
Yang Terdalam
15
sempurna untuk mendapat cinta yang sempurna, tetapi cukup dengan mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.
🍓🍓
"Kamu tidak ingin menyapa dia?"
Aryo mengangguk mengikuti Bella menuju kamar. Berdua mereka masuk ke kamar. Bayi mungil itu terlihat lapar, bibirnya lucu mencari-cari ****** ibunya. Lelaki itu tersenyum haru memandang Archie.
"Dia lapar, eum ...." Bella ragu. Ia malu jika aktivitas menyusui di lihat Aryo. Tahu akan perasaan wanita itu, ia mengangguk kemudian keluar. Cuaca belakangan ini sering berubah, baru saja cerah mendadak mendung. Terdengar Guntur dari kejauhan, sementara angin mulai bertiup kencang membawa kumpulan awan gelap.
"Mas, diminum dulu. Mbok bikin teh jahe, biar hangat."
"Terima kasih, Mbok." Perlahan ia meneguk minuman itu. Mata Aryo melihat heran ke arah Mbok Win yang tidak beranjak dari tempat ia berdiri.
"Ada apa, Mbok?"
Perempuan bertubuh kurus itu menggeleng tersenyum seraya berkata, "semoga Mas Aryo benar-benar bisa membangun rumah tangga bersama Non Bella."
Aryo menghela napas dalam-dalam lalu mengangguk.
"Doakan saja, Mbok. Saya hanya mengikuti apa kata Tuhan saja." Hujan mulai menyapa tanah. Menimbulkan aroma petricor yang menenangkan. Pria itu melirik ke pergelangan tangan, azan maghrib berkumandang. Ia meminta izin ke Mbok Win untuk ke mesjid.
"Nanti kembali lagi, 'kan, Mas?" tanya asisten rumah tangga itu. Pria itu hanya mengangguk lalu pergi.
Archie kembali terlelap. Wajah Bella tampak bahagia, ia merapikan rambut dan baju kemudian keluar kamar.
"Mbok ...."
"Mas Aryo ke mesjid, Non." Mbok Win menjelaskan seolah tahu apa yang akan ditanyakan wanita itu.
Mengangguk, Bella menuju dapur. Ia ingin sekali memberikan yang terbaik untuk pria itu.
"Mbok, ada tomat?" Ia membuka lemari pendingin, "Mas Aryo itu suka sekali dengan juice tomat," jelasnya sambil mencuci beberapa buah bervitamin C tinggi itu. Ada senyum tipis di bibir Mbok Win menyaksikan perubahan pada majikannya.
"Non."
"Iya, Mbok?"
"Non pasti sayang sekali dengan Mas Aryo ya?" tanyanya lugu. Pipi Bella bersemu mendengar itu. Ia hanya tersenyum menanggapi sambil terus membuat juice kesukaan Aryo.
"Nggak apa-apa kok, Non."
"Nggak apa-apa ... apa, Mbok?"
"Ya, nggak apa-apa kalau memang Non sayang sama Mas Aryo. Dia anak baik kalau menurut, Mbok."
Sambil merapikan anak rambut, Bella mengangguk.
"Tadi, dia bilang sekaligus salat isya' nggak, Mbok?"
"Mungkin, Non."
Wanita berkulit putih itu menarik bibirnya lebar. Kemudian membawa juice tomat buatannya ke meja makan. Ia memerintahkan Mbok Win untuk membuat makan malam.
"Mas Aryo sukanya apa, Non?"
Bella mengangkat bahu seraya mengatakan bahwa pria itu suka semua makanan. Semakin malam hujan semakin deras. Setelah isya', Aryo tiba. Pakaiannya sedikit basah terkena hujan meski telah memakai payung.
"Sebaiknya minum yang hangat dulu supaya nggak masuk angin," saran Bella menyodorkan cangkir berisi teh hangat. Sambil mengucap terima kasih ia meneguknya.
__ADS_1
"Archie tidur lagi?"
Bella mengangguk, ia tampak khawatir melihat baju Aryo yang basah.
"Kamu nggak bawa baju ganti?"
"Nggak. Kenapa?"
"Baju kamu basah, nanti ...."
Bella menghentikan kalimatnya saat telunjuk Aryo menempel di sana. Mereka saling menatap.
"Kamu sedang mengkhawatirkan aku?" bisiknya lembut. Wajah Bella merona lalu cepat menunduk malu.
"Kenapa malu? Aku suka kamu khawatir seperti ini." Aryo mengangkat wajah cantik itu lalu menangkup dengan kedua telapak tangannya.
Kembali mereka saling bertukar netra. Sesungguhnya Aryo tidak dapat menahan saat bibir Bella berada tepat di depannya. Bagaimanapun dirinya adalah lelaki normal yang mempunyai hasrat. Pelan bibir mereka bertemu, kecupan lembut mendarat di bibir Bella. Perempuan itu mengalungkan kedua tangannya ke leher Aryo seraya memejamkan mata menikmati ***** lembut darinya.
"Maaf, aku ...."
"Bukankah aku istrimu, Aryo? Bella meletakkan jari ke bibir pria itu seperti yang di lakukan Aryo, "kamu tidak perlu meminta maaf."
Ia menatap wanita di depannya, ada rasa bahagia menyeruak di hati saat melihat Bella tersenyum membalas tatapannya.
"Kita makan malam dulu yuk! Nanti Archie keburu lapar lagi," ajak Bella diikuti anggukan oleh Aryo. Keduanya terlihat sangat menikmati makan malam itu. Sesekali Bella menyuapi pria di sampingnya demikian juga sebaliknya.
🍁🍁
"Sudah malam, aku harus pulang," ucap Aryo saat mereka selesai makan. Mendadak wajah Bella berubah muram. Aryo menangkap perubahan itu. Tersenyum ia mendekat.
"Kamu mau aku tinggal di sini?"
Dengan mencebik ia mengangguk kemudian menunduk.
"Aryo, seberapa penting aku di hidupmu?"
"Kamu nyawaku!"
"Lalu, bagaimana jika mereka ...."
"Tak merestui?"
Bella mengangguk, air matanya mulai menetes .
"Kali ini aku tunjukkan kesungguhan itu untukmu! Aryo mengusap pipi Bella yang basah, "aku benar-benar mencintaimu, Bella!" Mereka berpelukan erat seolah tak ingin berpisah.
"Temani Archie. Besok aku ke sini lagi, tapi sebelum itu aku akan menghadap papamu," ucap Aryo sebelum ia pergi. Satu kecupan singkat mendarat di kening Bella.
"Aryo, janji ya ...."
Pria itu menyipit menatap Bella.
"Janji kamu akan bicara ke papa?"
"Janji!"
***
Pagi-pagi sekali Pak Santoso dan Bu Ratih mendatangi kediaman Bella. Mereka membicarakan pernikahannya dengan Dika.
Wanita berparas cantik itu duduk diam di depan kedua orang tuanya. Jemarinya saling bertaut gelisah. Pak Santoso benar-benar berniat menikahkan dirinya dengan Dika.
"Tapi, Pa! Surat perceraian itu sampai kapan pun tidak akan Bella tanda tangani!" tegasnya.
__ADS_1
"Kamu harus tanda tangan! Karena Dika sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menikahimu, meski dia tahu kamu ...."
"Hamil di luar nikah? Begitu, 'kan?" potong Bella histeris. Kedua orang tuanya terdiam.
"Pa, Ma ... Bella tidak mau bercerai dengan Mas Aryo!" tegasnya menyematkan panggilan mas untuk lelaki itu.
"Bella ... Bella mencintainya," tuturnya lagi. Pak Santoso menarik napas panjang lalu menggeleng.
"Tidak, Bella! Jika itu terjadi, sama artinya kamu membuat papa malu untuk kedua kalinya!" sentaknya menatap Bella geram. Perempuan bermata indah itu membalas tatapan sang papa dengan mata berkaca-kaca.
Tak ada kata lagi yang terucap dari bibirnya. Bella bangkit dari duduk meninggalkan keduanya menuju kamar. Perempuan itu menumpahkan tangis di atas pembaringan. Di sebelahnya Archie terlelap. Sang Mama perlahan mengikuti masuk ke kamar. Lembut mengusap kepala putrinya.
"Bella, dengarkan dan turuti keinginan papamu, Nak. Percayalah, itu yang terbaik bagimu."
Sejenak ia menatap Bu Ratih, kemudian menggeleng cepat.
"Tidak, Ma. Masa depan Bella ada di tangan Bella. Kebahagiaan Bella ada bersama Mas Aryo!" tandasnya tegas. Bu Ratih terdiam, teringat obrolan dirinya dengan lelaki itu. Jelas Aryo mengatakan perasaannya pada sang putri.
"Tapi, Bella, kamu harus tahu bahwa Dika adalah pria baik yang mau menerimamu apa adanya," papar sang mama.
"Lalu bagaimana dengan Mas Aryo? Apa dia bukan pria baik? Apa dia tidak mau menerima Bella?" timpalnya masih dengan air mata.
Bu Ratih menghela napas mencoba kembali membujuk putrinya. Namun, Bella berkeras menolak.
"Cukup, Ma. Jawaban Bella tetap sama, tidak!"
🍁🍁🍁
Seperti yang direncanakan, Aryo ke kantor Pak Santoso untuk mengutarakan niatnya. Sampai di sana ia tak menjumpai pria paruh baya itu. Sekretaris mengatakan bahwa yang bersangkutan masih dalam perjalanan.
Sambil menunggu kedatangan Pak Santoso, ia membuka telepon selulernya. Aryo menyungging senyum menatap wallpaper gadgetnya. Seorang wanita tengah sibuk menyiram bunga dengan perut yang membuncit. Ia mengambil gambar Bella tanpa sepengetahuannya waktu itu.
"Aryo?"
Pria itu tersenyum menjabat tangan mantan bosnya. Seolah tahu apa yang akan disampaikan pria itu, Pak Santoso mengajak Aryo masuk ruangan.
"Sudah lama menunggu?" tanyanya setelah mereka berdua duduk di sofa, "saya dari rumah Bella tadi."
Aryo mengangguk. Suasana hening sejenak.
"Aryo, saya sudah tahu semua tentang kamu dan Bella ...," Pria itu menarik napas, "kalian saling mencintai?"
"Iya, Pak. Saya sangat mencintai putri Bapak."
Pria yang rambutnya sedikit memutih itu kembali menghela napas dalam-dalam. Ia mulai bercerita tentang Dika dan Pak Satya sahabatnya. Mereka sudah menjalin hubungan baik bahkan sangat baik hingga saat ini. Dika bukan orang baru bagi keluarga mereka. Bella adalah teman baik Dika saat masih kecil dulu. Mereka berdua bertetangga hingga akhirnya keluarga Satya pindah ke London.
"Dika pria baik. Dia bisa mengerti dan menerima apa pun keadaan Bella. Karena rupanya saat masih sekolah, mereka saling berkomunikasi, sebelum Bella mengenal Doni," paparnya menatap langit-langit.
Aryo bergeming menunggu ucapan selanjutnya dari pria di sebelahnya itu.
"Kamu bisa membantu saya lagi, Aryo? Paling tidak ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu saya janji kamu berhak bahagia atas hidupmu."
"Bantu apa, Pak?"
"Lupakan putriku. Biarkan dia melanjutkan hidup dengan Dika ... sebab ini bukan lagi tentang cinta, tapi tentang hubungan baik saya dengan Satya."
Aryo menatap Pak Santoso lekat. Ada gurat permohonan di mata tuanya.
Ada rasa dalam hati yang meronta, ada ego yang ingin ia pertahankan, tapi bagi Aryo, pria di depannya ini adalah malaikat baginya. Ia tidak akan bisa seperti ini jika tanpa perantara Pak Santoso.
"Maafkan saya, Aryo. Saya bisa memahami perasaan kamu. Tapi ...."
"Saya mengerti, Pak. Lalu bagaimana dengan Non Bella? Apakah dia setuju?"
__ADS_1
"Dia tidak setuju, dia sangat mencintaimu. Tapi ... kebaikan Satya pada keluarga kami akankah kami balas dengan kekecewaan?"