Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 3


__ADS_3

Sudah kubilang kamu tidak perlu melayani aku sedemikian rupa. Aku bisa delivery nanti," tolaknya menutup pintu kamar.


🌼🌼🌼


Dua bulan sudah mereka tinggal bersama. Namun, sekat yang dibuat Bella demikian kuat hingga tak pernah sekali pun mereka terlibat perbincangan hangat layaknya pasangan lain. Pria itu tak peduli, ia melakukan tersebut untuk membalas semua kebaikan Pak Santoso yang sedikit banyak memengaruhi perjalanan hidupnya.


Aryo tetap bekerja seperti biasa, sehingga target skripsi juga wisuda akhirnya bisa ia wujudkan. Tentu saja meski ia menikahi Bella untuk menutupi aib, ia tetap bertanggung jawab atas apa saja yang seharusnya dilakukan seorang lelaki yang menikah. Ia selalu memberikan nafkah lahir meski Bella keras menolak, tapi tentu saja tidak dengan nafkah batin. Pria itu sangat paham.


Aryo bersemangat hari ini, karena seminggu lagi ia akan di wisuda. Sore sebelum pulang lelaki itu menyempatkan diri menemui mertuanya. Aryo hendak berbagi cerita tentang perkuliahan yang telah ia rampungkan. Sang mertua terlihat senang mendengar penuturannya. Bahkan ia berjanji akan meluangkan waktu untuk menghadiri.


"Kabar Bella gimana? Dia tidak menyusahkanmu, 'kan?" Lelaki paruh baya itu bertanya.


"Tidak, Pak," jawabnya tersenyum.


Pak Santoso mengangguk. Terdengar helaan napas darinya. Lelaki pekerja keras itu mengucapkan terima kasih pada Aryo yang telah membantu keluarganya.


"Aku harap kamu mau bersabar jika mendapati kelakuan Bella yang mungkin saja membuatmu tersinggung," ungkapnya seolah tahu seperti apa perasaan Aryo setiap harinya.


Tinggal se-rumah dengan putri majikan yang terbiasa selalu dilayani bukan perkara gampang. Beruntung dirinya sudah terbiasa akan hal itu.


"Kamu mau kan bersabar, Aryo? Hingga bayi itu lahir, setelah itu kamu bisa mengambil keputusan dengan hidupmu," Kali ini Pak Santoso menatap dengan penuh permohonan.


"Tentu saja, Pak."


"Terima kasih, Aryo," ucapnya lega. Pria ramah itu tahu betul bagaimana putrinya, dan ia juga paham bagaimana seorang lelaki yang harus tinggal satu atap dengan wanita yang jelas-jelas sudah sah di mata hukum.


"Bapak jangan khawatir. Saya akan menjaga Bella dengan baik. Saya pastikan itu," ujarnya meyakinkan. Aryo paham kemana arah pembicaraan bos-nya itu.

__ADS_1


"Kamu bisa ajak Bella untuk hadir di acara itu," tutur Pak Santoso saat ia hendak berpamitan. Aryo hanya tersenyum tipis lalu mengangguk kemudian pergi setelah mengucap terima kasih.


Pria itu melirik pergelangan tangan, masih sore, dan hari ini dia tidak lagi perlu ke kampus karena urusan perkuliahan telah selesai. Santai ia memacu kendaraan menuju rumah. Saat melewati swalayan, ia membelokkan kendaraan untuk berbelanja. Pria itu paham bahwa Bella perlu asupan sayur dan buah banyak,ia membeli beraneka ragam buah memenuhi trolly-nya. Setelah dirasa cukup ia membuat lalu pergi.


🌼🌼🌼


Seperti biasa rumah sepi, seolah tak berpenghuni. Meski lampu telah menyala. Aryo menarik bibir saat mengetahui seluruh ruangan tertata rapi. Setidaknya Bella sudah mulai mau merapikan tempat tinggal mereka. Ia menaikkan alis saat hendak mengetuk pintu kamar istrinya. Ada kertas menempel di sana.


Aku jalan-jalan, bosan di rumah terus. Oh iya, nggak perlu nunggu aku.


Aryo mengusap wajah kecewa, ia berharap Bella senang dengan berbagai buah yang ia belikan. Tak lama ia menggeleng menyadari bahwa dirinya memang bukan siapa-siapa. Sambil melepas dasi ia menuju dapur untuk memasukkan aneka belanjaan ke dalam kulkas.


Setelah beres, ia membersihkan diri laku kembali ke dapur untuk memasak buat dirinya sendiri. Satu porsi sup sayuran lengkap dengan lauk dan sambal siap untuk dinikmati. Tak lupa ia membuat juice tomat kesukaannya. Aryo menikmati makan malam sendiri seperti biasa.


Malam merangkak semakin larut. Pria itu masih asik dengan gadgetnya. Sesekali ia melirik ke arah penunjuk waktu di pergelangan tangan. Kemudian kembali berselancar di dunia maya.


[Non, tolong kabari aku, Non di mana.]


Aryo mengirim pesan, tapi sia-sia. Perempuan itu tak juga membalas pesannya. Ia merebahkan diri ke sofa seraya mengacak rambut. Kembali ia menelpon berharap kali ini sang istri menerima panggilan darinya.


Namun, lagi-lagi ia hanya bisa berharap. Lelaki itu bangkit mengambil air putih membasahi kerongkongan. Air mukanya masih terlihat resah. Seolah mendapat ide, cepat ia menyambar jaket dan kunci mobil lalu keluar.


Saat pria itu hendak mengunci pintu, ia mendengar mobil berhenti. Tak lama turun wanita yang di tunggu sejak tadi. Bella membuka pagar, ia melangkah seolah tak melihat Aryo yang berdiri di depan pintu.


"Non, dari mana?" tanyanya hati-hati.


Bella tak menjawab, ia melirik sekilas lalu masuk ke dalam rumah. Lelaki itu mengekor kembali bertanya hal yang sama.

__ADS_1


"Ck! Aku 'kan sudah bilang nggak usah nungguin aku, kenapa masih aja nunggu? Pake telepon lagi!" hardiknya kesal menatap Aryo.


"Saya hanya tak ingin terjadi sesuatu pada Non. Maaf jika itu mengganggu," jelasnya lirih. Bella terlihat tidak suka.


"Jelas mengganggu lah, lain kali kalau aku pergi, tidak usah seperti tadi! Lagipula kamu bukan siapa-siapa, 'kan?" sanggahnya.


Aryo mengangguk tersenyum.


"Iya, saya bukan siapa-siapa. Maaf," ucapnya lalu pergi meninggalkan Bella yang masih berdiri di depan kamarnya.


🌼🌼


Ponsel Aryo berdering saat pria itu jogging seperti biasa. Ia memang tidak selalu membawa ponsel. Pagi itu ia meninggalkan benda pipih itu di meja ruang keluarga. Bella yang berada di dapur untuk mengambil beberapa buah-buahan mencoba melihat siapa yang menelepon suaminya.


Seorang gadis tengah tersenyum manis muncul di layar dengan nama Aira memanggilnya. Membaca itu wajah wanita itu berubah tak biasa. Ia membiarkan ponsel itu terus memanggil. Entah mungkin karena ia kesal, cepat Bella menutup ponsel itu dengan cushion sehingga suara itu tak lagi mengganggunya.


Aryo melintas saat ia tengah berada di ruang makan. Pria itu seolah tak melihatnya. Jika biasanya ia selalu menyapa dan menanyakan makanan apa yang diinginkan. Namun, kali ini Aryo seperti tengah terburu-buru. Bella tak memedulikan itu. Ia asyik menikmati makan paginya dengan sandwich dan beberapa macam buah juga segelas susu ibu hamil yang telah disediakan Aryo.


Tiga puluh menit kemudian, terlihat Aryo telah rapi dengan kemeja putih lengkap dengan dasi dan celana kain berwarna hitam. Mata Bella terpaku menatapnya. Pria berbadan tegap itu tampak mencari sesuatu. Seringai kecil muncul di bibirnya saat Aryo menemukan benda pipih yang tadi ia sembunyikan di balik cushion. Wajah cantik Bella memerah saat ia kedapatan tengah menatap Aryo. Pria itu tersenyum meraih tas laptop lalu pergi tanpa pamit seperti biasa.


Ada kecewa terbias di wajah tirus Bella. Sebenarnya ia ingin mendengar lelaki itu memanggilnya. Wanita berkulit putih itu teringat kejadian malam tadi, sejenak menyadari bahwa mungkin ia telah menyinggung perasaan lelaki itu.


Deru mobil menjauh meninggalkan kediamannya. Aryo pergi ke kantor tanpa pamit seperti biasa itu telah menyisakan kecewa dan rasa bersalah di hatinya.


Bersambung


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2