Yang Terdalam

Yang Terdalam
Penyesalan


__ADS_3

[Episode 025 - Penyesalan]


Lelah.


Satu kata yang sekarang Aufia rasakan.


Ia lelah dengan kesedihannya. Akan tetapi hal sedih itu selalu bertengger pada hati rapuh miliknya. Aufia sudah berusaha untuk tenang dan menyembuhkan lukanya.


"Ibu! Ayah! Apa yang harus Aufia lakukan saat ini?"


Gumam Aufia sendirian.


Malam ini hujan kembali datang dengan udara dingin menusuk tulang. Aufia sudah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama tidur. Tubuhnya yang bersembunyi dibalik selimut merasakan kehangatan. Aufia memilih untuk menyudahi sedihnya dan menghapus air mata. Ia lelah harus dikelilingi rasa sedih yang membuatnya menjadi penat.


Mata sembabnya masih bertahan dan mungkin besok ia tidak kuliah lagi untuk menghindari ribuan pertanyaan dari orang yang ingin tahu apa yang terjadi padanya.


"Fia, ketika seseorang melakukan kesalahan, jangan lihat kesalahannya, lihatlah cara dia meminta maaf. Mungkin kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan atau mungkin membuat sakit hati kita. Tapi ingat, seseorang yang baik itu bukan dia yang tidak memiliki kesalahan, tapi dia yang mau mengakui kesalahannya dan ingin memperbaikinya. Kita tidak bisa menyalahkan seseorang hanya karena kita berada disisi yang benar, karena manusia itu tempatnya salah dan lupa."


Mengingat perkataan Bibi membuat Aufia harus memilih sebuah jawaban. Namun perilaku Avant sudah melewati batas. Dia sudah berani merendahkan Aufia dengan sesuka hatinya. Avant orang yang pantas untuk tidak dimaafkan. Avant pantas mendapatkan itu.


"Tidak... aku tidak akan memaafkanmu!"


...•...


...•...


...•...


"Darimana saja kamu?"


Avant yang baru pulang sudah disodorkan pertanyaan dari sang Ayah, Hadiyata. Pasalnya sang Ayah sudah menunggu seharian untuk berbicara dengan Avant namun Avant tak kunjung pulang. Sampai malam ini ia baru menginjakkan kakinya ke dalam rumah.


Di ruang tamu ini sang Ayah menunggu kepulangan putra semata wayangnya.


"Aku kuliah, Ayah."


Bohong.


"Kau tidak terlalu pandai untuk Ayah, Nak! Ayah sudah menghubungi temanmu Erza, dia bilang sudah dua hari ini kau tidak masuk kuliah. Ada apa? Kenapa sampai kau tidak masuk kuliah?"


DEG!


Avant terdiam ketika sang Ayah tahu kebenarannya.


"Ada masalah apa, Nak? Apa karena berita yang beredar sehingga kau tidak nyaman saat berada di lingkungan kampusmu?" tanya sang Ayah lagi.


"Tidak, Ayah! Memang ada sedikit masalah, tapi semua baik-baik saja, Ayah!"


Jawab Avant kemudian pergi meninggalkan sang Ayah sendirian di ruang tamu.


Sang Ayah berfikir jika ini ada sangkut pautnya dengan berita yang beredar dan juga perjodohan. Ayah hanya bisa menghela nafas. Sabar.


Sementara itu Avant yang masuk ke dalam kamar tengah terduduk di tempat tidurnya. Ia masih memikirkan tentang Aufia yang ketakutan melihatnya. Apa sekejam itu Avant menyakiti Aufia hingga dia takut?


HEIIII!! KAU GILA AVANT!!!


Avant mengacak kasar rambutnya karena penat.


Bagaimana ini?


Aku sudah menyakiti perempuan yang sangat aku cintai, apa yang harus aku lakukan?


Entah ini kehebatan Aufia atau memang Avant yang merasa bersalah, bulir air mata menetes membasahi pipi. Avant menangis memikirkan hal ini.


Rasa sakit setelah menyadari semuanya begitu membara di dada tanpa ada rasa ingin padam. Menjalar setiap nadi yang menjadikan Avant teringat setiap saat. Bahkan Avant ingat betul bagaimana manik Aufia bergetar takut saat menatap matanya. Astaga!


...•...


...•...


...•...


Setiap masalah yang datang maka itu menjadikan jati dirimu kuat. Agar kau tidak tumbang saat angin kencang menerjang. Setelah semalaman menangis, kini Aufia lebih baikkan. Ia memutuskan untuk tidak peduli lagi atas apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


Sungguh Aufia sakit mendengarnya saat sang Bibi terus berusaha bertanya seraya mengetuk pintu kamarnya yang ia kunci dari dalam.


Aufia tidak ingin memberikan teka-teki dalam hidup sang Bibi.


Pagi ini, Aufia tampak menyimpulkan senyum saat bertemu Bibi di dapur.


"Selamat pagi, Bibi!"


Sapanya terdengar seperti biasanya. Ceria.


"Selamat pagi, Fia. Hari ini kau masuk kuliah tidak? Jika iya Bibi akan menyiapkan bekal untukmu." tanya sang Bibi yang masih bergelut dengan piring dan peralatan masak yang kotor didalam wastafle.


"Iya, Bi, aku kuliah hari ini." Jawab Aufia dengan mengangguk, meski matanya masih sedikit sembab, namun ini sudah lebih baikkan daripada sebelumnya.


"Baiklah, cepat bersiap! Bibi akan menyiapkan bekalmu!"


"Siap, Bibi!"


Senyum simpul Aufialah yang menjadi penyemangat Bibi hari ini.


Setelah mengatakan 'siap' kepada Bibinya, Aufia kembali ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap pergi ke kampus. Tak perlu butuh waktu lama, hanya setengah jam Aufia sudah siap untuk berangkat kuliah. Setelah cokelat selalu menjadi andalan Aufia.


Pagi ini cerah dengan sinar matahari yang melakukan tugasnya. Pukul 7 pagi Aufia sudah berada di kampus dengan membawa bekal yang disiapkan Bibinya.


Sepanjang koridor, Aufia berjalan melewati penghuni kampus yang membicarakannya. Namun Aufia mencoba tidak peduli meski telinga dan hati panas saat mendengarnya.


Sabar Aufia.


Dikelasnya, Aufia duduk sendiri tanpa ada yang menyapa kecuali Qevna.


"Aufiaa! Kemana saja kau? Kenapa tidak membalas pesanku?" tanya Qevna yang masuk ke kelas Aufia. Ia duduk di bangku depan Aufia.


"Ponselku rusak, jatuh dari atas dan mati." Jawab Aufia berbohong karena ia sendiri yang membanting ponselnya.


"Rusak? Kenapa tidak beli lagi?"


"Iya, ini juga masih menabung. Sekalian beli yang bagus biar awet nantinya."


Aufia tersenyum menatap Qevna yang juga kini menatapnya meski berharap dalam hati Qevna tidak akan bertanya perihal matanya yang sembab.


DEG!


Aufia berhenti tersenyum setelah mendengar kata 'tunggu' dari Qevna.


"Matamu kenapa? Sembab? Kau habis menangis ya, Fia?" tanya Qevna semakin memperhatikan Aufia.


"Hei!! Kau jangan berbohong padaku!" Lanjut Qevna dengan menyingkirkan kedua tangan Aufia yang ingin menutupi wajahnya sendiri.


"Fia! Kau kenapa? Ada apa?" tanya Qevna butuh jawaban.


"Aku baik-baik saja!" Jawab Aufia berbohong.


Qevna tidak sebodoh itu. Manik Aufia jelas mengatakan hal yang berbeda dari mulut yang melontarkan kata 'baik-baik saja'.


"Tidak, kau tidak pandai berbohong, Fia! Aku bukan anak kecil dan kau tahu itu. Matamu saja berbicara jika kau tidak baik-baik saja! Jadi jangan bohongin aku." Ujar Qevna semakin serius menatap Aufia.


Astaga! Qevna tahu. Aufia melirik pada sisi lain agar tidak memandang Qevna lagi.


"Kau juga sudah dua hari ini tidak masuk kuliah? Apa kau pikir itu baik-baik saja? Tidak." Lanjut Qevna menggelengkan kepalanya pelan.


Aku ada masalah, tapi aku belum siap untuk berbagi pada siapapun. Aufia menundukkan kepalanya seraya menahan butiran kristal yang sudah mengumpul di sudut matanya.


"Aku sahabatmu, jadi jangan berfikir kau sendirian menghadapi masalah yang sedang kau alami."


Qevna mengulurkan tangannya lalu meraih tangan Aufia yang ada diatas meja dan menggenggamnya erat.


Aufia mendongak merasakan tangannya hangat tergenggam. Dilihatnya Qevna kini tersenyum manis padanya. Lega. Aufia sedikit tenang melihat sahabatnya yang begitu peduli padanya.


"Terima kasih, tapi untuk saat ini aku belum siap menceritakan apapun padamu, Qev." Jelas Aufia jujur.


"Tidak masalah, kapanpun kau siap, ceritakan masalahmu padaku."


Aufia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Qevna yang begitu mengerti keadaannya. Diantara yang lain menjauh dengan segala penilaian mereka, tetapi Qevna bertahan karena tahu siapa Aufia.

__ADS_1


"Sahabat?"


Aufia menarik tangannya dari genggaman Qevna lalu mengangkat jari kelingkingnya didepan Qevna sambil tersenyum dengan mata sembab.


"Sahabat!"


Sahut Qevna paham dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Aufia. Ikatan jari kelingking yang terbentuk dari kecil hingga sekarang. Keduanya kembali terkekeh meski tidak tahu apa yang membuat hal lucu itu.


...•...


...•...


...•...


Hari ini semua berjalan dengan baik tanpa Aufia bertemu sosok Avant.


JANGAN SEBUT NAMANYA!!!


Hingga menjelang siang, Aufia masih tetap pada tempatnya. Bangku kelasnya menjadi tempat terfavorit tanpa harus pindah kemanapun. Qevna yang datang ingin mengajaknya ke kantinpun harus mengalah karena Aufia tidak mau dan sudah membawa bekal dari rumah. Cemberut. Qevna hanya bisa cemberut.


"Baiklah! Aku akan ke kantin, kau mau dibelikan apa?" tanya Qevna dengan berdiri karena ingin pergi ke kantin kampus.


"Minuman dingin rasa cokelat." Jawab Aufia dengan melahap bekal dari Bibinya.


"Baiklah, aku pergi dulu!"


Qevna keluar dari kelas Aufia untuk pergi ke kantin. Sementara itu Aufia sendirian di dalam kelas tanpa ada yang menemani. Sepi. Namun Aufia mendengar ketukan suara sepatu yang datang.


"Kenapa kembali lag-"


Perkataan Aufia terhenti ketika melihat Avant berdiri didepannya dan itu membuat Aufia harus siap dengan rasa sakit yang mulai mengalir lagi.


"Kita sudah tidak ada urusan. Pergilah!" Ucap Aufia ketus tanpa melihat ke arah Avant. Dia bahkan melanjutkan acara makannya tanpe mempedulikan keberadaannya Avant.


"Kita masih terhubung selama kau masih belum memaafkan aku." Jelas Avant.


Apa?


Aufia berhenti makan setelah mendengar hal itu dari Avant. Memaafkan?


Dengan susah payah Aufia menelan ludahnya.


"Aufia... dengarkan aku." Ujar Avant kemdian duduk dibangku depan Aufia dengan mengadap ke belakang. Ke Aufia.


Terpaksa Aufia menatap ke arah Avant yang sebenarnya melihat wajahnya seperti menyayat luka pada hatinya.


"Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar ingin meminta maaf padamu dan memperbaiki semuanya. Tolong beri aku kesempatan itu untuk membuktikan rasa cintaku padamu."


DEG!!


Cinta?


Aufia mengalihkan pandangannya agar tidak menatap Avant.


Cinta?


"Ayolah, Aufia! Apa kau tidak melihat ketulusanku?"


Mendengar itu Aufia sontak menatap manik hitam milik Avant. Disana Aufia menemukan ketulusan hati yang ingin meminta maaf.


"Tidak! Kau pasti berbohong padaku, ini hanya tipu dayamu agar kau bisa menjatuhkan aku lagi, bukan?" Bantah Aufia tidak percaya begitu saja.


Astaga! Harus bagaimana lagi caranya Avant meyakinkan Aufia?


"Tidak! Aku tidak bohong, kali ini percayalah!" Avant memohon dan meraih tangan kanan Aufia untuk digenggamnya.


Sontak Aufia menarik kembali tangannya.


"Tolong, meski aku sudah kotor, tidak akan kubiarkan tangan biadabmu menyentuhku lagi!"


Aufia menatap tidak suka pada Avant.


"Aufia..-"

__ADS_1


"Tidak! Pergi kau!" Seru Aufia menunjuk pintu keluar.


[Bersambung...]


__ADS_2