sedang Aryo mengernyitkan kening penuh tanya.
***
Pagi-pagi sekali Aryo telah berkemas untuk perjalanan kerja tiga hari di luar kota. Setelah memastikan semua telah siap, ia ke luar kamar. Manik hitamnya menyapu seluruh ruangan, dan berhenti di kamar Bella. Pintu kamar masih tertutup rapat. Menghela napas Aryo melangkah dan mengetuknya.
"Non, saya pergi dulu ya. Hati-hati di rumah," pesannya lalu menyelipkan kertas di bawah pintu. Pria itu tersenyum, melangkah keluar.
Mendengar deru mobil menjauh, Bella membuka pintu setelah mengambil pesan yang di selipkan lelaki itu.
'Non, jaga diri baik-baik ya. Saya pergi seperti yang Non minta. Oh iya, persediaan makanan untuk tiga hari sudah siap, jadi Non nggak perlu belanja atau keluar rumah.
Jangan lupa kontrol ya ...'
Perempuan itu meremas kertas pesan lalu membuangnya ke tempat sampah. Bella kembali ke kamar, mengganti pakaian berhias diri lalu bersiap pergi.
***
Di sebuah cafe bernuansa pastel, tampak Bella duduk bersama seorang perempuan sebayanya. Mereka terlihat serius.
"Emang sekarang usia kandungan loe berapa, Bell?" Perempuan bertahi lalat di dagu itu bertanya.
"Jalan enam."
"Jadi udah ketahuan jenis kelaminnya dong?"
Sambil mengusap perut ia mengangguk.
"Lalu ... dia gimana?"
Bella menatap wanita di depannya itu dengan mata menyipit.
"Eum, maksud aku sopir papa kamu," jelas perempuan itu.
"Aryo, namanya Aryo!"
"Nah iya, itu maksudku."
Bella menarik napas dalam-dalam. Ia bercerita tentang perhatian dan kebaikan pria itu pada sahabatnya.
__ADS_1
"Wow! Kamu serius dia sebaik itu?"
"Serius, Vera! Aku sudah nggak adil pada hidupnya." Bella menyeruput lemon tea di depannya, "dia memiliki kekasih, dan terlihat mereka saling mencintai."
Vera mendengarkan penjelasan Bella dengan raut kagum. Ia tak menyangka bahwa Aryo adalah pria yang benar-benar bisa menjaga Bella.
"Lalu apa rencana kamu?"
"Aku ingin menyatukan mereka, tanpa menunggu bayi ini lahir!" paparnya yakin.
"Caranya?"
Perempuan berdagu lancip itu menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu di mana gadis itu tinggal! Itu masalahnya."
Mereka berdua terdiam. Suasana kafe mulai ramai pagi itu. Vera adalah sahabat Bella. Dia tahu betul seperti apa hubungan Bella dan Doni, hingga akhirnya sahabatnya itu harus menerima kenyataan pahit dengan perginya pria yang begitu dipuja Bella.
"Bella, apa yang bisa aku bantu kali ini?"
Wanita di depannya itu tak menjawab. Mata indahnya mengamati seseorang yang baru saja tiba di kafe. Kening mengernyit seolah mengingat sesuatu. Merasa ada yang diperhatikan Bella, Vera mengikuti arah mata sahabatnya.
"Siapa, Bell?" tanyanya setelah ia melihat gadis yang tengah duduk sendiri di sudut kafe.
"Dia ... dia cewek yang dekat dengan Aryo, Ver!" cetusnya.
"Kamu yakin?"
Perempuan itu mengangguk yakin. Ia berniat beranjak mendekati gadis itu.
"Kamu mau kemana?" Vera menahan tangan Bella.
"Aku mau ke sana, Ver!"
"Kamu gila ya? Kamu ke sana mau ngapain?"
"Ya aku mau bantu supaya ...."
"Supaya apa?" potongnya menatap tajam pada Bella. Perempuan itu tertegun mendengar pertanyaan Vera. Pelan ia duduk dan memijit kening.
"Vera, kamu tahu, rasanya menjadi penyebab hubungan mereka tertunda? Maksudku, aku sudah menjadi perusuh hubungan mereka, dan itu sangat tidak nyaman ...." keluhnya pelan.
"Aku paham, Bella. Tapi kan kamu nggak perlu seperti itu sekarang. Lagipula kamu bukan perusuh hubungan mereka," bebernya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya emosional.
"Bella, kamu serius ingin gadis itu tahu?"
"Aku serius, Ver!"
"Kamu yakin dia tak akan marah?"
"Marah pun itu hak dia, Vera."
Vera mengangguk beranjak meninggalkan Bella. Gadis bertahi lalat itu melangkah menghampiri perempuan yang dimaksud Bella.
Entah apa yang dikatakan Vera pada gadis itu, sehingga ia mau duduk bersama mereka bertiga. Gadis sipit berambut panjang itu duduk berhadapan dengan Bella. Setelah saling berbasa-basi, Bella membuka pembicaraan.
"Kamu pasti sudah dengar banyak perihal aku dari Aryo," ucap Bella tersenyum.
Gadis bernama Aira itu mengangguk.
"Kalian pasti saling mencintai, 'kan?"
Kembali gadis itu mengangguk.
"Maafkan aku, Aira. Aku penyebab hubungan kalian harus tertunda," lirih Bella berkata.
Vera hanya diam melihat kedua perempuan di depannya itu saling berbagi cerita.
"Mbak Bella ... tapi Mas Aryo bilang kalian baru akan bercerai setelah ...."
"Setelah aku melahirkan?"
Aira mengangguk.
"Tidak, Aira! Aku sudah mengambil keputusan bahwa Aryo harus bebas menentukan masa depannya!"
__ADS_1
"Mak_sud, Mbak Bella?"
"Aku meminta agr ia segera menceraikanku!"
"Tapi, Bella! Bukannya kontrak ...."
Bella mengisyaratkan pada Vera supaya diam.
"Kamu jangan khawatir, Aira. Keinginan kalian akan bisa terwujud setelah ini. Aku jamin!"
Mata Aira berkaca-kaca mendengar ucapan Bella. Ia tak henti mengucap terima kasih.
"Benar kata Mas Aryo. Mbak Bella sangat baik!" paparnya seraya menggenggam tangan Bella. Perempuan berbadan dua itu tersenyum, sementara Vera hanya bisa diam membiarkan sahabatnya mengambil keputusan.
"Mbak, tapi sebelumnya saya mau sedikit cerita, bahwa sesungguhnya saya dan Mas Aryo tidak disetujui oleh orang tua saya," jelas Aira dengan mata mengembun. Mendengar itu Vera dan Bella saling tatap.
"Orang tua saya menjodohkan saya dengan pilihan mereka," sambungnya lagi.
"Dan kamu setuju?"
"Tentu saja tidak, Mbak. Saya sangat mencintai Mas Aryo ..."
Gadis itu terdiam, lalu menceritakan alasan mengapa kedua orang tuanya tak merestui hubungan mereka. Sambil menyibakkan rambut, Bella mengatakan itu bukan hal serius.
"Aira, kamu tahu apa jabatan Aryo di kantor?"
Aira menggeleng pelan.
"Jabatan yang dia pegang sekarang cukup disegani di kantor. Jadi alasan ekonomi yang dikhawatirkan keluargamu itu sudah tidak lagi berguna," paparnya menepuk pergelangan tangan Aira.
Wajah Aira sedikit cerah mendengar hal itu. Ia berpikir orang tuanya pasti akan setuju jika tahu bahwa Aryo tak seperti yang mereka sangka.
"Sekarang kamu bisa tersenyum lega. Aku tahu seperti apa posisimu. Maafkan aku, Aira!"
"Terima kasih, Mbak. Mbak Bella baik banget," tutur Aira menatap gembira.
Perempuan itu tersenyum mengangguk. Mereka saling meyakinkan satu sama lain sebelum berpisah.
Bella dan Aira bertukar nomor telepon agar mudah jika ingin berhubungan.
***
"Kamu yakin, Bella?" tanya Vera saat mereka berada di dalam mobil. Santai ia mengangguk. Vera menghela napas sambil terus mengemudi
"Kalau aku jadi kamu, Bell ... aku nggak akan melepaskan pria sopan itu!" cetus Vera terkekeh.
Bella mengangkat bahu seraya berkata, "tapi sayangnya aku bukan kamu, Ver!"
Mereka berdua terkekeh geli. Tak lama mereka kembali saling diam.
"Kita ke mana sekarang?"
"Ke klinik tempat biasa aku kontrol, Ver."
"Oke, siap, Non!" jawab Vera melirik Bella. Perempuan itu tersenyum menanggapi.
"Jadi dia pergi tiga hari ke luar kota?"
"Iya, kenapa emang?"
"Kamu yakin nggak merasa kehilangan jika nanti dia benar-benar meninggalkanmu?" celetuk Vera.
"Nggak lah! Ngaco kamu," sambar Bella cepat.
Kembali Vera tertawa. Lalu berkata, "jarang tahu cowok kayak Aryo!"
Bella hanya melirik ke arah sahabatnya. Ucapan Vera memang tidak salah, tapi ia tak ingin menjadi orang egois yang ingin memiliki apa yang seharusnya jadi milik orang lain.
Aryo milik Aira dan sudah seharusnya mereka menikmati itu. Sedang dia, dia merasa orang yang salah pada situasi yang salah pula.
"Sudahlah, Vera. Aku tidak ingin orang lain ikut menderita karena kesalahanku. Jadi sekarang saatnya aku rasa untuk menghadapi resiko dari perbuatanku dulu."
Vera tak lagi berkata, ia hanya mengangguk meski dirinya sendiri tidak setuju dengan apa yang diputuskan Bella.
Menurut Vera, Bella adalah perempuan baik yang terjerembab dalam cinta yang rumit tanpa ia sadari. Meski kesalahan itu bukan sepenuhnya milik Bella, toh akhirnya dia juga yang harus menelan sendiri.
Tak lama mereka tiba di pelataran klinik tempat biasa Bella memeriksakan diri.
__ADS_1
"Bella! Itu Doni, bukan?" cetus Vera saat ia baru saja hendak membuka pintu mobil.
***