
[Episode 033 - Hari Ke Dua Avant Part 1]
Di dalam kamar, Avant terbaring sembari menatap jam dinding yang ia pasang di kamarnya. Sudah 3 jam dari Avant pulang, namun Aufia tak kunjung menghubunginya. Padahal Aufia sudah mengatakan akan telepon malam ini, tapi nyatanya? 3 jam sudah Avant menunggu.
Padahal sebelumnya ia sudah berusaha untuk tidak memperpanjang pembicaraannya dengan Ibu agar bisa berbicara dengan Aufia lewat telepon, namun akhirnya Aufia sendiri yang tidak menepati perkataannya.
Sial.
Avant menggerutu tidak jelas karena ia seperti dipermainkan. Untuk itu ia saja yang menelpon Aufia. Avant beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil ponsel diatas nakas samping tempat tidur.
Eh?
Mata Avant tak menangkap ponsel disana. Kosong.
Dimana ponselku?
Avant mulai mencari di laci dan meja yang lain namun tidak ia temukan.
Dimana ya?
Avant mengingat dimana terakhir kali ia meletakkan ponselnya.
Astaga!
Avant baru ingat jika ia meletakkan ponsel diatas sofa rumah Aufia. Astaga. Bagaimana bisa ini terjadi? Pantas saja Aufia tidak menghubunginya. Ponselnya saja tidak ada.
Dasar kau bodoh, Avant!
Karena acara menelpon gagal, akhirnya Avant melempar tubuhnya diatas tilam berwarna hitam. Tidak perlu waktu lama untuk Avant mengetuk dunia fantasi. Ketika mata memejam, disitulah dunia mimpi berjalan.
...•...
...•...
...•...
Malam melewati waktu begitu singkat hingga pagi ini datang begitu cepat. Aufia masih senang memejamkan mata dan memeluk guling kesayangannya. Entah apa yang salah sehingga jam weaker yang biasanya bertugas membangunkan Aufia malah anteng tidak berbunyi. Mungkin Aufia lupa menyalakan pengaturannya.
Pagi datang dengan cerah, maka dari itu Sang Bibi yang sudah bangun sibuk dengan pekerjaan rumah. Kebetulan hari ini Bibi cuti bekerja, untuk itu ia sibuk membersihkan rumah yang sebenarnya sudah bersih.
Tidak lama kemudian Aufia terbangun karena ponsel yang terus berdering hingga membuat berisik di telinga. Aufia membuka matanya yang masih enggan terbuka, lalu mengambil ponsel dan melihat pesan masuk juga panggilan terlewat dari Qevna.
"Qevna?"
Melihat hal itu Aufia segera bangun dan membuka pesan dari Qevna. Matanya menyipit membaca pesan yang begitu banyak.
[*Qevna***❤ ] **°Aufia! Kau tahu? Pria yang dijodohkan denganku sudah setuju menikah denganku!°
Isi dari salah satu pesan yang Qevna kirimkan untuk Aufia.
Setuju?
Dengan cepat Aufia mengetukkan jari lentiknya ke layar ponsel untuk membalas pesan dari Qevna.
"Bibi!!"
Teriak Aufia lalu melompat dari tempat tidurnya. Ia membuka pintu kamar dan langsung memeluk Bibinya dari belakang. Bibi yang sedang membersihkan benda-benda kecil dengan kemoceng terkejut karena tingkah Aufia.
"Ada apa, Fia?" tanya Bibi yang menjeda pekerjaannya.
"Qevna sudah mau menikah, Bi! Sahabatku! Qevna!" Seru Aufia tersenyum senang.
Ia sama sekali tidak percaya jika hal ini terjadi. Qevna yang terlihat fokus pada cita-citanya menjadi dokter lebih dulu mementingkan cintanya. Sekarang Aufia akan terasa canggung jika harus bertemu suami dari Qevna yang pada dasarnya Aufia sendiri kurang bisa dekat dengan pria manapun. Kecuali Avant.
HEIIII!!!
"Qevna? Bukankah dia seumuranmu, Fia? Kenapa nikah muda?" Bibi bertanya dengam melepas pelukan dan berbalik menatap Aufia.
"Iya, Bi! Seumuranku, aku sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia pindah haluan dan menikah begitu saja." Jawab Aufia karena tidak tahu apa-apa perihal pernikahan Qevna.
__ADS_1
"Jangankan itu, Bi! Calon suaminya saja aku tidak tahu seperti apa, namanya juga aku tidak tahu. Sepertinya Qevna ingin memberikan kejutan." Lanjut Aufia dengan senangnya mendengar kabar baik dari sahabatnya.
"Jika begitu siapkan hadiah terbaik untuknya yang akan selalu ia kenang."
"Siap, Bibi!"
...•...
...•...
...•...
"Kau mau kemana?"
Satu pertanyaan dari Wanda membuat Avant menghentikan langkahnya yang ingin keluar dari mation. Avant berhenti tepat diambang pintu keluar. Wanda segera menghampiri anaknya.
"Kau ingin kemana, Nak?" tanya Wanda dengan menatap jam dinding berukuran besar yang terpampang di ruang tamu.
"Sepagi ini mau kemana?" lanjut Wanda.
Pasalnya, ini masih pukul 6 pagi. Masih sangat pagi untuk Avant berangkat kuliah yang biasanya jam 8 baru berangkat.
"Ibu, aku ada urusan. Memangnya kenapa jika aku keluar sepagi ini? Apa tidak boleh?" setelah menjawab, Avant bertanya balik pada Ibunya.
"Bukannya tidak boleh, tapi jadwal kuliahmu dimulai jam 8, kenapa jam 6 sudah berangkat?"
Avant hanya menghela nafas mendengar pertanyaan Ibunya. Lalu memijat pelan pangkal hidungnya.
"Aku menjemput temanku, Bu. Jadi harus pagi karena rumahnya lumayan jauh, agar tidak telat." Jawab Avant berbohong. Ia sudah izin pada dosennya untuk mengambil cuti selama satu minggu. Tahukan kenapa Avant melakukan ini? Yah, itu karena Aufia.
"Baiklah, lalu dimana kotak hadiahmu yang ingin kau berikan pada temanmu?"
Astaga!! Sontak Avant menepuk jidatnya.
"Terima kasih, Ibu, sudah mengingatkan aku."
Avant kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak merah yang berisi gaun pernikahan. Untung saja Ibu mengingatkan, jika tidak pasti Avant akan lupa.
Mobil jeep Avant membelah jalanan yang berwarna hitam. Karena masih pagi maka jalanan masih sepi untuk kecepatan tinggi. Bahkan Avant melanggar peraturan lalu lintas, ia menerobos lampu merah hanya karena seorang wanita. Tidak lama kemudian mobil jeep Avant berhenti tepat di depan rumah Aufia. Ia segera turun dengan membawa kotak merah dikedua tangannya.
"Aufiaa!" Seru Avant berteriak di depan pintu rumah Aufia.
"Nak, Avant?" Bibi yang membuka pintu untuk Avant.
"Ini apa, Nak?" tanya Bibi kemudian mempersilahkan Avant masuk.
"Ini hadiah untuk Aufia, Bi." Jawab Avant kemudian meletakkan kotak merah itu diatas meja.
"Kenapa besar sekali, Nak Avant? Isinya apa?"
Bibi mendekat dan melihat kotak merah yang diatas meja. Bentuk dari kotak itu terlihat mewah dan tebal dengan luar yang mengkilap. Sungguh cantik.
"Isinya rahasia, Bi. Jika aku memberi tahu Bibi maka tidak akan spesial rasanya." Avant tidak ingin memberi tahu Bibi.
"Baiklah, Bibi paham. Tapi maaf, Nak Avant, Aufia sudah berangkat kuliah dari jam 7 pagi tadi. Jadi Aufia tidak ada dirumah." Jelas sang Bibi yang membuat Avant tersenyum kaku.
...•...
...•...
...•...
Hanya karena ponselnya yang hilang dari ranah saku, kini Avant hanya bisa menunggu di depan kampus. Ia menunggu sampai Aufia keluar dari kampus. Percuma saja ia mengambil cuti sedangkan orang yang membuatnya mengambil keputusan ini malah asik masuk kuliah. Jika begini maka akan terus tertunda masa Avant ingin meyakinkan Aufia.
Di dalam mobil, Avant terus menggerutu dengan tingkah Aufia. Avant sama sekali tidak paham bagaimana cara perempuan itu berfikir. Harusnya Aufia tahu jika sekarang masih dalam waktu 'milik Avant'. Tapi seenaknya dia tetap masuk kuliah. Astaga...
Dilihatnya jam tangan yang bertengger tampan di pergelangan tangan Avant. Siang. Astaga! Harusnya tadi sudah terisi penuh kebahagiaan meskipun sederhana.
"Bagaimana caranya berfikir? Astaga! Harusnya dia gunakan otaknya saat mengambil keputusan. Aku sudah izin cuti satu minggu supaya bisa mendekatinya malah dia asik masuk kuliah."
__ADS_1
Avant menggelengkan kepalanya tidak paham. Jika begini apa yang dia dapat? Waktu yang terbuang percuma.
Setelah menunggu 7 jam lebih di luar kampus, akhirnya rombongan warga kampus yang mengambil jurusan akuntansi keluar untuk pulang. Mata tajam Avant mencari sosok yang bernama Aufia yang kini berjalan sendirian dengan payung kuning motif bunga mawar di tangannya.
"Fia!"
Seru Avant seketika membuat Aufia menoleh padanya.
Avant?
Aufia menyipitkan mata melihat mobil Avant di luar kampus. Segera ia berlari menghampiri mobil itu dan benar! Avant.
"Avant? Kenapa kau ada disini?" tanya Aufia begitu sampai dan berdiri disamping mobilnya Avant.
"Masuklah!"
Mendengar itu, Aufia masuk ke dalam mobil. Kebetulan sekali daripada Aufia harus mengeluarkan uang dan membuang waktu hanya untuk menunggu bus lewat.
"Kau menjemputku?" tanya Aufia dengan senyum yang mengembang.
Astaga! Polos sekali senyumnya! Avant terdiam menatap pola pikir Aufia.
"Kau kenapa? Marah? Atau kau sedang ada masalah?" lanjut Aufia ketika menyadari aura wajah Avant yang tidak senang.
"Avant?"
"Ponselku!" Jawab Avant masih dengan wajah dinginnya.
Ponsel? Oh! Aufia segera mengambil ponsel dari totebagnya dan diberikan kepada Avant.
"Ini! Lain kali kau bisa meninggalkan ponselmu di taman kota, kampus, kantin kampus, ataupun kantor polisi. Itu lebih baik."
Itu bukan nasehat, Aufia! Itu terdengar sindirian.
Avant menerima ponselnya lalu memeriksanya. Mulai dari body yang tidak ingin tergores sampai beberapa aplikasi privasinya. Aufia yang menatapnya lantas mengernyitkan dahi.
"Hei?! Kenapa kau lakukan itu? Kau pikir aku membuka ponselmu? Atau menukar ponselmu dengan yang palsu?" protes Aufia tidak terima jika ia dituduh sembarangan lagi tanpa bukti.
Avant hanya melirik Aufia lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana balasan dari dosenku, karena aku izin satu minggu tidak masuk kuliah." Jelas Avant kepada Aufia.
Aufia yang duduk disampingnya hanya bisa tertegun. Izin satu minggu? Bukankah itu lama?
"Kenapa izin sampai satu minggu? Memangnya ada masalah apa?" tanya Aufia pada Avant.
"Tentu! Ada masalah yang jauh lebih penting dari kuliahku." Jawab Avant lalu menghidupkan mesin mobilnya dan melaju pergi dari kampus.
Masalah? Masalah apa? Pikir Aufia.
"Masalahnya ada pada dirimu." Lanjut Avant melirik Aufia lalu kembali fokus ke jalanan.
Aku? Heiiii!!!
"Aku? Kenapa aku? Aku tidak membuat masalah apapun. Justru kau yang membuat masalah denganku!"
Aufia tidak terima. Ia marah dan melipat kedua tangan dibawah dada. Bibirnya sudah mengerucut lucu. Lucu? Iya, lucu! Itu yang Avant lihat saat ini.
"Heiii...!"
Seru Avant lembut kemudian mengacak puncak kepala Aufia hingga membuat rambutnya sedikit berantakan.
"Yak! Hentikan!" Teriak Aufia dengan menepis tangan Avant. Marah.
Avant hanya bisa tersenyum melihat tingkah Aufia.
"Aufia, aku rela mengambil cuti satu minggu hanya untuk membuktikan cintaku padamu. Tapi kau? Kau seenaknya merubah jadwal dengan masuk kuliah, perjanjiannyakan satu minggu berturut-turut, bukan lompat-lompat. Jadi tolong hargai usahaku yang mengambil cuti satu minggu, dan kau juga harus cuti supaya jadwal berjalan lancar." Jelas Avant.
Apa?
__ADS_1
[Bersambung...]