
Bahkan ketidaksempurnaan pun menjadi indah bila bersamamu.
***
Aryo!" Suara seseorang menghentikan langkahnya. Pria itu membalikkan badan, istri Pak Santoso tengah berdiri di depan pintu kamar mandi. Aryo menunduk sopan seraya tersenyum.
"Kita bicara di luar," ajaknya. Pria itu mengikuti langkah sang majikan. Mama dari Bella itu mempersilakannya duduk. Suasana malam yang sepi seolah dirinya tengah berada dalam ruang sidang. Ia menduga Bu Ratih akan menginterogasinya setelah mendengar apa yang ia ucapkan tadi.
"Apa kamu benar mencintai putriku?" Tatapan Bu Ratih seolah mengulitinya, "katakan, Aryo!"
"Iya, saya mencintainya." Tegas kalimat itu keluar dari bibirnya.
"Kamu tahu dia siapa?"
"Saya tahu, sangat tahu, Bu. Itulah sebabnya saya ...."
"Maksudku, kamu tahu seperti apa masa lalunya? Seberapa kelam perasaannya?" potong perempuan itu.
Aryo mengangguk cepat.
"Sebesar apa cintamu padanya?"
"Saya tidak bisa menggambarkan itu, Bu. Hanya saja saya benar-benar mencintai Bella." Suasana hening, hanya sayup-sayup terdengar suara para perawat berbincang di kantor mereka.
"Kamu juga tahu kan, kalau Bella ...."
"Saya tentu saja tahu semuanya, Bu. Saya cukup tahu diri. Lagi pula mana mungkin putri Ibu mencintai saya." Kali ini Aryo memotong ucapan Bu Ratih.
"Saya pamit, Bu. Sampaikan salam saya untuk Bella."
"Tunggu, apa surat perceraian ...."
"Sudah saya letakkan di meja di samping tempat tidur Bella tadi. Permisi, Bu. Selamat malam," pamitnya pergi meninggalkan separuh hatinya.
💔💔
Pagi sekali Bella membuka mata, ia perlahan berjalan ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan merapikan rambut, ia duduk menunggu Archie yang masih dimandikan. Tak lama sarapan datang, dengan sukacita Bu Ratih menyuapi putrinya.
"Ma, Aryo belum ke sini?" tanyanya saat selesai makan pagi. Bu Ratih diam, ia hanya memberikan map berwarna merah kepada Bella.
"Apa ini, Ma?"
"Dari Aryo. Kamu belum tanda tangan?"
Bella menelan saliva, mendadak matanya sendu. Wajah itu tak secerah barusan. Malas ia membuka map, jelas di sana pria itu telah menandatanganinya. Bu Ratih menyerahkan pulpen pada Bella.
"Kamu jahat, Aryo! Kamu pikir aku akan menandatangani surat perjanjian absurd ini?" gumamnya.
"Ma, kapan aku bisa pulang?" tanyanya menutup map lalu kembali meletakkan di meja. Bu Ratih tak menjawab, ia memeriksa surat perjanjian itu. Mata itu menyipit saat tak melihat tanda tangan putrinya di sana.
"Kamu belum tanda tangan?"
"Kapan aku bisa pulang, Ma?" Kembali ia bertanya tanpa menjawab pertanyaan sang mama. Perempuan paruh baya itu tak menjawab. Tak lama seorang perawat datang membawa Archie untuk disusui.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Aryo tengah berbincang dengan rekan dan beberapa karyawan di restoran miliknya. Sesekali ia memeriksa gadget kemudian kembali melanjutkan pembicaraan.
"Aryo! Selamat ya. Akhirnya kamu jadi ayah juga," ucap seorang rekan menjabat tangannya. Aryo tersenyum tipis seraya mengangguk.
"Jadi bagaimana dengan surat itu, Yo? Apa itu akan benar-benar terjadi?" tanyanya lagi. Sejenak Aryo melirik pada rekannya itu.
"Entah, Tom! Yang jelas aku sudah tanda tangan ... selesai sudah kontrak itu." Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di kursi.
Tomi adalah teman dekat Aryo semasa sekolah hingga mereka berdua bekerja sama mendirikan rumah makan itu. Ia sangat tahu siapa pria itu dan bagaimana perasaannya pada Bella.
"Lalu bagaimana dengan Bella?" tanya Tomi lirih, "maksudku, apa dia mencintaimu?"
Aryo hanya menghela napas dalam-dalam kemudian beranjak dari duduk meninggalkan pria berkacamata itu.
"Yo! Tunggu!" Tomi mengejar langkah pria itu, "mau ke mana?"
Aryo mengatakan bahwa dirinya pulang.
"Butuh teman bicara?"
Lelaki itu menggeleng kemudian meluncur pergi.
🥀🥀
Setelah tiga hari di rumah sakit, Bella diperbolehkan pulang. Namun, ia memilih pulang ke rumah tempat ia tinggal bersama Aryo. Awalnya Pak Santoso dan istrinya keberatan jika sang putri kembali tinggal di sana, tetapi karena Bella bersikeras mereka pun mengizinkan dengan memerintahkan seorang asisten rumah tangga mereka ikut dengan Bella.
Perempuan itu memasuki rumah yang penuh kenangan dirinya dengan Aryo. Netranya menyapu setiap ruangan, semua seolah bercerita tentang pria itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, ia mengambil gadget dari dalam tas. Jemarinya mengusap kemudian mencari nama seseorang untuk dihubungi.
Aryo membiarkan telepon selulernya terus bergetar. Meski dalam hati ia ingin menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu. Hingga tak ada pilihan lain baginya selain mengaktifkan mode pesawat.
Pria itu membaringkan tubuh di kursi depan. Kilas kebersamaan dengan Bella kembali menyapa memori. Wajah cantik dengan senyum yang selalu ia suka terus hadir di pelupuk.
"Aku memang pengecut!" umpatnya.
Pria itu mengacak rambutnya, tampak frustrasi terlukis di wajah. Ia melihat ke arah benda pipih yang baru saja di non aktifkan, sejenak berpikir lalu cepat ia kembali menghidupkan mode data. Tangannya mengusap tengkuk menunggu resah seseorang yang dihubungi. Tak ada hasil, tapi bukan alasan baginya untuk berhenti menelpon Bella.
"Bella ...."
"___"
"Tunggu jangan ditutup teleponnya."
"___"
"Bella!"
Aryo mengusap wajahnya kasar. Ia melirik jam dinding, masih sore. Bergegas pria itu menyambar kunci lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman wanita itu. Tak butuh waktu lama ia tiba di rumah Bella. Lama ia tak segera keluar dari mobil. Ada ragu dan rindu yang membuncah di dadanya. Matanya menyipit saat melihat seseorang tengah menyiram tanaman. Pelan ia turun menyapa perempuan itu.
"Mbok Win?" sapanya sopan.
"Eh, Nak Aryo. Masuk! Non Bella baru saja selesai memandikan Archie," tuturnya ramah. Mendengar nama Bella dan Archie disebut, wajahnya berbinar. Aryo melangkah perlahan, matanya melihat ke kamar Bella. Aroma bayi menguar di rumah itu.
__ADS_1
Dengan senyum tipis ia mendekat ke kamar itu. Langkahnya terhenti saat melihat Bella tengah menyusui Archie. Tak ingin mengganggu keduanya, Ia mundur duduk di ruang tengah.
"Mbok Win, tolong ambilkan air putih juga buah di kulkas," pinta Bella dari kamar. Ia belum menyadari ada Aryo di rumah itu.
"Mbok, biar saya yang antar ke kamar." Pria itu memberi isyarat agar asisten rumah tangga itu mengikuti idenya. Aryo membawa nampan berisi pesanan Bella. Wanita itu masih dengan posisi berbaring membelakangi pintu, sehingga tidak tahu Aryo telah berada di kamar.
"Bella," panggilnya seraya meletakkan nampan di nakas. Mata wanita itu membulat melihat pria yang ia tunggu telah berada tepat di depannya.
Lembut pria itu tersenyum.
"Minum dulu," ucapnya masih tersenyum. Bella membuang pandangan ke Archie yang sudah mulai tertidur. Pelan ia beranjak dari petiduran, menuju ke luar.
"Bella."
"Aku nggak mau ada keributan di kamar Archie!" ketusnya sambil melangkah ke ruang tengah.
"Kamu mau ambil surat perceraian itu? Kamu mau memintaku menandatangani?" Bella menunjuk map merah di atas meja dengan dagunya. Aryo menarik napas dalam-dalam, ia meletakkan tubuh dekat dengan wanita itu.
"Kamu menginginkan aku membawanya ke pengadilan?" Aryo menatap Bella lekat. Tak bisa menguasai emosi, cepat wanita itu menyambar map membuka kemudian mengambil kertas di dalamnya.
"Kamu jahat, Aryo! Kamu jahat!" Bella merobek surat perceraian itu kemudian membuangnya. Air matanya mengalir begitu saja membasahi pipi. Melihat itu Aryo meraih bahu Bella, mendekapnya erat.
"Maafkan aku, Bella. Iya, aku memang jahat," bisiknya berkali-kali mengecup kening wanita yang semakin semakin tergugu itu.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan agar bisa membuatmu bahagia," tuturnya masih mendekap Bella.
Perlahan Bella mengurai pelukan, dengan air mata yang masih mengalir, ia menatap Aryo lekat. Tangannya mendorong agar pria itu menjauh.
"Pergi! Pergi tinggalkan aku!" sentaknya.
"Bella dengar aku!" Ia meraih lengan wanita itu.
"Tatap aku." Aryo mengusap pipi Bella yang basah, "aku ingin kamu mendengarkan pengakuanku sekarang," tuturnya lembut.
Sejenak pria itu diam.
"Aku ... aku mencintaimu Bella! Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Maafkan jika sopir pribadi papamu telah lancang mencintaimu," ucapnya mengecup jemari wanita bermata indah itu.
Bella tak sanggup menahan perasaan. Ia menghambur kembali ke dalam pelukan Aryo.
"Kamu jahat! Aryo!" ucapnya di sela isak, "kamu nggak tahu seperti apa perasaanku saat kamu tidak ada di sana menemani?" cecarnya masih tersedu.
"Tapi aku bukan siapa-siapa, Bella. Dan aku ...."
"Tapi aku mencintaimu, Aryo! Kamu terlalu bebal untuk sadari itu!" Ia semakin menenggelamkan wajah ke dalam pelukan pria itu.
Aryo memejamkan mata semakin mengeratkan pelukan. Mereka tak menyadari ada sepasang netra yang mengawasi ikut meneteskan air mata.
Lama mereka saling meluapkan rasa. Hingga terdengar tangis manja dari Archie.
"Kamu tidak ingin menyapa dia?"
Aryo mengangguk mengikuti Bella menuju kamar.
__ADS_1