Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam Part 7


__ADS_3

Kucoba tepis rasa indah yang meraja


Namun, apa daya aura-mu telah lama mengakar tanpa kusadari


Bukan cinta jika ada pamrih, kelak waktu yang menjawab semua rasa


***


Tak lama mereka tiba di pelataran klinik tempat biasa Bella memeriksakan diri.


"Bella! Itu Doni, bukan?" cetus Vera saat ia baru saja hendak membuka pintu mobil.


Perempuan itu mengikuti isyarat dari Vera. Ia mengurungkan niat untuk turun. Pria yang telah menitipkan benih di rahimnya, terlihat bahagia bersama seorang wanita. Mereka terlihat memasuki klinik berdua dengan tangan saling menggenggam erat. Bella memandang dengan mata berkaca-kaca, tersirat kesedihan mendalam dari air mukanya.


"Bell, Bella!" panggil Vera seraya menepuk pelan pundak sahabatnya. Gadis berambut panjang itu mengusap pipi yang tampak baru saja dialiri kristal bening.


"Kamu nggak apa-apa?" Vera menatapnya resah, "kita bisa periksa nanti." Ia bersiap menyalakan kembali mobil. Namun, Bella menggeleng memberi isyarat agar ia akan turun.


"Bella, kamu yakin?"


"Kenapa nggak?"


"Kamu ...."


Perempuan itu tersenyum, meyakinkan pada Vera bahwa ia baik-baik saja. Perlahan ia membuka pintu lalu melangkah menuju klinik diikuti Vera. Wanita itu terlihat tegang seolah menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Sepasang sejoli itu terlihat duduk di ruang tunggu. Mereka asik bercakap-cakap sesekali sang pria mengusap perut wanitanya dengan wajah berbinar.


"Pecundang!" seru Bella saat ia tiba di depan pasangan itu. Sekali ayun jemari lentiknya berubah menjadi stempel di wajah Doni. Kejadian itu sontak membuat seisi ruang tunggu serentak menoleh. Vera menarik lengan Bella mencegah perempuan itu melanjutkan aksinya. Sementara wanita di samping Doni membeliakkan mata menatap Bella penuh benci.


"Kamu siapa? Hah! Tiba-tiba datang memukul suamiku? Satpam!" seru wanita itu histeris sedang Doni menunduk memegang pipinya.


"Heh! Kamu nggak tahu siapa pria yang kamu sebut suami ini? Dia lelaki paling menyedihkan yang pernah aku kenal!" Bella tampak tak dapat menguasai emosi.


"Apa maksudmu?"


Bella menyeringai menatap Doni lalu beralih ke wanita hamil di depannya.


"Kamu bisa tanyakan ke suamimu" balasnya menekan kata suami.


"Ada apa ini, Sayang?" Wanita itu terlihat mulai terintimidasi.


"Sayang, kita pergi sekarang. Abaikan perempuan ini. Dia bukan siapa-siapa!" Doni merengkuh bahu wanitanya mengajak pergi. Kali ini Vera tak lagi bisa diam.


"Doni Lesmana! Katakan pada istrimu bahwa sahabatku ini tengah mengandung benih darimu!" Lantang Vera berucap. Doni tampak murka mendengar itu. Tangannya siap melayang ke Vera. Tapi cepat Bella menahan hingga perempuan itu sedikit terhuyung.


"Bella!" Secepat kilat seorang pria menangkap tubuhnya hingga mereka tampak sedang berpelukan. Vera terkesima menatap pemandangan di depannya. Demikian juga dengan Doni.


"Non nggak apa-apa?" tanyanya dengan menatap lembut.


Bella tersenyum mengurai pelukan menggeleng seraya mengucap terima kasih. Doni menatap intens ke arah pria yang baru saja menolong Bella.


"Ada urusan apa kamu dengan istri saya?" ketus Aryo menatap tajam pada Doni.


Pria yang masih menggandeng tangan istrinya berkata, "istri?"


"Iya! Katakan ada apa!"


"Kamu tahu siapa dia Aryo? Dia adalah lelaki pengecut itu!" jelas Vera sinis.


Mendadak wajah Aryo berubah tegang, rahangnya mengeras. Dengan tangan mengepal ia siap melayangkan tinju ke arah Doni, tapi cepat Bella menahannya.

__ADS_1


"Kita pulang!" perintahnya.


"Tapi ...."


"Aku rasa tidak ada gunanya berurusan dengan orang bebal seperti dia!" sindir Bella menggamit lengan Aryo. Merasa putri majikannya itu sangat dekat membuat dirinya canggung. Sehingga ia tak lagi mengelak. Aryo dan Bella meninggalkan Doni yang masih mematung di samping sang istri.


"Bella, tunggu!" Vera berlari kecil mengikuti keduanya. Hingga mereka sampai di pelataran parkir.


"Kenapa kamu bisa di sini sih? Kamu bilang tiga hari." Bella melepas tangannya dari lengan Aryo. Pria berwajah ramah itu tersenyum.


"Saya tidak jadi berangkat," jelasnya.


"Kenapa?"


"Saya khawatir aja ninggalin Non sendirian."


Bella terlihat gugup saat manik mata Aryo lekat memandang dirinya. Hal itu disadari oleh Vera yang sejak tadi memperhatikan kedua orang di depannya.


"Aku kan sudah bilang, nggak perlu khawatir tentang aku. Aku bisa jaga diri!" cetus perempuan itu seraya merapikan rambut yang ditiup angin.


"Saya tahu, Non bisa jaga diri. Tapi melihat kejadian tadi ... saya rasa, saya tidak salah untuk tetap tinggal," tandasnya.


Dijawab sedemikian rupa oleh pria itu, Bella tak lagi berkata-kata. Sudut matanya mengamati tingkah Vera yang tersenyum melihat dirinya dengan Aryo.


"Bella, aku pulang ya. Kamu kan sudah ada Aryo," tuturnya mengerling menggoda Bella. Tak ingin terbawa suasana, Bella mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada sahabatnya itu.


Tinggal mereka berdua.


"Non mau lanjut periksa di sini atau ...."


"Aku mau di sini aja."


Aryo mengangguk seraya mempersilakan Bella untuk melangkah duluan.


***


"Jadi dia laki-laki?" Aryo memecah kesunyian saat mereka berdua dalam perjalanan pulang. Bella mengangguk cepat.


Kembali hening. Gadis itu menatap ke arah jendela. Rekaman kejadian di klinik tadi membuat hatinya semakin hancur. Doni, pria dicintai itu jelas-jelas telah menghapus dia dan anak dalam rahimnya begitu saja.


Pria itu terlihat tidak merasa bersalah atas perbuatannya. Pernah hati kecil Bella berharap suatu saat Doni kembali. Tapi sejak kejadian itu, harapanĀ  hanya tinggal harapan. Doni tak kan pernah kembali.


Mata Bella mengembun, kemudian loloslah tetes air membasahi pipi. Ia merasa sendiri saat ini. Berharap ada seseorang yang bisa menguatkan pada posisinya, tapi tak ia temui.


Ia sadar, pria di sebelahnya itu sangat peduli dan melindungi dirinya, tetapi sepenuhnya hal itu bukan karena cinta. Bella tahu, jika hal itu tak dilakukan oleh Aryo, pastilah papanya akan memecat pria itu. Gadis itu merasa Aryo hanya kasihan melihat penderitaannya.


"Non mau makan apa?"


"Aku nggak lapar, kita langsung pulang aja." Suara Bella terdengar serak. Pria sederhana itu mengangguk mengerti. Ia sadar kejadian yang baru saja terjadi adalah pukulan bagi putri majikannya itu.


"Aryo, kamu mau ngajak aku ke mana? Ini bukan jalan pulang," protes Bella saat menyadari lelaki itu melewati jalur yang seharusnya mereka lewati saat pulang.


"Kita ke tempat yang saya yakin Non suka!" tukasnya yakin.


"Sok tahu kamu, emang apa yang aku suka?"


"Non lihat aja nanti ...."


Mobil terus meluncur hingga ke pinggiran kota. Aroma udara berganti segar tak seperti di kota tadi. Hamparan sawah menghijau menyegarkan mata hingga rongga dada.

__ADS_1


Mobil berhenti di sebuah rumah kayu mungil ber-cat putih yang penuh dengan bunga beraneka warna di halaman. Mata Bella berbinar menyaksikan pemandangan di depannya.


"Wow! Rumah siapa ini, Aryo?" tanyanya tanpa menoleh.


"Non suka, 'kan?"


Bella mengangguk melihat sekilas pria itu kemudian kembali menatap ke depan.


"Ayo turun, Non," ajaknya.


Bella masih takjub dengan apa yang ia saksikan. Satu persatu bunga anggrek yang sedang mekar ia sentuh. Kemudian ia melangkah mendekat ke bunga adenium yang juga memamerkan aneka warna. Pandangannya beralih ke arah mawar tak jauh dari tempat ia berdiri.


"Aryo, katakan! Rumah siapa ini?" desak Bella penasaran.


Aryo tersenyum mendekat, dengan isyarat ia mengajak perempuan itu mengikuti langkahnya. Aryo tampak sangat familiar dengan rumah kayu itu.


'Silakan masuk, Non. Selamat datang di rumah Ibu Rastri ...," tuturnya sopan. Bella mengernyit menatap pria yang tengah tersenyum menatapnya.


"Ibu Rastri?"


"Iya, beliau almarhumah ibu saya," jelasnya.


Bella kali ini membalas tatapan Aryo. Dalam hati dia semakin kagum dengan lelaki itu.


"Ayo masuk, Non."


Bella mengekor masuk ke dalam rumah. Pandangannya menyapu setiap ruangan. Semua terlihat bersih, terawat dan tertata rapi.


Ada kursi kayu yang berukir lengkap dengan mejanya. Di sebelah kanan ruang tamu terdapat lemari kaca tempat menyimpan koleksi barang pecah belah milik ibu Aryo.


"Siapa yang tinggal di sini? Rumah ini terlihat bersih dan rapi." Bella meletakkan tubuhnya di kursi.


"Tidak ada, oh iya, Non mau minum apa?"


Bella menggeleng lalu berkata, "kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa yang tinggal di sini dan merawat semua bunga-bunga itu?"


Pria itu tersenyum.


"Saya, Non. Saya setiap hari mampir ke rumah ini. Bagi saya rumah dan tanaman itu adalah peninggalan ibu yang harus saya jaga," paparnya. Aryo duduk tepat di depan Bella. Mereka dipisah oleh meja.


"Kamu?"


Aryo mengangguk.


"Itulah kenapa terkadang saya terlambat pulang, kadang pagi-pagi sekali sudah berangkat. Meski papa Non Bella tidak mengharuskan saya datang tepat waktu."


Aryo berkisah bahwa awalnya rumah tersebut adalah milik orang lain. Mereka mengontrak,sudah lama. Hingga saat sang ibu wafat.


Tak ingin semua kenangan tentang ibundanya hilang begitu saja, ia pun membeli rumah itu dengan tabungan yang ia punya.


Lagi-lagi Bella terpukau oleh kebaikan pria itu. Jauh di sudut hati ia memuji dan kagum padanya. Ada sudut hati lain yang berbisik bahwa lelaki baik seperti Aryo hanya pantas dimiliki oleh perempuan baik juga. Tentu saja perempuan itu bukan dirinya, demikian batinnya berbicara.


"Kamu hebat, Aryo! Ibumu pasti bangga memiliki putra sepertimu ...," Bella kembali menyapu dengan netranya setiap sudut ruangan. Tatapanya berhenti pada selembar foto yang bersandar di depan tumpukan buku tebal. Terlihat dua orang tengah berpose saling menempelkan jari membentuk hati dengan wajah berseri.


"Aryo."


"Ya, Non?"


"Kamu pernah membawanya ke sini?" tanya Bella tersenyum seraya menunjuk ke arah foto yang ia lihat.

__ADS_1


"Eum ... belum pernah, Non. Kenapa?"


"Kamu mencintainya?"


__ADS_2