Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 9


__ADS_3

Dan aku telah menghancurkan diriku sendiri, karena telah membiarkan diriku mencintaimu.


πŸ‚πŸ‚


"Apa Mas mencintai Mbak Bella?" potong Aira. Aryo bergeming.


Masih terngiang ucapan orang tua gadis di depannya itu. Dia memang bukan pria kaya seperti yang mereka inginkan. Jabatan yang ia pegang saat ini hanyalah 'pemberian' dari Pak Santoso.


Aryo sendiri merasa semua itu tidak mungkin ia dapat jika bukan karena perjanjian itu. Semua fasilitas kantor yang ia terima karena bersedia menikahi Bella, bukan karena usahanya. Sesungguhnya Aryo berada dalam masalah yang rumit yang ia ciptakan sendiri.


"Mas? Jawab, kenapa diam saja?" Aira mengguncang lengan pria itu.


"Tidak Aira. Aku menghormati Bella," jawabnya tanpa ekspresi.


Aira bernapas lega mendengar penuturannya. Gadis itu masih menyimpan asa yang besar untuk bisa bersanding dengan pria yang sangat ia cintai.


Bagi Aira, lelaki di depannya itu tak hanya bisa memberi rasa cinta, tapi juga rasa nyaman. Sehingga tak ada lagi tempat kosong di hatinya untuk siapa pun.


"Kalau begitu, Mas masih mencintaiku, 'kan?" tanyanya menatap intens.


Pria itu menarik napas frustrasi, Aryo mengusap wajahnya kemudian bersandar.


"Aira, sebentar lagi kamu milik orang lain. Apa masih pantas jika aku mencintaimu?"


Pertanyaan Aryo tak lagi bisa dibalas Aira. Tetes bening kembali keluar dari kedua matanya, menyadari tak ada alasan baginya untuk bertahan dalam hubungan mereka.


"Jadi ... Mas merelakan aku?" tanyanya dengan suara terputus. Pria itu berpindah duduk di samping Aira, lalu merengkuh bahunya dan membenamkan kepala gadis itu ke dadanya.


Ia kini berada dalam dilema. Mencintai Aira yang jelas tidak pernah disetujui kedua orang tuanya. Dirinya pun harus menjaga perasaan keluarga besar Pak Santoso jika melanggar kesepakatan itu, meski Bella tak menginginkan untuk terus melanjutkan perjanjian tersebut.


"Aira, maafkan aku. Bukan aku tak ingin memperjuangkan hubungan ini. Aku memang tidak pantas bersanding denganmu. Benar apa yang orang tuamu katakan," lirihnya masih merengkuh Aira.


Gadis itu semakin terisak. Ia meminta Aryo membawanya pergi.


"Maafkan aku, Aira. Tapi restu orang tua bagiku lebih penting dari sekedar sebuah rasa yang kita punya. Aku sudah lama tidak memiliki orang tua, setidaknya jangan kamu tinggalkan orang tuamu hanya karena aku."


Aira mengurai dekapan Aryo. Pria itu mengusap pipi basah gadis di depannya.


"Kita terima saja takdir ini. Berbaik sangka saja pada mereka. Aku yakin tidak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara," tuturnya mencoba meyakinkan. Aryo memberikan gelas berisi lemon tea ke Aira.


"Minumlah."


Hening sesaat. Gadis hitam manis itu merapikan rambut bersiap pergi.


"Baik, jadi ini pertemuan terakhir?" tanyanya pada Aryo.


"Tidak, kita bisa terus bertemu, tapi mungkin dengan kondisi berbeda, tersenyumlah, pernikahan kurang dua minggu lagi, 'kan? Cintai pria pilihan orang tuamu."


Aira tak menyahut, ia hanya mengangguk menahan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Aku akan coba ...."


"Aku juga akan mencoba melupakan semua tentang kita," tukas Aryo.


"Maafkan aku, Mas. Aku harap kamu bisa bahagia, meski tidak tahu apa aku bisa melewati ini semua." Aira berkata sebelum ia beranjak. Pria itu mengangguk mencoba tersenyum lalu kembali meyakinkan bahwa gadis itu bisa melewati semuanya.


"Aku pergi, sampai ketemu lagi."


Aira melangkah meninggalkan pria yang masih tercenung menatap punggung gadis yang pernah benar-benar ia cintai.


πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Kabar pernikahan Aira sampai di telinga Bella. Perempuan yang kini kehamilannya menginjak bulan ke enam itu heran melihat Aryo tenang seolah tak terjadi apa-apa. Malam itu saat ia baru saja menyelesaikan makan malam terdengar deru mobil Aryo berhenti.


Sudah beberapa minggu setelah kejadian Aryo menolak menceraikannya, Bella kembali dingin. Meski begitu, Aryo sama sekali tak merubah sikap terhadapnya. Pria itu tetap hangat dan perhatian seperti biasa.


"Malam, Non," sapanya saat baru saja masuk rumah. Bella menoleh, iaΒ  melihat senyum tulus mengembang di bibir lelaki itu.


"Aryo."


"Ya, Non?"


"Bukannya besok Aira akan menikah?"


"Iya, Non."


Bella menautkan alis melihat ekspresi biasa dari pria itu.


"Kamu nggak sedih gitu?" Ia melihat Aryo melepas dasi kemudian duduk di sofa. Sambil tersenyum ia berkata, "saya hanya tak ingin menularkan kesedihan ini pada yang lain."


"Kamu ...."


"Non, tidak ada yang lebih menyedihkan saat kita kehilangan seseorang yang kita cintai. Tapi biar itu saya simpan sendiri, sambil berharap akan diganti dengan bahagia yang entah kapan," potongnya.


Bella terdiam, ia duduk di kursi dekat dengan sofa. Tak mengerti kenapa pria ini sangat sempurna di matanya.


Bagi Bella, Aryo bukan sekedar sopir yang 'terpaksa' menikahinya, tapi lelaki berhati malaikat yang dikirim Tuhan untuk memberi banyak pelajaran dalam hidup.


"Non sudah makan?" cetus Aryo menyentak lamunan. Bella mengangguk cepat.


Pria itu tersenyum menyadari perempuan itu tengah melamun.Β 


"Ya sudah, Non istirahat sekarang, besok sepertinya saya harus belanja bulanan. Non mau ikut?" Perkataan itu meluncur begitu saja, setelah dirinya menyadari bahwa tak layak mengajak perempuan itu belanja, segera Aryo meralat dan berkata, "eum, maaf. Kalau tidak bersedia ...."


"Aku ikut!" potong Bella lalu beranjak ke kamar. Aryo bengong sebentar kemudian tersenyum lebar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


πŸ‚πŸ‚


"Sudah siap, Non?" tanya Aryo yang matanya tak lepas dari perempuan itu. Bella mengangguk. Mereka berdua masuk mobil kemudian meluncur.


"Eum, sudah boleh beli baju bayi belum?" Aryo memecah keheningan. Perempuan di sebelahnya itu tersenyum.


"Kenapa emang?"


"Nggak, kan sudah ketahuan tuh jenis kelaminnya? Mungkin Non mau mulai nyicil dari sekarang," jawabnya melirik sekilas.


"Boleh juga idenya. Oke, nanti sekalian beli beberapa baju buat baby. Tapi ...."


"Tapi kenapa?"


"Kamu nggak apa-apa? Aku kalau belanja lama loh!"


Aryo tertawa kecil, mengatakan bahwa ia tidak bermasalah dengan itu. Tak lama mereka tiba di mall yang dipilih Bella. Setelah memarkir mobil, mereka berjalan memasuki pusat perbelanjaan tersebut.


"Kita belanja bulanan dulu deh!" usul Bella. Aryo mengangguk setuju. Pria itu mendorong trolly, di sebelahnya Bella memilih dan memasukkan segala keperluan rumah dan dapur selama sebulan. Keduanya tampak sesekali bertukar senyum dan saling menatap. Tatapan yang hanya bisa mereka artikan.


"Ikan salmon, sangat baik untuk nutrisi otak, Non. Sebaiknya ambil beberapa pack."


Bella mengangguk berkata, "kamu belajar nutrisi juga?"


Aryo mengusap tengkuk tersenyum seraya mengangguk.


"Aryo, siang ini aku mau makan capcay, deh. Kamu bisa masak?" Mata indah Bella menatap manik hitam Aryo yang tanpa ia sadari sejak tadi tak lelah menikmati wajahnya.

__ADS_1


"Aryo!" serunya.


"Eh iya, Non, eum iya."


"Iya apa?"


"Iya masak capcay, 'kan?" balasnya masih menyungging senyum.


Bella mengangguk, lalu kembali memilih aneka ikan di depannya. Setelah selesai belanja, mereka berdua menyusuri mall menuju gerai pakaian bayi.


Mata Bella berbinar melihat berbagai macam baju perlengkapan bayi. Seolah tak menyadari ada Aryo di sampingnya, ia sendiri melangkah dan memilih baju-baju lucu di gerai tersebut.


Pria itu hanya tersenyum tipis melihat Bella. Tiga bulan lagi, ia akan melepas perempuan berkaki jenjang itu dengan segala kisah yang pernah mereka lewati. Bagi Aryo, Bella adalah perempuan baik dan cukup bertanggung jawab atas semua sudah ia lakukan.


Selain itu tentu saja mata Aryo tidak berbohong bahwa putri majikannya itu sangat menyenangkan untuk dipandang.


Ia tak memungkiri, kebersamaan beberapa bulan dengan Bella tanpa disadari telah membuat separuh dari hatinya selalu memikirkan perempuan itu. Tapi Aryo sadar, dirinya bukan siapa-siapa. Dia hanya pria pengganti yang tidak berarti apa-apa, terlebih di mata Pak Santoso, majikannya.


Jika pun pada akhirnya ada percik rasa indah yang muncul, Aryo tak ingin berharap banyak. Meski diam-diam ia mulai merasa pesona Bella terlalu kuat untuk diabaikan.


"Kan ngelamun lagi!" protes Bella yang tiba-tiba telah berada di depannya.


"Eh, sudah selesai, Non?" tanyanya gugup menyadari sudah dua kali Bella memergokinya melamun hari ini.


"Kenapa, kelamaan ya?"


"Nggak, emang sudah selesai?"


Bella mengangguk. Empat paper bag terlihat sudah ditentengnya.


"Sini, saya bawakan."


"Nggak usah, aku bisa bawa sendiri," tolaknya.


"Non kan nggak boleh bawa berat-berat. Sini!" Aryo mengambil belanjaan dari tangan perempuan itu.


"Kita pulang sekarang?" tanya Aryo menatap lembut Bella yang mengangguk menanggapi.


Mereka berdua meninggalkan mall menuju rumah. Setelah sebelumnya Bella meminta Aryo membelikan ice cream untuknya.


***


"Aryo, bisa ke ruangan saya sebentar?" Pak Santoso menelpon dari ruangannya. Bergegas Aryo memenuhi panggilan itu. Setelah mengetuk pintu kemudian ia masuk.


"Duduk, Aryo."


Wajah pria paruh baya itu tampak lebih gembira dari biasanya. Ia merasa Pak Santoso ingin membagikan kebahagiaan itu dengannya.


Sang majikan menyerahkan selembar foto pada Aryo. Seorang lelaki yang ia perkirakan seusia dengannya tengah berpakaian baju musim dingin tersenyum dengan latar belakang monumen khas Paris. Sejenak ia mengernyit kemudian menatap Pak Santoso.


"Maaf, Pak. Dia siapa, saya rasa saya tidak pernah bertemu sebelumnya," tutur Aryo.


Pria berkacamata plus itu tersenyum bijak. Ia menjelaskan bahwa pria itu adalah putra dari sahabatnya. Lelaki di foto itu tengah bekerja danΒ  menyelesaikan kuliah di kota romantis itu. Aryo mengangguk-angguk mengerti.


"Dia kelak yang akan menemani Bella di sana," jelasnya.


"Non Bella akan kuliah di sana?"


Pak Santoso mengangguk tersenyum yakin.


"Bagaimana, kamu pasti setuju, 'kan?"

__ADS_1


"Bagaimana ... maksud Bapak?"


"Aku dan keluarga pria itu telah sepakat mengikat mereka ke dalam ikatan pernikahan."


__ADS_2