
[Episode 044 - Hari Ke Empat Avant Part 3]
Paling atas?
Kini Aufia hanya bisa menempel dan memeluk lengan Avant yang jauh lebih tinggi darinya. Ia takut jika berada di ketinggian yang begitu tinggi.
"Avant, aku takut." Ucap Aufia melihat lift yang masuh berada di labtai 40-an.
"Sini!"
Avant meraih Aufia dalam dekapannya. Dengan ini Avant tahu jika Aufia takut dan bahkan mungkin tidak pernah naik lift sebelumnya.
"Kita akan kemana? Kenapa harus naik lift?"
Suara Aufia terdengar lirih dan bergetar.
"Diamlah... jika takut peluk aku!"
Huh?
Aufia mengernyitkan dahi dalam dekapannya Avant. Memang benar jika ia takut, tapi ini Avant mengambil kesempatan dalam kesempitan. Apalah daya, Aufia lebih memilih menurut untuk memeluk Avant. Pria yang jauh lebih tinggi darinya yang memberikan kenyamanan dalam dekapan hangat.
Dan Avant tersenyum dengan tingkah Aufia.
"Apa sudah sampai di lantai atas?" tanya Aufia.
Bukannya menjawab Avant justru semakin mendekap Aufia.
"Sudah sampaikah?"
Aufia terus bersembunyi didekapan Avant saat lift masih membawa mereka untuk baik ke atas. Aufia juga bisa merasakan bagaimana gerakan lantai lift ketika melewati ruang setiap lantai. Bergetar. Takut. Pasalnya, Aufia tidak pernah menaiki lift. Sebenarnya pernah waktu kecil dan dia tetap takut seperti sekarang ini.
"Ayo!"
Huh?
Tubuh Aufia tertarik begitu saja saat Avant menariknya keluar dari lift.
"Pelan-pelan!"
Aufia memukul pelan perut Avant karena tubuhnya yang terbentur dengan tubuh Avant saat tertarik tadi.
"Kita ini mau kemana? Dan dimana ini?" lanjut Aufia bertanya. Ia lebih memilih mengikuti Avant yang melangkahkan kakinya.
"Kau ingin aku seserius apa denganmu?"
Huh?
Aufia mendongak menatap Avant meski Avant tetap berjalan.
"Kau bicara apa?" Aufia sungguh tidak paham. Avant ini bicara apa?
"Akan aku bawa kau bertemu Ayahku."
BLUSH!!
Merah sudah seluruh wajah Aufia saat ini. Ia menunduk karena malu. Entahlah apa harus seserius ini? Astaga apa yang akan ia katakan nanti saat bertemu dengan Ayah dari Avant?
Ya, Tuhan! Aku harus bagaimana?
"Avant!"
Panggil Aufia menghalang langkah Avant.
"Kenapa?" Avant berhenti melangkah dan melihat tingkah Aufia seperti anak kecil. Lihatlah dia sampai merentangkan kedua tangan untuk menghentikan langkah Avant.
__ADS_1
"Kenapa membawaku bertemu dengan Ayahmu?" tanya Aufia.
Hhh... Avant menghela nafasnya.
"Untuk meminta restu pernikahan kita."
BLUSSHH!!
Lagi-lagi wajah merah Aufia terlihat. Ia menunduk dan melirik pada arah lain.
"Memangnya aku mau menikah denganmu?"
Dengar? Perkataan Aufia terbata-bata untuk saat ini dan itu membuat Avant menahan tawanya yang hampir lepas.
"Kau!"
Huh?
Aufia menelan ludahnya karena Avant mendekatkan wajahnya menyisakan hanya beberapa centi saja.
"Meski kau tidak bilang ingin menikah denganku, tapi aku tahu kau nyaman denganku. Iyakan?" ucap Avant dengan mengecup bibir mungil milik Aufia lalu melanjutkan langkahnya lagi dan menyingkirkan rentangan tangan Aufia.
Huh?
Tertegun?
Tentu! Aufia terdiam mendengarnya. Bahkan beberapa kali mengerjapkan mata untuk sadar dari sihir Avant.
"Yak!!! Avant!"
Teriak Aufia memilih berlari mengikuti Avant yang sudah melangkah jauh.
Disinilah mereka berdua. Avant dan Aufia berdiri di depan sebuah pintu yang tinggi dengan warna hitam pekat. Knop pintu lurus berwarna emas. Aufia mendongak dan menatap Avant yang mengambil nafas saat ini.
"Gugup?"
Huh?
Satu pertanyaan Aufia membuat Avant melontarkan senyum manisnya.
"Doakan Ayahku merestui kita." Tangan Avant terulur mengusap puncak kepala Aufia yang memang lebih pendek darinya.
"Eumh."
Untuk itu Aufia juga tersenyum meski rasa canggung ia pikul berat di kedua pundaknya.
"Avant!" Tahan Aufia.
"Hm?"
"Aku gugup." Aufia menatap Avant.
"Tenanglah, ada aku disini. Kau tidak perlu takut."
Lagi-lagi senyum Avant mampu membuat hati Aufia tenang.
Tangan Avant membuka pintu untuk masuk ke dalam ruang pribadi milik Ayahnya. Aufia yang melihatnya ikut masuk karena tangannya yang digandeng Avant.
Jujur saja Aufia sangat takut juga gugup. Ini tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Sangat diluar dugaan maupun rencana. Bagaimana bisa memutuskan untuk menikah dengan Avant, pria yang menyakitinya diawal pertemuan meski sekarang ia juga merasakan nyaman berada disamping Avant.
"Ayah?"
...•...
...•...
__ADS_1
...•...
Keluarga Kanuraga memang dikenal keluarga yang memiliki kehormatan yang baik. Kanuraga selalu mengutamakan sopan santun dalam memimpin sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Siapa yang tidak mengenal keluarga Kanuraga?
Hadiyata Kanuraga adalah pemimpin sekaligus pemilik Kanuraga Corp yang dihormati banyak orang. Sikapnya yang baik, tegas, dan tidak sombong membuat semua karyawan menaruh hati pada Hadiyata.
Hadiyata juga dikenal selalu mengutamakan sopan santun dalam berbicara dan memperlakukan semua bawahannya. Itulah yang membuat Kanuraga di kenal keluarga yang baik. Namun, kehormatan yang dijunjung tinggi terhempas jatuh saat berita buruk menarik nama Kanuraga, Avant Kanuraga. Semua orang mulai mempertanyakan dan mempertimbangkan kehormatan Kanuraga.
Hadiyata mulai berfikir ini itu hingga penyakit jantungnya kambuh karena hal itu. Untung saja Hadiyata masih diberikan kesempatan ke dua untuk menikmati kehidupan ini. Demi kehormatan, Hadiyata mulai berfikir bagaimana cara untuk menutupi dan membantah berita yang tidak benar dan tak berdasar itu. Hingga Wanda, istrinya mempunyai niatan untuk menikahkan putranya, Avant Kanuraga.
"Jadi Ibu ingin kita membatalkan pernikahan ini?"
Tanya Hadiyata yang sudah pulang dari kantor.
"Iya, bagaimanapun ini kehidupan Avant, dia yang akan menjalaninya. Jika kita salah memilihkan pendamping hidup, maka ini akan menjadi dosa dan kesalahan kita sepanjang hidup kita, Ayah."
Wanda sebisa mungkin memberikan penjelasan pada sang suami tanpa memberikan beban ataupun membuatnya berfikir lebih banyak lagi.
"Tapi kita sudah menyetujuinya, begitupun juga keluarga Hearama. Bagaimana bisa kita membatalkannya begitu saja? Apa kata orang-orang nanti?" Hadiyata tidak ingin jika hal buruk atau berita buruk akan bertambah lagi nantinya.
"Ini kehidupan Avant, biar dia yang menentukannya. Kita sebagai orang tua memang boleh memilihkan, tapi tidak dengan memaksa." Sahut Wanda.
"Ayah tahu, tapikan kita juga tidak memaksanya. Avant sendiri yang memilih Qevna! Apalagi mereka sudah membeli gaun pernikahana waktu itu!" Hadiyata ingat betul bagaimana Avant dan Qevna membeli dan memilih gaun pernikahan di dalam gambar yang dikirim Kris.
"Itu bukan Qevna, Ayah!"
Apa?
Bukan Qevna?
Maksudnya?
Bukankah itu Qevna?
"Bagaimana bisa Ibu menyimpulkan jika itu bukan Qevna? Ayah tahu itu Qevna, rambutnya saja sama. Apa Ibu pikit Ayah ini memiliki masalah dengan penglihatan Ayah? Huh?"
Jelas Hadiyata marah ketika istrinya bilang jika gadis itu bukan Qevna, karena yang ia lihat adalah Qevna.
"Ayah, itu gadis pilihan Avant. Bukan Qevna, Avant bilang pada Ibu jika dia memiliki calon sendiri. Avant sudah punya pilihan sendiri. Maka dari itu waktu pertemuan keluarga kita dengan keluarga Hearama, Avant tidak terlihat senang, karena apa? Dia sudah memiliki gadisnya sendiri." Jelas Wanda dengan tenang agar suaminya tidak naik pitam.
Apa?
Mendengar hal itu dari sang istri membuat Hadiyata menjatuhkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia berfikir terlalu melangkah jauh untuk Avant. Ini masa depan Avant, harusnya bukan dirinya yang membuat jalan setapaknya. Hadiyata memijat keningnya karena pening sudah mulai dirasakannya.
"Ayah...! Ibu juga merasakan hal yang Ayah rasakan, jadi kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Ibu tidak ingin Ayah sakit lagi. Lagi pula kita semua belum menentukan tanggal pernikahannya, itu masih aman dan tidak masalah jika dibatalkan." Sambung Wanda lagi dengan mengusap lutut suaminya agar tetap tenang.
Tidak menjawab perkataan istrinya adalah yang dilakukan Hadiyata saat ini. Kepalanya cukup berat untuk berfikir lagi. Untuk itu dia memilih diam daripada bicara lagi. Kenyataan dimana langkahnya salah untuk membuka masa depan putranya.
"Jika Avant sudah memiliki calon sendiri, kenapa tidak bicara dengan kita?" tanya Ayahnya yang kini tetap tenang meski sebenarnya ia mulai memikirkan kehormatannya di depan publik.
"Ibu juga tidak tahu, Ayah. Mungkin dia ingin memberikan kejutan?"
"Kejutan apa? Jika sudah seperti ini siapa yang akan disalahkan?" sahut Hadiyata serius.
"Kita semua salah." Jawab Wanda menangis.
"Kita semua salah. Kita terlalu gegabah untuk menutupi berita yang beredar." Lanjut Wanda.
Masih ingat dengan berita tentang Avant? Meski sekarang tidak banyak dibicarakan, namun berita itu mampu memberikan pukulan hebat membuat dinding kehormatan Kanuraga retak.
"Ayah tahu. Tapi setidaknya Avant yang bicara dengan kita. Ayah tidak bisa! Jika kita membatalkan pernikahannya, maka kita menyakiti anak dari keluarga Hearama. Kehormatan kita lagi yang akan dijatuhkan!" Jelas Hadiyata tidak ingin semua rencananya gagal.
"Tapi, Ayah! Avant yang akan kita jatuhkan jika pernikahan mereka tidak bahagia. Begitu juga dengan Qevna, dia yang akan menjadi korban, Ayah." Sekali lagi Wanda menjelaskan dengan tenang.
Wanda berharap suaminya bisa mengerti kali ini.
__ADS_1
[Bersambung...]